Gadis Bar-Bar Incaran Badboy Sekolah

Gadis Bar-Bar Incaran Badboy Sekolah
030- Menginap


__ADS_3

Pernikahan singkat itu sudah selesai dilaksanakan sehingga status Juan dan Hara sudah sah menjadi suami istri di mata agama. Penghulu yang datang sudah pulang beberapa menit yang lalu dan sekarang di rumah Hara hanya tinggal keluarganya danie keluarga Juan saja yang saat ini berkumpul di ruang keluarga.


"Setelah ini, kalian akan tinggal di rumah kami, 'kan?" tanya Mama Rita karena seorang istri harus ikut dengan suaminya.


Mama Rita akan sangat senang kalau Hara tinggal di rumahnya karena dia jadi punya teman nantinya, sekaligus memiliki anak perempuan yang bisa dia ajak mengobrol, masak, belanja, ke salon, dan lainnya.


Mendapat pertanyaan dari mana mertuanya, Hara langsung menatap Juan dan dia sangat berharap cowok itu akan menggeleng karena dia tidak siap untuk tinggal di bawah atap yang sama dengan cowok itu. Cowok yang dia benci yang si4lnya malah menjadi suaminya sekarang.


Hara tidak pernah menyangka kalau dirinya yang masih sangat muda harus menikah. Apalagi menikah dengan musuh bebuyutannya sendiri. Apa kata teman-temannya nanti kalau tahu dia sudah menjadi seorang istri sekarang?


Mama Diandra menatap anak perempuannya lekat, dia belum sanggup kalau harus berpisah dengan anak gadisnya itu, tetapi mau tidak mau dia harus melepas Hara karena sekarang putrinya sudah menjadi seorang istri dari anak lelaki orang lain. Bayi perempuan mungil yang dulu selalu menangis minta ASI sekarang sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri.


Marcel menatap adiknya yang terlihat sangat tidak bahagia, wajahnya ditekuk murung dan dia seperti seseorang yang kehilangan gairah hidup sekarang. Marcel merasa sangat kasihan dengan adiknya itu, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun karena Hara sudah terlanjur dinikahkan dengan Juan.


Papa Dika sendiri memilih diam karena Hara yang berhak menentukan akan tinggal bersama suaminya atau tetap di rumahnya. Andai mereka tinggal terpisah pun rasanya tidak masalah mengingat mereka masih sekolah sehingga dikhawatirkan kalau tinggal bersama nanti malah Hara hamil saat masih sekolah.


"Juan sudah punya rumah sendiri, Ma, Pa. Jadi, Juan akan mengajak Hara tinggal di rumah itu," kata Juan yang membuat semua orang di ruangan itu kecewa.


"Lo punya rumah?" Hara menatap cowok itu tidak percaya.


"Iya, rumah yang gue beli pakai uang sendiri dari hasil ngonten sama gaji endorse," terang Juan supaya Hara tahu dari mana saja sumber uangnya.


"Ternyata kamu keren juga, Juan," puji Papa Dika yang sekarang jadi tidak terlalu mengkhawatirkan putrinya karena Juan punya uang untuk menafkahi Hara.


"Jadi, kamu mau tinggal terpisah dengan kami?" Mama Rita memastikan.


"Iya, Ma. Juan ingin hidup mandiri bersama Hara." Juan mengangguk, dia kemudian menatap Hara yang menunduk dan terlihat pasrah dengan keputusannya.


"Jadi, kapan kalian akan pindah ke rumah kalian sendiri?" tanya Mama Diandra.

__ADS_1


"Dua hari lagi karena rumah itu harus dibersihkan secara menyeluruh sebelum ditempati." Juan menatap lekat wajah mamanya yang masih terlihat sangat cantik meski usianya tidak lagi muda.


"Baiklah kalau begitu, mama setuju," kata Mama Diandra lega.


"Serius mau tinggal berdua?" tanya Hara memastikan, sepertinya dia yang belum siap kalau harus berduaan dengan Juan.


"Serius lah, kita harus mandiri karena sudah punya keluarga sendiri," terang Juan sambil menepuk puncak kepala Hara beberapa kali, tetapi sayangnya langsung ditepis oleh sang istri.


Hara memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan langsung membuangnya pelan. Tidak pernah dia bayangkan selama hidup akan menikah dengan musuhnya sendiri di usia mereka yang masih sangat muda.


Sore harinya orangtua Juan pulang ke rumah mereka karena sudah tidak memiliki urusan lain di sana, sementara Juan ditinggal di rumah Hara karena malam ini dia akan menginap di sana.


Hara mengajak suami mudanya itu ke kamar walau sebenarnya dia menolak mengajak suaminya ke sana kalau saja tidak dipaksa Mama Diandra.


"Capek banget gue," kata Juan yang kemudian langsung berbaring di ranjang kamar Hara.


Hara sendiri memilih duduk di sofa karena dia enggan kalau harus berbagi kasur dengan suaminya itu.


"Ya nggak lah, nanti yang tidur di sini itu lo sementara gue tidur di kasur." Hara menatap sengit cowok itu.


"Enak aja, nggak bisa gitu dong. Gue nggak pernah tidur di sofa seumur hidup, gue mau tidur di sini pokoknya." Juan kembali merebahkan dirinya di sana.


"Ini kamar gue!"


"Enggak, ini kamar kita sekarang. Lo kalau nggak mau tidur di sofa, ya udah sih tinggal tidur di samping gue. Gue janji nggak akan macam-macam sama lo!" kata Juan sungguh-sungguh, tetapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak serius.


Hara mengambil bantal sofa kemudian melemparkannya ke arah Juan. "Aaa ... gue benci banget sama lo!" Setelah melempar bantal sofa itu, Hara langsung duduk di lantai dan membiarkan punggungnya bersandar ke sofa kemudian dia memeluk kedua lututnya dan terisak pelan di sana.


Juan yang melihat Hara menangis langsung membuang napas kasar kemudian bangun dan menghampiri istrinya itu. "Nggak usah cengeng!" Dia menepuk puncak kepala Hara beberapa kali, berharap bisa membuat gadis itu tenang dan mau berhenti menangis.

__ADS_1


"Jangan pegang-pegang!" Hara menepis tangan Juan kemudian memalingkan wajah ke arah lain.


"Sebenci itu lo sama gue sampai nangis sesenggukan kaya gini?" Juan tersenyum sinis, bukannya merasa bersalah, dia justru senang karena sekarang tidak akan ada lagi lelaki yang bisa memiliki Hara kecuali dirinya.


"Syukur kalau lo tahu!" Hara semakin sesenggukan sampai kelopak matanya bengkak dan hidung serta matanya memerah.


"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue dan rasa benci lo ke gue bakal jadi rasa cinta!" katanya dengan sangat percaya diri dan penuh keyakinan. Dirinya adalah tipe idaman banyak gadis-gadis di luar sana sehingga menaklukkan Hara rasanya tidak akan sulit untuk dirinya lakukan.


"Bodoamat!" Hara kembali menepis tangan Juan ketika cowok itu hendak mengusap kepalanya.


"Jangan galak-galak sama suami sendiri, dosa!" kata Juan dengan bibir mengulas senyum lebar.


"Nyakitin istri juga dosa!" balas Hara dengan napas tersengal-sengal.


"Mau pinjam bahu gue buat tempat bersandar nggak nih?" Juan menepuk bahunya sendiri.


"Nggak sudi! Men-mending bersandar ke sofa daripada ke bahu cowok kaya lo!" Air mata Hara mengalir semakin deras sekarang.


"Ya udah." Juan ikut duduk bersandar di sofa, dia membiarkan Hara menangis sampai puas supaya perasaan gadis itu lega nantinya.


Mungkin ada sekitar satu jam lebih Hara menangis sampai akhirnya berhenti sendiri karena ketiduran akibat tenaganya terkuras habis.


"Hara?" panggil Juan pelan sambil melambaikan tangan di depan wajah gadis itu untuk mengecek apakah Hara sudah benar-benar tidur atau belum. "Tidur beneran dia," gumamnya pelan.


Juan dengan hati-hati mengangkat tubuh Hara kemudian dia rebahkan di ranjang agar lebih nyaman dan tubuhnya tidak pegal-pegal ketika bangun nanti. Dikarenakan Hara sedang tidur sekarang, Juan memutuskan untuk melihat-lihat kamar istrinya itu dan menjelajahi semuanya sampai ke kamar mandi juga.


"Dia pecinta novel ternyata," celetuknya ketika melihat banyak tumpukan novel dengan berbagai genre di rak buku Hara. "Buku motivasi juga banyak, dia suka banget baca sepertinya," gumamnya sambil melihat buku-buku itu satu per satu, hanya melihat saja tanpa ada niat membaca salah satunya.


Setelah puas melihat-lihat, Juan kandung duduk di ranjang sebelah Hara kemudian memerhatikan wajah istrinya yang terlihat begitu polos dan cantik ketika dalam keadaan tenang seperti itu.

__ADS_1


"Lo kalau kalem cantik banget, cuma kalau galak serem sama gemesin." Dengan gerakan yang sangat hati-hati Juan mengusap pipi Hara karena jika gadis itu bangun dia yakin Hara akan sangat marah kalau tahu dia berani menyentuhnya meskipun status mereka sudah menjadi suami istri sekarang.


Bersambung...


__ADS_2