
Juan yang timnya kalah merasa sangat tidak terima dan dia sangat malu karena sebelumnya sudah dengan begitu sombong mengatakan dirinya pasti akan menang dalam pertandingan itu. Dia juga bertambah sangat kesal karena melihat Hara memeluk Narendra.
"Padahal kita udah berusaha mati-matian buat memenangkan pertandingan ini, tetapi kita malah kalah sama timnya si Narendra itu. Gila sih, permainan mereka memang keren banget sampai bisa ngalahin tim kita," ucap teman satu tim Juan yang membuat Juan semakin kebakaran jenggot sekarang.
"Iya, apalagi permainan Narendra tadi keren banget," sahut yang lainnya.
"Juan nggak apa-apa lo kalah tanding, lo tetap jadi juara buat gue!"
"Juan gue suka sama lo, mau kalah atau menang lo selamanya akan jadi nomor satu buat gue."
"Jangan nangis Juan, kalian semua hebat, lo ganteng banget sama bikin kita nggak bisa berpaling dari ketampanan lo!"
Masih banyak lagi teriakan dari fans Juan yang memenuhi area pertandingan walau banyak juga yang tetap mendukung Narendra dan mengucapkan selamat atas kemenangannya.
"Boss, mau ke mana?" tanya Arion melihat Juan berjalan menjauh.
"Nyamperin cewek gue," katanya dengan terus berjalan cepat menghampiri Narendra dan Hara.
"Tapi si Hara nggak nganggap lo cowoknya," kata Arion yang langsung mendapat pelototan tajam dari Juan.
"Mending lo diam daripada bicara bikin gue kesal doang!" pinta Juan yang membuat Arion mengerucutkan bibir kesal.
"Lo itu udah gue bilangin jangan dekat-dekat sama Narendra kenapa masih ngeyel?" Juan menarik Hara menjauh dari Narendra sampai gadis itu jatuh dalam dekapannya.
Apa yang Juan lakukan tentu saja membuat Hara langsung melotot kesal karena merasa Juan tidak berhak ikut campur dengan urusannya karena cowok itu bukan siapa-siapanya. Hara langsung mendorong tubuh cowok itu kemudian menjauh dan menjaga jarak dengannya.
"Juan, lo itu apa-apaan sih? Apa nggak bosen setiap hari nyari gara-gara terus sama gue? Memang lo siapa ngatur-ngatur hidup gue?" sewot Hara dengan mata memerah.
"Gue calon suami lo dan lo harus tahu itu! Gue nggak suka kalau calon istri gue dekat sama cowok lain, ngerti?" katanya dengan penuh penekanan. Juan bahkan tidak peduli dia bicara seperti itu di tempat yang ramai orang seperti ini.
"Memang kapan kita lamaran? Gue nggak pernah mau menjalin hubungan sama lo, tetapi lo selalu ngaku-ngaku!" Hara memicingkan mata, menatap Juan dengan begitu kesal.
__ADS_1
"Malam ini gue sama kedua orangtua gue bakal datang ke rumah lo buat lamaran." Juan serius mengatakannya, mungkin ini terlalu cepat, tetapi akan lebih baik dia mengikat Hara dengan sebuah hubungan yang membuat cewek itu tidak bisa dekat dengan cowok lain.
"Ngimpi aja sana! Cowok kasar kaya lo yang berani nyakitin cewek yang bukan siapa-siapanya nggak pantes jadi seorang suami. Belum nikah ada udah kasar, apalagi kalau udah nikah? Yang ada setiap hari lo bakal melakukan kekerasan sama gue." Hara kesal sekali, rasa senangnya langsung menghilang karena harus berhadapan dengan Juan.
"Gue janji bakal berubah lebih baik kalau itu bikin lo mau nerima gue apa adanya," kata Juan sungguh-sungguh.
"Makasih, tapi gue nggak butuh itu." Hara membuang napas kasar kemudian berbalik menatap Narendra. "Lo ada urusan apa lagi setelah ini?" tanyanya pada cowok itu.
"Udah nggak ada urusan apa-apa lagi, mau pulang?" tanya cowok itu dengan begitu ramahnya dan langsung mendapat balasan berupa anggukan oleh Hara. "Ya udah ayo!" ajak Narendra seraya mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Hara.
"Jangan gandengan tangan sama dia!" Juan menepis kasar tangan mereka sehingga gandengannya terlepas dan dengan cepat Juan menggandeng tangan Hara kemudian mengajak cewek itu keluar tempat tanding.
Narendra tentu tidak akan tinggal diam karena Hara datang ke tempat itu bersama dengannya sehingga dia juga harus pulang dengannya.
"Lo mau bawa gue ke mana?" Hara menatap cowok yang lebih tinggi darinya itu.
"Pulang, biar gue yang nganter lo pulang," kata Juan sambil terus menuntun Hara menuju parkiran.
"Gue mau pulang bareng sama Narendra," katanya seraya menepis tangan Juan.
"Dia bakal pulang sama gue," kata Narendra yang berhasil menyusul mereka.
"Nggak bisa!" tolak Juan.
"Bisa." Hara langsung berlari ke belakang Narendra kemudian buru-buru mengajak cowok itu pergi dari sana.
Juan hendak mencegah, tetapi gagal karena mereka sudah masuk ke mobil lebih dulu. Juan memukul udara saking kesalnya dan dia kembali kepada timnya karena Hara sudah terlanjur pergi meninggalkan dirinya.
***
"Makasih udah nganterin gue pulang." Hara menatap Narendra yang masih di dalam mobil.
__ADS_1
"Sama-sama!"
"Lo nggak mau mampir dulu sebentar?"
"Sekarang udah sore banget, nanti mama nyariin gue, kalau gitu gue langsung pulang aja. Sampai jumpa besok di sekolah." Narendra melambai kemudian mobilnya langsung melaju pergi meninggalkan rumah Hara.
Hara pun segera masuk ke rumah dan pergi ke kamarnya untuk mandi dan ganti baju lagi karena tubuhnya terasa lengket dan membuatnya sangat tidak nyaman. Setelah selesai mandi, Hara berdiam diri di kamar sambil memainkan ponsel dan malam hari ketika mau makan malam dia keluar kamar dan bergabung dengan keluarganya yang lain.
"Cie yang tadi kencan sama pacar," sindir Marcel.
"Bukan pacar gue," kata Hara mengelak karena pada faktanya memang dia dan Narendra bukan sepasang kekasih.
"Gebetan?"
"Bukan juga,"
"Terus siapa?" Jiwa penasaran Marcel sangat tinggi sehingga dia akan terus bertanya kalau belum mendapat jawaban yang membuatnya puas.
"Teman."
"Teman tapi mesra?" ledek Marcel yang mulutnya langsung dibungkam menghinakan sosis oleh Hara karena dia merasa kakak laki-lakinya itu terlalu berisik.
"Padahal papa sama mama harap kamu bisa menjalin hubungan yang baik dengan Juan. Namun, kamu malah dekat dengan cowok lain," komentar Mama Deandra walau sebenarnya dia tidak masalah putrinya itu mau dekat dengan siapa pun dan memilih pasangannya sendiri.
"Juan itu jelek banget attitude-nya, Ma! Hara paling tidak suka sama cowok yang buruk seperti itu," kata Hara jujur.
"Kalau dia jadi good boy, lo mau pacaran sama dia?" selidik Marcel penuh rasa penasaran.
"Mungkin bisa, tetapi tidak dengan pacaran. Gue nggak mau pacaran sama cowok mana pun, maunya langsung menikah aja," kata Hara santai.
Mama dan Papa langsung saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti. Mereka punya rencana akan membuat Hara bisa menerima Juan apa adanya.
__ADS_1
"Gue doakan semoga adik gue ini bisa nikah sama good boy."
"Aamiin."