
"Emmm ...." Hara menggeliat ketika merasakan tubuhnya ditindih oleh sesuatu yang terasa sedikit berat. Hara pun langsung membuka matanya perlahan dan dia langsung mendapati Juan masih tidur lelap di sisinya sambil memeluknya seperti memeluk sebuah guling. "Dia pasti nggak nyadar memeluk gue seperti ini, kalau sadar rasanya nggak mungkin dia berani meluk-meluk gue," gumam Hara sambil membuang napas kesal.
Dia sangat ingin marah dan menendang cowok itu sampai jatuh dari kasur, tetapi melihat Juan tidur dengan begitu pulas membuat dia mengurungkan niat jahatnya itu dan membiarkan saja Juan tidur sampai puas. "Lo kalau kalem begini memang ganteng, cuma kalau bangun nyebelin banget, pemaksa, suka menang sendiri, nggak bisa bayangin kehidupan gue ke depan akan jadi seperti apa kalau tinggal berdua sama lo," gumamnya lagi.
Hara tidak akan mengganggu suami mudanya itu dan memilih untuk menggunakan kesempatan itu untuk segera mandi agar saat Juan bangun nanti dia sudah lebih dulu mandi sehingga tidak akan ada drama merasa malu ataupun sebagainya.
Hara menyingkirkan tangan Juan dari tubuhnya kemudian dia beranjak turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati supaya Juan tidak terbangun, bahkan ketika melangkah masuk ke kamar mandi pun dia melakukannya dengan sangat pelan untuk sekadar mengurangi suara yang ditimbulkan.
"Untung dia nggak bangun," gumam Hara yang merasa begitu lega setelah berhasil masuk ke kamar mandi. Dia pun segera menanggalkan seluruh pakaiannya kemudian langsung mengguyur tubuhnya menggunakan air hangat mengalir dari shower.
"Segar banget rasanya tubuh gue sekarang," gumamnya setelah selesai mandi.
Hara mengambil handuk, melilitkannya ke tubuh kemudian membuka pintu kamar mandi sedikit untuk melihat apakah Juan sudah bangun atau masih tidur sekarang.
"Kebo banget dia, jam segini belum bangun juga." Hara berani melangkah keluar karena Juan masih tidur. Dia melangkah dengan sangat hati-hati menuju ruang ganti kemudian segera memakai pakaiannya di sana.
"Beruntung banget gue hari ini karena Juan nggak melihat tubuh polos gue," gumam Hara dengan senyum mengembang di bibirnya.
Hara keramas juga sehingga dia harus mengeringkan rambutnya dengan hairdryer yang mau tidak mau harus berisik karena suara bising yang dihasilkan dari benda itu.
"Sekarang bodoamat kalau dia bangun karena gue sudah selesai mandi." Hara pun langsung menyalakan mesin itu dan memakainya dengan nyaman dan benar saja kalau suara bising dari mesin itu membuat Juan menggeliat dan membuka mata karena merasa terganggu dengan suara bisingnya.
"Berisik banget sih!" keluhnya seraya menutup telinga dengan bantal.
"Udah siang sekarang," sahut Hara walau sebenarnya dia malas berbicara dengan Juan.
"Hah? Siang? Jam berapa emangnya sekarang?" Juan kembali membuka mata kemudian melihat jam dinding di kamar Hara. "Baru juga setengah enam, siang dari mananya coba?" Juan duduk bersila sambil mengucek matanya agar penglihatannya menjadi jelas. Dia juga harus mengumpulkan nyawa dulu sekarang karena masih sedikit linglung setelah bangun.
"Jam setengah itu memang siang," balas Hara sambil terus mengeringkan rambutnya.
"Lo kenapa bisa ada di kamar gue?" kaget Juan ketika melihat Hara berada di ruangan yang sama dengannya.
__ADS_1
"Ini kamar gue, btw." Hara tidak mau menatap suaminya.
"Kamar lo?" Juan langsung memerhatikan sekeliling dan saat itu juga dia baru sadar kalau kemarin dia dan Hara sudah menikah dan semalam dia menginap di rumah gadis itu atas permintaan kedua orangtunya. "Lo setiap hari bangun pagi begini?" tanya Juan sambil menyisir rambutnya menggunakan jari karena sangat berantakan sekarang. Namanya bangun tidur, tentu dia sedang dalam mode paling jelek sekarang.
"Nggak!" sewot Hara.
"Dih, gue tanya baik-baik kali. Nggak usah sewot, ngomong nggak enak sama suaminya dosa lho!" Juan beranjak turun dari tempat tidur kemudian menghampiri Hara yang duduk di kursi rias. "Gimana semalam? Puas nggak sama gue?" tanya Juan dengan begitu membingungkan sampai Hara tidak paham apa yang suaminya itu maksud.
"Puas ngapain?"
"Malam pertama sama gue lah, memang apa lagi?" Juan tersenyum penuh makna.
"Meskipun gue nggak ingat apa-apa semalam. Gue yakin banget nggak di apa-apain sama lo karena tubuh gue masih baik-baik saja dan tidak ada tanda apa-apa di bagian mana pun di tubuh gue," terang Hara yang membuat wajah tengil Juan langsung berubah datar.
"Ternyata lo tidak mudah untuk ditipu," kata Juan penuh sesal.
"Mandi sana!" perintah Hara karena mereka harus berangkat ke sekolah nanti.
"Cie yang perhatian sama gue sampai nyuruh buat mandi segala!" goda Juan sambil mencubit kedua pipi Hara dari belakang.
"Disentuh sama pacar halal lo kok marah-marah. Giliran meluk atau dipeluk sama cowok lain jangankan marah, gue lihat malah betah banget," sindir Juan yang teringat dengan momen ketika Hara memeluk Narendra di gor tempat pertandingan futsal.
"Kenapa? Lo iri sama Narendra dan berharap gue bakalan meluk lo juga kaya gitu?" Hara mengangkat sebelah alisnya sehingga wajahnya memperlihatkan ekspresi sinis sekarang.
"Wajib pakai banget karena lo sekarang sudah menjadi istri dari seorang Juantariksa Haidar. Cowok paling populer di sekolah kita dan menjadi idaman banyak cewek-cewek baik di sekolah ataupun di luar sekolah. Ketua Geng Atlantis yang cukup terkenal di kalangan geng motor hebat lainnya." Juan membanggakan serta memuji dirinya sendiri, tetapi sayang sekali Hara sama sekali tidak tertarik dengan semua itu.
"Buat apa semua itu kalau sholat aja lo nggak pernah!" sindir Hara.
"Emangnya lo sholat?" Juan menatap Hara lekat.
"Ya iyalah, meskipun gue nggak setaat anak ponpes, gue tetap nggak pernah ninggalin kewajiban gue sebagai makhluk Tuhan," jawab Hara sambil meletakkan hairdryer ke tempat semula karena sudah selesai memakainya.
__ADS_1
"Sekarang lo udah sholat?"
"Belum karena tadi gue mandi dulu. Sekarang baru gue mau sholat." Hara berdiri kemudian mengambil alat sholat dari almari kemudian memakai mukena dan menggelar sajadah di lantai.
"Seingat gue semalam lo nggak sholat Magrib sama Isya," komentar Juan.
"Tadi malam saat lo lagi enak-enak ngorok gue bangun buat sholat," balas Hara.
"Oh." Juan mengangguk paham, dia membiarkan gadisnya itu melakukan kewajiban, sementara dirinya langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Setelah Juan selesai mandi, ternyata Hara juga sudah selesai sholat.
"Seragam gue mana?" tanyanya kepada Hara yang sedang sibuk menggantung mukena.
"Di koper," jawab Hara sambil menunjuk koper milik Juan yang belum sempat dibuka kemarin karena mereka malah sibuk berdebat tidak jelas yang berakhir membuat Hara menangis sampai ketiduran.
"Ambilin dong!" pinta Juan sambil melangkah mendekati istrinya.
Hara mendongak dan saat itu dia bisa melihat dengan jelas tubuh Juan hanya tertutup sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya. Hara meneguk ludah kasar karena jujur saja dia sedang terpesona untuk indahnya tubuh Juan sekarang meskipun ini bukan kali pertamanya dia melihat perut Juan yang terbentuk indah karena saat di sekolah dia pernah beberapa melihat otot perut itu.
"Ambil sendiri!" katanya kemudian setelah tidak lagi terpesona.
"Nggak mau, sebagai seorang istri lo harus melayani gue dengan baik tanpa ada bantahan sedikit pun atau gue bakal laporan ke mama mertua kalau lo tidak menjadi istri yang berbakti dengan suaminya!" ancam Juan sungguh-sungguh.
"Dasar anak mama!" ledek Hara dengan begitu kesal merotasikan bola matanya malas kemudian dia dengan sangat terpaksa langsung berjongkok kemudian membuka koper milik Juan dan mengambil seragam di sana. "Jangan minta tolong buat bantu pakai juga!" katanya seraya memberikan seragam itu kepada pemiliknya.
"Awalnya gue nggak mau minta tolong, tetapi setelah lo bicara kaya gitu ke gue, gue mau lo bantuin gue pakai baju ini!" perintah Juan dengan nada suara yang begitu tegas dan ingin dibantah.
"Lo bukan bayi lagi sekarang, pakai sendiri dan jangan pernah mengancam gue lagi!" Hara meletakkan seragam Juan ke kasur karena cowok itu tidak segera mengambilnya saat Hara sudah menyodorkan seragam itu tadi.
"Istri itu harus–"
__ADS_1
"Diam!" potong Hara secepat kilat.
Bersambung...