Gadis Bar-Bar Incaran Badboy Sekolah

Gadis Bar-Bar Incaran Badboy Sekolah
023- Gue sumpahin lo kalah


__ADS_3

"Nggak usah kasar sama cewek!" Nino menarik baju bagian belakang Juan dan membuatnya menjauh dari Hara. "Lo beberapa hari yang lalu udah bikin dia terluka sampai sakit dan nggak masuk sekolah, jangan buat dia sakit lagi gara-gara tingkah kasar lo itu!" Nino menatap Juan penuh amarah, dia paling tidak suka kalau ada cewek yang disakiti seperti ini, siapa pun itu walau bukan Hara, jika itu cewek baik-baik, maka Nino akan ada di pihaknya.


"Gue nggak niat bikin dia terluka, gue refleks aja karena dia mukul perut gue!" Juan menepis tangan Nino, dia tidak suka cowok itu ikut campur dengan urusannya.


"Nino, udahlah! Jangan membesar-besarkan masalah ginian!" ucap Gilang sambil menarik cowok itu agar menjauh dari Juan.


"Kalian sama aja!" Nino menatap mereka tajam kemudian menatap Hara yang terlihat sedang mengusap-usap kepalanya. "Ck! Menyedihkan." Nino akhirnya memilih keluar dari kelas Hara, dia malas melihat perdebatan Hara dengan Juan. Lebih baik pergi dan makan ke kantin daripada kelaparan gara-gara emosi.


Hara menatap Juan penuh kebencian, dia benar-benar membenci cowok itu karena selalu saja membuat ulah dengannya. Rasanya dia ingin mengadu kepada Om Reno agar Juan mendapat hukuman, tetapi dia tidak mau dianggap lemah kalau mengadu sehingga memutuskan keluar dari kelasnya, meninggalkan Juan dan temannya yang lain.


Hara memilih pergi ke kantin dan mencari Ella yang masih di sana. Temannya itu sedang sibuk makan mie ayam dan Hara dengan segera menghampiri kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengannya.


"Bukannya tadi lo nolak buat ke kantin?" Ella mengerutkan dahi bingung melihat Hara yang tiba-tiba datang ke kantin.


"Emang tadi lo ngajak gue?" Hara tentu saja tidak ingat karena dia tidur dan bangun di sampingnya bukan Ella, tetapi Narendra.


"Hehe, enggak! Tadi lo tidur nyenyak banget sih." Ella menggaruk tengkuknya karena malu, dia kemudian melanjutkan makan sambil sesekali menyahuti ucapan Hara ketika cewek itu mengajaknya bicara.


Hara mengedarkan pandangan dan tidak sengaja dia melihat Nino sedang makan soto dan cowok itu sesekali melihat ke arahnya. Hara tersenyum, dia senang karena Nino selalu membelanya dan sikap cowok itu sangat baik, tetapi Hara juga harus menjaga jarak karena dia tidak mau cowok itu suka padanya.


"Gue udah selesai makan, lo mau tetap di sini atau balik lagi ke kelas?" Ella menelengkan kepala, menatap Hara yang terlihat sedang melamun sekarang. "Hara?" panggilnya pelan seraya menepuk bahu cewek itu yang langsung berjingkat kaget.


"Kenapa?"


"Gue tanya, lo mau tetap di sini atau balik ke kelas?"


"Lo udah selesai makan?"


"Udah." Ella mengangguk.

__ADS_1


"Ke kelas aja deh, males lama-lama di sini."


Ella mengangguk, dia membayar makanannya kemudian menggandeng tangan Hara dan berjalan santai menuju kelas mereka lagi. Tidak lama bel masuk berbunyi dan mereka mengikuti pelajaran dengan santai sampai istirahat kedua dan pulang.


Hara pulang sendirian dengan sepedanya, sebenarnya dia ditawari Narendra akan diantar, tetapi dia menolak dengan alasan ingin olahraga juga.


Sesampainya di rumah, Hara langsung ganti baju karena sebentar lagi Narendra akan menjemputnya dan mengajak ke tempat pertandingan futsal.


"Mau ke mana lo?" tanya Marcel ketika mereka berpapasan di tangga.


"Pergi main."


"Main sama siapa? Lo mau kencan ya?" Marcel langsung mengintegrasi adiknya. Dia baru saja pulang sekolah dan tubuhnya berkeringat cukup banyak karena terlalu banyak beraktivitas tadi sebelum pulang.


"Kencan palamu!" Hara melotot.


"Yang sopan sama kakak lo, cil!" sewot Marcel seraya mengacak-acak rambut adiknya yang sudah rapi.


"Sakit, ege!" Marcel mendorong kepala adiknya kemudian meniup belas gigitan Hara yang terasa sangat perih karena terluka.


"Sorry, gue buru-buru. Bye, Kakak!" Hara langsung kabur sebelum mendapat balasan dari kakaknya itu.


Saat tiba di lantai satu, Hara langsung menemui mamanya yang sedang bersantai. Hara kemudian pamit dan mengatakan alasan kepergiannya dengan jujur.


Mama Deandra mengizinkan dengan syarat tidak boleh pulang malam dan harus sampai di rumah sebelum jam delapan malam nanti.


Hara keluar rumah karena dia sudah mendapat pesan dari Narendra kalau cowok itu sudah sampai di depan gerbang rumahnya. Narendra sengaja tidak mampir karena sekarang waktunya sudah mepet dan dia takut telat kalau mampir ke rumah cewek itu dulu.


"Lo serius, Hara?" tanya Narendra ketika cewek itu sudah masuk ke mobil dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Serius apa?" Hara kebingungan.


"Lo bukan orang lain, 'kan?"


"Ya bukan lah!" sewot Hara langsung.


"Lo beda banget woy! Cantik banget sekarang mirip bidadari." Narendra serius memuji, biasanya ketika sekolah Hara tidak pernah memakai make up sama sekali, tetapi sekarang cewek itu memakai make up tipis-tipis tetapi terlihat begitu cantik di mata Narendra.


"Emang lo pernah lihat bidadari?" Mata Hara memicing, menetap Narendra dengan sarkas.


"Ini di samping gue bidadarinya," canda cowok itu kemudian langsung tancap gas menuju tempat tanding futsal.


"Bisa aja Lo!" Hara terkekeh ringan, sebenarnya kepalanya agak pusing sekarang, tetapi karena dia sudah berjanji akan datang, dia pun akhirnya memilih tetap pergi, lumayan juga kalau Narendra menang karena dia akan dapat tiket konser idol kesukaannya.


Setibanya di tempat pertandingan, ternyata di sana sudah sangat ramai orang karena yang datang bukan hanya dari sekolah Hara, tetapi sekolah lain juga yang akan ikut menjadi suporter Juan dan Narendra.


"Gila, rame banget." Hara menggandeng tangan Narendra atas perintah cowok itu sendiri.


"Memang rame, biasanya malah lebih rame dari ini, pokoknya seru banget kalau sudah tanding nanti. Lo nggak akan nyesel datang ke sini," kata Narendra, dia menatap Hara lembut dan tersenyum manis padanya.


"Semoga aja deh." Hara dan Narendra masuk ke area pertandingan. Hara diajak Narendra pergi ke sisi pendukung Narendra berada.


"Gue mau kumpul dulu sama teman-teman gue, Lo duduk di sini dan jangan pindah ke tempat lain!" nasihatnya sambil menepuk puncak kepala Hara beberapa kali.


"Oke. Semangat!" Hara memberikan senyuman terbaiknya untuk Narendra.


"Siap, Bos!" Narendra tertawa, dia segera bergabung dengan temannya yang lain kemudian membahas strategi permainan nanti agar mencetak banyak poin.


Hara mengedarkan pandangan ke segala penjuru sampai dia melihat Juan dan gengnya masuk ke tempat itu dan orang-orang yang mendukungnya bersorak ketika cowok itu berjalan dengan penuh percaya diri memasuki lapangan untuk pertandingan.

__ADS_1


"Gue sumpahin lo kalah! Dasar cowok kasar!" umpat Hara dengan tatapan sengit tertuju kepada cowok itu.


Bersambung...


__ADS_2