
Setelah perdebatan panjang kali lebar beberapa menit yang lalu, Hara dan Juan akhirnya berangkat ke sekolah bersama-sama. Awalnya Hara ingin berangkat sekolah sendiri, tetapi mamanya melarang sehingga mau tidak mau dia tetap berangkat dengan Juan daripada telat sampai ke sekolahnya.
Saat mereka baru masuk ke gerbang, keduanya langsung menjadi pusat perhatian oleh murid lain yang kebetulan melihat mereka. Apalagi keduanya turun dari mobil yang sama di mana hal itu pasti membuat murid lain bertanya-tanya kenapa mereka bisa berangkat bareng menggunakan mobil yang sama.
Berbeda dengan Hara yang merasa tidak suka menjadi pusat perhatian, Juan justru sangat senang dan terlihat begitu percaya diri. Dia bahkan berani merangkul bahu Hara seolah-olah memperlihatkan kepada murid lain jika dia dan Hara memiliki hubungan lebih dari sekadar teman sekolah.
"Lo nggak usah merangkul gue segala, Juan!" Hara dengan kasar menepis tangan Juan. Dia tidak mau menjadi bahan ghibah murid lain dan diserang fans fanatik Juan yang jumlahnya sangat bejibun di sekolah itu.
"Dirangkul sama suami sendiri kok marah, harusnya kamu senang karena akan mendapat pahala!" bisik Juan yang kembali mengubah panggilan lo-gue jadi aku-kamu.
"Iya, tapi nggak di sekolah juga!" Hara memutar bola mata malas.
"Berarti kalau di rumah boleh?" Juan mengangkat alisnya beberapa kali sambil tersenyum tipis menggoda kekasih halalnya itu.
"Boleh." Singkat Hara menjawab karena jika terus meladeni Juan maka waktunya tidak akan pernah cukup. "Gue mau ke kelas duluan, lo nggak usah ngintilin sampai ke kelas gue, awas aja kalau lo ngikutin gue, malam nanti burung lo bisa habis gue potong-potong!" ancam Hara yang kemudian mempercepat langkahnya dan meninggalkan Juan yang menatapnya lekat sambil bergidik ngeri karena ancaman Hara sepertinya tidak main-main.
Hara sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan kalau Juan tidak mengikutinya. Dia bisa bernapas lega ketika tahu Juan benar-benar tidak mengikuti dirinya. Hara pun kembali fokus melihat ke depan, tetapi mendadak dia dikejutkan dengan kedatangan Nino yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya sehingga dahi Hara sempat membentur dada bidang cowok itu tadi.
"Sejak kapan lo di sini?" Hara mendongak supaya bisa melihat wajah Nino karena cowok itu lebih tinggi darinya.
"Belum lama," jawab Nino dengan tatapan datarnya,"lo kenapa bisa bareng sama Juan? Kalian punya hubungan apa?" kepo Nino dengan ekspresi wajah yang sangat datar dan membuat Hara merasa sangat tidak nyaman sekarang.
"Nggak punya hubungan apa-apa. Gue buru-buru ke kelas sekarang, sampai ketemu lain waktu!" Hara langsung melewati Nino begitu saja karena dia tidak mungkin memberitahu cowok itu kalau sekarang dia dan Juan sudah menikah.
"Gue nggak percaya kalau mereka tidak punya hubungan apa-apa." Nino menatap kepergian Hara dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Setelah itu, dia pun pergi ke kelasnya sendiri yang sudah ramai karena sebentar lagi memang sudah bel masuk.
__ADS_1
Juan yang ditinggal Hara langsung dihampiri oleh ketiga temannya. Gilang, Arion, dan Dhimas, minus Nino karena cowok itu akhir-akhir ini sering misah dari mereka, entah karena apa Nino jarang bergabung, mereka tidak tahu. Namun, Juan menebak kalau alasan Nino tidak mau bergabung dengannya karena cowok itu masih sangat marah kepadanya setelah kejadian di mana dia memperlakukan Hara dengan tidak baik di sekolah beberapa hari yang lalu.
"Keren banget si Bos! Sudah bisa berangkat bareng sama cewek itu," puji Dhimas tulus.
"Lo pakai pelet apa, Bos! Bukannya kalian kalau ketemu selalu saja berantem, kok tiba-tiba sekarang bisa dekat kaya gini?" kepo Arion sambil mengemut permen susukita rasa melon kesukaannya.
"Jangan-jangan kalian udah resmi pacaran sekarang?" tebak Gilang yang tebakannya hampir benar, hanya saja meleset karena bukan pacaran, melainkan menikah. Eh, tapi dibilang pacaran juga sah-sah saja karena Hara dan Juan pacaran mode halal sekarang.
"PJ-nya jangan lupa kalau beneran udah jadian!" palak Arion yang diangguki oleh Dhimas dan Gilang.
"Bisa diatur," kata Juan santai. Dia kemudian melangkah cepat menuju kelasnya karena mulai hari ini dia akan mencoba fokus belajar agar tidak membuat kecewa papa dan mamanya meskipun sebenarnya dia sudah pintar, hanya saja bisa dibilang sangat pemalas kalau mengikuti pelajaran sekolah yang dirasa sangat membuat bosan.
Ketiga temannya tertawa senang dan mengikuti Juan menuju kelas mereka.
"Pak?" panggil Hara kepada guru yang sedang mengajar sekarang.
"Kenapa?" Guru itu menoleh ke belakang, menatap muridnya yang memanggil.
"Bapak punya topi atau penutup kepala tidak?" tanya Hara yang membuat seluruh murid di kelas itu langsung menoleh ke arahnya.
"Ngapain kamu tanya begitu sama Pak Botak, Hara?" bisik Ella yang duduk tepat di sebelahnya.
Hara tidak menjawab pertanyaan Ella, dia justru fokus menatap guru laki-laki tadi dan menunggu pertanyannya dijawab.
"Punya banyak, memangnya kenapa? Kamu mau pinjam buat bapak kamu?" tanya Pak Botak, guru matematika yang dikenal galak kalau sedang serius.
__ADS_1
"Nggak, Pak. Tapi, saya kasih saran supaya Bapak kalau mengajar topinya atau pecisnya dipakai!" kata Hara dengan ekspresi wajah yang biasa-biasa saja.
"Memangnya kenapa?" Pak Botak bertanya karena sangat bingung sekarang.
"Kepala Bapak yang botak mengalahkan terangnya cahaya matahari. Sangat silau," kata Hara datar dan setelahnya dia tertawa keras disusul oleh murid-murid yang lain. Mereka ikut menertawakan Pak Botak karena ucapan Hara tadi mereka anggap memang benar.
"Murid laknat, berani-beraninya kamu bodyshaming sama saya!" Pak Botak marah, dia mengambil penggaris kayu kemudian menghampiri Hara yang masih sibuk menertawakannya. "Murid seperti kamu harus diberi pelajaran!" kata Pak Botak yang membuat tawa Hara semakin keras sekarang.
"Lah, Hara sudah pintar, Pak. Tidak perlu diberi pelajaran lagi," komentar ketua kelas dengan ekspresi wajah polosnya.
"Bukan begitu maksudnya, dodol!" sahut murid lain sambil mengeplak kepala ketua kelas pelan.
"Dodol mah enak dimakan, tapi sayang belinya mahal dan bikin eneg!" komentar yang lain.
"Gue jadi pengen makan dodol sekarang," sahut murid lainnya lagi sehingga membuat kelas yang semula sangat seperti kuburan mati sekarang menjadi ramai seperti di pasar loak.
"Berani mukul saya nanti saya viralkan video Bapak ke sosial media," ancam Hara.
Bugh!
Pak Botak memukul meja dengan penggaris kayu tadi dan langsung membuat murid di sana langsung diam semua karena takut dengan Pak Botak yang benar-benar sangat marah sekarang.
"Na Jaemin, Lee Jeno, Lee Haechan, Min Suga, sijeuni, army!" latah Ella sambil berjingkat kaget.
"Gila tuh bocah, malah nyebutin idol K-Pop."
__ADS_1