Gadis Pemikat Om Daddy

Gadis Pemikat Om Daddy
Bab 1 Allesya Lefrand


__ADS_3

Tuk


Tuk


Tuk!


Suara hells yang mengenai lantai porselen bandara bergema di setiap telinga orang yang dilaluinya.


Wanita dengan tubuh tinggi semampai, wajah elok nan rupawan tak ada celanya. Sungguh pahatan sempurna dari Sang Pencipta.


Dari balik kacamata hitam yang dikenakannya, matanya memindai ke sekeliling mencari orang yang akan menjemputnya di bandara.


Hingga dia menemukan seorang pria yang mengangkat tinggi tinggi selembar kertas yang berukuran cukup besar. Di kertas itu bertuliskan "Allesya Lefrand".


"Ck.... Apa tidak bisa dia menuliskan nama panggilanku saja? Kenapa harus selengkap itu?" keluh Allesya yang lebih suka dipanggil dengan nama panggilan Asya itu.

__ADS_1


Perlahan Asya berjalan menghampiri pria yang masih mengangkat tinggi tinggi kertas bertuliskan namanya.


"Turunkan kertas itu. Aku sudah di depanmu!" titah Asya pada pria itu seraya menurunkan sedikit kacamatanya hingga ke ujung hidungnya yang mancung sebentar dan setelah itu ia membenarkan kembali letak kacamatanya.


"Dimana daddy? Dia tidak menjemputku?" tanya Asya karena dia yakin sekali pria yang diperkirakan seumuran dengan dirinya itu tak mungkin adalah daddy-nya. Menurut pemikirannya, daddynya pasti sudah sangat tua dan kepalanya pasti sudah ditumbuhi oleh uban yang banyak.


Tujuh tahun dia tidak pernah bertemu muka dengan Zayn. Obrolan mereka selalu hanya via chat saja dan pembicaraan singkat.       Apalagi yang dibicarakan kalau bukan hanya mengenai seputar uang kuliah.


"Tuan Zayn sedang sibuk, Nona Allesya. Karena itu saya diperintahkan untuk menjemput Nona!" jawab pria yang belum diketahui namanya.


Ya, tapi apa boleh buat, Asya tidak bisa menuntut banyak. Zayn mau bertanggung jawab atas dirinya selama ini saja sudah membuat Asya harus bersyukur. Hal itu dikarenakan Asya bukanlah siapa siapa bagi Zayn.


"Ya sudah kalau begitu, kita pulang saja. Badanku sudah pegal pegal!" titahnya kemudian.


"Baik, Nona Allesya! Silahkan lewat sini!" pria itu pun mempersilahkan Asya berjalan mengikutinya.

__ADS_1


"Panggil aku Asya! Aku tak suka dipanggil dengan nama lengkap!" titahnya lagi yang langsung diiyakan oleh pria itu.


"Kamu pengawalnya Daddy?" tanya Asya memecah keheningan setelah beberapa saat mobil meninggalkan kawasan bandara.


"Saya sekretarisnya, Nona! Nama saya Willy!" jawabnya singkat memperkenalkan dirinya pada Asya.


"Ohh..." Asya kembali diam dan larut dalam pikirannya.


Sepanjang perjalanan Asya dibuat takjub oleh pemandangan ibukota yang kian berkembang. Tujuh tahun sudah Asya meninggalkan tanah air untuk menempuh pendidikan di luar negeri. Saat itu Asya masih sangat muda, yaitu saat umurnya masih lima belas tahun.


Entah karena Asya yang jarang keluar rumah sehingga tidak tau bagaimana rupa kota Jakarta ataukah karena umurnya yang masih kecil sampai dia tidak terlalu ingat pada kota kelahirannya.


Kini ia sudah selesai menempuh pendidikan perguruan tinggi di salah satu universitas ternama di negeri Paman Sam, Asya berniat pulang ke tanah air untuk mengembangkan bakatnya di tanah air. Selain itu dia juga sangat merindukan ibunya yang sudah lama tiada.


"Ibu, Asya sudah pulang! Asya sudah memenuhi amanat ibu untuk menyelesaikan sekolah Asya di Amerika. Sudah tujuh tahun, Bu! Tujuh tahun Asya merindukan ibu!" tanpa disadari, cairan bening sudah menumpuk di sudut matanya. Siap jatuh begitu saja.

__ADS_1


Asya sedikit menengadahkan kepalanya supaya air mata itu tidak jatuh sama seperti yang ia lakukan selama tujuh tahun ini jika ia sedang merindukan sosok Laura, ibunya.


__ADS_2