Gadis Pemikat Om Daddy

Gadis Pemikat Om Daddy
Bab 10


__ADS_3

Asya menyeka air matanya, tak menyangka hal ini datang lebih cepat dari yang dia kira.


"Hari masih pagi. Masih belum terlambat untuk mencari kos! Tapi aku harus cari kemana? Aku sama sekali tak memiliki tujuan! Ah, sudahlah. Yang penting cari tempat tinggal dulu. Sisanya nanti menyusul!"


Asya menyeret kopernya keluar dari kamar. Syukurnya barang milik Asya hanya satu koper ini saja. Asya belum sempat membeli apapun yang dia butuhkan karena baru kemarin dia sampai di tanah air.


"Kamu mau kemana? Siapa yang mengijinkan kamu pergi dari rumah ini, hah?" hardik Zayn yang baru saja akan berangkat kerja. Namun Zayn menundanya.


"Bukankah Daddy tidak suka aku tinggal disini? Makanya aku pergi saja. Masalah uang yang sudah Daddy keluarkan selama tujuh tahun, akan aku bayar nyicil. Setelah aku bekerja!" jawabnya tegas.


Sama sekali tidak ada nada takut atau ingin memohon kemurahan hati dari Zayn.


"Ck, bisa bisa sampai aku beruban pun masih belum lunas bayaranmu! Aku tak akan membiarkanmu pergi! Diam di kamarmu atau kamu akan merasakan akibatnya!" Zayn menyeret tubuh mungil itu masuk ke kamar dan mengunci pintu supaya Asya tidak kabur.


"Menyusahkan sekali!" gumamnya tanpa sadar menyimpan kunci kamar dalam saku jasnya.


Setelah itu ia berangkat bekerja tanpa peduli teriakan Asya yang terus meminta dikeluarkan dari sana.


Karena semalam tidurnya sangat nyenyak, Zayn hari ini kelihatan lebih segar. Dia juga makan dengan porsi besar karena bisa makan makanan yang sudah lama ia rindukan.


Padahal hanya menu nasi goreng saja.


Willy, sekretarisnya menyadari adanya perubahan pada atasannya.


"Ada yang membuat Anda bahagia hari ini, Pak?" sapa Willy.


"Heh, tidak!" jawabnya singkat.

__ADS_1


Dalam hatinya ia mendengkus kesal karena pertanyaan dari Willy yang dinilainya bertolak belakang dengan perasaannya saat ini.


Baru saja ia dibuat kesal oleh Asya, tapi Willy malah menyebutnya bahagia.


Karena Zayn sendiri yang tidak menyadari bahwa ia terus tersenyum dari saat masuk ke dalam gedung kantornya. Tak lupa ia membalas setiap sapaan yang datang dari karyawannya.


Senyum dan sikap ramah itu hilang bersamaan dengan pertanyaan Willy.


Zayn bekerja dengan semangat. Semangat dan gairah yang pernah hilang tujuh tahun yang lalu kini muncul kembali. Sampai sampai Zayn lupa sudah waktunya pulang kerja.


"Pak, Anda tidak pulang? Ini sudah jam lima sore," ucap Willy mengingatkan seraya merapikan meja kerjanya.


Zayn melirik ke arah jam dinding di ruangannya sekilas.


"Sebentar lagi. Kamu pulang duluan saja!" lagu lagi titah yang tak pernah diberikan oleh Zayn.


"Baiklah, hari ini cukup sampai disini!" Zayn melangkah keluar ruangan dengan hanya membawa tas kerjanya. Ia sampai melupakan sesuatu yang membuatnya menyesal.


Masuk ke rumah yang suasananya sepi membuat kening Zayn mengernyit.


"Apa anak itu kabur meskipun aku sudah menguncinya di kamar? Bagaimana caranya dia kabur jika satu rumah terkunci rapat?" gumamnya seraya melempar tas kerjanya ke sofa.


Ia pun berlari menuju kamar Asya.


"Asya, buka! Kamu masih di dalam bukan? Kamu tidak kabur dari rumah ini bukan?" tanya Zayn sembari menggedor pintu kamar Asya.


Tapi sayang tak ada jawaban. Dan anehnya kamar Asya adalah satu satunya ruangan di rumah yang lampunya menyala.

__ADS_1


Zayn bisa lihat lewat celah di lantai pintu itu.


Guna memastikan, Zayn berlari ke ruang tamu lagi. Ia ingat koper Asya di posisi terakhirnya.


"Masih ada. Itu artinya dia tidak pergi. Tapi mengapa dia tak menjawab?" Zayn kembali ke depan kamar itu lagi.


"Asya, buka pintunya! Daddy tau kamu di dalam!" ucap Zayn lantang.


Kali ini dia mendapat respon. Asya menjawabnya dengan suara lemah.


"Bukannya Daddy yang mengunci pintu ini? Kuncinya pasti sama Daddy kan?"


Tubuh Zayn menegang. Dia baru mengingat kunci yang ia simpan di saku jasnya.


Zayn melihat ke dirinya sendiri, jas itu tidak menempel pada tubuhnya.


"Argh, sial! Tertinggal di kantor! Bagaimana ini? Kenapa kamu bodoh sekali, Zayn?" umpat Zayn dalam hati.


Bagaimana dia tidak mengumpat? Kunci kamar Asya tidak ada cadangannya. Karena kamar itu sudah lama tidak ditempati, maka Zayn tidak membuat kunci cadangannya.


Kunci pintu itu dibuat khusus dan tidak sama dengan yang dijual di pasaran. Karena itu jika ingin membuat cadangan harus memesan khusus terlebih dahulu.


Sekarang mau tak mau, Zayn harus kembali ke kantor untuk mengambil jas dan dan kunci kamar Asya.


Zayn memacu kendaraan dengan cepat. Setelah mendapatkan yang dia inginkan, ia pun segera kembali ke rumah lagi.


"Asya!"

__ADS_1


__ADS_2