Gadis Pemikat Om Daddy

Gadis Pemikat Om Daddy
Bab 4


__ADS_3

"Yakin bule disana gak bertanggung jawab? Kalau mereka tersinggung mendengar pendapatmu bagaimana? Lagian pria dihadapanku sekarang ini bukankah bule juga?" tanya Laura setelah melepas pagutannya. Dengan jemarinya yang lentik, ia mengusap bibir Zayn yang semakin hari semakin seksi di matanya.


"Beda dong! Bule di depanmu ini bule yang bertanggung jawab dan akan setia padamu sampai akhir hayat. Beda banget sama mereka!" jawabnya seraya memandang mesra wajah istrinya.


"Ehm... Kok aku gak percaya ya?" tanya Laura mengalihkan pandangannya dari Zayn.


"Apa? Kamu gak percaya sama aku? Mau aku buktikan?" tanya Zayn langsung menidurkan tubuh Laura dan menindihnya.


Tatapan Zayn yang berkabut menandakan hasrat yang ingin segera disalurkan. Laura paham dengan keinginan Zayn yang masih menggebu-gebu ini.


Apalagi Zayn sudah tak sabar untuk bisa menimang bayi dari rahimnya. Karena itu Zayn dan Laura melakukannya sesering mungkin dengan harapan bisa segera diberi momongan oleh Sang Pencipta.


Zayn langsung ******* kembali bibir ranum milik Laura dan mencumbu wanita yang selalu membuatnya hatinya hanyut dalam cinta. Melewati malam panas yang membuat cinta mereka semakin dalam.


Meski tak rela tapi demi keinginan istrinya, Zayn akhirnya mengijinkan Laura berangkat bersama Asya.


Hampir dua minggu Laura di negeri Paman Sam, selama dua minggu itu pula Zayn memendam rasa rindu yang menggebu-gebu. Menjelang kepulangannya ke tanah air, Laura meminta Zayn pergi ke rumah ibunya terlebih dahulu.


Hal ini dikarenakan Laura tak ingin ibunda Zayn menjadi tersinggung jika keduanya datang terlambat.

__ADS_1


"Kamu yakin mau bawa mobil sendiri?" tanya Zayn ketika Laura mengatakan akan melakukan perjalanan ke rumah mertuanya sendirian.


"Kamu gak percaya sama aku? Aku kan sudah sering melakukan perjalanan jauh. Tenang aja. Doakan agar aku selamat. Oh ya, sekalian aku mau kasih kabar gembira. Tapi tunggu sampai di rumah bunda dulu ya," jawab Laura meyakinkan Zayn.


"Kabar gembira apa? Jangan bikin penasaran deh. Aku deg degan ini!" tanya Zayn dengan antusias.


"Eits, kalau aku bilang sekarang kan gak seru jadinya. Nanti aja ya, Sayang! Tunggu aku pulang. Aku tutup dulu ya, pesawatnya bentar lagi take off." ucap Laura hendak memutuskan panggilannya.


"Okelah kalau begitu. Aku maksa juga percuma kalau kamu gak mau bilang. Jaga diri ya, Sayang. I love you!" jawab Zayn setengah merajuk layaknya anak kecil yang sedang ngambek.


"Jangan marah dong, Sayang. Nanti jelek he he he. I love you too. Jaga dirimu juga ya!" balas Laura terkekeh sebelum percakapan mereka benar benar terputus.


Zayn melihat kembali riwayat chat di ponselnya. Empat jam yang lalu Laura sudah mengabarinya kalau pesawat yang ditumpanginya sudah mendarat dengan selamat.


Zayn masih memastikan kembali apakah Laura memerlukan supir untuk mengantarnya tetapi usulan Zayn ditolak oleh Laura.


Akhirnya sesuai dengan rencana Laura, ia menyetir sendirian ke kota tempat ibunda Zayn yang memakan waktu tiga jam dari bandara.


Tapi ini sudah empat jam bahkan hampir lima jam terlewati dan belum ada tanda tanda Laura menghubunginya kembali.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Zayn? Gak tenang begitu?" tanya Ibundanya gusar. Selagi pestanya belum dimulai, ia sambil memastikan semua persiapan pesta sudah berjalan sempurna.


"Laura masih belum kasih kabar, Bu! Zayn khawatir dia kenapa-napa." jawab Zayn semakin tak tenang.


"Mungkin jalanan macet, Zayn. Coba aja kamu yang hubungi!" titah ibundanya.


"Sudah, Bunda! Tapi tidak diangkat." jawab Zayn.


Drrtt


Drrtt


"Halo!" sapa Zayn dengan tergesa gesa saat mendengar nada panggilan masuk di ponselnya.


"Dengan Bapak Zayn Eldrich?" tanya suara pria di seberang sana dan disertai suara sirine ambulance yang kencang. Tapi Zayn segera menepis pikiran buruk yang sempat melintas.


"Ya, saya sendiri. Ada apa ya?"


"A... Apa?"

__ADS_1


__ADS_2