
"Ada apa, Zayn?" tanya ibundanya ikutan panik saat melihat Zayn memekik kaget. Belum lagi ponselnya yang terlepas begitu saja dari genggaman Zayn.
"Laura, Bun! Laura... " ucap Zayn terpotong. Zayn segera menguasai dirinya. Dia harus segera ke rumah sakit untuk memastikan keadaan istrinya.
"Bunda, pestanya lanjut tanpa Zayn ya! Ada hal mendesak, Bun! Laura kecelakaan! Zayn harus segera ke rumah sakit!" ucapnya seraya tergesa-gesa mengambil jas dan menyambar kunci mobilnya.
"Zayn, Zayn!" panggil Mila, Ibundanya. Tapi teriakan Mila diabaikan. Zayn sudah tak sabar untuk segera sampai ke rumah sakit.
Zayn berlari ke IGD untuk menanyakan keadaan istrinya.
"Bapak Zayn Eldrich?" tanya seorang pria yang berpakaian seragam polisi.
"Ya Pak, Saya Zayn. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Zayn gugup. Harusnya ia menanyakan hal itu pada dokter yang memeriksa dan bukan pada polisi. Tapi Zayn tidak dapat memikirkan apapun selain Laura.
"Istri Bapak tidak dapat tertolong. Mobilnya jatuh ke jurang sedalam lima meter.
__ADS_1
Beruntung ada yang melihat kejadian itu dan segera melaporkan pada kami. Tapi istri Anda meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit." jelas polisi itu singkat.
"Kami akan melakukan otopsi untuk memastikan apakah ini kecelakaan tunggal ataukah ada faktor lain penyebab kecelakaan." ucapnya lagi.
Pikiran Zayn kosong. Yang ia pikirkan tak ada lagi senyum Laura yang menghiasi hidupnya. Dia bahkan tak mendengar semua penjelasan dari polisi tersebut.
"Dimana istri saya sekarang, Pak?" tanya Zayn. Dalam benaknya, ia hanya ingin bertemu dengan Laura.
"Silahkan ikut saya!" titah polisi itu membawa Zayn ke kamar jenazah untuk memastikan bahwa wanita yang mengalami kecelakaan adalah benar Laura.
Zayn tak kuasa menahan tangisnya ketika melihat istrinya yang sudah terbaring bujur dan kaku. Raut wajah Laura menunjukkan ia menahan sakit yang amat hebat.
Ia meraih tangan Laura dan menggenggam tangan dingin itu.
"Sayang, kenapa kamu disini? Ayo pulang bersamaku! Lihat, aku sampai menjemputmu. Bukankah aku sudah bilang aku akan terus menunggumu?" lirih Zayn menangis pilu tak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Tubuhnya luruh ke lantai, kakinya ikut gemetaran dan tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.
__ADS_1
Dokter yang memeriksa Laura datang menghampiri Zayn. Ada yang harus ia sampaikan pada pria yang masih tak kuasa menahan tangisnya.
"Pak Zayn, sebelumnya saya ingin mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya istri Anda. Dan saya juga ingin menyampaikan satu hal yang harus Anda ketahui." ucap dokter itu.
Zayn memaksa tubuhnya untuk berdiri. Zayn yang terkenal sebagai pria yang tegas dan kuat tapi kini ia begitu rapuh.
"Apa itu, Dok?"
"Istri Anda tidak meninggal sendirian. Ada janin yang berusia sekitar empat minggu di rahimnya. Dan janin itu juga tidak bisa tertolong." ucap dokter itu dengan sangat hati hati. Ia tau betul ini akan menjadi pukulan yang sangat berat bagi Zayn.
"A... Apa, Dok? Apa saya tidak salah dengar? Istri saya sedang hamil?" tanya Zayn dengan suara tercekat meyakinkan kembali apa yang baru saja diucapkan oleh dokter itu.
"Iya, Pak Zayn. Kami sudah memeriksa keadaan istri Anda dan saya bisa memastikan semuanya adalah benar." ucap dokter itu yakin.
Zayn merasa shock. Guncangan ini terlampau hebat untuknya.
__ADS_1
"Kenapa, Tuhan? Kenapa Engkau merenggut keduanya dari sisiku? Di saat aku baru benar benar bisa merasakan cinta tapi dalam sekejap mata, cinta itu hilang lagi dari sisiku." ratapnya.