
Sudah beberapa kali ponsel milik Laura terus berdering tapi tak dihiraukan oleh Zayn. Ia masih berdiri di samping peti beku tempat jenazah Laura disemayamkan. Kematiannya yang tiba tiba membuat banyak sahabatnya ikut bersedih.
Zayn mencoba mengabaikannya tapi ponsel itu terus berdering dan membuat suasana hati Zayn semakin kesal.
"Apa kamu tidak bisa diam? Kamu membuatku pusing!" bentaknya di ponsel.
"Daddy, Asya mau pulang. Asya mau lihat ibu." pinta Asya menangis tersedu sedu saat mendengar ibunya sudah tiada.
"Tidak! Untuk apa kamu pulang? Kamu tidak sadar kalau kamulah penyebab semua ini? Kalau saja laura tidak mengantarmu sekolah ke luar negeri, tentunya hari ini dia masih bersamaku!" bentaknya lagi.
Asya tak percaya saat mendengar ayah tirinya menuduhnya menjadi penyebab semua malapetaka ini.
"Tidak, Daddy. Asya juga tak ingin ibu meninggal. Ijinkan Asya pulang melihat ibu untuk yang terakhir kalinya, Daddy! Please!" pinta Asya lagi sembari menangis pilu.
Gadis berusia lima belas tahun itu tak sanggup menyembunyikan rasa pilu di hatinya.
Dia berada di negeri yang jauh saat ibunya tiada dan ayah tirinya menyalahkannya serta tidak mengijinkan dia untuk pulang hanya untuk memberi penghormatan terakhir pada Laura.
Asya hanya mendapat kiriman foto wajah terakhir Laura yang sudah diberi sedikit make up supaya mereka yang melayat mengenang wajahnya yang seperti masih kelihatan sangat cantik.
__ADS_1
Hingga tujuh tahun berlalu, Asya hanya bisa menatap foto itu untuk melepas kerinduannya.
Apalagi saat Asya mengetahui kalau ternyata ibunya tengah mengandung calon adiknya. Jika saja ibunya masih ada saat ini, mungkin saja adiknya sudah berumur enam tahun sekarang.
*****
"Laura... Kau kah itu?" tanya Zayn dengan pandangan kabur karena rasa kantuknya yang sudah tak dapat ia tahan lagi.
Zayn pulang larut malam. Ia sendiri sampai tidak sadar melamun segitu lama di ruangannya sampai akhirnya satpam yang berkeliling menemukan ia masih di dalam sana.
Sesampainya di rumah, Zayn langsunv terduduk di sofa ruang tamu. Untung saja hari sudah larut malam sehingga kendaraan tidak begitu padat.
Asya kebetulan keluar dari kamarnya melihat Zayn yang tidur di sofa dengan posisi duduk.
"Daddy, jangan tidur disini. Kembali ke kamar Daddy ya," ucap Asya membangunkan Zayn.
Zayn membuka matanya sebentar dan tersenyum melihat wanita yang sudah dirindukannya selama beberapa tahun belakangan ini.
"Laura... kenapa kamu lama sekali baru kembali? Aku sangat merindukanmu!"
__ADS_1
Antara sadar dan tidak, Zayn memanggil nama Laura pada Asya.
"Sebesar itu rasa rindumu pada Ibu, Daddy! Apa benar gara gara Asya semua ini terjadi?" Asya tersenyum getir mengingat jika benar dialah yang menjadi penyebab meninggalnya Laura.
Asya mengambil tangan Zayn dan melingkarkan di bahunya. Lalu Asya memapah pria yang berbadan lebih besar darinya dengan kesusahan.
Membawa Zayn masuk ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
"Tidurlah, Daddy! Asya tidak tau bagaimana harus menebus rasa rindumu pada ibu. Tapi Asya senang, ternyata ada pria yang sangat sangat mencintai ibu. Dirimu sangat beruntung, ibu!" gumamnya dalam hati seraya menyelimuti Zayn hingga sedada.
*****
"Eungh..."
Zayn mengerjapkan mata berkali kali menyesuaikan sinar yang masuk ke netranya.
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah gorden yang menutupi jendela mengusik tidurnya.
Zayn bangun dengan perasaan nyaman hari ini.
__ADS_1
"Aneh, kenapa aku tidur sangat nyenyak hari ini?" pertanyaan yang tiba tiba muncul di benaknya.