
"Kok gak boleh sih, Daddy? Masa iya Asya sudah susah payah belajar dan namatin pendidikan terus jadi pengangguran? Emangnya Daddy mau Asya jadi pengangguran dan jadi benalu disini?" oceh Asya tak terima.
Asya yang awalnya merasa jantungnya seolah ditikam oleh pedang es, tapi kali ini dia harus memberanikan diri membela haknya.
Zayn yang sempat terlena dengan rasa masakan yang sama persis dengan mendiang istrinya mendadak berubah menjadi sosok yang dingin kembali.
"Aku juga tak mau kamu menjadi benalu!" Zayn menjeda kalimatnya sesaat sembari menatap Asya yang kali ini juga menatap dirinya.
Tak ada rasa takut sama sekali di mata wanita itu.
"Tapi tidak dengan bekerja!" ucapnya lagi dengan penuh teka teki.
"Lalu bagaimana?" tanya Asya semakin penasaran.
"Menikah! Daddy sudah mencarikan pasangan yang tepat untukmu!" ucap Zayn.
__ADS_1
"Apa?" tanya Asya masih mencerna apa yang baru saja diucapkan Zayn barusan.
"Tidak! Asya belum mau menikah! Umur Asya baru dua puluh dua tahun, Daddy! Masa muda Asya masih sangat panjang! Asya gak mau!" tolaknya mentah mentah.
"Siapa yang suruh kamu menolak? Kamu bahkan tidak bisa memilih antara menerima atau menolak!" ucap Zayn lantang.
Seketika masakan yang dirasa sangat enak itu pun menjadi hambar. Zayn murka. Baru kali ini ada yang menolak perintahnya.
"Terserah Daddy! Pokoknya Asya gak mau menikah! Kalau bisa, Asya akan keluar dari rumah ini dan tinggal di tempat lain!" bantahnya lagi.
Asya meletakkan sendok dan garpu dengan kasar. Padahal ia baru menghabiskan setengah dari nasi goreng itu. Tapi Asya sudah kehilangan selera makannya.
"Kamu pikir aku suka menampung kamu, hah? Kalau bukan karena permintaan ibumu, aku tak akan mau bertanggung jawab atas dirimu!" ucapnya masih mencengkeram lengan Asya.
"Kalau begitu, aku tak akan mengganggu Daddy lagi. Aku akan pergi dari rumah! Jadi Daddy sudah bisa melepaskan tanggung jawab itu!" ucap Asya yang balik menatap tajam pada Zayn.
__ADS_1
Meski Asya berani membalas tatapan dingin Zayn, sesungguhnya ia ketakutan. Tapi Asya berusaha menyembunyikannya.
"Lalu bagaimana balas jasamu untuk tujuh tahun ini, hah? Kamu mau bilang 'ikhlaskan saja semuanya, Daddy' begitu?" hardik Zayn lagi.
"Ternyata Daddy minta balas jasa. Aku tak nyangka Daddy pria yang picik! Egois!" ucap Asya lirih. Kali ini pertahanannya goyah. Ia tak mampu menahan air matanya lagi.
Rupanya tanggung jawab Zayn selama ini hanya karena permintaan mendiang Laura.
Asya menyentak tangan Zayn kasar. Ia berlari masuk ke kamarnya lalu memilih berdiam diri di dalam.
"Kenapa harus menjodohkan aku? Kalau memang sudah merasa aku dewasa dan tak ingin mengambil tanggung jawab padaku, cukup mengusirku dari rumah ini saja bukan? Aku bisa mengurus diriku sendiri. Bahkan di luar negeri saja, aku bisa bertahan tanpa hadirnya satu anggota keluarga pun. Apalagi dia! Mana pernah dia datang menjengukku sekali saja?" keluhnya dalam hati.
Moodnya benar benar hilang kali ini. Asya memilih untuk tak keluar dari kamar hingga Zayn berangkat kerja.
Asya mengira Zayn akan datang membujuknya dan membatalkan niatnya, tapi Asya salah.
__ADS_1
Zayn bahkan tak mau peduli sedikitpun mengenai perasaan Asya.
"Baiklah, Asya! Mulai sekarang kamu harus mandiri. Sepertinya rumah ini tak akan menjadi tempat tinggalmu lagi!" ucapnya dalam hati lalu sesegera mungkin Asya memasukkan kembali pakaian yang sudah terlanjur ia susun ke dalam lemari pakaian.