Gadis Pemikat Om Daddy

Gadis Pemikat Om Daddy
Bab 8


__ADS_3

Zayn sudah lama tidak mendapatkan tidur yang nyaman dan nyenyak. Bahkan terkadang dia sampai mengkonsumsi obat tidur supaya ia bisa tidur walaupun hanya beberapa jam.


Tapi seingatnya dia tidak meminum obat tidurnya semalam.


Ingatannya kembali pada saat ia pulang dari kantornya.


"Laura?!" Zayn ingat dia memanggil nama Laura berulang kali.


"Tak mungkin wanita itu kembali. Dia sudah meninggal tujuh tahun yang lalu. Sadarlah Zayn!" batinnya.


Tak lama indra penciumannya mencium bau yang menggoda.


Aroma masakan!


"Siapa yang memasak pagi pagi begini?"


Di rumah ini hanya ada dia sendiri, lalu kenapa...


Zayn buru buru keluar dari kamar dan menuju dapur. Langkah Zayn terhenti ketika melihat seorang wanita yang memakai dress dengan ukuran besar yang melebihi tubuhnya dengan rambut dicepol asal tengah berkutat dengan masakannya.


"Laura!"


Hanya nama itu yang terucap saat melihat punggung wanita itu.

__ADS_1


Tapi Zayn segera menggelengkan kepalanya. Tak mungkin Laura, istrinya. Dia sudah lama meninggal.


"Pasti ini Asya! Sial, kenapa anak itu pagi pagi harus menimbulkan suara berisik seperti ini?" gumamnya lagi.


Dari tadi Zayn tidak bersuara, hanya berdiri mematung melihat punggung anak tirinya dengan tangan yang terus bergerak mengolah masakannya.


"Hmm... jadi!"


Asya berbalik badan dan begitu terkejut saat melihat Zayn sudah berdiri di belakangnya.


"Daddy!" panggil Asya membuyarkan lamunan Zayn.


"Ehm... sarapannya sudah siap, Daddy. Sebentar, Asya siapkan untuk Daddy. Sarapan dulu sebelum berangkat kerja." ucapnya agak gugup karena pandangan Zayn yang tajam menatapnya.


Zayn masih tak bersuara, hanya pandangannya saja yang fokus menatap anak tirinya.


Entah apa yang dirasakannya, yang jelas ada rasa yang tak biasa saat melihat wajah Asya.


Sepiring nasi goreng sudah tersaji di meja makan untuk dirinya.


Karena wangi yang menggoda dan perutnya yang sudah mengeluarkan suara keroncongan, Zayn segera duduk di kursi tak sabar untuk menyantap makanan yang tampak memanggil-manggil dirinya.


"Eee... Stop dulu!" teriak Asya mengagetkan Zayn.

__ADS_1


"Daddy belum cuci muka kan? Sana, sana, cuci muka dulu!" titah Asya seraya membangunkan tubuh Zayn supaya berdiri dan mendorongnya ke kamar mandi.


Anehnya Zayn menurut sambil kebingungan.


Selesai dari kamar mandi, Zayn kembali duduk di kursinya dan disana sudah duduk manis Asya yang menunggunya.


"Ehm... " Zayn sengaja berdeham memecah keheningan dan menyadarkan Asya dari lamunannya.


"Kalau makan ya makan, kenapa harus memegang ponsel di tangan?" tanya Zayn tegas.


"Maaf, Daddy!" jawab Asya singkat saking asyiknya membalas pesan yang masuk tanpa memperhatikan Zayn yang sudah kembali.


Asya menunduk tidak berani menatap Zayn. Suasana semakin dingin dirasa oleh Asya.


Keduanya makan dalam diam. Larut dalam perasaan masing masing. Hanya bunyi dentang sendok yang berbenturan dengan piring yang terdengar.


"Daddy, Asya mau kerja!" ucap Asya mendadak, memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan Zayn.


Zayn tidak menjawab. Dia sangat fokus pada makanannya.


"Masakan ini, masakan yang sama dengan yang pernah dibuat oleh Laura." Masakan dengan cita rasa yang sama dengan buatan istrinya.


"Daddy, Asya mau praktekkan ilmu yang sudah Asya dapat di bangku kuliah!" tegasnya lagi yang kali ini sukses membuyarkan lamunan Zayn.

__ADS_1


Zayn menghentikan kegiatan makannya sejenak.


"Untuk apa kamu bekerja?" tanya Zayn dingin dan tanpa menoleh ke arah Asya sekalipun


__ADS_2