
Semakin sakit hati Zayn mendengarnya. Air mata yang tadinya sudah mulai berhenti kini harus mengalir kembali bahkan lebih deras dari sebelumnya. Zayn memukul dadanya sendiri berharap bisa mengurangi rasa sesak di dadanya.
Setelah menyampaikan apa yang harus dia katakan, dokter itu pun meninggalkan Zayn yang masih meratapi kepergian istri beserta anaknya.
Polisi yang berdiri di sebelahnya seakan teringat pada sesuatu. Ia memberikan tas milik Laura pada Zayn yang sebelumnya telah diperiksa untuk mencari apakah ada yang mencurigakan. Setelah dipastikan aman, ia pun mengembalikan pada Zayn.
Zayn melihat tas yang dia berikan untuk Laura sebagai hadiah ulang tahunnya.
"Iya, benar! Ini tas milik Laura!" katanya lagi mendekap erat tas berwarna putih gading itu.
Setelah itu pak polisi juga meninggalkan dirinya untuk mengerjakan tugasnya yang belum selesai.
Kini Zayn benar benar ditinggal sendirian di ruangan itu bersama jenazah sang istri.
Ia menatap tubuh putih pucat dan dingin itu. Di benaknya berputar memori seperti video yang siap diputar ulang. Dari awal perkenalannya dengan Laura hingga mereka saling jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menikah.
Meski perkenalan mereka yang bisa dikatakan sangat singkat dan status Laura adalah janda beranak satu, sama sekali tidak menyurutkan keinginan Zayn untuk meminang Laura sebagai istrinya.
__ADS_1
Drrtt
Drrtt
Ponsel Zayn berdering membuyarkan lamunan pria itu. Dilihatnya di layar ponsel nama Mila tertera di sana.
Dengan tak bersemangat, ia menjawab panggilan dari ibundanya.
"Halo, Bun."
"Bunda, kenapa ini semua harus terjadi dalam hidup Zayn? Kenapa Tuhan jahat sekali, Bun?" tanya Zayn yang kembali meratap.
"Kamu kenapa menangis, Zayn? Tidak biasanya kamu begini, sayang. Cerita sama Bunda, sebenarnya ada apa?" tanya Mila perasaannya semakin merasa tak nyaman.
"Laura, Bunda. Laura meninggal beserta anak yang tengah dikandungnya," jawab Zayn lirih.
"Apa?" Mila tak kalah terkejut saat mendengar berita ini. Apalagi Zayn mengatakan Laura tengah mengandung calon cucunya. Sungguh hari ulang tahun yang suram bagi Mila tahun ini.
__ADS_1
Zayn sudah satu jam ada di ruangan dingin itu. Sampai akhirnya ia berhasil menguasai dirinya kembali. Ia tak boleh terus menerus terpuruk seperti ini.
Apalagi jenazah Laura harus segera dimakamkan.
Dengan langkah gontai, Zayn kembali ke rumah Mila. Masuk ke kamar yang selalu ia tempati bersama Laura jika sedang menginap di rumah Mila.
Bahkan malam sudah larut sekalipun, Zayn tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan Laura selalu bermain di pelupuk matanya.
Zayn teringat pada tas milik Laura. Ia beranjak dari tidurnya lalu mengambil tas Laura yang diserahkan oleh polisi tadi.
Zayn melihat kembali isinya. Dia melihat ada satu amplop kecil berwarna merah muda. Zayn membuka amplop itu karena penasaran dengan isinya. Ternyata ia melihat sebuah test pack dengan dua garis merah disana. Dan di balik amplopnya tertulis kalimat yang sudah disiapkan Laura untuknya.
Teruntuk suamiku, Zayn.
Terima kasih sudah memberiku cinta di usiaku yang tak muda lagi. Dan kini Tuhan mengaruniakan satu lagi kebahagiaan untuk kita. Buah hati yang sudah lama kita nantikan. Aku merasa sebagai wanita yang paling bahagia saat ini. Terima kasih suamiku. I really love you now and forever. Dari istrimu yang akan selalu mencintaimu, Laura.
"Apa ini kejutan yang ingin kamu berikan untukku? Tapi kenapa kamu tak ucapkan langsung, Laura? Kenapa justru kejutan yang lain pula yang kamu berikan?" Zayn menekan kedua matanya pelan menahan air matanya supaya tak jatuh, dia sangat lelah untuk menangis kembali.
__ADS_1