
Zayn buru-buru menuju kamar Asya. Sepanjang jalan hatinya tidak tenang memikirkan putri tirinya itu. Zayn takut jika dia sampai kenapa-napa.
Selain Zayn takut karena tidak bisa menjaga amanah Laura, ia juga tak ingin terlibat masalah dengan calon suami Asya nantinya.
"Asya!" panggilnya ketika melihat Asya terbaring meringkuk seraya memegang perutnya di lantai.
"Kamu tak apa?"
Asya membuka matanya yang terpejam lalu menatap Zayn.
"Asya lapar, Daddy!" ucapnya sangat pelan hampir tak terdengar.
Tanpa banyak tanya lagi Zayn menggendong Asya ke ruang makan. Dia mencari cari makanan di dapur tapi lagi lagi Zayn menepuk jidatnya sendiri. Seharian dia di kantor dan Asya juga tidak keluar dari kamarnya. Jadi bagaimana bisa ada makanan disana?
"Daddy pesan makan saja ya! Kamu mau makan apa?" Zayn mengeluarkan ponselnya berniat memesan makanan via online.
"Kelamaan, Daddy! Masak mie instan aja. Tapi Asya mau minum obat dulu!" ucapnya lagi masih menekan perut atasnya.
"Tapi itu makanan tak sehat, Asya!"
"Tapi lebih cepat daripada memesan online," ucap Asya sedikit memaksa.
Mau tak mau Zayn menurut pada putrinya.
Zayn tak pernah memasak makanan cepat saji itu, wajahnya mengkerut. Untung saja ia cepat menemukan mie bungkusan, lalu memasak sesuai petunjuk cara memasaknya.
Zayn segera menghidangkan didepan Asya setelah selesai memasak.
"Terima kasih, Daddy!" ucap Asya segera menyeruput mie instan yang wanginya sudah menggoda indra pengecapnya.
"Daddy mau?"
"Tidak, kamu saja yang makan!" jawab Zayn menarik kursi duduk di hadapan gadis itu.
Zayn menatap Asya yang tampak asyik menikmati makanannya. Tanpa sadar sudut bibir Zayn tertarik ke atas membentuk garis lengkung.
__ADS_1
Hatinya menghangat padahal yang dilihatnya hanya seorang gadis muda yang sedang makan. Apa mungkin karena Zayn telah lama ditinggal hidup sendirian, karena itu dia merasa ada yang berbeda dengan kehadiran Asya?
Asya mirip sekali dengan Laura apalagi saat makan seperti ini.
"Hampir saja aku mengingkari janjiku padamu, Laura!"
Ingatan itu kembali. Hari dimana Zayn melamar Laura...
"Aku lebih tua darimu. Apalagi sekarang aku juga memiliki seorang putri yang usianya sudah remaja. Apa kamu tidak minder kalau menikah denganku? Apa kamu mau menerima anakku dari pernikahan aku dengan suamiku yang dulu?" tolak Laura halus saat Zayn berlutut dengan satu kakinya melamar Laura untuk menjadi istrinya.
Alasan itu sangat masuk akal. Bagi sebagian orang tentunya mendapatkan pasangan yang umurnya dan statusnya sepadan akan lebih baik.
Apalagi Laura adalah seorang janda beranak satu.
Tapi rupanya hal itu tidak menghalangi keinginan Zayn untuk menikah dengannya.
"Apapun yang ada pada dirimu, aku menyukainya. Umurmu, anakmu, masa lalumu atau apapun itu. Hanya satu yang ingin aku pastikan. Jika kamu memang benar mencintaiku, aku bersedia menerima semuanya. Aku akan menyayangi Asya setulus hati seperti anakku sendiri. Dan jika sikap aku berubah, tolong ingatkan aku!" ucap Zayn sungguh sungguh. Di tangannya kini memegang satu cincin bertahtakan berlian siap mengikat hubungan dengan Laura.
Laura menatap lekat lekat mata pria yang sedari tadi berlutut sembari memegang kedua tangannya. Laura bisa melihat ada kesungguhan dan ketulusan disana.
"Daddy!" panggil Asya agak keras dan melambaikan tangannya di depan wajah Zayn.
"I-iya, apa?" tanya Zayn kaget tersadar dari lamunannya. Dia melihat mangkuk sudah kosong, artinya Asya sudah menghabiskan semua mie instan.
"Daddy lagi melamun?" tanya Asya seraya mengelap bibirnya dengan tissue.
"Enggak! Siapa bilang Daddy melamun? Jangan sok tau kamu!" elak Zayn.
Sikap Zayn masih dingin tapi tidak sejutek kemarin lagi. Asya memanfaatkan kesempatan ini. Bagaimanapun dia harus berusaha membujuk Zayn supaya membatalkan perjodohan dirinya.
"Daddy, Asya belum mau menikah! Asya ingin bekerja! Boleh ya?" pinta Asya memelas seraya menggosok kedua telapak tangannya memohon pada Zayn.
Zayn menghela napas berat, Asya sangat pintar menggunakan kesempatan. Baru tadi dia mengingat kembali janjinya pada Laura, di saat ini pula Asya memohon kembali padanya. Tapi sayang, perjanjian nikah itu sudah terlanjur disetujui oleh Zayn. Dia tidak bisa membatalkan begitu saja perjanjian nikah yang sudah ia setujui.
"Daddy tak akan membatalkan perjodohanmu. Pernikahanmu akan tetap berlanjut. Tapi sebelum hari itu tiba, kamu boleh bekerja sesuai dengan keinginanmu. Dan setelah kamu menikah, kamu boleh bekerja atau tidak, itu urusan suamimu kelak!" ucap Zayn setelah mempertimbangkan semuanya.
__ADS_1
"Benarkah Daddy? Asya boleh kerja?"
"Hmm... Tapi kerjanya di kantor Daddy! Supaya Daddy bisa melihat dan menjaga kelakuanmu. Bagaimana kalau kamu nanti malah terpikat dengan rekan kerjamu? Ujung-ujungnya hanya membuat Daddy malu saja!" tegas Zayn.
Asya menyunggingkan senyum bahagia. Diijinkan bekerja saja membuatnya sangat bahagia. Setidaknya Asya bisa merasakan waktu yang berharga itu.
"Jangan senang dulu. Masih ada satu syarat. Jangan mengira dengan kerja di kantor Daddy lalu kamu bisa diistimewakan. Tidak ada kata itu dalam kamus Daddy. Kamu harus belajar dari nol, mengikuti seleksi awal untuk menentukan posisi kamu bekerja!"
Sengaja Zayn memberikan syarat itu dengan harapan Asya mundur dengan sendirinya.
Zayn tau sendiri proses seleksi di kantornya dijalankan dengan ketat. Tak mudah untuk melewati satu tahap.
"Tidak apa, Daddy! Asya mau coba! Asya tak akan menyerah jika belum mendapatkan apa yang Asya mau!" ucap Asya penuh keyakinan.
Asya bangkit berdiri dan mendekati Zayn dan sedikit membungkukkan badannya.
Cup!
Asya mengecup wajah Zayn sekilas.
"Terima kasih, Daddy! Sudah mau kasih Asya kesempatan!" ucap Asya dengan setengah berbisik. Setelah itu ia berlalu kembali ke kamarnya.
Zayn memegang wajahnya bekas kecupan Asya. Sedetik Zayn merasa tubuhnya menjadi kaku.
"Apa-apaan anak itu? Dia kira bisa mencium sembarangan orang seperti itu? Untung saja aku adalah Daddynya. Bagaimana kalau pria lain?" gerutunya.
"Tunggu! Apa dia sering mencium wajah pria saat di luar negeri? Apa dia sudah terkontaminasi dengan budaya luar itu?" Zayn memijit pelipisnya yang mendadak terasa sakit.
"Asya! Asya!" teriaknya uring uringan ingin meminta penjelasan.
Zayn lupa bahwa Asya sudah menganggap dia seperti orang tuanya sendiri. Jadi apa salahnya jika seorang anak mengecup pipi orang tuanya sebagai ucapan terima kasih? Sepertinya hanya Zayn yang menganggap semua itu berlebihan.
Setibanya Zayn di depan pintu kamar Asya, ternyata lampu kamar itu sudah padam dan bisa dipastikan Asya sudah tidur.
"Awas kamu, Asya. Akan aku perhatikan kamu dengan ketat. Jangan sampai kamu kedapatan macam macam dengan sembarangan pria!" ancam Zayn dalam hati.
__ADS_1