Gadis Pemikat Om Daddy

Gadis Pemikat Om Daddy
Bab 3


__ADS_3

Meski sudah jam pulang kerja, tapi Zayn masih enggan pulang ke rumah. Setiap kali mendengar nama Allesya Lefrand, dia akan selalu teringat pada mendiang istrinya.


Apalagi Zayn selama ini selalu menyalahkan Asya atas kematian Laura, hanya karena Laura yang meninggal dalam perjalanan pulang sehabis mengantarkan Asya sekolah ke luar negeri.


Zayn mengusap wajahnya kasar. Padahal sudah tujuh tahun berlalu, tetapi Zayn masih belum bisa melupakan sosok Laura yang menjadi cinta pertamanya dan mungkin akan menjadi cinta terakhirnya. Karena Zayn sudah berjanji akan tetap setia pada Laura meskipun ia sudah tiada.


"Seandainya... kamu tak pergi waktu itu dan tetap bersamaku, kita pasti masih akan bersama hingga hari ini..." batinnya menyesali diri sendiri yang memberi ijin pada Laura untuk mengantar Asya ke negeri Paman Sam.


Flasback On.


"Sayang, jadwal kuliah Asya sudah ditentukan nih. Sepertinya kita tidak bisa menunda keberangkatan lagi!" ucap Laura bergelayut manja di lengan sang suami.


Zayn melirik sebentar ke Laura lalu fokus kembali ke laptopnya.

__ADS_1


"Emangnya kapan kuliahnya dimulai?" tanya Zayn masih menatap laptop.


Laura sengaja meminta Asya berangkat saat mendekati jadwal masuk kuliah. Karena dia masih merasa berat untuk melepas putri satu satunya bersekolah ke tempat yang jauh.


Tapi Laura tak ingin egonya menghambat pendidikan putrinya. Dia sudah berjanji sejak dulu sekali akan memberikan pendidikan terbaik bagi Asya, salah satunya dengan menyekolahkan ke luar negeri.


"Dua minggu lagi, Sayang! Kamu mau ikut ngantarin tidak?" tanya Laura mulai menjauhkan laptop dari tangan Zayn.


Zayn berpikir sejenak dan dia tiba tiba teringat pada sesuatu.


"Yah... Benar juga! Terus mau gimana dong? Sekolah Asya juga penting. Kita sudah membayar mahal untuk ini. Tak mungkin kita gagalkan begitu aja, bukan?" Laura tak kalah panik mendengar berita ini. Mengapa semua serba kebetulan?


Sebagai seorang wanita yang baru setahun ini menyandang status sebagai menantu, tentunya menyenangkan hati mertua seperti suatu kewajiban yang tak terelakkan.

__ADS_1


"Begini saja, Sayang. Aku berangkat lebih awal dengan Asya. Disana aku akan mengurus semua yang dia perlukan. Bukankah hari ulang tahun bunda masih ada selang dua hari setelah Asya mulai sekolah? Nanti begitu aku pulang, aku langsung menuju rumah bunda. Gimana?" bujuk Laura dengan penuh harap.


Melihat wajah Laura yang begitu menggemaskan membuat Zayn tak tega untuk menolak permintaannya.


Meski usia Zayn dan Laura terpaut jauh yaitu tujuh tahun dan usia Laura yang lebih tua, tapi hal itu tak lantas membuat Laura bersikap semena-mena terhadap Zayn.


Sikap keibuan yang ditunjukkan Laura membuat Zayn semakin hari semakin cinta pada wanita itu.


"Tapi dua minggu itu lama sekali, Sayang. Masa kamu mau ninggalin aku selama itu?" rajuk Zayn masih berharap Laura berubah pikiran.


"Dua minggu itu sebentar kok, Sayang! Percaya deh, nanti kamu pasti merasa aku baru pergi eh tau tau uda pulang. Apalagi nanti setelah Asya berangkat, kita bisa honeymoon berdua. Tujuh tahun loh," ucap Laura seraya tersenyum nakal. Tak lupa tangannya mencubit kedua pipi Zayn yang semakin ditekuk itu.


"Tapi kamu janji ya gak boleh sampai kepincut bule disana. Bule disana itu pada gak bertanggung jawab. Nanti... "

__ADS_1


Belum selesai kalimat Zayn, Laura nyosor duluan membungkam mulut Zayn dengan ciuman panasnya guna meredam rasa cemburu Zayn.


__ADS_2