
Hari itu, aku berumur 10 tahun. Di mana kebakaran di pasar Sentral saat itu terjadi. Aku terpisah dari orangtuaku karena suatu hal yang menarik perhatianku. Sampai aku tersesat di dalam pasar tersebut. Saat kebakaran, aku hanya bisa melihat kobaran api dan asap yang tebal mengganggu pernapasanku dan penglihatanku. Hari itu aku mulai menyerah tapi tiba-tiba, seorang anak yang berumuran denganku menghampiriku
“Oooiii kau tidak apa-apa ?. ikuti aku kalau mau selamat” teriak pria itu.
Karena ketakutan, aku berlari mengikutinya dan di tengah berlarinya kami, kayu yang terbakar jatuh di atasku. Pria itu menolongku walau kayunya mengenai dadanya. Pria itu menjerit kesakitan dan mendorong kayunya. Dia menahan tangisannya dan aku mencoba menenangkannya.
“apa kau baik-baik saja ?” tanyaku padanya.
“yaahh… hiks… aku baik-baik saja. Cepat, ayo kita keluar…” balasnya sambil menahan lukanya.
Aku dan pria itu lanjut berlari mencari jalan keluar. Dan saat sampai di luar, pemadam kebakaran datang dan menutupi kami dengan selimut seketika, aku terbangun dri mimpiku. Namaku Miko, hari ini aku berumur 16 tahun. Aku, duduk di bangku kelas 3 SMA sekarang.
... ****...
Di pagi buta, aku dan ibu membuat makanan untuk sarapan adikku dan ayahku yang masih tertidur pulas. Sambil memasak, ibu bertanya padaku.
“Kamu sudah kelas 3 SMA sekarang. Walaupun berpenampilan berandalan aku masih tetap ingin bertanya. Apa kau sudah punya pacar ?” tanya ibuku.
“Ha.. Haaahhh !!!??. Te..tentu saja aku tidak punya. Aku terlalu sibuk sekolah sehingga aku tidak punya waktu untuk pacaran” balasku padanya.
“tapi kau bilang, kau sudah menemukan pria yang pernah menolongmu di pasar. Apa kalian tidak punya perkembangan ?”
“ibu ikut campur banget sih. Lain kali nggak bakal cerita lagi deh sama ibu kalau maksa terus”
“Heeehhh…. Membosankan sekali….”
Setelah kami sarapan pagi, Sanjaya pun datang dengan mobilnya bersama dengan Dane.
“MIKOO… KESEKOLAH YUUKK !!!!??” teriak mereka seperti anak Tk.
Jujur saja….
Melihat mereka setiap hari teriak seperti itu di pagi hari membuatku malu dengan tetangga…
Kapan semua ini berakhir ?
... ****...
Setelah sampai di sekolah, kami berpisah dengan Sanjaya. Karena tahun ini, ia sibuk sebagai ketua Osis.
“Aku pergi dulu yaa teman-teman. Ajak-ajak kalau mau ke kantin yaa ?” kata Sanjaya.
“tenang saja, nanti kami panggil setelah kami makan di kantin kok” balasku padanya.
Perkataan itu membuat Sanjaya syok sampai membatu.
“bukankah itu jahat Miko ?” tanya Dane.
“tidak apa-apa kok lagian kita nggak serius juga kok” balasku padanya.
Setelah sampai di kelas, aku melihat Jaka yang duduk sama seperti hari-hari sebelumnya. Sebelum guru datang, dia membaca Novel yang kini judulnya Pahlawan Tanpa Senjata. Akhir-akhir ini aku selalu mengawasi gerak-geriknya karena aku ingin tahu, kenapa waktu itu ia menolongku ?. setelah menyelidikinya aku mengambil kesimpulan. Dari awal, dia memang suka membantu orang. Bahkan setelah kejadian itu antara Jaka dan Dane, semua orang takut padanya karena mengira Jakalah yang menghabisi Dane kawanannya.
Semuanya terlihat setelah keesokan harinya, Jaka ke sekolah dengan wajah dan badan yang beberapa di tempelkan perban. Sedangkan Dane dan kawanannya tidak ke sekolah karena semua selengkangan dan bokong mereka kesakitan sampai tidak bisa berdiri maupun berjalan. Awalnya aku tidak percaya sampai Dane menceritakannya membuatku penasaran.
Pria seperti apakah yang di lawan Dane saat itu ?.
Awalnya hari ini aku ingin mengawasinya lagi tapi mengingat perkataan Ibu Sebelumnya membuatku hari ini, ingin bercerita padanya.
“Pa..pagi Jaka…” kataku gugup.
Sial… Kenapa pake gugup segala sih ?.
Padahal yang aku temui Cuma si culun Jaka lho…
Jaka balik ke arahku dan membuatku terkejut karena dia mengeluarkan air mata.
“Mi… ko…” katanya dengan pelan.
“Hiks… Novel ini mengharukan banget sih ?. terutama perempuan ini hiks… perempuan ini hiks…” lanjutnya yang ternyata terharu karena Novelnya.
Aku memukul kepalanya karena kesal.
“dasar membuatku kesal saja padahal masih pagi. Jangan membuatku khawatir dong bikin nggak mood aja” balasku padanya.
“Auck.. auck.. heh ? kau khawatir ?” tanya Jaka padaku.
__ADS_1
“Heh ?. kau khawatir padanya ?” tanya Dane juga.
“Kok bisa ?” tanya Sanjaya juga yang tiba-tiba datang.
Karena ngeselin, aku memukul kepala mereka bertiga.
“TERSERAAAHH !!!!” bentakku.
“padahal aku baru datang lho” balas Sanjaya yang menggosok kepalanya.
... ****...
Setelah Jam pelajaran selesai, akhirnya aku, Dane, dan Sanjaya makan bakso bersama di kantin. Sambil menunggu baksonya, Dane bertanya padaku.
“kamu kenapa sih Miko tadi pagi ?. bikin khawatir aja lho kamu” tanyanya padaku.
“Pms kali” balas Sanjaya singkat.
Perkataannya itu membuatku hampir menusuknya dengan garpu.
“bilang apa tadi beb ?” tanyaku padanya.
“Maafkan aku…” balas Sanjaya ketakutan.
“tapi, kau ini jangan memanggil sembarangan orang dengan kata Beb dong. Padahal baru saja minggu kemarin kau menolak cintanya Dane” lanjut Sanjaya menegurku.
Hal itu membuatku sadar, sedari awal Dane memang menyukaiku karena kami selalu bersama sebagai berandalan tapi, dari awal aku tidak mempunyai perasaan itu padanya. Karena setelah mengetahui cinta pertamaku sedekat ini jarak kami, aku belum bisa menyerah. Dan dengan berat hati, aku menolak perasaannya.
“Maafkan aku..” kataku padanya.
“tidak apa-apa kok Miko. Kalau tidak bisa menjadi pacarmu, setidaknya kita ini sahabat bukan ?” tanya Dane padaku.
Aku membalasnya dengan tersenyum dan menganggukkan kepala.
Setelah ke kantin, aku melihat Jaka yang sedang duduk membaca buku sambil memegang Rosario sekalipun dia itu Islam. Dan dari sudut manapun aku mengetahuinya, itu pasti pemberian dari Cahya. Membuatku cemburu dan semakin jengkel saja.
Sore harinya, aku pulang berjalan karena Dane sudah pulang sebelumnya karena tak punya kelas Ekstrakulikuler sedangkan Sanjaya masih sibuk dengan Osisnya. Jadinya, aku pulang sendirian. Aku merenungkan diriku setelah melakukan hal kasar pada Cahya dan mengetahui bahwa Jaka adalah cinta pertamaku, apa aku memang layak bicara padanya ?. tentu saja tidak berandalan sepertiku, tidak mungkin bisa berbicara dengannya.
“AWAS BAHAYA !!!” bentak seorang pria yang langsung menarikku dari belakang.
“KAU GILA YAA !!?. LAMPUNYA HIJAU BAGI PENGENDARA LHO !!!” bentak pria itu yang ternyata Jaka.
Sial ternyata menyeramkan juga dia membentak…
Apakah ini evek setelah dia menamparku hari itu…
“setidaknya jangan melamun saat berjalan. Kalau kau kecelakaan, Dane dan Sanjaya bisa sedih lho” balasnya dan mau meninggalkanku.
Tapi hari itu aku sadar, ini adalah kesempatan aku bisa bicara dengannya....
“Tu.. tunggu Jaka…” kataku sambil memegang tasnya.
“ada apa ?” tanyanya padaku.
“aku ingin bicara denganmu berdua saja. Apa kau punya waktu ?”
Dia diam sejenak dan berbalik melihatku.
“Untung saja hari ini giliran kakak memasak dan membeli bahan makanan. Bisa kok. Jadi, ayo kita ke taman itu berbicara” balasnya sambil tersenyum.
Orang ini padahal aku sudah membuat dirinya sampai membenciku....
Tapi dia masih bisa tersenyum sangat tulus padaku seperti itu....
Di taman, aku duduk menunggunya yang ternyata membelikan minuman padaku.
“nih minum biar perasaanmu bisa tenang dulu” katanya padaku.
“terima kasih…” balasku padanya.
Kami berdua minum minuman itu bersama dan tidak berbicara satu sama lain.
Yaiyalah Kimk !!!. kau kira bicara itu gampang ?*
Mana yang mau aku ajak bicara itu jaka lagi….
__ADS_1
Aduuhhhh pusiiingg….
“Jadi, kau ingin bicara apa padaku ?” tanyanya padaku.
“Eh.. a.. anu… itu…” balasku gugup.
SIAAALLLL !!!!. DIA MULAI BICARA PADAKU... !!!!!
AAAAAKKHHH.... !!!!
“itu apanya ?”
Aku berdiri dan menundukkan kepalaku padanya.
“Maafkan aku. Hari itu, aku membuat Cahya menjadi buruk tanpa mengetahui kebenarannya dan aku sadar, aku melakukan kesalahan”
“haaa… itu tidak apa-apa kok. Lagian dah lewat juga. Aku malah sudah menyampaikan maaf pada Cahya darimu sekalipun kau nggak minta”
“heh ?. kenapa ?”
“karena saat itu kau cemburu kan ?. kau suka sama Sanjaya kan ?. wajar saja kau melakukan apapun demi Cinta. Seperti kata kak Ilyas pada saat itu, Semuanya adil dalam Cinta dan Perang”
Perkataannya itu membuatku sedikit tenang. Dengan begitu, aku punya kesempatan untuk bicara dengannya.
“jadi, bagaimana hubunganmu dengan Sanjaya ?. aku lihat kalian langgeng saja padahal ada isu yang bilang Dane menembakmu dank au menolaknya”
“tentang Dane itu memang fakta lho”
“heh seriusan ?. jadi Sanjaya ?”
“aku juga sudah tidak mencintainya lagi”
“heh ?. berubahmu kok berlebihan ada apa ?”
Aku membuang nafasku dengan berat lalu berkata...
“karena aku sudah menemukan Cinta pertamaku yang selama ini aku cari”
Hari ini, aku tidak akan mundur…..
Akan ku katakan segalanya padanya….
Aku duduk kembali di sampingnya dan berbicara dengannya.
“aku teringat tentang luka di dadamu itu. Kau menyelamatkan seorang gadis dari kebakaran bukan ?. yang seumuran denganmu. Kenapa ?”
"entah kenapa kau membicarakan itu tapi sudah terlanjur kita berdua di sini maka akan kuceritakan" kata Jaka.
Jaka menghembuskan nafas berat dan diam sejenak sebelum menceritakannya.
“hari itu, aku menemani ibu dan ayahku yang jualan di pasar dan saat kebakaran, ibu dan ayahku berlarian tanpa mengetahui aku sedang ketiduran di tokohnya. Saat aku bangun, aku tersadar kebakaran sudah terjadi jadi aku berlari mencari pintu keluar. Sampai di tengah pasar, aku mendengar perempuan minta tolong… awalnya aku tidak mau menolong tapi aku berpikir, bagaimana kalau seandainya tidak ada yang menolong gadis itu jadi.. aku menolongnya. Sekalipun imbasnya saat dia hampir tertimpa kayu yang kebakaran, aku menolongnya dan membuat dadaku terbakar” kata Jaka yang berbicara bertele-tele.
“aku masih terkejut dengan gaya bicaramu yang bertele-tele menggunakan sekali nafas saja, hebat lho” balasku padanya.
“banyak yang bilang begitu…”
Setelah Jaka menceritakannya, aku diam sejenak dan sangat senang ternyata benar dialah orangnya. Aku meneteskan air mata sampai membuatnya terkejut.
“ada apa Miko ?. kenapa menangis ?”
“dasar pria bodoh dan tidak peka, padahal sebelumnya aku memberikanmu kode tapisampai sekarangpun kau tidak menyadarinya” balasku sambil menghapus air mataku.
“Gadis yang kau tolong saat itu, Aku Jaka…” lanjutku padanya.
Jaka terlihat sangat syok dan terkejut bahkan hampir tidak percaya dengan perkataanku.
“kau.. berbohong kan ?” tanyanya padaku.
“apakah aku harus pura-pura menangis untuk membohongimu ?. aku ini berandalan lho” balasku padanya.
Aaahh…. Rasanya legah….
Hal yang membebaniku selama ini, akhirnya bisa aku ungkapkan….
... ****...
__ADS_1
Facebook : HackBae
Instagram : hackbae2022