
Ujian Semester akhirnya selesai, kami semua mendapatkan nilai bagus. Di mana Cahya peringkat pertama sedangkan Sanjaya berada di peringkat kedua.
"Selamat yaa, Cahya..." kata Sanjaya sambil mengulurkan tangan.
"Yahh... Sama-sama" balas Cahya sambil menjabat tangannya.
Aku yang melihat Miko saat itu, langsung menyenggol pundaknya.
"nggak cemburu nih lihat mereka ?" tanyaku pada Miko.
"apaan sih Kurang kerjaan banget" balasnya padaku.
"ok kalau begitu, aku pergi dulu"
Namun dia menghentikanku dengan cara menarik bajuku.
"ada apa miko ?"
Dia terlihat tersipu malu. Pipinya merah dan penglihatannya berpaling dariku.
"kamu ingat wajah dari perempuan yang kau tolong di pasar saat kebakaran saat itu ?"
"nggak tuh, nggak penting soalnya"
Setelah menjawab seperti itu, Miko memukulku dengan buku lalu pergi.
"DASAR NGGAK PEKAA !!!!" bentak Miko padaku.
Aku mengusap kepalaku saat itu karena pukulan Miko memang sangat keras.
"Haahhh... Sayangnya teman kita satu ini nggak peka yaa ?" kata salah satu temanku mengusapku.
"kirain karakter utama Romance, ternyata karakter utama Harem" lanjut temanku yang satunya lagi mengusapku.
"apaan dah kalian nggak jelas" balasku kesal pada mereka.
Beberapa hari berlalu di saat libur tiba, aku mengajaknya jalan-jalan menuju ke pantai, di kebun binatang, dan Mall. Kami mengakhiri perjalanan kami di pinggir pantai di sore hari.
"matahari yang terbenam indah banget yaa ?" kata Cahya.
"yaahh... Seperti katamu" balasku padanya.
Aku melihat ke arahnya, namun wajahnya di tutupi oleh topinya yang lebar. Angin tertiup kencang menerbangkan topinya dan saat itu, kulihat rambutnya terkibar di tiup angin, dan wajahnya dengan raut wajah yang sedih.
Aku tidak memahami maksud dari semua itu tapi...
Aku akan merindukan perempuan ini saat dia pergi besok.....
Setelah jalan-jalan aku janjian besok akan mengantarnya di bandara lewat Chat Line. Dan akhirnya, hari itu datang...
... ****...
__ADS_1
Ke'esokan harinya kami bertemu di bandara namun hal yang mengejutkan, penerbangannya di berhentikan sejenak karena ada badai salju di Greenland yang menghalangi arus pesawat. Awalnya aku panik karena mungkin Cahya akan sedih tapi, reaksinya sangat berbeda dengan yang kubayangkan.
"Yaaahh.... Tidak bisa pulang. Mungkin aku harus tinggal beberapa hari lagi di Indonesia yaa ?" katanya dengan santainya.
Aku memegang tangan Cahya dan mencoba menenangkannya.
"tenang saja, kita menunggu sejenak. Badainya tidak akan lama kok"
Setelah mengatakan itu, Cahya menggenggam tanganku dan melihat kearah wajahku.
"apa kau rela aku pergi Jaka ?"
Aku terdiam saat dia bertanya. Namun, ini yang akan menjadi terakhir kalinya...
"jujur saja aku masih ingin lebih lama denganmu, aku ini sahabatmu dan tentu saja aku akan merindukanmu kalau kau pergi"
Mendengarku, dia diam sejenak tidak berkata apa-apa. Dia menggenggam tanganku lalu duduk di kursi tunggu bersampingan dengannya. Kami duduk dengan cangungnya tapi seketika....
"pada akhirnya ternyata tetap sahabat yaa ?" kata Cahya meneteskan air matanya.
"a... ada apa Cahya. Apa kau sakit perut ?. atau ada barangmu ketinggalan ?. sabar yaa, badainya akan berlalu kok" kataku panik melihatnya menangis.
"bukan itu Jaka..."
"terus ada apa ?. cerita dong, aku tidak akan paham kalau kau tidak ngomong"
Cahya memegang pipiku dan berkata padaku.
"iya aku mengingatnya... Memangnya ada apa dengan Pria yang kau sukai itu ?"
Tiba-tiba Cahya mencium bibirku begitu lama seperti tidak mau lepas dariku. Setelah lama berciuman, aku menjadi sadar apa maksud dari perkataan Cahya saat itu.
"kau bercanda kan Cahya ?"
Cahya menggelengkan kepalanya sambil menghapus air matanya.
"hari itu saat kita kencan, aku ingin mengutarakan perasaanku padamu. Karena berkatmu, aku bisa mengenal lebih banyak orang di kelas. Namun, kita di pisahkan oleh jaeak yang sangat jauh hikss... Kau islam, dan aku Kristen. Agama Islam di larang menikah dengan orang yang bukan beragama Islam. Sedangkan kau beragama Islam. Itulah alasanku berkata... jarakku antara dirimu dan dirku sangat jauh Jaka Hiks..." kata Cahya yang mulai menangis.
"hari di mana seharusnya aku mengutarakan perasaanku, aku membatalkannya dan mengambil alasan seperti itu. Aku memendam perasaanku yang bertepuk sebelah tangan karena keyakinan kita berbeda...." Lanjut Cahya menutup wajahnya sambil menangis.
Selama ini aku juga mencintai Cahya. Tidak mungkin berakhir begitu saja. Aku memegang tangannya dan meyakinkannya.
"kalau itu yang menghalangi, aku akan pindah ke keyakinanmu sebagai orang Kristen. Akan ku tinggalkan agamaku dem..." belum sampai perkataanku, Cahya menutup mulutku.
"jangan biarkan kata-kata itu keluar dari mulutmu Jaka, aku mohon pikirkanlah keluargamu. Orangtua mana yang rela melihat anaknya pindah keyakinan hanya karena seorang hamba tuhan ?. Bahkan orang tuaku juga akan berpikiran sama jadi aku mohon... Jangan Jaka, aku mohon..."
"terus aku harus bagaimana karena aku juga terlanjur mencintaimu dari dulu" kataku yang juga mulai dengan mata berkaca-kaca.
"sudah aku bilang... hiks.. kita terpisah oleh jarak yang sangat jauh Jaka..."
Sangat berat rasanya memilih keyakinan atau orang yang sangat kucintai. Karenanya dengan Iklas, aku merelakan yang kucintai demi keyakinanku tidak goyah. Aku memeluknya dengan perasaan yang sangat sedih karena Cinta kami terpisah karena keyakinan.
__ADS_1
Beberapa jam telah berlalu, akhirnya berita tentang badai di Greenland sudah selesai. Cahya melepaskan tanganku dan mendorong kopernya untuk segera masuk ke lorong menuju pesawat.
"aku pergi dulu, Jaka...."
Tidak....
Kumohon jangan pergi....
Berbaliklah melihatku sebentar saja....
Cahya balik melihatku dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak tahan dengan perasaan ini, aku berlari dan dia juga berlari sambil kami saling berpelukan. Aku memegang pipi Cahya dan menciumnya untuk terakhir kalianya. Aku memegang pundaknya dan mencoba menenangkannya.
"kumohon hentikan kesedihanmu Cahya, kau harus segera berangkat"
Cahya menghapus air matanya lalu memberikan gelang Rosarionya padaku.
"Simpanlah ini, agar kau selalu mengingatku..." kata Cahya padaku.
"Kalau begitu, Simpan jugalah ini untuk mengingatku di kemudian hari"
Dan kuberikan sebuah Tasbih yang Berlafadz Allah peninggalan ibuku yang selama ini kukantongi.
"aku berjanji Cahya, aku akan menyusulmu suatu saat nanti. Kalau aku tidak bisa..." kataku belum sampai di potong oleh Cahya.
"maka aku yang akan menyusulmu lagi di Indonesia..."
Mendengar percakapan kami yang kompak, kami akhirnya tertawa sambil berpelukan. Cahya akhirnya pergi dan aku merelakannya sambil melambaikan tangan.
Aku tahu kami terpisah oleh keyakinan. Tapi kalau dia memang jodohku, maka akan selalu ada jalan yang terbaik di berikan oleh Allah padaku.
****
Beberapa tahun kini berlalu, Cahya akhirnya mendaftar kuliah di Universitas Negeri Cahaya Bintang di jurusan Ekonomi. Sedangkan aku mendaftar di jurusan IT. Aku menunggu kedatangannya di Bandara dengan gugup.
Beberapa tahun lalu kami selalu berbicara lewat video Call. Sampai hubungan kami sangat dekat bahkan sampai ke orangtuanya, entah Hidayah dari mana mereka akhirnya memeluk agama Islam dan di Islamkan oleh salah satu perkumpulan agama Islam di Greenland.
Aku penasaran, saat datang nanti apakah dia mengenakan Jilbab atau tidak ?.
Apakah penampilannya berubah atau tidak ?.
Apakah dia masih secantik dulu atau lebih cantik lagi ?.
Bahaya... kenapa aku malah panik sekarang ?
"JAKAAAA !!!!" teriakan suara perempuan yang familiar di telingaku akhirnya terdengar.
Saat melihat kearahnya, aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya.
>{SELESAI}<
Facebook : HackBae
__ADS_1
Instagram : hackbae2022