Gadis Sedingin Salju

Gadis Sedingin Salju
Chapter 2 : You Are My Best Friend


__ADS_3

Keesokan harinya, semua orang terkejut saat Cahya menyapa semua teman-teman sekelasnya yang sementara berjalan ketika memasuki gerbang sekolah.


"Good Morning..." sapa Cahya pada teman-temannya satu persatu.


"Go.. Good Morning...." balas teman yang ia sapa terlihat kebingungan


Cahya menyapa mereka satu-persatu, Begitupun denganku. Saat melihatku Cahya malah kembali dan mendekatiku sambil tersenyum.


"Selamat Pagi, Jaka..." kata Cahya sambil tersenyum padaku.


Bahaya.... CPU USAGE 100% mah ini...


Kode merah...


Bidadari tersenyum padaku langsung di hadapanku pagi-pagi bikin Mood Buster aja dah....


"Pa.. pagi Cahya" balasku sambil malu-malu.


Semua orang syok dan terkejut saat mendengar perbincangan kami karena selama ini tidak ada yang berani berbicara dengan Cahya namun ternyata Cahya sendiri yang berbicara padaku.


"Jane menggunakan bahasa Indonesia ?" kata salah satu orang yang melihatnya


"HEEEEEEE....... !!!!!!!" teriak Murid-murid lainnya terkejut bahkan guru Keamanan sekalipun.


Saat memasuki kelas, teman-temanku menarikku dengan paksa sambil berbisik padaku


"Kau apakan murid pergantian pelajar kita *** ?, kau Doti-doti yaaa ?" kata temanku


"mana ada anjirr... kemarin kami Cuma berbincang sejenak dan udah kami kenalan"


"pasti sesuatu terjadi kemarin. Kalau tidak, Jane pasti tidak sebaik itu. Mana Bahasa Indo nya lancar banget lagi" kata temanku yang lainnya sambil melihat ke arah Jane.


"Ahh Jaka, yang kemarin terima kasih yaa" kata Cahya sambil tersenyum dan melambaikan tangan padaku.


Teman-temanku langsung mencekik dan memukuli punggungku karena sangat curiga padaku.


"TUHKAN BANGSAATT !!!. KAU PASTI MELAKUKAN SESUATU DENGANNYA !!!" teriak temanku sambil mencekik.


"SIALAAN !!!, PADAHAL KITA SUDAH JANJI JOMBLO BERSAMA HINGGA TAMAT TOLIIILL !!!!" lanjut temanku yang lainnya sambil memukul punggungku.


"Ooii.. sesak bangs*t... lepasin.. lepasin.." kataku sambil memukul tangan cekikan temanku.


...                                                                                   ****...


Hari-hari telah berlalu dan kini, Cahya semakin dekat dengan teman-teman lain di kelas. Dia sudah berani terbuka kepada teman-teman lainnya. Walau tetap saja, kadang ada yang masih risih padanya karena sikapnya kemarin.


"Bukankah Jane itu sok-sok banget menggunakan Bahasa Inggris kemarin ?"


"wajarin aja, dia mau di kata sebagai orang luar negeri padahal kek nenek-nenek rambut putih"


"Hahaha... benar tuh, songong banget awalnya caper nggak sih dia ?"


Mendengar percakapan mereka miris sih. padahal seharusnya bersyukur kalau ada orang luar yang mau belajar tentang kita di Indonesia ini. Bahkan Sekolah Unggulan kebangsaan pun tidak mendapatkan siswa pelajar seperti ini. Begitu banyaknya pulau-pulau di Indonesia, hanya Sulawesi selatan tepatnya Makassar lho yang menerima pertukaran pelajar ini.


"Tidak seharusnya kalian berkata seperti itu lho kawan-kawan" kataku pada mereka.


"Lho Jaka, kamu dengar perbincangan kami ?"


"Dan Juga, apa urusannya denganmu sih ?. Bukannya kamu juga Enneg sama sikapnya apalagi kamu berdekatan dengannya"


Apa yang dikatakan mereka ada benarnya....


Tapi...


aku sudah berjanji sebagai temannya...


"Iya sih awalnya aku Enneg. Tapi, sikapku itu ada karena aku belum mengenalnya lebih dalam lagi. Kalian cobalah berbincang dan berkenalan dengannya. Aslinya dia orangnya baik kok"


Mereka terdiam setelah mendengarkan perkataanku itu. Aku balik kearah pintu dan terlihat Cahya melihat ke arahku. Wajahnya memerah dan meninggalkanku.


"Cahya tung..." kataku yang mencoba menggapainya.


Yahhh... dia pasti salah paham padaku...

__ADS_1


Sial..


memangnya apa yang kuharapkan ?.


Aku ini bukan karakter utama lho...


Tapi.... aku sudah berjanji dengannya.....


Mulailah aku membujuk mereka yang bercerita buruk tentangnya sambil menceritakan yang sebenarnya. Sampai pada akhirnya dia malah menjadi panutan untuk teman sekelasnya. Semuanya, mulai memperhatikan dan berbicara dengan Cahya.


Setelah ulangan harian ia mendapatkan nilai tertinggi. Semua orang terkejut karena selain cantik, dia adalah gadis yang baik dan cerdas.


"Waahhhh Jane jago banget....."


"Udah Cantik, Cerdas lagi...."


"orangnya juga baik banget tidak sesuai dengan gosip-gosip sebelumnya...."


"aku padamu Janee...." kata orang-orang yang mendukungnya.


"Te.. terima kasih..." balas Cahya gugup.


Hari itu, aku menyadari sesuatu bahwa aku hanyalah orang biasa, bukanlah orang yang dekat dengannya. Aku Cuma tetangga bangkunya saja, tidak lebih. Apalagi setelah melakukan kesalahan seperti kemarin sampai membuatnya hampir menangis,


Aku... Benar-benar yang terburuk...


Hari-hari berlalu semakin membuatku sadar saat ia mendapatkan surat cinta dari orang lain bahkan ia di tembak oleh beberapa pria namun ia menolaknya. Akhir-akhir ini juga aku jarang bicara dengannya kecuali kerja kelompok karena posisi kami yang sangat dekat.


Dia benar-benar Profesional banget kalau masalah pelajaran, dia mengesampingkan masalahnya denganku. Bahkan dia tidak sedikit pun membahas tentang hal itu yang kemarin.


Yaahh... sudah ketebak sih....


Dari awal, aku memang bukanlah karakter utama....


Hanya karater sampingan dan tidak lebih....


Semuanya semakin jelas saat Sanjaya di angkat sebagai ketua kelas dan Cahya menjadi wakil ketua kelas sementara selama jadi Siswa pertukaran pelajar. Sudah ketebak sih alur ceritanya. Mereka akan selalu kerja sama saat urusan kelas dan rapat osis, Cinta lokasi, mereka pacaran, dan tamat.


Tampaku pun cerita ini masih tetap berlanjut.....


Namun pikiranku berubah saat Cahya memberikanku surat dari depan saat sementara proses pembelajaran. Aku mengambilnya lalu membukanya dan tulisannya ada email Line dan kata-kata yang tertulis.


"itu email Lineku add yaa, sudah lama kita tidak bicara karena semua orang mengerumuniku. Jujur aku ingin bicara denganmu lagi" kata yang tertulis di surat itu.


Positif tingking... jangan baper dan jangan berpikir berlebihan...


Jaka Khaidir.... kau itu cuman teman sebangku tidak lebih....


Paling dia meminta saran cara mendekati ketua kelas.....


Lagi pula... Sanjaya memang tampan, rebutan para wanita, Cerdas, dan selalu Rangking....


Wanita normal pasti Cahya juga tertarik padanya....


Tetapi, aku tetap penasaran. Kenapa tiba-tiba dia memberikanku Email Linenya ?. Untuk menghilangkan rasa penasaran itu, aku mencoba untuk menemuinya setelah lonceng berbunyi. tetapi....


"Jane, bisa bantu aku ke ruangan Kantor Wali kelas sekarang juga ?" kata Sanjaya pada Jane


"Ahh... bisa kok. tapi..." balas Cahya lalu melihat ke arahku.


"ada perlu apa Jaka ?. Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu padaku ?" lanjut Cahya berbicara padaku.


"Ti... tidak apa-apa kok. Kamu pergi saja dengan ketua kelas. Sepertinya ada hal penting yang ia bicarakan" balasku padanya.


Cahya melihatku sejenak lalu tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, Maaf yaa Jaka" balasnya lalu pergi dengan Cahya.


...*The End... *...


Cerita yang aku harapkan seperti di Noveltoon berakhir bertepuk sebelah tangan...


Dahlah...

__ADS_1


Tiba-tiba kedua temanku merangkulku lalu mencoba menghiburku.


"Cup cup cuuupp... kasiaann... mulai di abaikan oleh Primadona yaa ?"


"Anak mama jangan nangis yaa, sini saya kasih cucu"


Aku melepas genggamannya dan meninggalkannya


"BACOOT !!!" bentakku pada mereka


Aku menarik kata-kataku, sepertinya mereka malah senang kalau mengejekku seperti tadi.


"Ooii Jaka, jangan gitu dong kita cuma bercanda kok"


"mau kuteraktir nggak ?. Baksonya abang Mus di kantin. aku lagi banyak rejeki nih"


Aku menghentikan langkahku lalu berlari merangkul mereka...


"SAHABATKUUU... !!!!" teriakku pada mereka.


"Yee... giliran di teraktir langsung adem" balas temanku jengkel.


Kami bertiga akhirnya pergi ke kantin. lumayan, uang jajanku nggak keluar hari ini. Masalah Cahya bisa dipikirkan nanti malam.


Punya teman seperti mereka ternyata... tidak buruk juga....


...                                                                                         ****...


Sore hari akhirnya tiba. Saat berjalan menuju gerbang, aku melihat Cahya di tawari naik ke mobil Sanjaya. Dari sananya aja kelas kami beda. Dia Elite sedangkan aku kelas Ekonomi. Namun hal yang membuatku terkejut, Cahya melihat ke arahku dan melambaikan tangan. Dia menolak tawaran Sanjaya lalu mendekati diriku.


"Jaka, ingat yaa sebentar malam chat aku"


"Aku ingat kok. Ngomong-ngomong, kamu kenapa nggak menerima tawaran Sanjaya ?"


"Bahaya tau" katanya agak jengkel.


"Kok bisa ?"


"dia laki-laki dan aku perempuan cuma berduaan di mobil. Dia bisa berbuat apapun padaku lho dengan mengunci seluruh pintu mobil"


"Memangnya Sanjaya berani melakukan hal itu ?. Sanjaya itu pria yang baik-baik kok"


"tapi tetap aja dia laki-laki" balasnya masih jengkel.


Aku diam sejenak dan mencoba mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak keluar dari mulutku.


"Misalnya... aku yang mengajakmu seperti itu bukan Sanjaya, apakah kau menerima tawaranku ?" tanyaku padanya.


Awalnya responnya membuatku tidak sesuai ekspetasi malah aneh karena dengan polosnya dia malah Blak-blakan


"Kau punya mobil juga ?"


"Nggak punya, lagian ngapain ?. Rumahku dekat dari sini kok"


Dia Diam dan membelakangiku lagi seperti menghindari kontak mata dariku.


"Kalau itu kamu... aku tidak masalah. Karena kau... adalah Sahabatku"


Saat mengatakannya, lagi-lagi telinganya memerah. Dan saking terbiasa melihat hal itu darinya, aku malah menganggapnya imut.


"A.. aku pulang dulu yaa ?. ingat sebentar malam Chat aku lewat Line" kata Cahya yang melihat ke arahku sambil tersenyum.


"Ba.. baiklah, akan aku Chat kok" balasku singkat.


Kami berjalan di arah yang berlawanan. Aku jalan kaki ke arah rumahku dan lagi-lagi, hatiku berdetak kencang setelah berbicara dengannya.


Bahaya.... inimah Bahaya.....


...                                                                                 ****...


Facebook : HackBae


Instagram : hackbae2022

__ADS_1


__ADS_2