
Setelah mengingat Jaka, Nuge menjalankan motornya dan berbicara padaku.
"mau ku antar sampai ke rumahmu ?. Aku ini bukan Elang yang jahat kok"
"Apa-apaan dah kau pasti Wibu yang suka halu" kataku sambil menahan tawa.
"heh ?. bagaimana kau bisa tahu ?" tanya Nuge sambil terkejut.
"heh ?. kau beneran Wibu ?" balasku padanya.
Dia mengantarku dengan motornya. Sambil menikmati angin sore yang menghembus aku berpikir dalam benatku. Mungkin ini saatnya aku mengubah diriku sedikit.
...****...
Keesokan harinya, orang begitu terkejut melihatku yang berdandan layaknya siswa iasa, bukan siswa berandalan lagi.
"Ooii... memangnya Miko secantik ini yaa ?"
"mirip cewe jepang nggak sih ?"
"kalau ini mah, Anya juga kalah jauh"
"wah wah wah waaahh.... Auto jadi Waifuku ini mah" kata Siswa laki-laki yang melihatku.
aku tidak mempedulikan hal itu karena ini kulakukan, untuk pria yang ku cintai, Jaka. Saat itu aku melihatnya tepat di depanku. Aku ingin sekali berjalan dengannya tapi, aku sedikit malu. Tapi tiba-tiba, dua tangan yang mendorongku untuk tetap maju yang ternyata Dane dan Sanjaya.
"Pergilah... Miko...." kata Sanjaya mendukungku.
"kau pasti bisa Miko..." lanjut Dane sambil tersenyum.
Aku tersenyum pada mereka lalu pergi mendekati Jaka memenuhi harapan mereka dan juga harapanku untuk bisa mendekatinya, agar Jaka bisa melupakan Jane dan hanya fokus padaku.
"Hy Jaka, Selamat pagi..." kataku padanya.
"Selamat Paa..." balas Jaka yang perkataannya terputus.
"Siapa ?" tanya Jaka padaku.
"ini aku lho Miko"
"Heh ?"
"Sampai kita Tamat di sekolah ini, aku akan membuatmu memperhatikanku. Aku akan membuat senyum palsumu itu menjadi senyum yang tulus padaku".
mendengar perkataanku, Jaka sempat terkejut dan tersenyum padaku.
"lakukan saja sesukamu. Lagi pula, kau terlihat cantik dengan berpenampilan seperti itu" kata Jaka dan pergi.
Padahal aku yang ingin membuatnya memperhatikanku tetapi, Justru dia yang membuatku malu hingga wajahku memerah.
Jaka Bodoh...
Dasar tidak peka....
Hari-hari berlalu aku selalu dekat dengannya saat ada kesempatan. Walau kadang hatiku sakit karena ia tidak pernah berhenti membahas Jane. tapi aku belum putus asa untuk mendekatinya, untuk menghiburnya, untuk berbicara dengannya, untuk sejalan dengannya. Sampai akhirnya kami lulus di Ujian Nasional SMA. Aku berusaha mencari namaku dan setelah menemukannya, aku ingin bicara pada Jaka namun lagi-lagi.. aku melihatnya... dia menelpon Jane dengan Video Call.
...****...
__ADS_1
Di hari libur, aku meratapi kesedihanku. Sepertinya aku memang tidak bisa mendapatkan hatinya. Padahal aku sudah berusaha dengan cara yang tidak curang.
Haaahhh... rasanya ingin menangis saja...
Padahal aku yang memutuskan untuk berubah tapi...
Sepertinya aku makin cengen dan menjadi perempuan yang sesungguhnya....
Di hari libur, aku membawa motor ibuku ke bengkel dan aku bertemu dengannya lagi. One Eagle yang Wibu, Nuge. Ternyata dia kerja di bengkel.
"Heeehhh.... kamu tidak melanjutkan studimu ?" tanyaku padanya.
"Ohh Cewe Blasteran, begitulah. Aku hidup kurang mampu soalnya dan di rumah hanya ada aku dan Ibu, makanya aku memilih bekerja" balasnya.
"Heehh... Woi, apa-apaan sebutan Cewe Blasteran itu ?" tanyaku kesal.
"lagi pula, aku menyukai pekerjaan ini jadi aku tidak menyesalinya karena aku hobby otomotif. Targetku adalah merakit mobilku sendiri"
"apa kau mendengarku dasar Wibu ?"
"dan Juga, tidak lanjut studi bukan berarti aku lemah. Memang aku berpisah dengan Ilyas tapi.... berpisah bukan berarti kami tidak saling mengenal lagi kan ?"
Walaupun dia mengabaikan kekesalanku tapi, apa yang dikatakannya itu ada benarnya juga. Sepertinya, dia bukan sekedar Wibu biasa.
"Perkataanmu... ada benarnya juga..." kataku padanya.
"Iyakan ?" balasnya menyombongkan diri.
"Jadi, maksudnya Cewe Blasteran apa dasar Wibu ?" tanyaku masih jengkel.
"masih di bahas dong" balasnya muak.
"HAAAHHH !!!?. MANA BISA GITU !!!?" bentaknya kesal.
Dan pada akhirnya, Nuge memperbaiki motorku tampa kubayar sedikitpun. Lumayan tidak membayar. Hehee...
...****...
Tibalah saatnya akhirnya acara Perpisahan di gelar dalam Sekolah. Acaranya sangat lancar di bawah arahan Osis adik kelas kami. Dan hari ini juga di mana aku memberanikan diri, aku memberikan pesan pada Jaka untuk datang di belakang sekolah di bawah pohon tepat dimana Sanjaya pernah mengakui perasaannya pada Jane. Aku menunggu lama sampai akhirnya dia datang.
"Ahh Miko, apa kau lama menunggu ?" tanya Jaka yang baru datang.
"tidak juga, aku mau bicara hal penting padamu. Boleh ?"
"katakan saja..."
Aku memegang dadaku yang selalu berdetak kencang dan perasaanku yang was-was. Aku memberanikan diriku dan mengingat dukungan kedua sahabatku, Dane dan Sanjaya.
"Ja.. Jaka.... sebenarnya sudah lama aku Menyukaimu... di awal kau menyelamatkanku waktu itu, kau adalah Cinta Pertamaku... jadi... aku mohon, PACARANLAH DENGANKU !!!" kataku mengungkapkan perasaanku pada Jaka.
Setelah mengatakan itu aku sempat menutup mata karena aku takut dengan perkataanku sendiri. Tapi melihat ekspresinya, dia mengabaikanku seperti tidak mau membuatku kecewa.
Sudah kuduga....
Aku sudah mendapatkan Jawabannya....
"Mi... Miko. Sebenarnya..." belum sampai perkataannya, aku menutup mulutnya dengan tanganku.
__ADS_1
Dan aku mencium punggung tangan yang aku pakai tutup mulut Jaka, rasanya sangat menyedihkan. Tapi, kalau tidak aku katakan maka.... aku akan menyakiti diriku sendiri berminggu-minggu... berbulan-bulan... bahkan mungkin bertahun-tahun... setelah melepaskan ciuman itu dan tanganku dari mulutnya, aku memegang kedua pundaknya dan bernafas legah.
"tidak apa-apa kok, aku sudah tahu jawabanmu. Hanya saja, cukup ngeselin kalau aku tidak mengungkapkannya"
Dia terkejut dengan jawabanku bahkan aku lebih terkejut karena akhirnya aku bisa melihat senyumannya yang asli tanpa kepalsuan sedikitpun.
"Kau memang perempuan yang hebat yaa Miko, mirip seperti Sanjaya. Kalian berdua adalah pejuang cinta dan bukan pengecut seperti diriku. Sampai membuatmu mengakui perasaanmu seperti ini... aku bodoh yaa... dan aku juga tidak peka..."
"Cih... sadarmu lambat banget Jaka, keburu dah lulus baru kau sadar"
"hehehee... maaf yaa"
Tiba-tiba suara telepon Jaka berbunyi di sakunya.
"dari Jane yaa ?"
"Iya, Bulan depan dia akan lulus juga di Negaranya dan kami sudah daftar di Kampus yang sama"
"Heh ?. Jane mau kembali ke Makassar ?"
"Iya, bersama ibu dan ayahnya. Mereka ingin menetap di Indonesia"
Begitu yaa ?.
Pantas saja aku tidak punya kesempatan....
Ternyata... Begitu yaa...
Aku memukul Pundak Jaka dan memberinya dukungan.
"Kalian yang langgeng yaa ?. Sana pergi menelpon, dia pasti menunggumu"
Dan Jaka tersenyum sambil meninggalkanku.
Haaahhh..... Aku di tolak....
Ternyata ini yaa rasanya di tolak ?. Pantas saja Sanjaya waktu itu kesal. Rasanya....
Benar-benar menyakitkan....
Tiba-tiba mereka muncul di belakangku dan memegang kedua pundakku. Aku berbalik melihat kearah mereka dan dia tersenyum padaku.
"Tidak apa-apa Miko, jangan di tahan..." kata Dane yang mengalihkan pandangannya dariku
Keluarkan saja semuanya, kami Sahabatmu bukan ?" lanjut Sanjaya yang tersenyum padaku.
Rasanya memuakkan mereka mengatakan itu padaku tapi... aku memang tidak bisa menyembunyikan perasaanku pada mereka berdua... hanya pada mereka berdua, akhirnya aku menangis dengan kencang sambil memeluknya. Hatiku benar-benar sakit seperti terbakar dan dihampaskan dengan keras. Aku benar-benar di tolak oleh Cinta pertamaku, dan aku tidak menyesali sudah mengungkapkan perasaan ini padanya...
...****...
Setelah di putuskan, aku menjadikan waktu sakit hatiku ini dengan belajar sambil membantu mama di dagangan pasarnya. Hari-hari kulalui itu demi hari tanpa membiarkan diriku punya kesempatan untuk meratapi kesedihanku. Dan targetku adalah kuliah luar negeri. Setelah belajar selama 2 tahun, akhirnya aku menerima beasiswa di tanah kelahiran ibuku yaitu di Universitas swasta Tokyo Jepang, Waseda University.
Untung saja sebelumnya aku belajar bahasa jepang dengan ibu dari kecil hingga sekarang jadinya amanlah bahasa jepangku. Aku menjauh dari Makassar bahkan Indonesia untuk memulai hidup baru. Meninggalkan kenanganku dengan Jaka, dan membuat kenangan baru di tanah Tokyo. Walaupun ngeselin tapi harus kuakui, aku bisa sampai sini karena Jaka. Seandainya aku tidak sakit hati, mana mungkin aku mempunyai keinginan seperti ini.
"Yoshh.... mulai hari ini kita akan berjuang Miko..." kataku sambil mengangkat kedua tanganku.
...~>{^SELESAI^}<~...
__ADS_1
Facebook : HackBae
Instagram : hackbae2022