Gadis Sedingin Salju

Gadis Sedingin Salju
Chapter 8 : Apakah kau akan merindukanku ?


__ADS_3

Pria itu menumpukkan orang-orang yang mereka hajar sebelumnya lalu dia menepukkan tangannya seolah membersihkan sampah.


"Yosh... Sampah sudah di bersihkan" kata Pria itu tersenyum bangga.


Aku tetap duduk meratapi diriku yang lemah. Bahkan orang biasa seperti dirinya bisa menghabiskan berandalan sendirian sebanyak itu, bagaimana denganku ?. padahal ini adalah masalahku tapi, aku malah di tolong oleh orang yang tidak aku kenal.


"Ooii, namamu siapa ?" tanya Pria itu padaku sambil duduk di sampingku.


"Namaku Jaka, Jaka Khaidir"


"Aku Ilyas Indra Purnama, panggil Ilyas saja"


Aku melihat ke sungai yang mengalir itu dengan bersih. Sambil tersenyum aku mulai berbicara padanya...


"kau memang hebat yaa Kak Ilyas, kau sangat kuat bahkan orang seperti Dane bisa kau tumbangkan dengan satu pukulan beserta kawanannya"


Tiba-tiba Ilyas merangkulku dan berkata padaku


"Jaka-Chan, sepertinya aku sudah memahami kenapa kita dipertemukan di sini"


"Chan ?. apa-apaan itu ?"


"jangan pedulikan itu tapi, aku akan memberimu sedikit pelajaran tentang apa itu orang hebat ?. Kau tau, orang hebat bukan di tentukan dari seberapa kuat orang itu. Tapi, secepat apa kita mengambil suatu tindakan di sanalah kita bisa dikategorikan sebagai orang yang hebat"


"Contohnya ?"


"seperti dirimu. Lihat ?, luka bakar itu pasti ada cerita terselubung di balik itu iya kan ?. coba katakan kenapa itu bisa terjadi ?"


Awalnya aku tidak mau menceritakannya tapi, mengingat dia orang yang kuat bisa saja dia menerbangkanku seperti kawanan Dane sebelumnya. Aku menghela nafas dan menceritakan padanya.


"waktu kecil aku terjebak di pasar yang kebakaran dan aku mencoba keluar. Aku mendengar teriakan seorang gadis yang seumuranku. Kayu dari puing-puing kebakaran hampir mengenainya tapi reflex aku melindunginya dari depan. Aku mencoba menangkap kayu itu dengan tanganku tapi karena panas, aku melepasnya dan mengenai dadaku hingga pentilku hilang karena kebakar juga"


Ilyas menatapku seperti orang yang terkejut mendengar penjelasanku saat itu.


"kau ini hebat juga yaa sekali nafas kata-katamu banyak juga. Itu termasuk hal yang hebat lho"


"benarkah ?"


"yaa walau waktu kebakaran itu hebat tapi, agak lucu kalau kkhh... Pentilmu sampai ppfftt... Hilang... Khhhkhhkhh... Bisa gitu lho" kata Ilyas sambil menahan tawa.


"kalau mau ketawa, ketawa aja lho kak" balasku menatapnya dengan tatapan Aneh.


"Walau begitu kau tetap orang yang hebat kok. Bahkan keaslianmu sudah mulai terlihat. Kalau begitu aku prediksi, kau berlari dari mereka karena melindungi seseorang juga kan ?"


"iya benar"


"ceritain dong..." kata Ilyas dengan mata yang berbinar-binar.


"aku yakin kamu hanya mempunyai banyak waktu luang sampai mau mendengarkan ceritaku seperti ini"


"daripada aku ketiduran di bawah jembatan nunggu gerbang terbuka, kan nggak asik bro" kata Ilyas menunjuk ke bawah jembatan.


"I.. Iya juga sih..."


Pada akhirnya aku menceritakan segalanya tentang Miko yang membulli Cahya dan aku yang melindunginya sampai di kejar oleh Dane. Setelah menceritakannya, Ilyas memegang tanganku dengan wajah yang penuh semangat.


"Jaka-Chan, aku juga baru tahu ternyata kita berada di sekte yang sama tentang kesetaraan gender"


"benarkah itu ?"


"iyaa... mereka yang meminta untuk di setarakan tapi kok apa-apa mau di ampuni sama cowo ?. katanya cowo nggak boleh ini'in cewe, ituin cewe. Lah itu mah bukan menyatarakan, itu namanya mau dimanjain aja"


"Nah iya betul tuh Kak Ilyas, kadang kessal juga dengan cewe yang berlindung dari kata kesetaraan padahal mau di manja doang"


"TERNYATA KITA SATU ALIRAN JAKA–CHAAN !!!" bentak Ilyas


"WOIYADOONNGG !!!!" balasku sambil memegang tangannya.


***Catatan dari penulis : Adik-Adik jangan contoh mereka yaa. Tentang kesetaraan gender itu tidak baik. Hehee..**

__ADS_1


"JAKAAA.... !!!!!" tiba-tiba suara perempuan memanggilku dari belakang.


Bersamaan dengan itu, Ilyas juga pergi meninggalkanku saat lonceng sekolahnya berbunyi.


"Kak Ilyas sudah mau pergi ?"


"Yaahh... jam Siang sudah selesai, aku harus kembali ke ruangan Clubku. Mereka pasti sudah menungguku. Kita akan ketemu lagi di suatu tempat Jaka-Chan" balasnya sambil menunjukkan kedua jarinya.


Aku melihat Ilyas semakin jauh dan berjalan menuju ke sekolahnya lalu tiba-tiba, perempuan yang ternyata Cahya memelukku dengan perasaan yang penuh dengan rasa khawatir.


"BODOOHH !!!!. KAU ITU TIDAK TAHU BELA DIRI, KENAPA KAU MENENTANG MEREKA !!!!?" bentak Cahya padaku.


Aku membalas pelukannya dan melepaskan rasa lelah dan sakitku padanya. Cahya mulai menangis dan aku mengelus kepalanya.


"Maaf membuatmu khawatir, Cahya"


Cahya menyandarkan wajahnya ke pundakku sambil menggelengkan kepalanya.


Sanjaya yang melihatku saat itu dengan tatapan cemburu, akhirnya membelokkan haluan langkahnya ke arah Dane dan membantunya berdiri.


"Kau bisa berdiri Dane ?" tanya Sanjaya.


"Selengkanganku..." balas Dane seperti orang yang tercekik.


"kau ini tidak apa-apa kan ?"


"Yaa Aapa-apalah Kim*k, Selengkanganku sudah di pukul"


"Hee... ternyata orang sepertimu masih bisa sakit yaa ?"


Mendengar perbincangan mereka membuatku sedikit menahan tawa.


...                                                                                   ****...


Sore mulai tiba, Cahya membantuku sampai di hadapan rumah sambil mengetuk pintu. Adikku membuka pintu lalu melihat Cahya yang sedang memegangiku.


"hy adik kecil, bisa kami masuk ?" tanya Cahya.


"KAKAAAKK !!!!.KAK JAKA MEMBAWA PACAAAALLL !!!"


"WOOEE !!!!" bentak aku dan Cahya.


Setelah masuk ke rumah, Cahya mencoba membersihkan lukaku dengan pembersi luka yang di siapkan oleh kakakku sedangkan Nisa melihatku dengan penasaran karena penuh dengan luka.


"kau ini sok keren sih. Padahal kemarin-kemarin bicara padaku Seandainya aku bisa hidup seperti karakter utama di dunia Novel, Komik, dan Film giliran dapat malah babak belur mampus kan ?" kata kakakku marah.


"Mampusy kan ?" lanjut Nisa meniru kata Kakakku.


"Heee... Nisa nggak boleh ikuti bahasa kakak, kan kakak sudah bilang ?" kataku memarahi Nisa.


"maaf kakak" balas Nisa sambil tersenyum.


Melihat pertengkaran kami, Cahya sedikit tertawa dan itu membuatku kebingungan.


"kenapa tertawa ?" tanyaku pada Cahya.


"nggak, aku hanya senang walau seperti katamu kedua keluargamu merantau, tapi kehidupan keluarga kalian masih tetap harmonis"


"Iyadong. Kata Kakak Jaka, dengan telsenyum semua masalah akan hilang" kata Nisa sambil tersenyum.


"udah-udah, setelah membersihkan lukamu kamu kekamarmu dulu Jaka. Dan Cahya tinggal aja dulu. Aku dengar dari Jaka, kamu tinggalnya sendirian di Kontrakan. Sekali saja, tinggallah bersama kami" kata Kakakku pada Cahya.


"baik kak. Terima kasih banyak"


Setelah ke kamar, aku mengganti pakaianku dan mengenakan handuk lalu segera menuju ke kamar mandi.


"Haaahh akhirnya aku bisa mandi juga" kataku sambil membuka pintu kamar mandi.


Cerobohnya, aku tidak mengetahui ada orang di dalam. Secara tidak sengaja, aku melihat Cahya yang sudah telanjang bulat dengan tubuh yang sudah basah.

__ADS_1


"KYAAAAAAA..... !!!!!" teriak Cahya


Dia menutup dadanya lalu melempar Gayung mandi kepadaku sampai mengenaik kepalaku.


"KALAU MAU MASUK KETUK–KETUK DULU DOONGGG !!!!" bentak Cahya malu.


"Ma.. Maaf" balasku sambil mengusap kepalaku.


***Catatan dari penulis lagi : Yang begini jangan di contoh yaa adik-adiikk..... Hehe...**


Lalu, kepalaku di pukul lagi oleh kakakku dari belakang.


"kau menikmatinya yaa Jaka ?" kata kakakku kesal.


"aku tidak sengaja kakak, sumpah..." balasku sambil mengelus kepalaku lagi.


Setelah mandi, kami makan bersama di meja yang sama. Dan Cahya memakai baju Kakakku yang sudah ia tidak pakai selama beberapa tahun waktu kakakku SMA.


"sebelum makan bersama, kita doa sesuai keyakinan yuk ?" kata Kakakku.


"sesuai keyakinan ?" tanyaku heran.


Aku baru menyadarinya saat Cahya berdoa dengan melipat tangannya. Ternyata selama ini, kami mempunyai keyakinan berbeda. Aku Islam, dan dia Kristen. Walaupun berbeda, tapi aku tetap menghargainya.


Dia sahabatku....


Dan akan selalu seperti itu...


Setelah itu, kami akhirnya tidur dan Cahya di taro dalam kamarku di atas ranjang sedangkan aku baring di bawah.


"HEHH !!!!. KAK KOK AKU SEKAMAR DENGAN PEREMPUAN !!!?. BUKAN MUHRIM LHO KAK !!!?" bentakku pada kakakku.


"mau bagaimana lagi dek, kamar di rumah Cuma dua. Sedangkan aku dan Nisa juga perempuan dan di kamar yang sama. Lagipula aku percaya kok kamu nggak bakal ngapa-ngapain kan ?" tanya Kakakku sambil menunjukkan sebuah pisau.


Aku menggelengkan kepalaku karena ketakutan padanya. Dari dulu memang aku takut pada kakakku dan sampai sekarangpun, dia masih sangat menakutkan.


***Catatan dari penulis : Dahlah pokoknya kejadian di Novel ini jangan di contoh..**


Aku mulai mematikan lampu dan Cahya mulai berbaring di atas ranjang.


"aneh yaa kita sekamar seperti ini ?"


"anggap saja pengalaman yang berharga. Karena, mungkin saja ini pertama dan terakhir kalinya kamu tinggal di rumahku. Setelah semester nanti kamu kembali ke Greenland kan ?"


Dia tidak meresponnya dan hanya diam membelakangiku dari atas. Kami diam lalu aku mengira dia sudah tidur. Nyatanya, dia bertanya lagi setelah beberapa menit.


"Jaka ?. apa kau sudah tidur ?"


"belum, ada apa ?"


"aku hanya penasaran pada suatu hal"


"apa itu ?"


"saat aku kembali ke Greenland, apa kau akan merindukanku ?"


Pertanyaannya itu membuatku sedikit tersentak dalam hati. Aku mencoba memikirkannya tetapi.. aku ragu untuk menjawabnya.


"bagaimana denganmu Cahya ?"


"aku akan merindukanmu... sekaligus aku akan kehilanganmu..."


Aku tidak memahami apa yang ia katakan, aku menyelimuti diriku dan mencoba untuk tidur setelah mendengar jawabannya.


"Selamat malam Cahya..."


"selamat malam Jaka...."


... ****...

__ADS_1


Facebook : HackBae


Instagram : hackbae2022


__ADS_2