Gadis Sedingin Salju

Gadis Sedingin Salju
Chapter 6 : Memendam Rasa


__ADS_3

Dane masih tetap mencekikku dan aku tidak melawan sama sekali.


"Kenapa ?. Apa kau sudah menyerah ?" tanya Dane padaku.


"aku sudah bilang aku tidak suka berkelahi. Sampai kapanpun aku tidak akan menyerah karena aku tidak salah"


Melihatku yang mulai tercekik dan sesak nafas, dia melepaskanku. Pikiranku agak bergoyang, kepalaku sakit, dan mataku mulai rabun. Aku batuk dan mengeluarkan ludah yang begitu banyak. Dane menarik rambutku dan mengancamku


"lebih baik kau mulai berbicara sebelum aku menyerangmu lagi"


"Aku sudah memberitahukan pada Cahya bahwa Sanjaya menyukainya, Sumpah..."


Setelah mendengar penjelasanku, dia melepaskanku.


"Lalu, bagaimana dengan reaksinya ?"


"Dia menangis, dan tidak mengatakan apa-apa. Kau lihat tadi kan ?. dia hanya ingin membenturkan Jidatnya padaku karena mngatakan hal yang bodoh seperti itu"


"Berani sekali kau mengatakan itu hal yang bodoh"


"TERUS APA LAGI KALAU BUKAN BODOH HAH !!!?. AKU SUDAH MENGATAKAN SEMUANYA PADA SANJAYA TAPI DIA DIBUTAKAN OLEH CINTA !!!" bentakku pada Dane.


"Memangnya apa yang kau katakan padanya ?"


"Cahya menyukai seseorang, dan orang itu bukan aku. Dari dulu aku mencoba memancingnya agar dia mengatakannya namun dia cuma berkata, Aku mencintai Pria ini namun kami terpisah oleh jarak yang jauh"


"Jadi maksudmu, orang yang di sukai Cahya jangan-jangan..."


"Yaa, kemungkinan Pria dari greenland. kau ini berbadan besar tapi hobynya gampang marah, pantas saja wajahmu cepat menua"


Dane memegang kerah bajuku lagi dan mengambil ancangan untuk menghajarku. Aku menutup mata tapi, dia tiba-tiba berkata...


"Kalau begitu, bagaimana langkah selanjutnya ?"


"Aku dengar, Sanjaya ingin segera mengakui perasaannya sekalipun ia tahu, dia menyukai seseorang"


Lalu, perbincangan kami selesai saat itu. Dia meninggalkanku dan aku pergi menuju ke ruangan ganti.


...                                                                                         ****...


Pulang di rumah, Kakakku mulai merawat luka-luka lebamku dengan cara maksa.


"Adududuhh... Kak pelan-pelan dong sakit ini"


"salah sendiri kenapa sih sampai bertengkar seperti itu ?"


"Tidak apa-apa".


Kakakku menghela nafas berat lalu mengusap kepalaku.


"kalau punya masalah, cobalah untuk jangan memendamnya sendirian. Kakak punya teman seperti dirimu, dia perempuan yang baik bahkan selalu tersenyum. kami Sahabat yang sangat baik. Sampai akhirnya dia berpacaran dengan Seorang ketua Geng Motor Asoka, kehidupannya sedikit hancur"


Mendengar hal itu aku sedikit tertarik mendengarnya.

__ADS_1


"lah, kok bisa kak ?" tanyaku padanya.


"dia sangat cinta pada pria itu, tetapi mereka tidak dapat restu dari ibunya"


"terus bagaimana kelanjutannya ?"


"Cinta mereka tidak di restui karena perbedaan kasta. ada satu momen di mana Sahabatku tidak kuat lagi dengan keadaannya, keluarganya hancur, Dia gagal dalam kuliahnya, dan ia Di gilir oleh laki-laki bejad sampai ia tak bisa memendam perasaannya sendiri lebih lama lagi. Dia bunuh diri..."


Mendengar hal itu, membuatku sedikit terkejut karena baru mengetahui cerita seperti itu benar-benar ada di dunia ini. Apa yang di katakan kakakku ada benarnya. Sampai akhirnya, malam itu aku menceritakan segalanya padanya apa yang terjadi padaku.


Awalnya dia berjalan menjauhiku dan berkata padaku.


"Ternyata, adikku ini orangnya sedikit kurang peka yaa ?"


"Haahh ??"


"pergilah mandi, setelah itu siap-siap sholat magrib" kata kakakku lalu menuju ke kamarnya.


Setelah Jaka melakukan Sholat ia berdzikir menggunakan tasbih berlafadz Allah peninggalan orang tuanya. Sambil bertasbih, ia mendoakan keluarga mereka yang kini merantau karena sebuah pekerjaan di daerah Kalimantan.


"Yaa Allah, jika kau tidak bisa membalas perasaaanku karena mencintai perempuan yang belum muhrimku, maka setidaknya lindungilah Orangtuaku agar mereka tetap sehat" kata Jaka sambil berdoa.                                                                     


...***...


Ke'esokan harinya, Aku melihatnya secara sembunyi-sembunyi. Di sore hari, dengan angin yang sangat kencang meniup rambut putih Cahya, kini ia berhadapan langsung dengan Sanjaya.


"Ketua, aku sudah datang di sini katanya ada urusan penting, ada apa yaaa ?" tanya Cahya.


"aku.. ingin mengatakan sesuatu padamu" balas Sanjaya.


Sanjaya menenenangkan dirinya dan melihat kearah Cahya secara langsung.


"tolong saat di luar sekolah, kamu tidak usah memanggilku ketua, panggil namaku saja Sanjaya. Karena aku ingin lebih di perhatikan olehmu, aku ingin kau memahami perasaanku, aku ingin kau berjalan di sampingku"


Cahya terkejut dengan perkataannya itu.


"Jangan-jangan ketua..."


"Cahya Jane Watson, aku Mencintaimu !!!" Kata Sanjaya tegas.


Pengakuan itu membuat Dane dan Miko terlihat senang dan semangat. Sedangkan diriku ?. sangat mudah di tebak. Bahkan sudah berhari-hari aku mencoba melupakan Cahya, perasaanku masih tetap sakit mendengarkan pengakuan ini.


Dan juga, aku tidak tega melihat orang sebaik Sanjaya harus di tolak perasannya karena di butakan Oleh Cinta.


Sanjaya....


Kenapa kau segila itu hanya karena Cinta ?


"aku tahu kita akan terpisah oleh jarak, dan aku tahu kita tidak akan bertemu dalam waktu yang sangat lama. Tapi akan ku tunggu... aku akan menunggumu"


Cahya menundukkan kepala di hadapan Sanjaya sambil merendahkan dirinya.


"Aku sangat menghargaimu Sanjaya, kau adalah orang yang tegas dan bertanggung jawab sebagai seorang pemimpin. Kau tampan dan juga perhatian, idaman para wanita" kata Cahya.

__ADS_1


"tapi... aku menyukai pria lain. Dia adalah pria yang sederhana dan berperilaku apa adanya. Dia Cuma manusia biasa yang juga kadang melakukan kesalahan, pria yang lemah tapi mempunyai kasih sayang dan rasa kepedulian kepada orang lain yang sangat luar biasa. Sayangnya kami terpisah oleh jarak" lanjut Cahya.


Sanjaya terlihat syok dengan perkataan Cahya dan langsung berkata.


"Aku tahu, tapi aku yakin dia belum tentu mencintaimu. Sedangkan aku sudah jelas mencintaimu Jane jadi..."


"Sanjaya, aku hanya menganggapmu sebagai teman dan rekan kerja sebagai ketua dan wakil ketua kelas"


Lalu tiba-tiba kondisi sangat canggung saat Cahya mengatakan Blak-blakkan di depan Sanjaya.


Kondisi ini Bahaya kan ?


"Kau menyukai pria lain... kencan bersama dengan Jaka... dan perhatianku... kau anggap aku sebagai teman ?. Lalu bersikap manis denganku apa-apaan itu Cahya !!!?. Selama ini aku memberikanmu perhatian lebih karena aku mencintaimu, apa aku tidak bisa lebih dekat denganmu ?"


"Maaf. Tapi, kalau menjadi teman aku akan menerimamu dengan senang hati Sanjaya"


Dane terlihat kecewa saat Sanjaya tertolak berbeda dengan Miko sepertinya agak kesal dengan reaksi penolakan Cahya yang membuat Sanjaya menjadi syok.


"Sanjaya, aku harus pulang dulu karena hari semakin sore, besok kabari aku kalau ada kebutuhan kelas lainnya yaa ?" kata Cahya lalu pergi meninggalkan Sanjaya.


Melihat Cahya pergi, aku keluar dari persembunyianku dan berpamitan dengan Dane sama Miko.


"Sisanya kuserahkan dengan kalian, aku pergi dulu"


"tung- JAKAAA !!!" bentak Miko.


Tapi aku tidak menghawatirkan mereka dan langsung pergi meninggalkan mereka bertiga. Aku Khawatir Cahya kenapa-kenapa. Aku berkeliling mencarinya namun tiba-tiba, dia menebrakku dan langsung memelukku.


Aku terjatuh dengannya karena dia menebrakku dengan keras. Dia menyembunyikan wajahnya di balik dadaku seperti tidak ingin melihatku.


"Cahya, kau tidak apa-apa ?"


"aku ketakutan... selalu saja aku menyakiti perasaan orang-orang. Padahal aku tidak berharap untuk di cintai oleh mereka"


Tangannya begitu bergetar hebat dan ketakutan. Melihat kondisinya, aku mengelus kepalanya untuk menenangkannya.


"kau sudah berjuang dengan keras Cahya, kau hebat. Resiko mencintai seseorang memang seperti itu. Semakin di pendam, maka akan semakin menyakitkan. Solusinya hanyalah mengungkapkannya. Memang rasanya akan sangat menyakitkan tapi, setidaknya kita sudah berusaha dengan keras"


Walaupun kta-kata ini kudapatkan dari kakakku semalam....


aku berharap ini bisa menenangkan Cahya...


Setelah berkata seperti itu, Cahya mengeluskan wajahnya ke dadaku. Aku mengelus kepalanya lalu memegang pipinya. Dan aku menawarkan pada Cahya.


"Perfait Rasa Coklat ?"


"Topingnya Oreo"


"Gass..."


Dan kami berjalan menuju ke Café tani dekat sawah. Karena kebetulan di sana dekat dari kontrakan tempat tinggal Cahya. Aku kira hari ini akan menjadi akhir dari hari yang berat bagi Cahya tetapi, keesokan harinya menjadi hari yang lebih parah baginya.


... ****...

__ADS_1


Facebook : HackBae


Instagram : hackbae2022


__ADS_2