
PLAK!!
Satu tamparan mendarat di pipi mulus seorang gadis berparas cantik rupawan, ia tetap tegap walaupun meringis menahan sakit akibat tamparan tadi yang membuatnya memar di ujung bibir.
“lo tahu bahasa manusia apa enggak, gue bilang minggir yah minggir, gak usah pake sok ngebelain lo” tukas pria bertubuh bidang yang berdiri di hadapan gadis tersebut dengan mengenakan jaket kulit bertuliskan Beatless dengan logo sebilah tongkat bisbol.
“kalau gue gak mau gimana?” sahut gadis itu tanpa ada rasa akut sedikitpun dan tentunya semakin membuat pria dihadapannya ini geram, siapa lagi jika bukan tokoh utama kita Claudia Agatha Zharael atau biasa disapa Laudia, ia berdiri dengan tangguhnya sedangkan salah seorang pria lagi dibelakang Laudia dengan memar dimana-mana disertai cucuran darah dari pelipisnya, pria ini sudah terbaring lemah menatap sendu Laudia yang terus membelanya, pria ini adalah Kenzie Najandra Arziki kerapnya dipanggil Kenzie, seorang kakak kelas yang ia kagumi sejak duduk di bangku smp.
Kenzie sendiri adalah seorang ketua geng motor bernama Xavier dengan logo huruf *x* dan ditambahi dua garis yang terpisah, terkenal, sudah pasti Kenzie terkenal, bagaimana tidak?, hampir semua gadis cantik di SMA Bhintarajasa menjadi pacarnya kecuali Laudia dan dua orang kawannya padahal Laudia juga cantik lho!.
“Stop clau, lo gak bisa hadepin di....” belum selesai Kenzie berbicara namun sudah dipotong oleh Laudia.
“selama gue bilang bisa, pasti bisa!, gue gak mau ngelanggar perkataan gue sendiri” potong Laudia seraya menoleh sedikit ke belakang kemudian menatap lagi ke depan.
“... karena gue teguh pendirian, lo tenang aja kak gue bisa” sambung Laudia, mendengar ungkapan Laudia spontan Kenzie diam tertegun. Selama ini dia selalu mengabaikan Laudia yang selalu berdiri di belakangnya.
“keras kepala banget lo” bentak pria yang berada di hadapan Laudia yang tak lain adalah Rainendra Aldinata Parmaji kerap dipanggil Aldi, seorang ketua geng Beatless musuh besar geng milik Kenzie yaitu geng Xavier.
Sebenarnya Laudia tidak ingin ikut campur akan urusan antara Kenzie dan Aldi, Laudia juga tidak pernah bertemu dengan ketua geng Beatless dan ini pertama kalinya, saat tengah berjalan waktu jam delapan malam di gang yang sunyi tersebut ,tak sengaja Laudia melihat Kenzie yang sudah babak belur dihajar empat anggota inti geng Beatless sedangkan Kenzie hanya seorang diri, sontak ia bergegas menolong Kenzie. Dan tak disangka kini ia juga hampir terpojok namun Laudia berusaha untuk berani karena, Laudia ingin dilihat dan dianggap oleh Kenzie selama ini Kenzie selalu mengabaikan Laudia.
“Sekali lagi gue bilang ke lo, pergi sekarang atau lo bakalan bernasib sama kayak dia” ucap Aldi penuh dengan ancaman seraya menunjuk Kenzie yang sudah lemah di tengah jalan.
“kenapa gak sekalian bunuh gue” sahut Laudia yang tentunya membuat Aldi sangat marah, saat Aldi hendak menampar Laudia, tiba-tiba tangan Aldi ditahan oleh seseorang yang tak lain adalah teman Kenzie juga anggota Inti geng Xavier yang bernama Fareska Zayyan Azhier yang kerap dipanggil Zayyan.
“kak Zay..” beo Laudia, “Zayyan..” beo Kenzie bersamaan dengan Laudia
“lo cepet bawa pergi Kenzie, biar mereka gue tangani” titah Zayyan kepada Laudia.
“tapi kak, lo juga sendirian” sahut Laudia, yang dibalas senyuman oleh Zayyan.
“tenang ada kita” sahut salah seorang dari tiga teman lainnya Kenzie yang baru datang. Yang bernama Sakha dan dua lainnya bernama Afqar dan Rafralan atau Alan.
“lo bertiga dari tadi kemana aja?” geram Zayyan pasalnya mereka baru datang.
“beli coklat di toko mbak kunni waktu takbiran, Alan yang tampan ini juga butuh persiapan” sahut Alan yang tentu membuat Zayyan, Sakha dan Afqar geram akan pantunnya Alan.
__ADS_1
“lo pantun mulu, cepet bantuin gue” geram Zayyan. Akhirnya terjadi baku hantam antara mereka dan ini Laudia jadikan kesempatan untuk membawa Kenzie pergi ke rumah sakit.
“kak ayo ke rumah sakit, gue antar yah” ucap Laudia seraya membantu Kenzie berdiri dan memapahnya. Kenzie menatap Laudia dengan artian dia telah merepotkan Laudia.
“enggak lo gak ngerepotin sama sekali, tapi gue berharap lo bisa anggap gue itu ada. Yah walaupun gue tau cinta lo untuk siapa” perkataan Laudia sontak membuat Kenzie tertunduk malu, menyadari apa yang ia pernah lakukan kepada Laudia.
“gue punya hutang budi ke lo, dan hutang perbuatan gue dulu” batin Kenzie seraya menatap intens gadis cantik yang tengah memapahnya.
...****************...
Tepat jam dua dini hari, Laudia masih duduk di kursi tunggu rumah sakit untuk menjaga Kenzie. Laudia sudah berkali-kali menghubungi keluarga Kenzie melalui hp milik Kenzie namun nihil, tidak ada yang menjawab.
"Yakali, gue disini terus, pasti nyokap sama bokap gue nyariin nih" Gumam Laudia, ia bingung harus bagaimana. Sudah dini hari ia masih belum pulang takutnya saat pulang nanti ia akan dicincang berkeping-keping oleh mamanya, disisi lain ia tengah menunggu kedatangan keluarga Kenzie. Namun sempat terpikir sejenak di otak Laudia.
"Ngapain gue nolongin Kak Kenzie sejauh ini, Laudia, Laudia inget dia selalu anggep lo angin lewat" Itulah yang sempat terpikirkan didalam otak Laudia, namun ia tersadar.
"gak boleh-gak boleh nolongin orang harus ikhlas walaupun dia pernah jahat ke elo" Laudia menepu-nepuk pipinya berusaha menyadarkan diri sendiri dari pikira buruk.
Drrt... Drrt... Drrt...
"Gue angkat gak yah, Angkat, enggak" Bimbang Laudia seraya bersedekap dada membiarkan hp Kenzie terus bergetar, pasalnya orang yang menghubungi Kenzie adalah kakak perempuan Kenzie yang bernama Nansie Najandra Wilocta kerap dipanggil Nansie. Tangan Laudia berasa tarik ulur pasalnya ia bingung mengangkat atau tidak panggilan dari Nansie. Setelah cukup lama ia berpikir, pada akhirnya panggilan itu berakhir.
HUFTH!
"untung gak nelfon lagi" Laudia bernapas lega.
TING!
Sebuah notif pesan dari Nansie untuk Kenzie
NansieWilocta :
Dek, lo kemana aja gak balik-balik, gue bingung nyariin lo kemana-mana, bahkan ke bar tempat lo minum sama temen-temen lo biasanya juga enggak ada
NansieWilocta :
__ADS_1
Gue tau lo mikir karena dirumah enggak ada yang nunggu kepulangan lo, entah lo kesan-kemari gak ada yang peduli, tapi gue Nansie sebagai kakak lo peduli sama lo Ken!.
"apa gue bales pakai kedok temennya yah" antusias Laudia, dengan segera ia membalas chat dari Nansie di handphone Kenzie.
KenzieArziki :
Kak Nansie gue temen Kenzie, Zayyan. Pertama-tama gue minta maaf karena lancang buka hp Kenzie, tapi saat ini Kenzie masih belum sadar di rumahsakit Cendana
NansieWilocta :
Apa lo bilang di rumahsakit, sekarang lo sharelock dan tunjukin nomer kamarnya.
KenzieArziki :
#Lokasirumahsakitcendana
Kamar Kamelia nomer dua di lantai tiga.
NansieWilocta :
Makasih banyak yah Zayyan, udah nolongin adek gue padahal ini uadh dini hari lo masih jagain dia, kenapa lo gak bilang daritadi biasanya lo ceplas-ceplos ke gue.
KenzieArziki :
gak papa kak
Laudia meletakkan kembali hp Kenzie, dengan rasa lega akhirnya ia bisa menguap dengan tenang serta meregangkan otot-ototnya yang seolah-olah menjadi kaku beberapa jam tadi.
"masalahnya gue bukan Zayyan kak Nansie, gue Laudia yah mana gue tau kalau Zayyan sedeket itu ke elo, by the way, kayaknya harus pulang deh" gumam Laudia, kemudian ia meraih hp Kenzie lagi dan menghapu semua chat yang barusan dengan Nansie.
"dengan gini gue bisa pulang dengan tenang" Laudia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan, Kemudian ia menatap Kenzie yang terbaring lemah di brankar rumah sakit
"Kak Kenzie, gue nglakuin ini karena gue tulus, gue gak berharap lo suka sama gue karena gue tau yang ada dihati lo hanya dia, gue tulus nolongin lo karena gue suka sama lo. Tapi ini mungkin terakhir kali gue ngajak lo bicara kedepannya gue gak bakalan ganggu lo" Ucap Laudia sangat panjang seraya menggenggam tangan Kenzie.
......To Be Continue🙂......
__ADS_1