
Masih dalam kegiatan pekan olahraga di SMA Bhintarajasa, suasana yang seru ditambah pemain dan supporter yang kocak membuat pertandingan bulu tangkis tidak terasa bosan.
LILY!!, SEMANGAT!!
Teriak Ruby histeris menyemangati Lily yang tengah tanding tunggal di lapangan.
"Ayo Lily, Lily, semangat biar dapet Kak Zayyan" Teriak lagi Ruby, spontan Zayyan terperanjat kaget.
"Siapa manggil gue" gumam Zayyan seraya menatap sekeliling.
"Yah mana gue tau" sahut Sakha seraya mengacak-acak rambut miliknya.
"Demit kali yang ngefans sama lo" sahut Afqar.
"Bang Afqar lagi berubah jadi berondong, Mana ada demit di siang bolong" tangkas Alan dengan pantunnya.
"Diem lo, ketoprak pantun" sinis Afqar.
"Mulai gak bisa akur" omel Sakha, sontak Afqar dan Alan diam.
Disisi Laudia ia hanya menatap Kenzie dari kejauhan bersama teman-temannya.
"Gue pengen kasih nih minum buat Kak Kenzie tapi...," batin Laudia seraya menatap Kenzie yang tengah diberi sebotol aqua oleh Tiffany.
"...Gak usah deh, udah dikasih Tiffany" lanjutnya dalam hati dengan rasa kecewa yang menyelimuti.
"Pertandingan kali ini dimenangkan oleh Lily dari kelas 11 MIA 3, Selamat untuk Lily untuk menuju semifinal" ucap wasit, tepuk tangan tak henti-hentinya untuk Lily sebab ia melawan seorang pria primadona sekolah yaitu Narel Si Ketua Osis Kulkas.
"Gue acungin jempol buat Lily" histeris Ruby.
TAK!
"Lo bisa diem apa kagak" tegur Laudia seraya menjitak dahi Ruby.
"Peserta selanjutnya yaitu Tiffany dari kelas 11 IIS 2 melawan Claudia dari kelas 11 MIA 3" mendengar informasi dari wasit spontan Laudia membelalakkan matanya.
"Gue tanding sama Tiffany, aish padahal gue pengen dapet semangatan dari Kak Kenzie, tapi gak mungkin Kak Kenzie ngasih semangat ke gue pasti ke Tiffany" batin Laudia, kaki mungil Laudia melangkah menuju tengah arena tanding, Laudia hanya bisa diam menerima tatapan tajam Tiffany.
"Gue mau taruhan sama lo" perkataan Tiffany membuat hening tribun dan arena pertandingan.
"Silahkan" tangkas Laudia menampakkan senyum simpulnya.
"Kalau lo kalah gue mau lo jauhin Kak Kenzie, tapi kalo gue yang kalah, gue terserah mau lo hukum seperti apa" Tiffany mengajukan taruhan dengan percaya dirinya, apa dia tidak takut jika saksinya hampir satu sekolah.
"Pasti Laudia bikin Tiffany sengsara" ucap siswi Tukang Gosip.
__ADS_1
"Iyalah, mumpung musuh menyerahkan diri" sahut Ratu Gosip. Tanpa mereka sadari, tepat di belakang mereka adalah teman-teman Laudia yang tak lain Lily, Ruby, Septha.
"Hei, jaga itu mulut busuk, sembarangan nuduh orang. Emangnya lo bisa baca pikiran, jadi orang jangan suka mutar balik fakta, awas mulut lo jadi busuk" sergah Ruby dengan mulut pedasnya.
"Bagus-bagus, lanjutkan bakatmu nak" gumam Lily sambil menutup kedua telinganya.
PRIT!!
Peluit dari wasit telah ditiup, Tiffany dan Laudia telah memasang kuda-kuda, pertandingan antara Tiffany dan Laudia sangat seru hingga supporter dari arena pertandingan lain pun ikut serta dalam tribun gor badminton.
"Inget baik-baik yah Laud, lo gak bakal menang" ucap Tiffany namun tidak mengurangi konsentrasinya.
"Gue tau kalau gak bakal menang, Lagipula buat apa gue menang, gak guna banget" sahut Laudia dengan lantang agar Kenzie mendengarnya namun hatinya terasa sesak sekali seolah tidak mengizinkan Laudia mengatakan hal itu.
"Yah baguslah, lebih baik lo ngalah, emang sih gue pikir-pikir percuma juga lo menang, Kak Kenzie gak bakal berubah kesan ke elo" ucapan Tiffany sungguh benar-benar merendahkan Laudia.
"Kesempatan bagus, gue bakal balas semua ucapan lo" batin Laudia menggunakan kesombongan Tiffany untuk membuat konsentrasinya menurun.
"Betul apa kata lo, gue pikir lagi, gue tuh gak pantes sama siapapun" Laudia mengayun raket dengan cepat hingga melucutkan serangan smash.
Tiffany mendengus kesal karena mendapat serangan telak dari Laudia.
"Laudia semangat kalahin tuh Tiffany" teriak Ruby.
"Yah maaf" Ruby menunduk.
PRIIIT
Peluit wasit telah berbunyi kedua kalinya di pertandingan Laudia dan Tiffany, ini menandakan bahwa pertandingan telah selesai.
"Selamat untuk Claudia dari kelas 11 MIA 3 untuk melanjutkan ke babak semifinal" ucap wasit.
BRAK!
Tiffany melempar raket ke segala arah, mengepalkan kedua tangannya, ia menatap Laudia dengan tatapan yang menghunus ke retina.
"Gue gak terima kalau lo menang, karena gue yakin lo bakal bully gue kayak waktu itu" ucap Tiffany dengan isak tangis yang mengiringi.
"Mulai drama indosiar" gumam Laudia seraya memutar bola mata malas.
"Berarti Laudia dari dulu sering bully Laudia" ucap Tukang gosip.
"Iya kata temen gue pernah lihat dia nyiram Tiffany pakai jus tomat" sahut Ratu Gosip.
"Bisa gak sih mereka tukang gosip itu diem" Laudia berdecak kesal mendengar ucapan dua penggosip tadi.
__ADS_1
"Apa lo ada bukti kalau gue bully lo?" tanya Laudia seraya melangkah lebih dekat ke Tiffany.
"Se-sebenarnya ada, ta-tapi gue takut ka-karena lo ancem gue" jawab Tiffany dengan gagap serta melangkah mundur dengan gemetar.
"Dilihat dari tingkahnya, kayaknya bener Laudia bully Tiffany" ucapan Afqar membuat Kenzie menyatukan kedua alis.
"Hei, sembarangan nuduh, memangnya ada bukti yang kuat, kalau cuma bicara terus akting nangis bocil juga bisa" tangkas Zayyan.
"Memang yah, kalau orang gak tahu diuntung itu ya seperti ini, udah khianatin temen sendiri, lo tau gak apa yang lo punya itu karena penderitaan kita berempat, lo tau gak itu" Laudia tersenyum nanar menatap Tiffany. Dan sesunhguhnya Tiffany dulu sejak smp sampai kelas 10 bersahabat.
Dengan Laudia, Lily, Septha, dan Ruby namum kisah persahabatan mereka sempat goyah karena Laudia dan Tiffany sama-sama mengagumi Kenzie yang notabenya sekarang adalah pacar Tiffany, pada akhirnya Laudia sadar jika dirinya harus rela berkorban demi teman, ia membantu Tiffany dari balik bayangan sampai Tiffany menjadi pacar Kenzie yang pertama, begitu banyak pujian dan support dari banyak orang karena Tiffany bisa meluluhkan Kenzie.
"Lo bil.." belum usai Tiffany berucap sudah disergah oleh Laudia.
"Lo kira dengan khianatin temen lo bakal bahagia, selama ini kita selalu bayangin bisa bersatu, apa lo pikir dengan lo berdiri disini dan bicara yang bukan fakta, semua orang bakal percaya" sergah Laudia.
"Gue percaya" sahut Kenzie dari kejauhan.
"Kak Kenzie belain Tiffany, apa matanya rabun gak bisa bedain bener sama kagak" batin Laudia terheran-heran.
"Selama ini gue gak pernah nemuin orang kayak lo TIFFANY" bentak Laudia di akhir ucapan.
"Cukup!, bisa gak, gak usah bentak" tegur Kenzie, tanpa Laudia sadari sebongkah air mata telah jatuh dipipi mulusnya.
AAAAAAAHHH
"MANA STIFFANY ARETA MAYA YANG DULU" teriak Laudia.
"Laudia udah ya" Lily menghampiri memeluk Laudia.
"Cup cup, gak usah nangis dah gede" Lily mencoba menenangkan Laudia.
"Hei Tiffany, apa lo tahu, gara-gara pengkhianatan lo Laudia punya gangguan psikologis" ucapan Ruby sontak membuat seluruh siswa di arena bulu tangkis melongo tak percaya.
"Oke, gue ngaku kalah terserah lo mau apain gue" lirih Tiffany.
"Enggak perlu, taruhan yang gak penting, walaupun lo gak taruhan sama gue, bakal gue jauhin pawang lo, tenang aja" tukas Laudia.
Entah mengapa tiba-tiba dada Kenzie terasa ngilu dan sesak mendengar perkataan Laudia.
"Kenapa gue gak terima Laudia bicara begitu?" tanya Kenzie dalam hatinya sendiri, ia bingung akan perasaannya sendiri. Laudia mengalihkan pandangan ke Kenzie, ia hanya bisa tersenyum manis kepada Kenzie.
"Hei, Zie, lo disenyumin sama Laudia" ucap Sakha seraya menarik dasi Kenzie, Kenzie balik menatap Laudia.
"Apa yang lo pikir Laud?" tanyanya dalam batinan, yang pasti tidak akan tersampaikan pada Laudia.
__ADS_1