
Entah Kenzie Kenapa hari ini, ia terus murung, dan menyendiri di belakang sekolah. Tak sengaja Laudia menemukan Kenzie yang tengah duduk di kursi belakang sekolah seraya memijat pelipisnya.
"itu kak Kenzie, tumben banget disini" batin Laudia sedikit heran tapi juga tak bisa melarang.
Kenzie yang merasa kedatangan seseorang, ia pun menoleh menatap Laudia.
"ah maaf, gak sengaja kesini" spontan Laudia berbalik badan ingin pergi.
"gak usah pergi, disini aja temenin gue" perkataan Kenzie membuat Laudia mengurungkan niatnya untuk kembali ke kelas, namun ia ragu jika menemani Kenzie, takutnya muncul rasa canggung.
Laudia pun mendekat ke arah Kenzie, Laudia juga takut jika ini hanya tipuan Kenzie untuk membullynya.
"sini duduk" titah Kenzie sambil menepuk kursi panjang yang ia duduki.
"Disitu, emmm.. kurang enak dilihat kak kalau gitu gue disini aja" tolak Laudia seraya menunjuk batu besar disampingnya.
"gak ada penolakan" Kenzie menarik tangan Laudia hingga Laudia terduduk disamping Kenzie. Laudia hanya bisa membelalakkan mata, tak disangka ada saat seperti ini.
Usai menarik Laudia untuk duduk disampingnya, lagi-lagi Kenzie kembali memijat pelipisnya dan memejamkan mata seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat di dalam otak.
Laudia ingin bertanya namun takut jika nanti Kenzie marah tapi ia juga penasaran, akhirnya Laudia memberanukan diri untuk bertanya kepada Kenzie.
"Kak!" panggil Laudia kepada Kenzie yang hanya dibalas dengan deheman.
"emm, kak e-elo kenapa?, lo eng-gak papa kan" tanya Laudia dengan ragu.
"gue gak papa, cuma gak terima aja sama tuhan, tuhan gak adil ,hidup gue seperti ini" jawab Kenzie, Laudia sedikit paham mungkin Kenzie sedang memiliki masalah karena sejatinya manusia tidak bisa benar-benar bersih dari masalah.
"kak lo gak boleh nyalahin tuhan, semua itu udah takdir kita gak bisa liat kehidupan dari segi buruknya saja tapi juga sisi baiknya, hikmah dibalik semuanya paati ada dan itu jarang sekali orang menyadarinya" tutur Laudia, Kenzie menoleh menatap Laudia.
"apasih yang kak Kenzie pikirin kenapa bisa sampek begini?" tanya Laudia.
"apa gue coba curhat ke dia aja" batin Kenzie.
"kak Kenzie boleh kok, curhat-curhat ke gue, yah siapa tau bisa nolongin paling enggak bisa ngaaih solusi" lanjut Laudia.
"gue tuh lagi mikirin keluarga gue dan kehidupan gue" Kenzie mulai bercerita kepada Laudia.
"emangnya keluarga kak Kenzie kenapa?" tanya Laudia.
"gue gak pernah di peduliin sama ortu gue di keluarga gue hanya kakak gue yang peduli tapi, itupun jarang karena dia sibuk, dan ini yang buat gue mikir kalau tuhan itu gak adil" ucap Kenzie, Laudia akhirnya paham kenapa saat dirumah sakit keluarga Kenzie sulit dihubungi.
__ADS_1
"tapi kak, setiap perkara di dunia ini ada hikmahnya, dan satu lagi orang tua kak Kenzie bukan gak sayang ke kak Kenzie mungkin mereka ada cara sendiri untuk menyayangi kakak, sebab di dunia ini tiada orang tua yang tidak sayang anak" Kenzie tertegun mendengar ucapan Laudia, dan terngiang di otaknya saat papanya bertanya padanya kemarin.
"kak orang tua itu pasti menyembunyikan rahasia demi menyayangi anaknya, coba deh kaka cari tau lebih tentang keluarga kakak" lanjut Laudia. Kenzie tersenyum simpul seolah ia telah mendapat pencerahan dari gadis cantik di sampingnya ini.
TING!
notifikasi masuk di hp Laudia, ia pun melihatnya.
"eh, Kak Kenzie gue pergi dulu, dicariin sama temen-temen" Laudia beranjak berdiri meninggalkan Kenzie sendirian.
Kenzie menatap Laudia seraya tersenyum, jarang sekali Kenzie tersenyum seperti itu.
"gue bakal ingat semuanya yang pernah lo lakuin buat gue Laud"_Kenzie
...****************...
Rumah megah nan mewah milik keluarga Najandra sangat memanjakan mata namun kehidupan keluarganya tak seindah rumahnya, karena harta tidak bisa menjamin suatu kebahagiaan.
Sepulang sekolah ini Kenzie mencoba berbicara lebih dekat dengan kedua orang tuanya, mungkin ia tergerak karena ucapan Laudia di belakang sekolah tadi.
Kenzie mendekati papanya yang tengah duduk di ruang kerja pribadinya seraya menyruput kopi.
"Pa" panggil Kenzie, sontak papa Kenzie menoleh.
"Kenzie boleh masuk gak" ucap Kenzie seraya berpura-pura ramah, padahal dalam hati, 'susah banget buat senyum, syulit akting ternyata'.
"Silahkan" ucap papa Kenzie.
Dengan segera Kenzie memasuki rungan kerja papanya dan melihat isi rungan itu, ini pertama kalinya Kenzie melihat isi ruangan kerja papanya secara jelas.
Kenzie tidak bisa diam, ia membuka brankas, almari dan laci di ruang kerja papanya, namun saat Kenzie membuka laci paling atas atensinya melihat sebuah dokumen bertuliskan 'pengadilan agama, jakarta barat',
"Kenzie kamu lihat apa?" pertanyaan papa Kenzie membuat dirinya mengalihkan pandangan ke papanya.
"Eh, enggak cuma liat penghargaan papa" Jawab Kenzie.
"Sini nak, kamu duduk di sini" titah papa Kenzie seraya menunjuk kursi yang berada di depannya, Kenzie pun menuruti perintah papanya.
"Kenzie, papa mau tanya apa kamu sudah memiliki pacar atau gadis yang disukai?" sontak Kenzie terdiam seribu bahasa di otaknya terngiang jawaban, 'pacar gue emang Tiffany, tapi gue biasa aja ke dia, suka enggak benci juga enggak'
"Belum pa" jawab Kenzie.
__ADS_1
"Papa punya saran buat kamu" perkataan papanya membuat Kenzie tertegun, 'ternyata benar apa yang dikatakan Laudia jika orang tua memiliki cara sendiri untuk menyayangi putranya',
"Memangnya apa saran papa?" Kenzie penasaran dengan menunjukkan senyum simpul.
"Kamu kalau memilih pasangan harus benar-benar baik, jangan sampai memilih pasangan yang membuat kehancuran pada hubungan, itu saran papa. Papa sebagai pria paruh baya yang mempunyai anak dua dan pernah melalui masa remaja sama seperti kamu" Ucap papa Kenzie, pikiran Kenzie menjadi terfokus pada dokumen di dalam laci tadi.
"Carilah pasangan yang memiliki sifat sepertimu" Ujar papa Kenzie.
"Bukannya perbedaan sifat bisa mengeratkan hubungan" sahut Nansie yang sedari tadi berdiri menyaksikan percakapan papa dan adiknya di ambang pintu.
"Kak Nansie" beo Kenzie menoleh ke sumber suara.
"Kamu mendapat pendapat itu darimana?" tanya papa Kenzie kepada Nansie.
"Dari Indonesia, lihat deh Indonesia berbeda-beda tapi bisa bersatu, berarti sama halnya dengan cinta tergantung pada bagaimana orang itu menyikapi" jawab Nansie
"Bagus- bagus anak papa sudah dewasa" papa Kenzie manggut -manggut.
CKLEK!
Suara pintu terbuka membuat semua tertoleh ke arahnya tanpa terkecuali.
"Mama" beo Kenzie, Mama Kenzie hanya tersenyum sesaat.
"Ayo turun makan, mama tunggu dibawah" usai mengucapkan titah tersebut Mama Kenzie langsung melenggang pergi, Kenzie baru menyadari jika ada suatu keanehan di keluarganya.
"Kalian turun makan sana, nanti bilang ke mama papa enggak makan" ucap Papa Kenzie.
"Why?, gak laper kah" heran Nansie, respon Papa Nansie dan Kenzie hanya menggeleng pelan. Akhirnya Nansie dan Kenzie meninggalkan ruangan kerja papanya menuju ruang makan.
Kenzie dan Nansie duduk di kursi dengan saling bertatapan.
"Ma, Papa gak makan katanya" ucapan Kenzie hanya diangguki oleh Mamanya.
"Mama kenapa diem-dieman sama papa dari dulu?" Pertanyaan Nansie sontak membuat Kenzie mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Gue curiga yang ada di laci ruang kerja papa" Batin Kenzie seraya menyantap masakan mamanya.