Garis Takdir Cinta

Garis Takdir Cinta
Balasan Dari Tulus Paling Dalam


__ADS_3

Selama satu minggu Laudia terus merawat Kenzie yang sedang sakit dirumahnya, ia selalu meluangkan waktu ke apotek membeli obat untuk Kenzie, ke rumah sakit menganyar Kenzie periksa, tidak jarang Laudia mengajak Kenzie ke tempat dengan pemandangan alam yang indah bertujuan untuk merilekskan tubuh dan pikiran.


"Makasih udah mau rawat Kenzie selama seminggu ini" ucap Nansie, Laudia hanya membalas dengan senyuman manis yang sedikit dibalut bibir pucat, wajah yang lesu, dan tubuh yang lemas.


"Gue kenapa, jangan bilang gue sakit" tanya Laudia pada diri sendiri.


"Thanks, udah jemput gue sekolah"


suara yang terdengar familiar di telinga Laudia, ia memutar kepala melihat siapa disana, ternyata itu suara khas Tiffany namun ia tak sendiri, disamping Tiffany ada Kenzie yang selalu stay menjaganya.


"Pas sakit gak dateng, udah sembuh baru nongol, huh dasar manusia biadab" celoteh Ruby.


"Ssst, gak oleh ih, gak baik Ruby" tegur Laudia.


"Habisnya dia itu ngeselin banget..." gerutu Ruby, Laudia menghela napas pasrah melihat Ruby menyangga dagunya dengam menatap halaman sekolah.


"...Bayangin gak sih, gue beli sate lima puluh tusuk jam dua siang lah dia beli sate tujuh puluh tusuk jam dua siang kurang lima menit, eh, tau-taunya gue yang bayar. Untung gue bukan Lily, mungkin kalau waktu itu Lily pasti Tiffany udah dicincang dijadiin makanan ayam, haih, gue emang terlalu baik" celoteh Ruby bangga pada diri sendiri walaupun tidak ada yang mendengarkan, Laudia saja sejak tadi sudah pergi meninggalkan Ruby.


"Yah kan Laud" saat Ruby menoleh hanya dia seorang diri di koridor sekolah seperti orang gila yang berbicara sendiri.


"Wah, gue ditinggal sama dia, awas ya lo gue kasih pelajaran nanti, gue sleding lo" Ruby menghentakkan kaki marah seraya melangkah menuju kelas 11 IIS 3 tempat dimana Ruby belajar.


KRING!


Bel istirahat berbunyi, semua pergi ke stand keinginan masing-masing namun berbeda dengan satu gadia ini yang hanya berjalan dengan lemas tidak jelas tujuan siapa lagi sih jika bukan Laudia.


"Lo sakit?" tanya Lily seraya menempelkan telapak tangannya pada dahi Laudia.


"Enggak, gue gak sakit, cuma kecapean, lo gak usah khawatir, okey" senyum Laudia membuat Lily semakin khawatir, karwba senyum mansinya lebih sering digunakan untuk menutupi sesuatu yang menyedihkan.


"Gue temen lo, gue tau karakter lo itu gimana Laud, lo gak bisa bohongin gue" Lily menggoyangkan kedua bahu Laudia spontan Laudia memeluk erat Lily dan menangis sekerasnya.


"Hiks, hiks, huhuhu" isak tangis Laudia yang tidak bisa berhenti.


"Nangis sepuas lo, keluarin rasa sedih dan sakit lo, bayangin semua wajah orang yang nyakitin lo keluarin semua air mata kesedihan lo Laud, hidup ini memang seperti ini, ada kala bisa manis namun terjadang berbalik menjadi kepahitan apalagi kehidupan cinta yang wujudnya ghaib, hanya bisa dilihat dengan hati bukan organ mata, ini sudah garia takdirnya Laud, kenapa lo masih belum bisa lepasin dia?" tutur Lily dengan diakhiri sebuah pertanyaan untuk Laudia.

__ADS_1


"Gue dibuat kacau sama dia, dia bilang benci ke gue tapi disisi lain dia udah ngasih harapan ke gue yang harapan itu bikin gue terus bangkit, anehnya semakin gue nyoba lupain dia, hati gue semakin gak karuan bahkan diri gue gak bisa dikontrol lagi" keluh Laudia, sungguh cinta yang mendatangkan tangis, sebegitu tulusnya.


"Mungkin dia punya alasan sendiri buat itu" sahut Lily untuk menenangkan Laudia.


"Ayo makan aja" ajak Lily kepada Laudia ke kantin


...****************...


"Wah parah lu berdua gak ngajak ke kantin" Celoteh Ruby yang barusaja datang.


TAK


Septha menjitak dahi Ruby, hingga Ruby meringis kesakitan.


"Berisik" singkat Septha.


"Woi, Robot Mati, bisa gak sih sehari aja gak ngeselin" lagi-lagi sifat Ruby yang mirip sekali dengan bocah.


"Berisik" ucal Lily dan Septha bersamaan seketika Ruby terdiam.


"Lo.." belum sempat Ruby berbicara sudah dipotong oleh kedua temannya.


"Diem" tegur Lily dan Septha bersamaan lagi.


"Gak liat apa temennya nangis malah ribut mulu kerjaan lo, kalau gak gitu ngomel gak ada habisnya, huft, capek gue sama lo yang payah" omel Lily.


"Kenzie, woi lo gak gabung ke kita, mentang-mentang udah sembuh ye abaikan saja kawanmu ini" ucapan Sakha dibalas tatapan tajam Kenzie.


"Beli kodok di pelabuhan sydney, dicampur pakai adonan lumpia. Woi Kenzie ngapain deket Tiffany, karena yang rawat li kemarin Laudia" sahut Alan Si Ketoprak Pantun.


"Lama banget pakai pantun segala, langsung ttp aja" tukas Afqar.


"Bang Zayyan ditangkep satpol pp, kunaon atuh ttp?" tanya Alan diselingi ketoprak pantunnya.


"To The Point, nanya aja pake pantun" ketus Afqar.

__ADS_1


"Liat nih gue contohin, Kenzie lo kok gitu ke Laudia inget yang rawat lo siapa, malah deketnya ks Tiffany" Ucap Afqar dengan lantang.


"Tolol" umpat Septha dalam hati melihat kelakuan Afqar.


"Tiffany pacar gue, lah dia siape gue, ngerawat gue aja pilihan dia yah bukan urusan gue, anggep aja jadi babu gratis gue" ucapan Kenzie sangat menusuk di hati Laudia.


Dug!


Sebuah kaleng minuman melesat di kepala Afqar, dan pelakunya adalah Septha. Afqar menoleh menatap Septha.


"Tolol, tau situasi" tegur Septha dengan dinginya.


"Bicara yang jelas napa" ketus Afqar


"Jelas" singkat Septha.


"Wah, lama-lama gue gila ngomong sama lo" kesal Afqar.


"Salah sendiri ngomong sama temen gue,Kacian kena mental" ledek Ruby.


Disisi lain mereka mengabaikan Laudia yang tengah sedih malah asik ribut.


"Gue dan semua orang tau lo pacar Tiffany kak, tapi hanya gue yang tau dihati lo bukan Tiffany, tapi apa lo bisa hina gue blak-blakan begini di depan umum, gue juga punya malu kak" batin Laudia sedih, kecewa, rasa yang tidak bisa dijelaskan muncul didirinya.


"Lo keterlaluan Zie" sahut Zayyan tidak terima, Kenzie hanya menggidikkan bahu acuh.


"Percuma lo bilang, telinganya dibuat dari baja, makanya budek" tangkas Lily yang sangat geram kepada Kenzie.


"I'm sorry friends, it's your own fault to compete with me" ucap Tiffany meremehkan dengan menggunakan Bahasa Inggris yang berarti 'Maaf Kawan, Salahmu sendiri saingan denganku'.


SIALAN!!


Mata Lily berubah merah, kemarahannya tidak bisa dibendung, betapa tidak terimanya Laudia diremwhkan seperti itu.


"Lo gak berhak ucap apapun tentang dia, lo sendiri udah bikin pertemanan hancur, semua serasa kayak mimpi, itu semua gara-gara lo. Apa lo gak luas liat Laudia menderita dulu, dan sekarang lo mau nambah penderitaannya" marah Lily yang membuat seisi kantin terdiam.

__ADS_1


__ADS_2