Garis Takdir Cinta

Garis Takdir Cinta
Xavier VS Beatless


__ADS_3

Pagi pun telah pergi dan mentari tak bersinar lagi, kini berganti bulan. Kini Laudia sendiri di rumah tanpa seorang yang menemaninya dikarenakan orang tua dan adikny tengah pergi ke perjamuan yang sangat penting, sebenarnya Laudia diperintah papanya untuk ikut namun ia lebih memilih berdiam diri di rumah.


TING!


TING!, TING, TING


Notifikasi pesan yang datang tak henti-henti membuat Laudia berdecak kesal.


"Ini kagak tau orang istirahat apa gimana" gerutu Laudia seraya membuka pesan dari grup seluruh pelajar SMA Bhintarajasa.


+62××××××××××× :


Hei lihat ada breaking news


+62×××××××××××:


Apaan


+62××××××××××× :


*mengirim sebuah video


Laudia membuka isi video tersebut, ia kaget bukan kepalang, bagaimana tidak?, isi video tersebut adalah Tiffany yang tengah mabuk di bar dan menari-nari dengan Aldi ketua Geng Beatless.


"Pasti Kak Kenzie ngajak baku hantam ketua Beatless ini" gumam Laudia.


KenzieArziki :


Siapa yang dapet video ini?


+62××××××××××× :


Gue kak, Naisa kelas 11 MIA 4


Kenzie Arziki :


Gak usah disebarin!


+62××××××××××× :


Tapi udah terlanjur kesebar ke satu sekolah kak.


KenzieArziki :


Apa ada yang nyuruh lo?


+62××××××××××× :


Gak ada


KenzieArziki :


Japri gue!


Laudia hanya tersenyum nanar melihat Kenzie mengirim pesan semacam itu di grup SMA Bhintarajasa.


"Jarang banget Kak Kenzie aktif di grup ini, bener apa kata Tiffany..." gumam Laudia terkekeh disertai kesedihan.


"... Lo sayang banget ke Tiffany yah kak" ucap Laudia dalam hati dengan tersenyum nanar.


Jarang sekali Kenzie mengirim pesan di grup sekolah ini bahkan tidak pernah, walaupun sepenting apapun, tapi sekarang hanya karena Tiffany ia turun tangan.


Derrt.. Derrt.. Derrt

__ADS_1


Laudia melihat nama kontak yang menelfonnya, ternyata adalah Ruby, Laudia menerima panggilan tersebut.


LaudiaAgatha :


Hm, apaan


RubyXiela :


LAAAAUD!!


LaudiaAgatha :


Adoh, gak usah teriak budek lama-lama telinga gue


RubyXiela :


Hehe, sorry, maaf, joesonghabnida, Duìbùqǐ, Gomenasai, Désolé, Lo siento


LaudiaAgatha :


Yah punten mbak yang ahli bahasa asing, kenapa gak sekalian seluruh bahasa di dunia ini


RubyXiela :


Lo ngeledek gue


LaudiaAgatha :


Lo nelfon gue kenapa?


RubyXiela :


Ayo Ngafe


LaudiaAgatha :


RubyXiela :


Kamu nanya?


LaudiaAgatha :


Sialan lo


RubyXiela :


Maksudnya ke Cafe Kamu Nanya


Laudia mendengus kesal dengan satu teman bobroknya.


...****************...


Laudia mengendarai mobil seraya melihat google maps, pasalnya Ruby tidak membagi lokasinya pada Laudia.


BRAK!


JDARR!


Ckiiit


Mendengar ledakan spontan Laudia mengerem mendadak, ia celingukan ke kanan kiri depan dan belakang namun tidak ada apapun semua masih tetap sama biasa-biasa saja.


"Coba deh gue turun" Laudia memutuskan untuk keluar dari mobil dan mencari sumber suara ledakan tadi.

__ADS_1


Bug, bug, dug.


Suara bogeman bertubi-tubi terdengar jelas di telinga Laudia, 'malam-malam seperti ini memang cocok untuk baku hantam' pikir Laudia, ia terus melangkah melewati pepohonan yang banyak serta lebat, suara air mengalir dari sungai sekitar pepohonan itu membuat Laudia susah mencari sumber suara ledakan.


"Aduh capek gue, udah gelap, banyak nyamuk, jalan setapaknya becek begini, siapa kira-kira yang lewat sini" gerutu Laudia berjalan dan menatap jalan setapak di pepohonan tersebut. Tanpa Laudia sadari ia hampir memasuki sebuah gerombolan tawuran para anak muda, Laudia mendongak betapa terkejutnya saat melihat apa yang ada di hadapannya.


"Kak Kenzie" beo Laudia, melihat Kenzie babak belur dengan luka dimana-mana.


"Apa dia gak kapok habis masuk rumah sakit waktu itu?" tanya Laudia dalam hati dengan heran, Tapi Laudia menyadari jika peristiwa ini sedikit berbeda dengan yang saat itu


Jika diperhatikan lagi, semua pria yang tawuran itu memakai jaket kulit semua, serta jumlah yang tidak sedikit, Yah, Laudia hanya bisa diam memperhatikan hingga ia mendapati seseorang yang sangat familiar menurutnya.


"Itu kayak pernah lihat, tapi siapa?" Laudia berpikir keras dengan menyangga dagunya, terlintas diotaknya wajah Aldi Ketua Geng Beatless.


"What, dia baku hantam sama cowok itu lagi" histerisnya dalam hati.


"Tiffany milik gue, lo Kenzie gak pantes sama dia" ucap Aldi dengan terus memukul Kenzie.


"Walaupun gue gak pantes, tapi kalau gue sama dia saling cinta, lo bisa apa?" balas Kenzie dengan terkekeh.


DEG!


Bagaikan disambar petir hati Laudia, sakit, ngilu, dan sesak yang sulit untuk dijelaskan bagaimana rasanya.


"Kak Kenzie ternyata bener-bener cinta dengan Tiffany, lalu selama ini gue berjuang buat Kak Kenzie, apa jangan-jangan dianggap lelucon oleh mereka" lirih Laudia, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Kenzie.


Kenzie akhir-akhir ini memberi harapan kepada Laudia, namun ia mengakui saling cinta dwngan Tiffany, apa dia menganggap Laudia sebagai mainan ataukah sebuah wayang yang bisa digunakan dan dibuang sesuka hati.


"Lo gila, Tiffany hanya punya gue dan lo hanya ditugaskan jagain dia bukan pacaran sama dia" tangkas Aldi dengan amarah yang memuncak.


"Tapi, Tiffany benci sama lo, Aldi, dan gue gak bisa biarin lo nyakitin dia"


BUG!


Bogeman keras dari Kenzie Sang Ketua Geng Xavier yang mengakibatkan Aldi terpental sejauh lima meter, Kenzie terduduk seraya menyeka darah di sudut bibirnya disertai napas yang tersenggal.


GUE BAKAL AMBIL TIFFANY DARI LO KENZIEEE


Teriakan Aldi yang begitu keras membuat tempat itu hening sejenak.


"Ambil aja asal lo udah memenuhi syarat" sahut Kenzie


"Kak Kenzie" panggil Laudia dengan lirih namun Kenzie masih bisa mendengarnya walau samar-samar.


"Lo ngapain disini" Kenzie mencoba beranjak berdiri, namyn nihil lebam dan luka di tubuhnya terasa sangat ngilu, sakit dan mengganggu.


"Sini gue bantu" ucap Laudia seraya memapah Kenzie menuju mobilnya yang berjarak sekitar dua kilo meter dengan melewati pwpohinan dan jakan becek tadi.


"Kenapa lo baik ke gue?, selama ini gue selalu berperilaku buruk ke elo" pertanyaan Kenzie membuat Laudia tersenyum.


"Sini kak gue obatin, mumpung ada kotak P3K di mobil gue" Laudia meraih kotak P3K. Saat Laudia akan mengoleskan obat, Kenzie mencengkeram pergelangan tangannya.


"Gak usah ngelak, jawab pertanyaan gue dulu" tukas Kenzie dengan tatapan yang menghunus di mata lawan.


"Udah gue jawab tadi pakai senyuman" tangkas Laudia seraya menunduk mengobati tangan Kenzie dengan tetap stay tersenyum


"Lalu maksudnya" Kenzie menyatukan kedua alisnya bermaksud bertanya.


"Yah, maksudnya gue gak bisa benci ke orang lain dengan mudah, apalagi orang itu adalah orang yang gue sayangi"Jelas Laudia sembari beralih menatap wajah Kenzie.


"Apa lo gak sakit hati kalau gue suka ke Tiffany?" tanya Kenzie, Laudia hanya menggeleng pelan.


"Asal lo tau, gue itu gak suka sama lo, sampai saat ini gue masih sedikit risih ke elo, apa lo gak mau nyerah? udah jelas-jelas di depan mata kalau gue cinta banget ke Tiffany sebaliknya Tiffany juga" ucap Kenzie sangat panjang dengan diselai pertanyaan.

__ADS_1


"Buat apa gue nyerah, lagian gue suka sama lo kak, asal lo bahagia gue juga seneng" jawab Laudia dengan dibarengi senyum yang tersimpul jelas di wajahnya, Kenzie sempat teretgun mendengar jawaban dan melihat senyum Laudia. Namun kedua mata Laudia tidak bisa dibohongi, memang benar Laudia tersenyum dibibir namun kecewa dimata


__ADS_2