Garis Takdir Cinta

Garis Takdir Cinta
Hati Tidak Bisa Dibohongi


__ADS_3

Laudia tengah makan di kantin sekolah sendirian tanpa kawan yang bagai perangkonya, mengaduk nasi goreng dihadapannya tanpa menyantap satu sendok pun nasi goreng itu, muka yang terus murung menampakkan jika ia sedang tidak nafsu makan karena moodnya tengah tidak baik.


WOI!!


"Ash, sialan" pekik Laudia, Ruby cengengesan setelah melihat reaksi Laudia sikagetkan olehnya.


"Ngantin, gak ajak-ajak jahat banget lo, udah kemarin malem gak dateng ke cafe kamu nanya" gerutu Ruby dengan duduk di kursi sebelah Laudia.


"Gue ada problem mendadak kemarin, kalau sekarang lagi pengen sendiri aja" tangkas Laudia.


"Padahal yah, gue mau curhat ke elo, kan lo pakar cinta yah walaupun gak pernah bisa mahamin perasaan diri sendiri" jelas Ruby.


TAK!


Laudia menjitak dahi teman imut, cantik, bobrok, tapi otaknya sedikit lemot.


"Ngeledekin gue lo" sinis Laudia


"Ampun boss ku, gak berani" balas Ruby yang tentu membuat Laudia semakin geram.


"Memangnya lo mau curhat apa" mendengar perkataan Laudia sontak Ruby menjadi cemberut.


"Gue suka sama seseorang, tapi orang itu gak peka banget" keluh kepada Pakar Cinta atau Dokter Cinta gratis.


"Siapa?" Tanya Laudia.


"Na-narel Si Ketos paling cuek bin ganteng sekelas sama Septha MIA 1, bin pinter bin berwibawa banget pokoknya the best" celoteh Ruby, Laudia menggosok telinganya beberapa kali 'Walaupun gue suka banget ke Kak Kenzie tapi gak segitunya kali kalau muji' dalam batin Laudia.


"Lalu" Laudia menaikkan sebelah alis.


"Yah kasih solusi lah Laud, lo ini Dokter Cinta Pribadi gue malah gitu doang responnya" Ruby mendengus kesal melihat ekspresi menywbalkan Laudia yang hampir mirip ekspresi Septha.


"Sejak kapan gue setuju jadi Dokter Cinta lu" sergah Laudia.


"Yaelah Laud bantu gue doang, kasih solusi deh" rengek Ruby, Laudi menggeleng pelan.


"Laudia yang cerdik, pinter, rajin, anti telat, cantik sejagad raya walau Kak Kenzie gak mau" puji Ruby dengan selipan meledek.


"Lo ngeledek gue lagi" Laudia tersenyum lebar namun menyeramkan.


"Eh, enggak gitu maksudnya" elak Ruby.


"Gue gak mau bantu lo" tolak Ruby terang-terangan


"Hei, gue temen lu, bantu dikit napa" rengek Ruby yang semakin kencang.


BERISIK!!

__ADS_1


Sahut segerombolan pria di sebelah meja tempat Laudia dan Ruby berada, kedua gadis yang sedari tadi ribut sama-sama menoleh ke sumber suara.


"Eh, Kak Sakha" beo Laudia dengan jari-jemari diam-diam mencubit paha Ruby.


"Ash, sakit woi" rintih Ruby.


"Mereka pasti dari tadi denger apa yang lo ucapin, terutama ledekan lo yang bawa nama Kak Kenzie, malu-maluin gue tau gak" bisik Laudia kepada Ruby.


"Yah biarin, salah sendiri gak bantu gue" Ruby memutar bola mata malas.


"Laud, bilangin tuh temen lo, bisa gak mulutnya dikasih es biar kagak panas mulu" ucap Sakha


"Maksudnya tadi apa Laud?" tanya Ruby lirih namun masih bisa untuk Sakha dengar.


"Lo gak ngerti, wah parah udah mulut kayak kereta api ditambah lemot lagi" ejek Sakha.


"Lo ngatain gue lemot" Ruby beranjak berdiri.


"Emang kenyataan" sahut Sakha.


"Lo, heh siala" Ruby mendengus kesal dan segera pergi meninggalkan kantin.


"Laud" panggil Zayyan kepada Laudia, Laudia hanya berdehem singkat.


"Lo gak jengukin Kenzie" perkataan Zayyan membuat jantung Laudia berdegup, dengan rasa cemas menyelimuti, namun ia menyembunyikan rasa itu dengan wajah tanpa ekspresi.


"Gitu doang respon lo, aneh" heran Afqar.


"Kenzie sakit banget gara-gara tawuran kemaren, itu sih salahnya dia gak ngajak kita, cuma ngajak anggota tingkat bawah Xavier" jelas Zayyan.


"Punten bang Zayyan yang anggota inti Xavier" goda Afqar.


"Apa peduli gue sama dia?" tanya Laudia dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Oke, terserah lo, gue cuma ngasih tau" gerutu Zayyan.


"Kak Kenzie sakit, apa gue jenguk dia aja?" batin Laudia, memang ekspresi bisa untuk dibohongi tapi hati dan perasaan tetap pada tempatnya.


...****************...


Hari menjelang sore, kini matahari akan melambaikan tangannya pada bumi hingga perjumpaan esok hari, jenjang kaki mungil gadis remaja dengan segudang pikiran dan tanda tanya diotaknya, siapa lagi jika bukan Laudia.


"Apa Kak Kenzie mau gue jenguk?" tanya Laudia dalam hati, ia ragu jika saat dirumah Kenzie harus menanggung malu hingga ke ubun-ubun. Pasalnya saat dulu Laudia pernah ke rumah Kenzie dan berakhir dipermalukan.


Sesampainya di depan rumah Kenzie yang dibalut gerbang baja berornamen emas dan perak, tiba-tiba tubuh Laudia gemetar sampai terasa kaku tidak bisa berjalan.


"Hei kamu ngapain disini" tanya Nansie yang datang dari luar rumah.

__ADS_1


"Eh enggak kak, cuma mau jenguk Kak Kenzie" jawab Laudia.


"Oh, apa kamu Tiffany?" tanya kembali Nansie.


"Bu-bukan, sa-ya Claudia" jawab Laudia takut.


"Kamu teman Kenzie yah, panggil gue Kak Nansie aja, sini gue bawa ke kamar Kenzie" Nansie menarik Laudia menuju kamar Kenzie.


"Waduh kok jadi begini" batin Laudia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini?.


CKLEK!


Saat Nansie membuka pintu kamar Kenzie, tidak ada aba-aba apapun, sebuah bantal melayang ke arah Laudia dan Nansie.


"Kenzie" panik Nansie segera menghampiri adik laki-lakinya diikuti oleh Laudia.


"Kak, gue gak nyangka sesuatu" lirih Kenzie.


"Apa?, lo bilang apa?, gue gak denger" tanya Nansie seraya duduk di samping Kenzie yang tengah duduk meringkuk di atas ranjangnya.


"Gue semakin gak nyangka Kak Kenzie bisa kayak gini" batin Laudia yang hanya berdiri menatap Kenzie di ambang pintu.


"Hei kamu sini" titah Nansie kepada Laudia. Kenzie beralih menatap Laudia.


"Ngapain lo kesini, lo mau jengukin gue, apa gak denger yang gue bilang kemarin" ketus Kenzie.


"Kenzie, gak boleh gitu sama temen lo" tegur Nansie.


"Gu- gue kesini gak jengukin lo kak, cu- cuma..." gantung Laudia dengan memberanukan diri menatap Kenzie dengan tajam.


"Cuma apa?" Kenzie menaikkan sebelah alis.


"CUMA mau lihat aja lagipun gue disuruh sama temen lo kak" tangkas Laudia dengan cepat sembari memejamkan kedua matanya.


"Lo bisa bohong di depan begini, tapi apa lo bisa bohongin hati lo Laud, kelihatan banget dari mata lo" batin Kenzie menatap sendu Laudia.


"Sini duduk" titah Nansie lagi, Laudia menggeleng pelan berarti tidak mau.


"Kak Kenzie gak ngarepin banget gue dateng" batin Laudia dengan kecewa yang sudah ia prediksi sejak tadi.


"Kakak tinggal dulu, nanti kesini lagi" Nansie beranjak daru duduknya dan melenggang pergi dari kamar Kenzie, hanya tinggal Laudia berdua dengan Kenzie.


"Apa lo gak benci ke gue?" pertanyaan Kenzie membuat Laudia diam termangu.


"Kenapa dia nanya, gue benci apa enggak ke dia?" Laudia bertanya-tanya dalam hati.


"Gue udah pernah bilang, kalau gue gak bisa benci apalagi ke elo kak" jawab Laudia dengan ketus.

__ADS_1


"Gue harap lo benci ke gue, gue juga berharap lo gak suka lagi ke gue, karena Laudia, lo terlalu baik buat gue, gue gak pantes buat lo" ucap Kenzie dalam hati seraya menyentuh pipi mulus nan chubby milik Laudia, melihat perlakuan Kenzie, Laudia hanya bisa terheran-heran.


__ADS_2