Garis Takdir Cinta

Garis Takdir Cinta
Seperti Ini Karena Merubah Tekad


__ADS_3

Laudia berangkat sekolah dengan tubuh sedikit lemas dan mata merah dan kelopak mata hitam. yah pastilah pasalnya ia tidak tidur semalaman, saat dikosan Lily pun ia tidak tidur.


"Laud, lo kenapa, lo gak sakit kan?" Tanya Ruby yang baru sampai di parkiran sekolah


"Kagak, gue gak sakit cuma gak tidur" Jawab Laudia seraya menguap dengan satu tangan menutup mulutnya.


"lo habis ngapain gak tidur, tumben banget padahal lo itu Queen Of Sleeping" Celoteh Ruby, spontan Laudia menoyor kepala Laudia


"diem lo gak usah banyak omong, gue ngantuk berat nih" Sahut Laudia dengan lagi-lagi ia menguap.


"wah bener-bener lo Laud, sekarang udah suka maraton film gak ngajak gue lu" Ruby menggelengkan kepala heran.


"Kalau gak tahu ceritanya gak usah nuduh sembarangan lo" Sentak Laudia, sedari tadi Septha hanya diam menyaksikan percakapan kosong mereka berdua.


"Eh, Robot mati, sini lo diem mulu disitu, lagi nungguin siapa?" Ledek Ruby kepada Septha yang dari tadi berjongkok di depan parkiran, respon Septha hanya melirik sekilas Ruby.


"Haih, Sep mending lo nangkep jangkrik deh, daripada diem gitu" Sahut Laudia. Mendengar ucapan Laudia Septha beranjak berdiri dari jongkoknya, berjalan menuju koridor sekolah.


"buruan masuk, dah telat" Dingin Septha, Laudia dan Ruby masih mencerna maksud Septha tadi.


"Lemot" Sahut Lily, yang barusaja datang seraya menepuk pundak kedua temannya yang masih buffering gak sampek-sampek.


HAH!


Mereka masih tidak paham, Lily hanya bisa menghela napas pasrah.


"Laudia sejak kapan lo ikut lemot kayak Ruby, coba deh liat jam tangan lo" Usai mengucapkan itu Lily melenggang pergi.


Laudia dan Ruby menatap jam tangan masing-masing, Sontak Laudia membelalakkan mata.


"Yang bener aja gue udah telat sepuluh menit, apalagi sekarang pelajarannya pak Jarwo" Batin Laudia panik dengan cepat ia berlari menuju kelas 11 MIA 3 Dalam benaknya berpikir, sejak kapan dirinya ceroboh seperti ini, apa karena setelah menolong Kenzie otaknya dan ketangkasannya menurun. Haih, ada-ada saja.


BRAK!!


Hosh, hosh, hosh. Napas Laudia naik turun tak karuan, keringat Laudia bercucuran dari pelipisnya, seluruh teman satu kelasnya diam termangu menatap Laudia yang masih berdiri di ambang pintu dengan napas yang tak karuan.


"Laudia, kenapa kamu telat?" Mendengar pertanyaan Pak Jarwo selaku guru fisika dan walikelas Laudia, spontan ia berdiri tegap menstabilkan tubuhnya seraya cengar-cengir.


"Malah cengar-cengir, bapak tanya kamu kenapa bisa telat, ini pertama kalinya pak Jarwo liat kamu telat" tegur pak Jarwo kepada Laudia.

__ADS_1


"Tidak apa-apa pak, hanya ada problem" Jawab Laudia dengan napas yang masih ngosh-ngoshan


"yasudah kamu duduk sana, ingat jangan diulangi lagi, jaga reputasi baikmu" Lanjut Pak Jarwo


"Ba-baik pak" Jawab Laudia seraya berjalan menuju bangkunya yang berada di samping jendela di barisan paling depan sendiri.


"Kok bisa sih gue jadi gak karuan begini, padahal gue udah berusaha lepasin Kak Kenzie. Kenapa coba gue malah begini?" Gerutu Laudia dalam hati tak habis pikir dengan dirinya saat melupakan Kenzie malah makin tak karuan padahal biasanya jika tidak bisa melupakan itu tak karuan tapi sekarang sebaliknya. Manusia limited edition, karena tidak seperti pada umumnya.


"Gimana rasanya telat!, makanya lupain kakel Kenzie itu" Sahut Lily yang duduk tepat di sebelah Laudia.


"Gue udah relain dia, gue juga udah gak mau berurusan lagi sama dia, tapi kenapa gue malah begini" Bisik Laudia kepada Lily.


"Berarti hati kecil lo masih tidak rela dengan Kenzie" Balas Lily berbisik kepada Laudia.


Seketika Laudia menatap luar jendela seraya menyangga dagu, apa benar hatinya masih belum merelakan Kenzie, namun Laudia tidak menyadari itu karena rasa tidak relanya terkalahkan oleh tekad besarnya merelakan Kenzie.


"Gue pakar cinta sahabat gue, tapi gue gak bisa mahamin cinta di hidup gue sendiri" Batin Laudia.


...****************...


KRINGG!!


"Hei Laud, ayo ke kantin. Lo gak laper apa?, kalau lo gak mau ke kantin gimana kalau kita ke lapangan basket siapa tau disana ada Kak Kenzie" sungguh ucapan Ruby semakin membuat Laudia terpikirkan akan perasaannya yang tidak jelas.


"ke tempat lainnya aja, pokoknya jangan ke kantin sama lapangan basket karena..." Laudia menggantung ucapannya, seketika ia menundukkan kepala, entah apa yang terjadi tiba-tiba perasaan patah hati muncul di dirinya.


"..karena Kak Kenzie pasti ada di salah satu tempat itu" Sambungnya dalam hati seraya menyentuh dadanya.


"Kenapa gue sakit hati, gue gak bisa kayak gini" Lanjuthya dalam hati seraya meremas kuat kerah baju seragamnya serta meringis hebat.


"eh, Laud lo kenapa?" Tanya Ruby dengan panik. Septha hanya bisa merangkul dan menenangkan Laudia, inilah sisi hangat Septha yang dingin itu sedangkan Lily, ia dapat mengetahui apa yang sedang temannya rasakan.


"bener apa kata gue, hati lo masih gak bisa relain Kak Kenzie" Batin Lily menebak.


Laudia masih meremas kerah seragamnya namun sudah tak lagi meringis. Tanpa Laudia sadari setetes air mata jatuh di pipi karena tak kuat lagi untuk membendung.


"Kenapa gue jadi begini?, gue udah berusaha relain Kak Kenzie dengan Tiffany tapi kenapa gue menjadi hancur begini?, kenapa hati gue gak bisa relain dia?, jelas-jelas dia selalu hirauin lo LAUDIA" Laudia bertanya-tanya dalam, ia juga memarahi dirinya sendiri di dalam hati.


Kemudian Laudia mengingat percakapan antara dirinya dan Kenzie sebelum peristiwa malam hari tersebut.

__ADS_1


...*Flashback*...


Laudia berdiri rooftop sekolah menatap punggung bidang Kenzie yang tengah membelakangi dirinya.


"Apa lo tau, kenapa gue ajak lo kesini?" Tanya Kenzie, Laudia hanya tersenyum karena selama ini ia tifak pernah bisa berbicara seperti ini dengan Kenzie walaupun atmosfernya sedikit meng sad.


"Lo jangan senyam-semyum mulu, gue tau apa yang lo pikirin" Ucapan Kenzie barusan membuat Laudia menunduk.


"Gue gak sudi sebenernya bicara sama lo, tapi karena ini hal penting gue akhirnya mau bicara dengan fans over kayak lo" Sambung Kenzie yang perkataannya sangat menusuk ke hati hingga tembus ke ubun-ubun. Bagaimana jika kamu dikatai seperti itu dengan orang yang kamu cintai.


"Kak Kenzie mau ngomong apa silahkan" Sahut Laudia lirih namun masih terdengar oleh Kenzie. Spontan Kenzie berbalik badan menatap Laudia.


"gue cuma mau bilang, mulai sekarang lo berhenti ganggu gue, lo tau gak keberadaan lo bikin suasana romance gue sama Tiffany ancur, lo ngerti gak sih Laud. Mulai detik ini, menit ini, jam ini, hari ini, tanggal ini, bulan ini dan tahun ini lo jangan pernah muncul dihadapan gue ataupun Tiffany, lo jangan pernah berharap terlalu tinggi, gue gak suka wanita over kayak lo" Ucap Kenzie tanpa memikirkan perasaan Laudian sedikitpun.


"Sebenci itu kah ke gue?" Tanya Laudia dalam hati, dengan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca.


"Claudia Agatha Zharael, sekali lagi gue peringatin lo, jangan pernah muncul di hadapan gue ataupun ganggu gue dengan Tiffany" Usai Kenzie mngatakan itu ia melenggang pergi mwninggalkan Laudia sendiri di rooftop.


"Lo kebangetan, tapi gue gak bisa dendam ke elo kak Kenzie" Tangisnya dalam hati disertai air mata yang telah berjatuhan di pipi mulus dan chubbynya


KENAPA GUE BISA JATUH CINTA KE ELO KENZIIIIIEE!?


Teriak Laudia untuk melampiaskan rasa marah dan sakit hati di hatinya.


...*Flashback*...


"gue sakit hati karena hari itu tapi gue gak bisa dendam ke dia" Gumam Laudia dengan posisi menunduk.


"Apa lo bilang tadi?" Tanya Ruby yang tak sengaja mendengar gumaman Laudia.


"Eh, enggak papa cuma nglamun aja" Laudia tersadar ia tidak bisa terus begini karena bisa merusak masa depannya juga.


"Ayo ke Sanggar seni aja, nyanyi disana" Laudia beranjak dari duduknya seraya menyeka air mata di pipinya.


"Oke" antusias Ruby, akhirnya Laudia, Ruby, Lily dan Septha keluar jelas menuju Sanggar seni.


"Gue harus kuat, Laudia lo gak boleh lemah hanya karena seorang pria" Batinnya menyemangati diri sendiri saat berjalan di koridor


...To Be Continue🙂...

__ADS_1


__ADS_2