Garis Takdir Cinta

Garis Takdir Cinta
Dia Bagai Baskara Di Tengah Gulita


__ADS_3

"Kak, kak, kak" Laudia melambaikan tangannya tepat di depan wajah Kenzie yang tengah menyentuh pipinya dengan tatapan kosong.


"Ck, kenapa coba" Laudia berdecak kesal


KAK KENZIE NAJANDRA


Teriak Laudia di telinga Kenzie, Spontan Kenzie gelagapan kaget dan tanpa sengaja menarik pergelangan tangan Laudia.


CUP!


Laudia dan Kenzie saling membelalakkan mata, Laudia tidak bisa menahan lagi, detak jantungnya tidak karuan serta muka memerah.


"Ini first kiss gue, kok gak estetik" sedih Laudia dalam hati.


"Dan lagi, first kiss gue sama pacar orang lain" lanjutnya dalam hati. Laudia segera menjauh dari Kenzie dengan memejamkan kedua matanya.


"Ma-maaf" ucap Kenzie lirih, Laudia memicingkan sebelah mata menatap Kenzie. Diam-diam Kenzie tersenyum kecil seraya menyentuh bibirnya, namun Laudia tidak menyadari hal itu.


Canggung, usai berciuman secara tidak sengaja, keduanya sangat canggung, tidak melontarkan satu kata pun, lagi-lagi Kenzie ingin tersenyum namun ia tahan dengan mengulum bibirnya kedalam.


KAK!


Laudia menoleh menatap Kenzie seraya memukul pinggir ranjang Kenzie, siapa sangka kedua wajah mereka menjadi saling berdekatan.


"Kok gini lagi, makin canggung nih" batin Laudia tak karuan. Kenzie menatap intens dan lebih intens gadis dihadapannya ini, dengan kedua mata Laudia yang indah Kenzie diam tidak bisa berkata apapun.


"Lo panas yah kak, bentar gue cariin kompresan ke bawah" Laudia menempelkan telapak tangannya, tidak panas tapi bagaimana lagi ini hanya sebuah alasan Laudia untuk menjauh dari Kenzie. Ia lari terbirit-birit dari kamar Kenzie.


"Claudia Agatha Zharael" Kenzie terkekeh kecil dengan terngiang adegan first kissnya.


"Lama-lama gue fila gara-gara tadi" Kenzie tertawa kepada dirinya sendiri.


Disisi lain Laudia tengah berdiri seraya bersandar di dinding menstabilkan detak jantungnya.

__ADS_1


"Jantung gue bisa copot nih nanti" gumam Laudia.


"Lo, ada apa?" tanya Nansie.


"Eh, anu.. Emm, itu kak, gu-gue mau ambil kom, eh, iya kompresan, dimana yah kak?" tanya Laudia diselimuti rasa gugup.


"Kenapa lo kayak gugup gitu?" tanya Nansie yang pasti otaknya berkeliaran kemana-mana.


"Eh, enggak, mana ada gugup, Kak Nansie gak usah bercanda deh, yaudah kak gue ambil kompresan dulu" Laudia berbalik badan.


"Gue belum jawab kompresannya dimana" sahut Nansie sontak Laudia berhenti dari langkahnya sembari menepuk jidatnya.


"Aduh, bisa-bisanya sih lo kacau begini Laud" omelnya pada diri sendiri. Kemudian berbalik badan lagi menghadap Nansie.


"Ck, ck, bocah, gue juga pernah sma, gue juga tau dari ekspresi lo lagi kenapa" ujar Nansie merangkul membawa Laudia ke kamar Kenzie lagi.


"Loh, kesana lagi, mampus gue, kacau-kacau lo mana bisa kayak gini Laud" celoteh Laudia dalam otak dan hati.


...****************...


"Kompresan itu ada disini, trus ngapain sampai ke bawah kayak tadi" ucapan Nansie membuat Laudia malu sampai ujung ubun-ubun.


"Gue gak liat tadi kak" lirih Laudia malu.


"Segede ini gak liat, haih" Nansie menghela napas pasrah.


"Mungkin terlalu terpesona sama ketampanan gue, karena itu sampai rabun" mendengar perkataan Kenzie, Laudia mengumpat dalam hati.


"Narsis banget nih orang, baru tau gue kalau Kak Kenzie sedikit ngeselin" Laudia mendengus kesal menatap sinis Kenzie.


Ting!


Kenzie mengedipkan sebelah mata seraya menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk. Laudia yang paham apa maksudnya pun melotot.

__ADS_1


"Gila, narsisnya gak ketulungan, emang yah sulit ditebak" gerutu Laudia.


"Kenzie, kakak keluar dulu, ada urusan mendadak" Nansie pergi dan lagi-lagi meninggalkan Laudia dengan Kenzie berdua.


"Laud, menurut lo gimana?, kalau lo tau ternyata nyokap dan bokap lo udah cerai" Laudia menyatukan kedua alisnya.


"Cerai, kalau gue sih, tapi ini murni pendapat gue takutnya Kak Kenzie gak suka" ucap Laudia.


"Gak papa" tangkas Kenzie.


"Okelah, kalau menurut gue pribadi, ketika anak tau orang tuanya bercerai, dia pasti terpuruk, pasti itu. Namun hasil dari setiap anak pasti berbeda-beda, ada yang memendam rasa sedih dengan senyum manisnya, ada juga yang berubah menjadi broken home, dan yang parah lagi anak ini berakhir tragis, karena menurut penelitian gue selama ini, orang tua adalah sumber kebahagiaan kita sejak dikandungan. Kalau gue sih bakal berusaha nyatuin mereka lagi walaupun harus pergi berkelana memutari tata surya" jelas Laudia, Kenzie merasa puas dengan penjelasan Laudia.


"Lo kenapa kok sulit banget ditebak kak?" pertanyaan Laudia sempat membuat Kenzie terdiam entah akan menjawab apa namun ia terus berprinsip membuat Laudia benci dan melupakan dirinya. Haih, apa Kenzie ini tidak mengerti cinta yang tulus?.


"Apa yang sulit ditebak, kalau ke lo yah pasti benci, kalau ke Tiffany beda lagi" jawab Kenzie dangan nada yang tinggi.


Laudia menunduk memeras kain untuk kompres dengan penuh amarah namun didalam lubuk hati terdalamnya tidak terukir sedikitpun kata 'benci'.


"Lo pasti bohong kak, lo selalu bilang benci ke gue, tapi gue bisa lihat dari mata lo kalau gak ada kebencian yang alamiah dari hati lo" sahut Laudia dengan suara lirihnya.


Kenzie dalam hati setuju akan ucapan Laudia, jika dimatanya tidak terdapat rasa benci yang alami yang ada hanya sebuah akting. kenzie sedikit tertegun dan malu, banyak sekali hal buruk yang ia lakukan kepada Laudia dulu, tapi itu tidak mengubah kesannya dihati Laudia, dalam hati bertanya Apa ini yang dinamakan 'Tulus Paling Dalam'.


"Maaf kak gue lancang nebak isi hati" ungkap Laudia.


Tidak habis pikir dengan Laudia Si Paling Tulus Yang Dalam, Kenzie dalam hati terus berpikir membuat Laudia benci kepada dirinya.


"Kenapa lo gak dendam ke Tiffany yang pernah hianatin lo?" tanya Kenzie, Laudia sontak berhenti dari aktivitasnya mengkompres Kenzie.


"Gue sekarang balik tanya ke elo kak, kenapa lo dengan ketua geng Beatleas punya dendam?" tanya balik Laudia yang dijawab cepat oleh Kenzie.


"Karena dia punya masalah sama gue, dan tawuran kemarin adalah balas dendam dia, gue terus nyoba selesaiin masalah" jawab cepat Kenzie.


"Sama dengan pendapat gue, alasan gue gak dendam ke Tiffany karena gue punya masalah sama dia, dan gue juga mau nyelesaiin masalah itu dengan cara gue tanpa kekerasan" jelas Laudia. Kenzie terkagum-kagum akan pemikiran Laudia yang sejernih itu, hatinya bijaksana. Sayangnya Laudia memiliki sisi dimana ia memiliki gangguan psikologis karena tragedi yang dibuat Tiffany, gangguan itu yang membuatnya tidak bisa merasakan benci, hanya bisa merasakan suka, dan sedih, bahkan cinta ia sulit untuk memahami.

__ADS_1


"Gue salut sama pemikiran lo, tapi apa lo tau?, kalau gue ada sedikit rasa yang gak bisa dijelasin ke elo" ucap Kenzie dalam hati.


__ADS_2