
Usai menolong Kenzie dan mengantarnya ke rumah sakit, Laudia harus pulang namun di jam segini apakah ada kendaraan umum, jangankan kendaraan umum kenadaraan pribadi saja hanya beberapa.
Saat membuka handphone Laudia dikejutkan dengan notifikasi chat masuk yang sangat banyak hingga dua ribu yang datang dari Mama Laudia, Papa Laudia dan Adik Laki-laki Laudia.
"apa gue tebak sekali internet diaktifin, muncul bom spam chat" gumamnya kesal.
"tapi masih beruntung gue ada ynag khawatirin daripada Kak Kenzie yang gak pernah dipeduliin" Batin Laudia seraya mengepal bajunya kuat, menunduk mencerna apa yang dialami Kenzie. Kemudian ia mendongak menatap bulan yang sangat terang dan kenyamanan sunyinya jalan.
"gue gak nyangka ternyata seorang geng motor yang bejat kelakuannya memiliki sisi kehidupan kayak gini" ucap Laudia yang mulai untuk berpikir dewasa.
SYUUUH!
Angin berdesir yang dinginnya cukup menusuk di tulang.
"Yakali gue jalan kaki, nasib banget hidup gue" Laudia diam termangu menatap jalan raya. Bayangkan saja berjalan sendirian di gelapnya malam saat dini hari pula, apalagi Laudia seorang gadis remaja.
"apa gue kekosan Lily aja yah kayaknya kosan dia deket sini, siapa tau dia mau bantu gue" Laudia berencana menginap di kosan salah satu temannya yang bernama Lily.
Laudia sendiri memiliki tiga teman dekat sama halnya Kenzie. Yang bernama Lily, Ruby dan, Septha, ketiganya memiliki karakter masing-masing.
Lily adalah gadis yang berpikiran luas dan dewasa, Jika Ruby dia adalah sosok gadis yang imut, dan terkadang masih kekanak-kanakan bahkan terkadang saja ia tidak nyambung dengan apa yang dibicarakan jika topiknya terlalu rumit.
Sedangkan Septha ia adalah sosok gadis yang dingin, blak-blakan, dan tidak suka mengoceh namun ia masih bersikap selayaknya sahabat,
dan Laudia sendiri adalah gadis yang teguh pendirian dan selalu memegang apa yang ia ucapkan sendiri, serta ramah.
Setelah berjalan selama sepuluh menit akhirnya Laudia sampai di kosan Lily.
Ting tong
"Siapa?" Suara jawaban dari dalam kosan dengan nada baru saja terbangun dari tidur.
"Lily!, ini gue Laudia, tolongin gue Li" Keluh Laudia. kemudian tak lama Lily membuka pintu.
"ngapain?" tanya Lily seraya mengucek kedua matanya.
"Gue gak mau pulang li, gue takut dimarahin mereka, tolongin gue" Ucap Laudia namun Lily masih belum sadar sepenuhnya.
"Sekarang jam berapa?" tanya Lily
"emmm....., Jamm... Setengah tiga malam" jawab Laudia ragu.
APA!!!
Sontak Lily mebulatkan kedua matanya. Seketika rasa kantuknya lenyap dimakan angin.
"Yang bener aja lo ngapain jam segini diluar rumah woy" Ocehnya, Laudia hanya diam dan yang paling ia tidak sukai adalah kecerewetan Lily namun tanpa omelan Lily mereka pasti akan salah jalan pemikiran.
__ADS_1
"Panjang ceritanya li.., nanti gue ceritain di dalem, dingin tau diluar" Sahut Laudia dengan tatapan memohon, seolah tengah berhadapan dengan emak-emak rempong.
"Iya deh ,iya.. Tapi lo harus jujur cerita ke gue" Tukas Lily.
Dengan cepat diangguki oleh Laudia.
"Gini....., ..." Laudia menceritakan kronologinya mulai awal hingga akhir bahkan sampai ke urat-uratnya.
"Oh, gitu jadi lo nolongin Kak Kenzie sampek jam Dua malem nungguin dirumah sakit..." Lily masih mengangguk-angguk tak lama kemudian..
APA LO BILANG!!!
Teriakan maut Lily yang menusuk di gendang telinga.
"ssstt, jaga volume bicara lo kasuan tetangga lo tersiksa karena jeritan maut lo" Sergah Laudia yang tentunya semakin membuat Lily geram.
"Haih, lo masih belum bisa move on dari dia" Sahut Lily yang tak habis pikir dengan sahabat satumya ini, terlalu setia menyukai pria sampai tak peduli jika pernah diabaikan.
"Tapi setelah hari ini gue berniat gak bakal berharap ke di lagi" Ucap Laudia seolah menerima kenyataan jika Kenzie tidak bisa menyukainya ataupun meliriknya setelah apapun yang ia lakukan.
"Laud!" panggil Lily sontak Laudia menatap Lily.
"Lo salah berharap pada manusia, berharap apapun itu hanya kepada tuhan, entah itu cinta, harta, tahta atau apapun itu, semua berharap itu hanya kepada tuhan dan berdo'a meminta yang terbaik dari tuhan" Ujar Lily yang membuat Laudia tertegun.
"Makasih li, lo selalu ngasih gue nasehat" Sahut Laudia seraya memeluk sahabat penasehat terbaiknya.
Hari pun berganti, Matahari telah menampakkan kemunculannya di ujung timur sana, Laudia harus kembali ke rumah sebelum sekolah.
"Lily, makasih ya, udah mau nampung gue, kapan-napan kalau gue mendesak lagi gue numpang lagi yah" Ucap Laudia tanpa menunjukkan urat malunya sama sekali.
"Lo pikir kosan gue penampungan" Sahut Lily seraya menatap sinis Laudia
"Gak boleh, jahat-jahat li, Lily kan baik" Tangkas Laydia dengan menunjukkan senyum manisnya.
"Watados banget lo" Gumam Lily yang terdengar oleg Laudia.
"Watados, affaan tuch?" Tanya Laudia seraya menirukan nada di tik tok.
"WATADOS, kepanjangannya ,WAjah TAnpa DOSa" Jawab Lily menekan di setiap huruf singkatan.
"Bahasa baru kah" Sahut Laudia yang tentunya membuat Lily geram.
"Udah deh, lo pulang sana, awas lo telat disekolah, gue bantai lo" Sergah Lily.
"Yah punten mbak waketos" Ucapan Laudia membuat Lily semakin geram dengan teman satunya ini.
....... . .......
__ADS_1
Setelah Laudia melakukan perjalanan setengah jam menuju rumahnya, akhirnya sampai juga di kediaman tersayangnya. Saat dirinya hendak membuka pintu utama tiba-tiba bulu kuduknya berdiri, sekujur tubuhnya merinding.
"Kemana aja?" Bariton suara pria yang sangat Laudia kenal. Perlahan dirinya menoleh menatap ke sumber suara.
"hehe..., elo" Laudia hanya cengengesan seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sebenernya yang adek siapa sih, gue apa Kak Laudia. Kenapa selalu gue yang ngasih pelajaran ke kak Laudia" Gerutu Geraldi Anendra Zharael yang kerap dipanggil Gerald yang tak lain adalah adik kandung Laudia.
Kemudian Laudia mengabaikan Gerald yang terus menatapnya tajam, Dengan segera ia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
HUFTH!
"Untung bukan mama yang gue temuin pertama" gumam Laudia namun tanpa ia sadari Mama Laudia sedari tadi duduk di depan meja rias menatap putri sulungnya dari kaca rias.
"Sudah pulang, bagaimana seru tidak?" Spontan Laudia menoleh ke arah meja rias, ia terkejut mengetahui mamanya duduk di depan meja rias seraya memainkan rubik.
"Eh, mama. Maaf ma, kemarin Laudia nolongin orang kecelakaan terus Laudia bawa ke rumah sakit tapi keluarganya susah dihubungin, baru bisa dihubungin jam dua malem makanya Laudia enggak pulang semalaman" Jelas Laudia, Mama Laudia hanya mengangguki penjelasan putri sulungnya yang susah untuk disuruh diam di rumah.
"Lalu, kamu tidur dimana?" Tanya Mama Laudia
"Di kosan Lily" Jawab Laudia dengan menunduk karena ia tahu betapa marahnya mamanya jika ia tidak pulang.
"Bener!" Mama Laudia tidak percaya ia beralih menatap putri sulungnya secara langsung.
"Iya bener, kalau mama gak percaya Laudia telfon nih Lily" Sahut Laudia seraya merogoh handphonenya di saku.
"Udah gak usah, mama percaya tapi..." Mama Laudia menggantung ucapannya, firasat Laudia tidak baik.
"... Harusnya kamu izin dulu ke mama bilang kalau nginap dikosan Lily begini nih kasian mama papa dan adek kamu sampai mencari-cari ke sekolahmu malam-malam dichat enggak dibaca satupun tapi sebenarnya kamu online apa itu bagus? Hah, setidaknya kamu ngabari mama atau papa lihat papamu sampai gak tidur gara-gara mikirin kamu kita semua itu sayang ke kamu Laudia kita semua mikirin keselamatanmu, mama hanya takut ada orang yang gak jelas diluar sana bukan berarti mama melarangmu nak" Sambung Mama Laudia panjang kalu lebar kali tinggi ditambah panjang kereta api seratus gerbong.
"iya ma maaf" Lirih Laudia
"Yasudah sekarang kamu persiapan berangkat sekolah" titah Mama Laudia atau yang memiliki nama Risma Noven, kerap disapa bu Risma.
Kemudian Laudia mendongak menatap mamanya yang berada di ambang pintu kamarnya.
"Ma, berarti Laudia gak papa main semalaman" Ucap Laudia dengan tampang wajah tak bersalah.
LAUDIA!!!
Teriakan maut Mama Laudia keluar, dengan cepat ia lari terbirit-birit menuju kamar mandi di dalam kamarnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...To Be Continue🙂...