
Laudia beserta kawan-kawannya tengah berjalan menuju Sanggar seni, semua asik dengan hobi masing-masing, Ruby menonton film di hp sambil berjalan, Lily membaca novel sambil berjalan, Septha memakai earphone, menedengarkan musik sambil berjalan hanya Laudia yang berjalan tanpa ditemani hobinya, sedangkan Laudia memiliki hobi menggambar, menulis dan menghitung-hitung tidak jelas, biasalah anak ipa apa aja dihitung. Tapi kini ia hanya menunduk termenung seraya berjalan.
Namun tak lama tiba-tiba Laudia kepalanya membentur sesuatu, sontak ia tersadar dari termenungnya. Sepasang matanya yang melihat kebawah tampak sepatu sneakers putih serta celana, ia pun perlahan mendongak, tak disangka yang ia tabrak tadi adalah Kenzie.
"dia!!, kenapa harus dia?" Beonya dalam hati, teman-teman Ruby hanya bisa termangu. Lily menepuk jidatnya, ia menebak dalam hati jika nantinya Laudia gak karuan lagi, barusaja stabil tuh perasaan.
"eh, maaf" Seketika Laudia menunduk lagi, Sial kenapa harus ketemu lagi sih, celoteh Laudia dalam hati.
"Thanks" Singkat Kenzie berbisik di telinga Laudia. Sontak ia membelalakkan mata.
"Kenapa disaat gue udah berusaha ngelupain dia, dia baru anggep gue ada" Batin Laudia dengan pikiran yang terus teringat akan pembicaraannya dengan Kenzie di rooftop sekolah.
"Ma-maaf Kak Ken, Laudia gak bakal ganggu Kak Ken lagi, permisi" Ucap Laudia dengan posisi kepala masih menunduk, usai ia mengucapkan hal itu segera melangkah berjalan melewati Kenzie, teman Laudia hanya melongo bingung kecuali Lily yang tahu, karena Laudia hanya memilih curhat ke Lily saja, sebab jika curhat ke Ruby pasti tersebar karena Ruby sendiri besar mulut serta pemahaman yang sedikit melenceng. Sedangkan Septha ia pasti hanya mengangguk-angguk saja dan berucap, abaikan saja!
"Kenapa temen lo?" tanya Zayyan kepada Lily. Lily hanya menggidikkan bahu. Kemudian Lily berjalan melewati Zayyan.
"Kalau mau tau tanya ke ketua lo, kenapa Laudia?" Bisik Lily kepada Zayyan, Zayyan semakin bingung.
"Lah kok gue" Tukas Zayyan menaikkan sebelah alis menatap Lily, Lagi -lagi Lily hanya berespon menggidikkan bahu.
...****************...
Disisi lain di sanggar seni Laudia mencoba menenangkan diri dengan memainkan piano, benar memang tekadnya ingin menjauh dari Kenzie, tapi hati kecil Laudia tidak demikian. Ia terus memainkan piano dengan ritme melodis seraya memejamkan kedua matanya. namun entah mengapa semakin berusaha menghilangkan dari ingatan malah semakin teringat dan menyiksa.
AAAAAAAH!!!
Laudia menjerit keras seraya menekan sembarangan piano di hadapannya yang sedang ia mainkan.
"Kenapa gue tiba-tiba depresi kayak gini?" Tanya Laudia dalam hati, ia beranjaka berdiri dengan tubuh yang sempoyongan.
"Enggak, enggak, gue gak boleh kayak gini, ahs, sialan banget. Gue jadi begini gara-gara satu cowok, gak pentes banget" Laudia mencoba menyadarkan perasaannya sendiri yang tak karuan. Laudia berjalan tertatih-tatih menuju luar gedung sanggar seni.
LAUDIA!!
Ruby menjerit histeris melihat kondisi Laudia yang keluar dari sanggar seni dengan jalan sempoyongan, rambut berantakan, dan mata sembab, tak lama tubuhnya ambruk tak berdaya.
"Lily, kenapa Laudia bisa begini?" Tanya Ruby kepada Lily seraya memangku kepala Laudia di pahanya. Lily hanya terdiam mengingat semua yang Laudia ceritakan ke dirinya tapi Lily juga tak menyangka jika Laudia akan menjadi seperti ini.
"Kita bawa aja dulu Laudia ke uks, nanti gue bakal cerita ke kalian" Tangkas Lily.
"Siapa yang gendong?" Tanya Septha. Lily dan Ruby saling bertatapan, kemudian Ruby melihat Kenzie dan teman - temannya.
"Itu ada Kak Kenzie, coba deh minta tolong ke dia buat bawa Laudia ke uks" Usul Ruby yang tentunya membuat Lily menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Minta tolong ke dia aja" Sergah Lily seraya berdiri menghampiri ketua osis SMA Bhintarajasa.
"Kenapa emang kalo Kak Kenzie" Sahut Ruby.
PLETAK!
"ahs, sakit tau" Keluh Ruby akibat dahunya dijitak oleh Septha.
"mikir dikit" singkat Septha dengan muka datarnya.
Dari kejauhan Kenzie menatap Laudia di bopong oleh Narel selaku ketua osis dengan diam.
"Lo kenapa liat dia terus, naksir lo sekarang ke dia" Goda Sakha.
"paan sih lo" Sinis Kenzie.
...****************...
Kenzie berbaring di ranjangnya menatap langit-langit kamar dengan interior emas dan marmer.
"Kenapa gue sedih saat Laudia jauhin gue, harusnya gue seneng karena gak bakal ada lagi yang ganggu gue?" Tanya Kenzie dalam hati, ia tak mengerti jalannya perasaan hatinya sama halnya dengan Laudia yang terus bertanya-tanya pada hati dan perasaannya.
TING!
Notifikasi terdengar di hp Kenzie, namun ia mengabaikan itu tidak ada minat di dirinya untuk memegang hp.
TING!
"Ck, sialan, siapa sih nih orang" Kenzie berdecak kesal kemuadia menyambar hp yang berada di laci samping ranjangnya.
"Oh Tiffany, ganggu aja" Kenzie mendengus kesal.
"Bisa gak sih lo hari ini gak usah ganggu gue, awas sampek lo hubungin gue lagi" Ucap Kenzie dalam pesan suara, jika dirinya sudah kesal tak peduli entah itu kekasihnya, mamanya, ataupun papanya.
CKLEK!
"Kak Nansie" Beo Kenzie melihat kedatangan Nansie ke kamarnya.
"ayo turun makan, awas sakit kelaperan" tegur Nansie, Kenzie hanya berdehem singkat.
"gue sakit gak bakal ada yang peduli" Sahut Kenzie, Nansie menatap sendu adik lelaki satu-satunya yang ia sayangi.
"gue tau lo jadi begini karena gak pernah dapat kasih sayang mama dan papa, tapi Kenzie beda dengan gue, gue mampu menahan ini tapi tidak untuk Kenzie" Batin Nansie.
__ADS_1
"Ada apa kak, natap gue begitu?" Tanya Kenzie, Nansie tersadar
"Gak papa, yaudah gue turun yah, inget lo harus makan" Setelah Nansie mengatakan itu ia menutup kembali pintu kamar Kenzie.
HENING!!
Seorang diri di kamar, tanpa ada orang yang menghibur, Kenzie hanya bisa melampiaskan curhat ke temannya dan lukisan. Mungkin dilihat dari tampilan luarnya Kenzie yang tampak sangar ,orang pasti tidak menyangka jika Kenzie lumayan menyukai seni apalagi melukis.
Tak heran jika orang tak menyadari hal ini, karena perilakunya yang tak karuan serta sering tawuran di jalanan.
Kenzie memegang sebuah kain putih yang menutupi sebuah benda di sudut kamarnya yang jarang diketahui oleh orang lain. Perlahan Kenzie membuka kain itu, ternyata kain putih tersebut menutupi sebuah kanvas lukis, dan peralatan lukis lainnya.
"gue harap bisa ke pantai bersama keluarga" gumam Kenzie seraya menyentuh lukisannya yang bergambar keluarga bahagia di pinggir pantai, sejujurnya lukisan itu, Kenzie lukis saat masih kelas enam sekolah dasar,
Kenzie menarik kembali tangan yang menyentuh lukisan
"mustahil, selamanya mimpi tetap mimpi" batin Kenzie, hati kecilnya sudah rapuh akibat kurang sentuhan kasih sayang orang tua.
Kenzie memutuskan untuk turun makan karena ia telah lapar.
...****************...
Kenzie duduk di kursi untuk makan, namun apalah arti Kenzie datang makan bersama jika kedua orang tuanya hanya diam tak meliriknyabsedikitpun apalagi menatapnya, Nansie menatap adiknya penuh arti.
Kenzie yang mengetahui itu hanya tersenyum ke arah Nansie.
"kakak terusin aja makannya" Ucap Kenzie dengan lembut ke kakaknya, karena selama ini hanya Nansie yang sangat care di keluarganya.
"Kamu kemarin malam dari mana saja?" Pertanyaan papa Kenzie membuat Kenzie berhenti untuk makan, ditambah lagi papa Kenzie bertanya tanpa menatap Kenzie serta memasang muka datar.
"Papa gak perlu tau" Sahut Kenzie, dan lanjut menyantap makanan yang berada di depan matanya.
"enggak, papa hanya mau bilang apa bagus tawuran kayak gitu?" Tanya lagi papa Kenzie, menatap putra bungsunya.
"apa peduli papa, Kenzie masuk rumah sakit apa papa tau, bahkan papa di hubungi berkali-kali gak bisa, sama aja kayak mama, cuma kak Nansie yang mau dateng ke rumah sakit. Papa gak usah ngarang kalau gak tau cerita aslinya" Jawab Kenzie dengan kesal seraya membanting sendok, garpu ke lantai.
"tapi seenggaknya tau adab" sahut papa Kenzie yang semakin membuat Kenzie marah.
"Ck, gak nafsu makan, kasih makan kucing aja sana" Kenzie berdecak kesal dan pergi kembali ke kamar. Nansie yang mengetahui itu ikut kesal.
"papa gimana sih!" Nansie mendengus kesal, dan menyusul adiknya ke kamar.
mama dan papa Kenzie hanya saling bertatapan, dan memalingkan muka masing-masing. sepertinya diantara mereka ada yang disembunyikan
__ADS_1
Disisi Nansie, mengintip Kenzie karena pintu kamarnya terbuka sedikit, Nansie sedih menatap sang adik diam meringkuk diatas ranjang tanpa dampingan penyemangat.
"Kasian Kenzie" Gumam Nansie..