Grand King And His Interpreter

Grand King And His Interpreter
Bab 9 - Mantan


__ADS_3

Obrolan serius memenuhi ruang meeting sampai saat terakhir Steve selesai dengan kata-kata penutup, sekaligus menandai berakhirnya kunjungan kami. Aku bahkan belum sempat menanyainya tentang mengapa dia mengaku sebagai pacarku. Bagaimana jika rumor tentang kami semakin liar?


Beruntungnya, tidak ada satupun yang berada di ruang meeting, berani mendebat Steve atau bertanya lebih jauh tentang hubungannya denganku. Steve memang selalu mengintimidasi ketika sedang berada di ruang meeting. Dia seperti alpha male. Steve seolah mempertegas kepada semua orang yang berada di ruang meeting, bahwa dialah si pemegang kendali.


Meeting selesai kurang dari dua jam dengan pihak One Harness yang mempresentasikan produk mereka. Aku melirik Steve melalui ekor mataku. Dia sangat tenang sekali, bahkan ketika memasukkan laptopnya kembali ke dalam tas.


“Nanti hasil meeting ini akan saya diskusikan lagi dengan team saya, dan nanti kabar selanjutnya akan diambil alih oleh team purchasing dan quality deri perusahaan kami.” Ujar Steve seraya bangkit dari duduknya.


Steve menyalami semua orang yang berada di ruang meeting secara bergantian. Aku mengekor dibelakang Steve dengan melakukan hal yang sama, sampai pada giliran Gilang, aku berpura-pura tersenyum. Aku benar-benar tidak ingin memulai hubungan apapun lagi dengannya.


“Cher, bisa ngomong sebentar?” Gilang tidak melepaskan tanganku.


“Sori, saya buru-buru.” Kataku berusaha bersikap normal dan formal.


“Kamu nggak perlu-lah sampe kaku gitu sama aku.” Ucap Gilang pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar. “Maafin aku.” Lanjutnya lirih.


“Pak Gilang ada urusan apa ya sama pacar saya?” Tanya Steve yang entah muncul dari mana dan sejak kapan sudah berada di belakangku.


“Eh, enggak ada apa-apa kok pak, cuma nanya kabar aja.” Jawab Gilang kikuk.


Aku mundur di samping Steve.


“Lha, memangnya setelah putus,langsung lost contact?” Tanya Steve.


Aduh! Steve ini kenapa? Mengapa dia dengan santainya menanyakan hal yang sangat di luar topik seperti ini.


Gilang tidak cepat menjawab. Dia terlihat bingung. Tentu saja! Dia adalah yang pertama kali mem-blokir nomor dan semua aksesku untuk bisa menghubunginya.


“Iya, pak.” Gilang terlihat bingung sekali ketika harus menjawab pertanyaan Steve.


Steve tidak bergeming. Kali ini dia menatap serius ke arah Gilang.


“Kedekatanmu dengan Cheryl tidak akan mempengaruhi keputusanku, atau management soal produk yang akan kamu suplai ke kami.” Jelas Steve serius.


Gilang terlihat cukup kesal, terlihat jelas sekali dari gerak-geriknya. Tangannya mengepal. Steve-pun sepertinya bisa menangkap jelas kekesalan dari raut wajah Gilang yang memerah.


“Saya dan Cheryl pamit ya, pak.” Ucap Steve sembari menepuk pundak Gilang kemudian lewat begitu saja meninggalkan Gilang yang diam saja.


“Mari, pak.” Kataku, kemudian buru-buru mengekor di belakang Steve.


Steve merekrutku untuk menjadi sekretarisnya bertujuan agar aku bisa membantu pekerjaannya, namun hingga saat ini, rasanya Steve-lah yang lebih besar kontribusinya kepadaku. Sudah beberapa kali. Setidaknya aku juga ingin berguna untuknya.


***


Meeting tidak berjalan sesuai dengan keinginan Steve. Para sepupunya mulai berani mencibir perilaku Steve yang terlalu sering ikut campur. Padahal sebenarnya yang dilakukan Steve hanyalah ingin membantu perusahaan. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa diam saja tanpa membantu sedikitpun. Aku tidak mengerti apapun tentang bisnis.

__ADS_1


Langit sudah berubah gelap ketika aku dan steve sampai di parkiran mobil. Steve yang ramah berubah menjadi dingin ketika orang-orang menyapanya sejak tadi. Akupun tidak bisa berbicara lagi. Hari ini benar-benar melelahkan bagi Steve. Ditambah lagi dia belum melihat Natsume.


“Besok lusa kita ke Singapore.” Ujar Steve sambil masuk ke dalam mobil.


Aku mengikuti Steve, masuk ke dalam mobil. “Natsume?” Tanyaku berusaha menebak.


Steve mengangguk. Wajahnya masih serius.


“Arrgh! Aku lelah.” Ujar Steve, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Aku bisa merasakan tingkat stress Steve bertambah. Dia juga sangat kelelahan. Serangan yang tidak pernah diharapkan oleh Steve. Keluarganya sendiri menyudutkannya.


Bagi sebagian orang mungkin menganggap bahwa aku berlebihan soal Steve, namun menurutku Steve cukup pekerja keras. Dia bertanggung jawab atas apa yang diberikan oleh orangtuaya. Lagi-lagi, aku merasa kehadiranku benar-benar tidak berguna.


“Cher, kamu mau temenin aku nggak?” Tanya Steve tanpa melihat ke arahku.


“Aku sedang tidak ingin pulang saat ini. Aku tidak ingin mendengar celotehan mereka untuk sementara ini.” Jawab Steve.


“Mereka kan sepupumu, kamu tinggal satu rumah dengan mereka?” tanyaku lagi.


Steve menggeleng. Dia memejamkan matanya. “Hari ini kami harus makan di rumah kakek dan nenek. Jadi aku pasti akan bertemu mereka.” Jelas Steve.


“Uhm, memangnya kamu nggak apa-apa ninggalin acara penting kakek dan nenekmu?”


Steve lagi-lagi menggeleng. “Jika rumah mereka sudah kondusif, aku akan menginap di sana.”


“Kita akan kemana sampai semua sepupumu pulang?” Tanyaku.


“Sampai besok pagi.” Jawab Steve. “Kita ke hotel.” imbuhnya.


“Hah?!”


“Kamu bisa nolak kok, kalo kamu memang nggak mau.” Ucap Steve santai.


Meninggalkannya sendirian dalam perasaan nya yang sedang tidak karuan, sepertinya bukan pilihan yang tepat, namun menginap di hotel dengan laki-laki, terlebih lagi dia adalah Direkturku. Jika seseorang melihatnya, akan rumor tentang kami akan semakin liar.


“Nginep rumah aku saja,ya?”


“Rumah kamu?” Tanya Steve seolah dia tidak percaya dengan apa yang baru saja aku ucapkan.


Aku mengangguk. “Memang kondisi rumahnya sangat jauh dari hotel, apalagi rumah kamu.” kataku jujur.


“Oke.” Ucapnya setuju. Dia mulai memegang kemudi, menyalakan mesin mobil, lalu melaju pelan keluar dari area perusahaan.


Sesekali aku mencuri-curi pandang ke arah Steve.

__ADS_1


“Mending kamu ambil kiri dulu deh, berhenti.” Kataku.


Steve yang kaget, langsung menepikan mobilnya. “Ada apa?” Tanyanya panik.


“Biar aku yang bawa mobilnya.” Kataku sembari membuka sabuk pengamanku, lalu turun dari mobil.


Aku berjalan mengitari bagian mobil depan, sampai ke pintu samping kemudi. Steve menurunkan kaca jendelanya kemudian melihatku tanpa mengatakan sepatah katapun. Selama hampir satu menit, kami hanya saling tatap. Kuputuskan untuk menarik paksa Steve agar turun dari mobil. Aku menarik gagang pintunya.


“Minggir.” kataku tegas.


Ya Tuhan! Semoga Steve tidak berubah pikiran dan malah memutuskan untuk memecatku saat ini juga.


Tidak ada perlawanan, Steve keluar dari mobil.


“Kamu udah cocok jadi tukang begal.” Ujar steve kemudian tertawa keras.


Aku tidak menggubrisnya dan langsung masuk ke dalam mobil.


“Yakin aman?” Tanya Steve ragu.


“Aman.” Kataku kemudian bersiap untuk menyalakan mobilnya lagi.


Aku diam memandangi bagian bawah setir.


“Ada yang salah?” Tanya Steve.


Aku menoleh ke arah Steve. Dia menatapku dangan wajah bingung.


“Cara nyalain mobilnya gimana?” Tanyaku.


Aku belum pernah mengendarai mobil sedan mewah seperti milik Steve. Aku memutar kuncinya, tapi mesinya tidak menyala meskipun sudah kutekan tombol START.


Steve mencondongkan badannya, agar tangannya sampai ke area kunci. Kemudia dia memutarnya sedikit.


“sekarang coba tekan.” Ujar Steve.


Aku mengikuti arahan Steve. Mobil menyala seketika.


Aku nyengir. “Hehe... Thank you Steve.” kataku, lalu mulai melajukan mobil perlahan.


Steve tersenyum kemudian dia mencondongkan tubuhnya lagi untuk memasangkan sabuk pengamanku.


“Safety First.” Ujarnya, kemudian memasang sabuk pengamannya.


Tuhan, sadarkan aku saat ini juga. Hatiku berdebar!!

__ADS_1


***


>Jangan lupa vote ceritaku ya.. tinggalkan komentar dan kritik kalian juga. Thank You.


__ADS_2