Grand King And His Interpreter

Grand King And His Interpreter
Bab 3 - Steve The Grand King


__ADS_3

Masih dengan perasaan bingung, namun lebih dari itu, aku merasa takut. Aku memang mempercayai tentang keberadaan maahluk selain manusia di muka bumi ini, termasuk mahluk astral. Namun untuk berpikir dengan jelasnya aku dapat melihatnya, membuatku takut. Tidakkah seharusnya mereka tetap di dunia mereka yang seharusnya. Maksudku, tidak bersentuhan dengan dunia manusia.


Menonton banyak film horror, membaca thread-thread seram, membaca tweet pengalaman mistis, sama sekali tidak mempengaruhiku untuk mengenal lebih jauh tentang keberadaan mahluk astral. Tidak sama sekali.


Terjebak dalam hirarki organisasi, mengharuskanku untuk tunduk bekerja sesuai dengan apa yang diperitahkan oleh atasan. Memang, sangat mungkin untuk menolak atau setidaknya bernegosiasi untuk mencari jalan tengah. Seriously, sejak kapan pekerjaanku jadi serumit ini?


Masih jelas dalam ingatanku\, Steve menunjukkan surat *resign-*ku yang ada di mejanya. Ia bahkan bisa dengan sangat gampangnya mendepakku keluar dari perusahaan ini jika aku menolak.


“Kamu harus bantu saya menyelesaikan beberapa hal sebelum kamu resign. Saya butuh kamu untuk menerjemahkan segala yang kamu tahu tentang Natsume. Aku bisa melihat Natsume, namun aku tidak bisa mendengar suaranya ataupun membaca tulisannya.” Jelas Steve putus asa.


Steve bersungguh-sungguh saat mengucapkan itu. Wajahnya tidak lagi terlihat angkuh. Matanya seolah mengatakan, tolong bantu aku.


“Saya bersedia, Pak.” Ujarku.


“Terimakasih.” Ujar Steve lirih.


Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan kepada Steve tentang Natsume. Namun aku terlalu takut untuk mengetahui kenyataan yang tidak perlu kutahu.


“Cher, kamu sekarang kembali ke ruanganmu, bereskan mejamu, lalu ikut denganku.” Ujar Steve terlihat menutup layar laptop di depannya, kemudian memasukkannya ke dalam tas.


“Baik, Pak.” Kataku lalu bergegas ke luar dari ruangan, menuju ruanganku.


Laptopku masih menyala ketika kutinggal ke ruangan Steve, membuatku ingat bahwa aku harus pergi mengambil Laundry hari ini, atau aku tidak akan memiliki pakaian yang layak untuk esok hari. Kira-kira, akan sampai jam berapa aku lembur?


***


Steve sudah menungguku di dalam mobil sedan mahalnya tepat di depan lobi kantor. Wow! Mobil seharga rumah dua lantai yang jika aku ingin membelinya, aku harus berpikir jutaan kali, kecuali jika aku mendapatkannya lewat jalur undian. Steve membuka kaca jendelanya, mengisyaratkanku untuk masuk ke mobilnya.


Jelas sekali perbedaan kasta antara kami sangat lebar. Ditengah-tengah kami adalah jurang yang sudah jelas aku tidak mungkin membangun jembatan di antaranya. Tidak mungkin.


Tengkukku langsung berdesir tidak lama setelah aku selesai memasang sabuk pengaman. Natsume ikut bersama kami duduk di bangku belakang. Itu membuatnya dua kali lebih menyeramkan, meskipun wajahnya tampan.


“Apakah kamu takut?” Tanya Natsume tiba-tiba.


Pertanyaan itu membuatku kaget. Aku harus memberinya jawaban apa? Jawaban bahwa, ya, aku takut karena aku tidak bisa mengesampingkan fakta bahwa ia adalah arwah yang gentayangan. Atau fakta menakutkan lain seperti, bisa saja ia menjadikanku sepertinya. Ahh! Tidak. Tentu saja itu mungkin.


“Cher!” Steve mengguncang tubuhku pelan. Aku tersadar lalu menoleh ke arahnya. “Ada apa?” Tanyanya terlihat khawatir.


Aku mengatur napasku. “Natsume-san baru saja bertanya apakah aku takut padanya atau tidak.” Kataku.


“Lalu?”


“Uhm, tentu saja aku takut.” Jawabku jujur. Aku tidak akan berbohong. Bisa saja jawaban jujurku ini membuatku terlepas dari kegiatan paranormal ini.


Detik berikutnya, aku mendengar suara Natsume tertawa. Suara tawanya biasa saja. Sama sekali tidak berbeda dengan suara tawa orang-orang pada umumnya.


“Terimakasih karena sudah mau menjawab jujur.” Ujarnya kemudian.


Steve melajukan mobilnya menjauh dari lobi menuju gerbang depan. Ia masih membuka kaca mobilnya dan menyapa satpam dengan mengangkat tangan kanannya. Sementara satpam sempat mematung karena melihatku berada di samping kursi pengemudi. Ia pasti bingung bagaimana rakyat biasa ini bisa berada di samping calon penghuni kursi paling atas pada hirarki perusahaan ini.


“Maaf jika saya lancang, tapi kita akan kemana ya, Pak?” Tanyaku memberanikan diri.


“Kita makan di luar, nanti kamu biar aku antar pulang. Aku perlu bicara banyak hal yang tidak ingin orang lain mengetahuinya.”Jawab Steve.


“Apakah akan lama, pak?” Tanyaku lagi.


Steve mengernyitkan dahi sambil pandangannya tetap lurus fokus mengemudi, “Kamu ada keperluan mendesak?” Tanyanya.


“Saya butuh ambil laundry saya sebelum jam sembilan malam, Pak. Besok pakai batik, dan baju-baju batik saya ada di tempat laundry, Pak. Jika tidak saya ambil, baju saya akan sama dalam tiga hari ini,pak.”jelasku jujur.


Aku adalah tipe orang yang baru akan me-laundry pakaiannya jika beratnya sudah mencukupi untuk satu kali paket. Jika jumlahnya kurang dari berat paket, maka aku akan rugi.


Steve tertawa keras. Begitupula dengan Natsume. Memangnya apa yang lucu. Satu-satunya yang lucu adalah, jika aku besok ke kantor dengan baju yang sama selama tiga hari yang sudah bau keringat dan matahari. Deodorant dan parfum juga tidak akan berhasil menyamarkan baunya. Aku yakin.


“Baiklah, kita akan ke toko batik langgananku dulu, baru kita pergi untuk makan malam.”kata Steve santai.


“Pak, saya belum gajian.” Aku panik.


Steve adalah anak konglomerat. Aku yakin, outlet atau toko baju batik langganannya pasti dari brand yang terkenal, dan pasti mahal. Isi dompetku akan menangis. Daripada ia mengantarku belanja baju baru, aku akan sangat terbantu jika ia bersedia membelokkan mobilnya menjemput laundry pakaianku.


“Bahkan sepertinya gaji sayapun juga tidak bisa membeli baju batik di toko langganan Bapak.” Kataku.


“Kamu bisa panggil aku dengan nama saja, jika hanya ada kita.”Ujar Steve sama sekali tidak menggubris perkataanku. “Panggil aku Steve” Lanjutnya.

__ADS_1


“Iya, Pak.”


“Cher....”


“Maaf, Pak.” Aku memukul jidatku sendiri. ”Maksudku, maaf Steve.” Aku buru-buru meralat ucapanku.


Steve tersenyum simpul.


“Aku sempat mengecek data personalmu di personalia.”Steve membuka perbincangan. “Ternyata usia kita tidak terpaut jauh, hanya dua tahun.


Rasanya aku ingin sekali menjawab bahwa mungkin memang usia kita tidak terpaut jauh, tapi pencapaiannya sungguh berbeda.


“Aku sudah menunggu cukup lama untuk bisa menemukan orang sepertimu dalam kurun waktu dua tahun ini.” Ucap Steve.


“Sejauh ingatanku, aku tidak pernah dinas ke luar negeri. Aku selalu ada di kantor.” Kataku.


Steve tertawa kecil. “Kamu tahu kan bahwa awalnya aku ada di kantor pusat, lalu aku mulai berkeliling ke semua perusahaan di bawah Mahawira Group. Aku mempelajarinya sejak aku di SMA. Lalu selesai kuliah, aku memulai perjalanan bisnisku yang bukan benar-benar bisnisku.”


Aku merespon dengan anggukan. Steve kembali bercerita.


“Aku membongkar praktek-prakter kecurangan di setiap perusahaan yang aku singgahi. Aku tidak ingin perusahaan yang sudah dirintis sejak jaman kakekku dulu, menjadi runtuh. Menemukan orang-orang yang suka bermain -main dengan uang yang bukan haknya tidaklah sulit.”jelas Steve.


“Namun Steve kesulitan mengungkap laporan keuangan di tempatnya yang sekarang. Kantormu. Ia mengecek semua laporan dan sama sekali tidak ada penurunan angka pendapatan sejak perusahaan ini berdiri. Tentu saja itu aneh.”Natsume menimpali.


Aku menunggu respons Steve. Ternyata memang benar, Steve tidak bisa mendengar suara Natsume. Aku juga tidak mengerti kenapa. Jika yang dimaksud adalah kendala bahasa karena Natsume menggunakan bahasa Jepang, setidaknya Steve bisa mendengar suara Natsume meskipun ia tidak bisa memahami perkataannya.


“Steve tidak bisa mendengarmu.” Kataku kepada Natsume.


“Memangnya, Natsume bialang apa?” Tanya Steve.


“Kamu kesulitan membongkar praktek kecurangan di perusahaan tempatku sekarang ini” Kataku singkat.


“Aku sudah mengecek semua laporannya, hasilnya nihil.”


“Tidakkah itu bagus?”


“Huh? Maksudnya?” Steve bingung.


Steve tidak langsung menjawab. Ia diam untuk beberapa saat. Ia sepertinya sedang berpikir serius. Semoga saja rambutnya tidak cepat beruban karena ia selalu memikirkan hal-hal rumit. Steve menggigit ujung ibu jari tangan kirinya. Jelas sekali ia memiliki ambisi untuk membuat perusahaannya lebih maju.


“Rasanya aneh jika aku tidak menemukannya sama sekali, setidaknya satu atau dua ketidak cocokan, itu dapat diterima.” Jawabnya.


“Tidakkah itu malah lebih terlihat seperti kamu sedang mencari-cari kesalahan?”


“Aku sempat berpikir begitu, namun aku juga butuh alasan kenapa aku harus mempercayai bahwa semua sedang baik-baik saja. Aku takut ini adalah bom waktu, jika aku tidak cepat menemukan bom itu, ledakannya akan menyakiti banyak orang.”jelas Steve.


Usia Steve baru menginjak kepala tiga, namun pemikirannya sudah jauh kedepan. Kupikir yang ia pikirkan hanyalah tahta dan keuntungan semata. Jujur saja, desas-desus pergantian tahta sudah terdengar di mana-mana. Memunculkan kepanikan karena mitos ‘generasi pertama yang memulai, generasi kedua mengembangkan, dan generasi ketiga yang membuatnya runtuh’. Aku mendengar kalimat itu sesaat setelah meeting bulanan yang dihadiri oleh orang-orang dari kantor pusat.


***


Mobil melaju dengan kecepatan konstan di jalanan malam yang sudah dipenuhi oleh banyak kendaraan, dan sesekali terdengar saling saut klakson. Steve membelokkan mobilnya santai ke arah area belanja yang berada tidak jauh dari sebuah mall besar. Di area itu terdapat beberapa toko baju dan sepatu dengan merk-merk ternama, salon, dan juga tempat makan.


Steve memarkir mobilnya di area parkir yang tidak jauh dengan lobby. Ia sepertinya sudah terbiasa dengan tempat ini sehingga, dengan santainya parkir di halaman depan, yang pernah kudengar desas-desusnya bahwa biaya parkir perjamnya sangat mahal. Tentu saja uang saku paduka raja Steve tidak akan bermasalah sama sekali dengan itu.


“Kita sampai.”Ucap Steve sambil melepas sabuk pengamannya. Ia menoleh ke arahku yang kesulitan membuka sabuk pengamanku. Tanpa kuminta, ia sigap membantu. “Sudah. Ayo.” Katanya, seraya melangkah keluar dari mobil lebih dulu.


Aku menoleh ke arah kursi belakang. Natsume sudah tidak ada di sana. Aku memutuskan untuk lekas keluar.


“Waa!!” Aku berteriak secara tidak sadar ketika aku keluar dari mobil, Natsume sudah berdiri sangat dekat denganku.


Orang-orang yang sedang berlalu-lalang, menoleh ke arahku. Aku malu sekali. Namun aku juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku. Bayangkan saja, Natsume entah sejak kapan ia sudah menghilang, lalu tiba-tiba muncul entah dari mana. Itu menyeramkan.


Steve terkekeh. Diikuti dengan Natsume yang juga ikut tertawa.


“Kalian sengaja ya...” Kataku kesal.


“Kamu akan terbiasa setelah ini.” Ujar Natsume.


“Apa katanya?” Steve penasaran


“Aku tidak ingin terbiasa dengan ini.”kataku.


“Aku bisa membayangkan apa yang Natsume katakan kepadamu.” Steve memberikan tatapan jahil ke arah Natsume.

__ADS_1


Steve mengunci mobilnya sampai berbunyi bib bib, lalu kami beranjak menuju sebuah toko pakaian yang menjual banyak sekali batik dengan berbagai model. Melihat dari baju yang dipakai oleh manekin di area etalase toko, aku bisa menilai kisaran harga baju-baju yang ada di toko ini. Steve memberikanku kode dengan lambaian tangan agar aku tetap berada di dekatnya.


Natsume juga berada tidak jauh dari Steve. Terkadang melihatnya bergerak lebih cepat dari pada aku dan Steve, membuatku bergidik ngeri. Terkadang aku melihat langkahnya yang tidak menapak pada permukaan. Ia seperti melayang. Hal yang paling tidak kumengerti adalah, wajah tampannya melampaui penggambaran tampan manusia. Aku sedikit bingung ketika harus menjelaskannya. Wajahya putih bersih, seolah bersinar. Jangan membayangkan wajah yang sedang di sorot oleh lampu. Sama sekali berbeda.


“Batik yang itu bagus.” Suara Natsume membuatku kaget. “Kamu nggak apa-apa?” Tanyanya khawatir.


“Aku baik-baik saja.” Jawabku.


Steve sedang berbicara dengan staff toko sembari sesekali tangannya menggeser-geser baju yang terpajang rapi di salah satu sudut toko.


“Model baju ini sepertiya cocok untukmu.”Natsume sudah berdiri di samping manekin yang mengenakan dress batik selutut berwarna biru muda dengan motif mega mendung. Aku menghampirinya. “Dress ini tidak akan terlihat terlalu pendek untukmu” Lanjutnya sambil terkekeh.


“Jadi maksudmu aku pendek?”


“Aku tidak mengatakan apa-apa.” Natsume mengelak, lalu memasang wajah jahilnya lagi, seolah berusaha mengejekku dan ingin membuatku kesal.


Tanganku bergerak mencubit pinggangnya. Natsume dengan sigap menahan tanganku. Dingin sekali. Natsume buru-buru melepaskan genggamannnya.


“Perempuan aneh...” Aku mendengar suara seseorang berbisik.


“Dia dari tadi bicara sendiri, sekarang malah bikin gerakan aneh.” Suara bisikan lain menimpali.


Akk!Sial. Aku lupa jika Natsume adalah ‘hantu’. Uhm, maksudku ia adalah roh halus. Jadi, tidak semua orang dapat melihatnya. Mereka pasti melihatku sejak tadi seperti orang gila.


Dari kejauhan, aku melihat Steve mengambil dua baju , lalu berjalan ke arahku. Tidak butuh waktu lama hingga ia sampai ke tempat di mana aku berdiri. Ia menoleh ke arah Natsume sebentar, lalu tanpa ijin menggenggam tangan kananku. Aku kaget.


“Sayang, baju ini bagus. Kamu coba ya.” Ucap Steve dengan suara lembut namun lantang. Aku menatap Steve, sembari mengerjabkan mataku beberapa kali dengan cepat, berharap ia meberiku penjelasan.


Aku menuggu selama sepersekian detik namun Steve tidak bergeming. Ia masih menggenggam tanganku, bahkan genggamannya lebih kuat ketika aku mencoba untuk lepas darinya. Percuma saja. Aku menyerah. Ia berhutang penjelasan padaku nanti.


Para staff langsung kembali ke posisinya masing-masing, dan tidak ada lagi yang berani bergunjing. Power seorang tuan muda pewaris tahta memang menyeramkan.


“Cobalah pakai yang ini.” Ujar Steve sembari memberikanku dua dress kepadaku, lalu melepaskan genggamannya. “Aku tunggu di soa itu ya.” Ia menunjuk ke sebuah sofa yang tidak jauh dari ruang ganti.


Aku menuruti perkataan Steve. Kami berjalan berdampingan sembari tangan kanan Steve melingkar dipinggangku. Sejujurnya aku merasa tidak nyaman dengan perlakuknnya, namun sepertinya ini ia lakukan untuk menyelamatkanku dari tatapan merendahkan para pegawai toko ini.


“Maaf ya.” Ujar Natsume yang entah sejak kapan sudah berada di sampingku. “Kamu ngga perlu jawab, nanti mereka pikir kamu orang gila karena berbicara sendiri.”lanjutnya.


Aku hanya mengangguk.


***


Steve membelikanku dua dress dan satu atasan batik yang harganya sama sekali tidak masuk akal. Mungkin memang tidak masuk akal untuk dompetku yang sering saja menjerit di akhir bulan. Semoga saja Steve tidak berubah pikiran dan berniat memotong gajiku untuk baju-baju ini.


Masih di dalam area yang sama, kami bertiga makan di sebuah resto, yang lagi-lagi deretan harganya dapat membuat dompetku kering-kerontang sebelum waktunya.


“Steve, kita makan di tempat yang biasa aja ...”kataku, mulai sedikit panik karena pengunjung yang datang terlihat ‘papan atas’


“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, tapi ini resto biasa”.balas Steve sembari sibuk membolak-balik lembaran menu.


Tiba-tiba saja Steve mengangkat tangannya memanggil pelayan resto. Satu orang pelayan dengan sigap mendatangi tempat kami duduk.


“Ada yang bisa kami bantu, pak?”tanya pelayan.


“Saya ingin VIP room.”jawab Steve tanpa basa-basi.


“Mohon maaf, seluruh ruang VIP sudah habis dipesan, pak.”


Steve menghela napas panjang, “Katakan pada managermu, Steve Mahawira butuh ruang VIP.” Ujarnya terlihat mulai kesal.


Pelayan tersebut pergi tidak menjawab apapun, lalu pergi menghilang dari pandangan. Steve kembali sibuk membolak-balik lembar menu. Aku tidak mengerti kenapa ia terlihat kesal sejak tadi.


“Aku tidak mengerti kenapa orang-orang suka merendahkan orang lain hanya karena tampilan luarnya.”Ujar Steve terdengar ketus.


Sedikit-banyak aku mengerti maksud dari perkataan Steve. Sebelum datang ke resto ini, Steve kembali ke mobil untuk melepas kemejanya dan mengganti sepatunya dengan sandal. Percayalah, jika prlayan-pelayan di sini jeli, t-shirt dan sandal yang dikenakan Steve sama sekali bukanlah barang murah. Namun, diposisi ini pegawai restoran juga tidak bisa disalahkan. Mereka berhak mengatur dresscode tamu-tamu yang makan di sini.


Aku baru akan menepuk tangan Steve, ketika aku melihat seorang pasangan bule berjalan denga santai menggunakan celana pendek coklat dan kaos, dan mereka mendapat sapaan ramah.


“Steve, aku tahu tempat makan lalapan yang enak di sekitar sini.” Kataku akhirnya.


Steve melihat ke arahku, “Tidak. Aku akan membuatmu kagum dengan rasa sop ayam kampung yang sangat khas.” Ucapnya kemudian seraya bangkit dari duduknya.


***

__ADS_1


__ADS_2