
Mobil melaju menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Jam telah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Aku telah melihat banyak sisi lain dari seorang pewaris tahta selama hampir tiga jam. Kami tidak jadi membicarakan apapun tentang kontrak atau hal-hal penting terkait dengan pekerjaan tambahanku. Steve membiarkanku menikmati soto ayam kaki lima kebanggaannya. Letaknya cukup jauh dari resto yang batal menjadi tempat kami makan malam.
Sementara aku dan Steve menyantap hidangan kami, Natsume menghilang entah kemana. Bahkan saat inipun, hanya ada aku dan Steve di dalam mobil. Steve juga tidak menjelaskan apapun tentang hilangnya roh Natsume secara mendadak.
“Natsume adalah seniorku di bangku kuliah. Ia menjagaku ketika aku tinggal di Jepang. Membatuku memahami banyak hal sebelum benar-benar terjun ke dunia bisnis. Natsume sudah seperti kakak kandungku sendiri.” Jelas Steve tiba-tiba memecah sunyi di antara kami.
“Bisakah kamu ceritakan tentang bagaimana Natsume menjadi roh yang bergentayangan?” Tanyaku.
Steve tergelak. Ia menutup mulutnya dengan tangan kirinya, seolah ia menahan sesuatu untuk diucapkan.
“Natsume sekarang berada di Singapura dalam pengawasan dokter. Dia dulu menjabat sebagai direktur operasional di kantor. Aku tidak tahu detailnya, tiba-tiba dia jatuh sakit lalu koma.”
Aku tidak merespond apapun. Aku hanya menunggu Steve memberi penjelasan lebih banyak lagi.
“Aku tidak mendapatkan jawaban apapun soal Natsume. Aku awalnya juga meyakini tidak ada yang aneh soal Natsume sampai di suatu hari, ia muncul dalam mimpiku. Tidak lama setelah itu, dia muncul dihadapanku. Namun seperti yang kamu lihat, aku tidak bisa berkomunikasi dengannya. Aku juga bingung.” Jelas Steve.
“Apakah ada orang selain kita yang dapat melihat Natsume?”tanyaku lagi.
“Sejauh ini tidak ada.” Jawab Steve singkat.
“Steve, kamu antar aku balik ke kantor lagi ya, mobilku di sana.” Ujarku ketika kulihat mobil sudah sampai di persimpangan
“Aku antar kamu sampai rumah.”
“Biaya naik ojek online dari apartmentku ke kantor mahal.” Kataku.
“Besok aku jemput.” Ucap Steve singkat.
“Jam masuk kita kan berbeda.” Sanggahku cepat.
“Aku jemput lebih awal. Tenang saja.” Sergah Steve lagi.
Sebenarnya, alasanku menolak untuk dijemput oleh Steve, karena aku tidak ingin mendengar desa-desus aneh. Maksudku, orang-orang sangat suka bergunjing tentang hal yang seharusnya masuk ke dalam ranah pribadi. Bagaimana aku bisa tahu? Karena terkadang aku juga bagian dari manusia-manusia itu. Kadang hal itu terjadi begitu saja, tanpa bisa dikontrol.
__ADS_1
“Rumahmu arah mana?” Tanya Steve. Ia meminggirkan mobilnya.
Aku menyebutkan alamat lengkap rumahku. Lalu Steve melajukan mobilnya lagi dengan santai. Aku tinggal tinggal sendiri di sebuah rumah yang baru kubeli tiga bulan setelah aku diterima bekerja di perusahaan tempatku sekarang ini. Ibu dan Ayahku membantuku dengan mebayar DP-nya, dan aku mencicil sendiri.
Rumahku tidak terlau besar, dan tidak juga kecil. Rumahku dua lantai dengan dua kamar tidur dan dilengkapi dengan sistem smart home. Rumahku terletak di sebuak kompleks perumahan yang juga diengkapi dengan sistem one gate yang dijaga oleh security selama 24 jam, sehingga membuatku nyaman dan merasa aman.
Beberapa kenalanku mengatakan bahwa lebih nyaman tinggal di apartment dengan menyesuaikan biaya sewa yang sanggup kita bayar, dan mereka bilang, aku masih bisa berfoya-foya dengan gaji yang ada sekarang. Membeli rumah ketika kita sudah menikah, kata mereka. Memang mencicil rumah membuatku selalu berhati-hati ketika ingin membeli sesuatu, tapi tidak apa-apa memang itu pilihanku.
“Malam, Pak...” Steve membuka kaca jendelanya, lalu menyapa dua security yang sedang berjaga.
“Malam Pak Beno, Pak Gun.” Sapaku.
“Eh, Neng Cheri. Baru pulang jam segini?”Tanya pak Gun ramah. “Tumben bukan Mas Gilang yang anter.”lanjutnya.
“Gilang nama pacarmu,ya?” Tanya Steve memalingkan pandangannya kepadaku. “Kamu nggak cerita.”
Aku menghela napas panjang. Apakah aku perlu menceritakan segala informasi pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kantor kepada Direkturku? Uhm, bisa saja. Jika mereka bertanya, tapi untuk sengaja menceritakannya, rasanya bukan kewajibanku.
Tiin! Suara klakson mobil di belakang kami membuat Steve tersadar. “Mari,pak..” Kata Steve untuk terakhir kalinya sebelum melajukan mobilnya lagi.
“Bukannya kamu tinggal sendiri ya?” Tanya Steve lagi.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan fokus melihat ke depan. “Setelah putaran belok ke kanan.” Kataku.
“Jadi kamu nggak mau jawab pertanyaanku?” Tanya Steve lagi. Aku bisa mendengar ada nada kesal dari suaranya.
Aku menghela napas panjang. “Apakah pekerjaan Direktur juga mencangkup mencampuri urusan pribadi pegawainya?” Tanyaku.
“Tidak juga. Hanya jaga-jaga saja.”Jawab Steve datar. “Rumahmu yang mana?” Tanya Steve sebelum aku sempat menyelanya.
“Itu, nomor 21.” Kataku sembari menunjur satu rumah sebelum perseimpangan.
Steve menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Ia membantuku melepas sabuk pengaman.
__ADS_1
“Thank you, karena sudah antar aku sampai rumah.” Kataku sembari keluar dari mobilnya.
Steve menurunkan kaca mobilnya. “Besok aku jemput jam setengah tujuh.” ujarnya.
“Oke.”Jawabku singkat.
Steve melambai sebentar, sebelum akhirnya melajukan mobilnya meninggalkanku sendiri. Aku penasaran kemana perginya Natsume, karena sejak kami selesai makan malam, ia menghilalang begitu saja.
***
“Arrgh!!” Aku berteriak cukup kencang ketika melihat sosok pucat Natsume sudah berdiri persis di depan pintu masuk.
Natsume sepertinya perlu belajar bagaimana menjadi hantu yang baik. Meskipun aku juga tidak mengerti tata krama menjadi hantu, setidaknya ia masih ingat bagaimana seharusnya cara bertamu yang benar. Tapi, sepertinya percuma saja. Aku juga tetap akan terkejut jika ia tiba-tiba menekan bel rumahku, sambil berdiri di depan pintuku.
“Bisakah kamu muncul dengan lebih normal?” Tanyaku sambil berusaha mengatur napas dan irama detak jantungku yang tidak karuan. “Bagaimana jika aku tiba-tiba terkena stroke karena terlalu kaget?”
“Sorry.” Ujarnya singkat.
Pip. Suara pintu dibelakangku terkunci otomatis. “Kamu bisa menonton tv, atau lakukan apapun. Aku mau mandi. Jangan ngintip.” Kataku seraya masuk ke kamarku.
“Arrgh!”untuk kesekian kalinya Natsume muncul.
Ia sudah berdiri sambil berkacak pinggang tepat di depanku.
“Apakah menurutmu aku seperti tukang intip?” Tanyanya.
“Iya. Melihatmu menyalahgunakan kemampuanmu untuk bisa muncul di mana saja sesukamu sudah cukup untuk menyematkanmu dengan label tukang intip.” Jawabku kesal. “Tunggu di luar sana.”lanjutku seraya mendorong tubuh Natsume keluar dari kamarku.
“Iya, maaf.” Ujar Natsume yang langsug menghilang ketika selesai mengucapkan maaf.
Apakah aku perlu memasang cctv di dalam rumah? Karena di beberapa postingan atau artikel yang pernah aku baca, CCTV dapat menangkap wujud-wujud mahluk halus. Jadi aku akan tahu apakah Natsume benar-benar sedang bergentayangan di rumahku atau tidak. Tapi, rasanya juga akan jadi menyerakan jika kamera menagkap sosok mahluk lain yang lebih seram dari wujud Natsume.
***
__ADS_1