Grand King And His Interpreter

Grand King And His Interpreter
Bab 1 - Resign Letter


__ADS_3

Benda bergerak karena ada gaya yang mendorong. Itu yang kupelajari di kelas fisika saat aku duduk di bangku SMA. Jadi, seharusnya ketika aku meletakkan surat resign-ku tertutupi oleh badan laptop, surat itu tidak akan bergerak kemanapun. Raib. Aku datang cukup pagi, pukul 07:00 dan kantor masih sepi, bahkan aku membuka pintu ruanganku sendiri, karena orang yang bertugas membuka pintu tiap ruangan belum datang.


Aku menggeledah seluruh mejaku, termasuk laci, bisa saja aku lupa bahwa aku sudah menyimpannya di dalam sana. Hasilnya nihil. Aku tidak berhasil menemukannya. Hampir lima belas menit aku mencari dan aku tidak menemukan surat resign yang telah kucetak sebelum aku meninggalkan ruagan, kemarin.


“Hallo! Cheryl!” Aku mendengar sapa renyah suara Hendra berbarengan dengan suara pintu yang berdecit pelan. “Wajahmu kusut sekali.” Ia berkomentar sembari berjalan ke arah meja yang berada tidak jauh dari mejaku.


Hendra menarik kursinya, lalu duduk. Mengeluarkan kotak bento ukuran kecil dari dalam tasnya. Aku menarik kursiku mendekat ketempat Hendra duduk. Ia melirikku sebentar lalu kembali fokus dengan bentonya. Aw! Pacar Hendra manis sekali, setiap pagi membawakan bekal sarapan. Hari ini menu sarapan Hendra adalah roti bakar coklat. Well, setiap hari menu sarapan Hendra adalah roti bakar coklat, kecuali ada badai tak berarti menerpa hubungan romantisme mereka.


“Ambillah...” Hendra menyodorkan tepak makannya yang telah terbuka. Didalamnya terdapat empat potong roti bakar berbentuk segitiga, dengan sedikit sisa-sisa lelehan selai diatasnya.


Aku menggeleng pelan. Hendra menghela napas panjang sembari meletakkan bentonya di meja. Hendra memutar kursinya menghadap ke arahku. Kini, aku mendapat seratus persen fokusnya.


“Aku yakin masalahmu bukan perkara putus atau diselingkuhi..”Ujar Hendra sembari menyilangkan kaki. Aku tidak akan mendebat ucapannya yang itu, karena moodku tidak terlalu bagus pagi ini. “Jadi, ada apa?” Tanyanya kemudian.


Aku diam. Tidak langsung menjawab. “Aku kehilangan surat resign-ku...”kataku akhirnya.


Hendra terkejut. Aku bisa melihat perubahan wajahnya dari tenang ke panik. “Serius!?” Tanyanya nampak terkejut dan tangannya yang entah sadar atau tidak memukul lututku.


“Aku menyimpan suratku seperti biasanya ketika aku menaruh dokumen di bawah laptopku.” Kataku berusaha menjelaskan. “Aku juga sangat ingat aku mengunci pintu ruangan ini  sebelum aku pulang, dan aku adalah orang pertama yang datang dan membuka pintu ruangan ini.”


Satu detik, dua detik, sampai hitungan kelima, Hendra masih diam. Aku menepuk lututnya dengan cukup keras. Hendra melihatku dengan tatapan 'tolong jangan tanya aku, aku tidak tahu'.


Aku menghentak kakiku pelan ke lantai sehingga membuat kursi yang kududuki bergerak mundur.


“Berdoalah agar surat itu tidak sampai ke tangan yang salah...” Ujar Hendra seraya mengambil kotak bentonya lagi kemudian menyodorkannya kepadaku dengan wajah simpati, “Aku turut berduka. Kamu boleh ambil dua rotinya, Cher..” Lanjutnya.


“Hen, apakah menurutmu ada unsur konspirasi disini??” Tanyaku seraya menatap lurus ke Hendra.


Hendra tidak menjawab dan malah menyumpal mulutku dengan potongan roti bakarnya. Aku tidak protes dan menikmati sepotong roti bakar rasa coklat yang Hendra masukkan kemulutku secara asal.


“Hen...” Aku memanggilnya pelan.


Hendra mengambil satu roti untuk dirinya sendiri sebelum menjawab panggilanku, “Ada apa lagi?” Tanyanya kini dengan sura mulai kesal.


“Ini sudah seminggu...” Kataku.


“Apanya?” Tanya Hendra lagi.


“Roti bakar coklat...” Jawabku santai sembari memberikan sisa rotiku langsung ke mulut Hendra dan membiarkannya mengumpat nama-nama binatang, selagi aku pergi dengan membawa gelasku menuju ke pantry.


Sebenarnya aku tidak asal mengatakan bahwa kemungkinan ada perbincangan rahasia yang dilakukan oleh Hendra dan managerku, karena memang sudah tugasnya untuk mengatur distribusi orang. Aku tidak akan menyalahkannya jika perbincangan itu terjadi untuk yang kedua kalinya, namun aku akan marah jika ia menyemunyikan hal itu jika memang benar.

__ADS_1


***


Kejadian yang sama terus berulang hingga aku tidak tahan untuk menghardik teman satu ruanganku, Hendra. Aku menuduhnya melakukan konspirasi agar aku tidak buru-buru memutuskan untuk keluar dari perusahaan ini. Aku menuduhnya menyembunyikan rencana besar perpindahanku ke department lain lagi, dan ia setuju dengan ide out of the box to the max manager kami, Pak Evan.


“Ini sudah yang ke....empat kali, dan aku masih kehilangan suratku,” Aku duduk di sofa dengan segelas susu coklat penuh di tanganku.


“Kehilangan surat apa?” Tanya sebuah suara yang sangat asing ditelingaku.


Aku menoleh ke asal suara yang asalnya dari arah pintu masuk ruang rekreasi. Aku mendapati sosok laki-laki tampan dengan model rambut klimis rapi. Aku bisa lihat dahinya yang sangat mulus. Rasanya aku tidak pernah melihat ada mahkluk tampan di kantor ini.


“Surat apa yang hilang?” Tanyanya lagi, membuatku sedikit terkejut. Ia berjalan kearahku sembari menutup daun pintu yang berada dibelakangnya.


Aku buru-buru bangkit dari sofa.


Haha. Aku tidak pernah membayangkan terjebak dalam situasi ini. Harus aku jawab apa pertanyaannya? Iya, maaf pak saya kehilangan surat resign saya, tentu saja aku tidak cukup bodoh untuk memilih jawaban itu. Selain itu aku tidak tahu siapa orang ini, jika dia hanya tamu, tak jadi masalah. Namun, jika ia juga pegawai perusahaan ini, ini akan jadi ‘kematian’ bagi karirku, terlepas aku memang ingin keluar dari sini.


“Err... Surat...” Aku menggantung kalimatku. Apakah aku harus menjawab jujur? Atau berbohong tentang surat itu?


Kriett!!


“Steve, ayo makan siang..” Suara boss-ku membuat aku dan laki-laki di hadapanku menoleh bersamaan.


“Pak David duluan saja, saya mau ambil bekal saya di ruangan, mama bawain saya rendang untuk dibagi dengan Pak David dan yang lain.” Lelaki bernama Steve menimpali sembari tersenyum.


Senyumnya hangat sekali. Tapi, tunggu sebentar. Mengapa ia harus bercerita tentang mamanya? Sebenarnya orang ini siapa?


Berusaha tetap berhati-hati, aku melirik Pak David mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Terimakasih, lho... Saya akan telpon Bu Susan untuk bilang terimakasih selagi kamu ke ruangan.”


Steve merespon dengan senyum, namun belum beranjak satu langkahpun dari tempatnya berdiri.


“Dan kamu, Cheryl..kamu ngapain?” Tanya Pak David yang sontak membuat jantungku berdetak lebih tidak karuan.


“Err...bikin susu, pak...” Jawabku pelan.


“Pfftt!”


Aku langsung melirik Steve dan meberikan tatapan kesalku.


Pak David menaikkan sebelah alisnya, lalu berjalan ke pintu. “Jangan terlalu sering, hati-hati diabetes.” Ujarnya sebelum akhirnya keluar menyisakan kesunyian aneh diantara aku dan makhluk asing bernama Steve ini di ruangan.

__ADS_1


“Temui aku di ruanganku setelah jam makan siang...”ujarnya.


Huh?Di ruangannya?


“Maaf jika saya tidak sopan, tapi bapak siapa ya?” Tanyaku.


Makhluk ajaib di depanku ini tidak menjawab dan malah tertawa, yang sontak mengejutkanku. Steave menyeka air mata kecil yang keluar dari sudut matanya.


“Kamu ada baiknya hati-hati ketika ingin menanyakan sesuatu, untung saja bukan Mama yang mendengar pertanyaanmu itu.” Ujarnya sambil masih sedikit tertawa.


Degh! Bu Susan?


Aku buru-buru membungkukkan badanku sembilan puluh derajad ke arah Steve. Jika Steve adalah anak Bu Susan, berarti Steve adalah pewaris dari kerajaan bisnis keluarga Mahawira.


Bu Susan adalah istri dari presiden direktur sekaligus salah satu pemilik dari Mahawira Group. Perusahaan tempatku bekerja, Mahawira Auto Part Co.Ltd adalah salah satu anak perusahan dari belasan anak perusahan yang tergambung dalam Mahawira Group. Mahawira Group merupakan perusahaan keluarga yang dibesarkan oleh tiga bersaudara Mahawira.


Sekarang, biarkan aku berdoa tentang keselamatan akun bank-ku jika Steave tidak terima dengan sikapku yang memang sangat tidak sopan kepadanya.


“Pak, saya minta maaf karena sudah bersikap tidak sopan kepada bapak..” Kataku sungguh-sungguh.


Tidak ada respon, namun detik berikutnya aku merasakan  benda lancip menempel di pipiku. Aku mengakat kepalaku melihat kearah Steve yang ternyata juga membungkukkan badannya condong ke arahku. Wajah kami hanya berjarak sekian senti. Tangan kanannya menggenggam sebuah lipatan kertas yang dibentuk menjadi persegi, sehingga ketika salah satu sudutnya mendarat dipipiku, sedikit terasa tajam.


“Aku penasaran, sebenarnya apa yang benar-benar membuatmu ingin berhenti...”ujarnya yang kemudian memegang bahuku.


Aku tidak berani menjawab. Jika dugaanku benar, surat-suratku yang hilang berada di tangan calon presdir masa depan di hadapanku ini. Nasibkku sial sekali.


“Apakah aku harus meminta Hendra untuk segera me-range berapa uang yang kamu dapat ketika berhenti?” Senyum ramah Steve menghilang ketika ia mengatakan itu.


Lagi-lagi aku hanya diam. Aku memilih menatap gelasku. Steave menghela napas panjang.


“Jangan lupa untuk datang ke ruanganku setelah aku selesai makan siang.” Ujarnya melepaskan tangannya dari bahuku. Aku meluruskan badanku dan mencoba menatap Steve. “Oh ya, tentu kamu tidak akan keberatan jika aku ambil ini, kan?” Tanpa menunggu aku mengatakan ‘iya’, tangan Steve menyambar gelasku. Ia meneguk isinya sebentar, lalu menatapku lagi seolah berkata I want it, I get it di wajahnya.


Tentu saja tuan muda ini akan selalu mendapatkan apa yang dia mau. Meskipun itu membuatku cukup kesal. “Nggak apa-apa, Pak.. Boleh untuk Bapak.”kataku.


Steve tergelak, namun terlihat berusaha mengontrol emosinya.


“Oke, ini aku bawa.” Ujarnya seraya meninggalkanku sendiri, setelah dengan semena-mena mengambil susu coklatku.


Beruntung sekali Steave adalah putra mahkota. Jika tidak, aku sudah menuangkan susu coklatku di atas kepalanya. Bagaimana bisa suratku bisa terbang sampai ke meja direktur?


***

__ADS_1


__ADS_2