
Bulu matanya cukup panjang dan lentik untuk ukuran laki-laki. Hidung mancung, dan bibir merah muda yang tipis. Steve bisa saja menjadi bintang sinetron, atau FTV, dengan ketampanan yang dia miliki itu. Sudah hampir lima menit, kami sampai di depan rumahku. Steve sudah tertidur sejak lima menit setelah aku mengambil alih kemudinya.
Aku menggoyang-goyang pelan tubuhnya. “Steve....” Ucapku tepat di telinganya.
“Akhh!” teriak Steve yang membuatku terkejut. Matanya mengerjap beberapa kali. “Kita sudah sampai?” Tanyanya dengan wajah bingung.
Aku mengangguk.
“Sori.” Ucapnya sambil melepas sabuk pengamannya.
Steve turun lebih dulu dari mobil. Aku melihatnya berjalan di sekitar taman depan, dan menungguku di teras. Aku bergegas turun dari mobil. Tidak lupa aku mengunci mobilnya.
Aku berlari kecil ke arah Steve, kemudian membuka mintu di belakangnya dengan memasukkan beberapa angka.
“Ayo masuk.” Kataku, mempersilahkan Steve untuk masuk ke dalam rumah. “Sepatunya dicopot taruh di tempat sepatu yang di situ ya." Kataku sambil menunjukkan kepada Steve, di mana dia harus meletakkan sepatunya.
Steve mengikuti arahanku. Sambil tetap berdiri, dia mencopot sepatunya. Dimulai dari sebelak kiri, kemudian sebelahnya lagi.
“Di situ ada slipper, kamu pake aja.” Kataku, meninggalkan Steve di ruang tamu sendiri. “Pintunya jangan lupa ditutup. Tinggal didorong aja.” Lanjutku.
Aku meletakkan tasku secara serampangan di atas sofa yang ada di ruang tv. Aku menuju ke kamar mandi yang berada tidak jauh dari ruang tv. Aku mulai dengan muncuci kedua kakiku, kemudian beranjak ke cermin. Bayangan wajah lelah memantul di cermin itu. Kunyalakan kran wastafel, kemudian menangkup air yang keluar dari sana untuk membasuh wajahku. Rasanya segar sekali.
Aku mengambil sabun muka yang berada tidak jauh dari wastafel. Membuka penutupnya, kemudian memencet bagian badan botol, menaruh isinya di telapak tangan, lalu memberi sabunnya sedikit air. Kugosokkan sabun yang mulai berbusa itu keseluruh wajah.
“Akhhh!!” Teriakku ketika melihat bayangan lain yang muncul di cermin.
“Kamu ngapain sih, tiba-tiba muncul!” Seruku, sambil membasuh sabun yang ada di wajahku.
“Cher, kamu nggak apa-apa?!” Bayangan Steve ikut muncul di cermin.
...........
...........
“Waa!!” Teriak Steve tiba-tiba.
Steve juga terkejut melihat bayangan yang terbelenggu di cermin. Natsume. Entah bagaimana caranya tubuhnya tidak tidak ada di samping Steve, maupun diriku, namun bayangan Natsume muncul jelas di dalam cermin.
__ADS_1
“Aku lihat ada Natsume di sana.” Ujar Steve seraya telunjuknya di arahkan ke cermin.
“Aku juga melihatnya.” Kataku mengiyakan.
Aku dan Steve saling pandang untuk beberapa saat.
“Natsume-san?” Tanyaku seraya mencondongkan badanku lebih dekat lagi ke cermin. Aku menggosok permukaannya dengan tangan beberapa kali.
Bayangan Natsume lenyap begitu saja. Aku dan Steve saling berpendangan lagi. Tubuhku tiba-tiba merasa bergidik. Banyak orang mengatakan bahwa bayangan roh halus dapat muncul di cermin, dan itu adalah bukti kehadiran mereka.
“Apakah menurutmu Natsume baru saja ada di sini?” tanyaku pada Steve.
Steve mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu, tapi mungkin saja iya.” Ucapnya.
“Kalau kamu ingin mandi, kamu bisa pakai kamar mandi ini. Nanti aku ambilkan handuk dan kucarikan baju ganti.” kataku sembari membiarkan Steve masuk dan aku melangkah keluar.
Aku meninggalkan Steve, menuju ke kamarku yang berada di lantai dua. Aku membuka kamar untuk mencari pakaian yang bisa di pakai untuk Steve. Badan Steve cenderung tidak terlalu besar, bisa kusebut dia kurus, hanya tubuhnya yang cukup tinggi untuk ukuran asia. Satu-satunya jenis bauju yang sangat mungkin dipakai oleh Steve adalah tipe kaos ‘partai’. Aku memiliki beberapa kaos organisasi yang belum pernah kupakai sekalipun.
Selesai mendapatkan kaos, aku bergeser ke lemari kecil tempatku menyimpan handuk. Aku membuka laci bawahnya, kemudia mengambil satu handuk dari dalammnya. Handuk ini tidak baru, namun sudah ku laundry sejak setahun yang lalu, namun belum kubuka lagi pembungkus plastiknya. Handuk yang biasanya dipakai Gilang jika dia datang ke rumahku.
Aku tidak pernah mengajak siapapun ke rumahku. Bahkan Hendra dan Sam. Kami selalu nongkrong di luar. Hanya Gilang, dan sekarang Steve. Ah! Aku lupa. Natsume juga pernah kemari.
Aku bergegas menutup laci, lalu turun menuju kamar mandi. Aku menautkan handuk dan kaos yang kubawa ke gagang pintu kamar mandi.
“Aku cantolin di luar ya.” Kataku, kemudian beranjak menuju dapur.
Aku membuka lemari kulkas, mengeluarkan stok ayam ungkep dari sana. Aku mengambil wajan kecil, lalu meletakkannya di atas kompor, menuangkan sedikit minyak, kemudian mulai menyalakan apinya.
Minyak di penggorenganku bahkan belum panas betul, namun Steve sudah selesai mandi. Dia keluar dengan bertelanjang dada, rambut basah dan kaos yang disampirkan di bahu kanannya.
“Steve!!” Seruku seraya membalikkan badanku, agar tidak melihat bagian atas tubuh Steve yang dibiarkan terbuka.
“Kamu ngapain sih, dari tadi teriak-teriak?!” Balas Steve tak kalah nyaring.
“Pakai kaosnya.” Kataku, mengalihkan fokusku lagi pada penggorengan yang minyaknya mulai panas.
“Bentar dulu. Kamar mandimu kecil banget, aku kegerahan.” Ujarnya.
__ADS_1
Telingaku mendengar suara decit kecil sofa yang bergeser. Sepertinya Steve duduk di sofa ruang TV. Benar saja, tidak lama kemudian aku mendengar suara-suara yang asalnya dari speaker tv-ku. Aku berusaha acuh dan fokus dengan masakanku.
***
Pukul 21:45
Steve rupanya belum ingin tidur. Dia fokus menatap layar tv yang sedang memutar film Finding Dori. Sesekali tangannya tenggelam di dalam toples untuk mengambil beberapa lembar keripik kentang.
“Kamu biasanya sepulang kantor ngapain?” Tanyaku.
“Kadang aku nge-gym dulu, baru setelah itu pulang. Satu sampai dua jam-lah.” Jawab Steve sambil matanya tetap lurus ke layar.
“Kamu berapa bersaudara?” Tanyaku lagi.
“Aku tiga bersaudara. Kakak pertamaku perempuan, dia sudah menikah. Lalu adik perempuanku masih duduk di bangku kuliah semester akhir.” Jelas Steve.
Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.
“Apakah kakakmu juga menikah dengan pengusaha kaya?” Tanyaku tanpa berpikir, dan jujur setelahnya kusesali kenapa aku menanyakannya. “Kamu ngga perlu jawab.”
Steve tertawa untuk beberapa saat. “Kamu seperti reporter yang sedang mewawancarai seseorang.” Ungkap Steve.
“Iya, maaf.” Kataku menyesal.
Steve melorot dari sofa, dia duduk di karpet beludru sembari menyandarkan badannya pada sofa.
“Jesica menikah dengan anak konglomerat pemilik bisnis properti.” Steve menjawab pertanyaanku.
“Maaf, harusnya aku tidak tanya soal pribadi.”kataku lirih.
“Semua orang tahu, aku malah bingung kenapa kamu menanyakannya.” Balas Steve seolah dia tidak keberatan dengan semua pertanyaan yang aku lontarkan.
Kami diam. Hanya suara ikan badut orangye yang berteriak pada dori, memenuhi ruangan.
“Siapa Gilang?” Tanya Steve tiba-tiba.
***
__ADS_1
>Jangan lupa vote ceritaku ya.. tinggalkan komentar dan kritik kalian juga. Thank You.