Grand King And His Interpreter

Grand King And His Interpreter
Bab 5 - Cerita Singkat Natsume


__ADS_3

Natsume mengekor di belakangku seperti casper. Aku membuka pintu kulkas, mengambil dua kaleng cola dan sisa hot dog kemarin malam. Beranjak dari kulkas, aku menuju dapur. Mengambil pan dan meletakannya di kompor. Kunyalakan apinya kecil sekali, kemudian aku menaruh sisa hot dog ku di atasnya.


“Sangat tidak praktis.” Ujar Natsume yang sedang duduk di kursi di ruang makan.


Aku mengabaikan perkataan Natsume dan fokus dengan  hot dog yang sedang kupanaskan di atas pan.


“Kenapa tidak membeli microwave?” Tanya Natsume.


“Biaya listriknya akan membengkak, jika aku harus memanaskan semua masakanku dengan microwave.” Jawabku.


Natsume tidak bergeming. Aku menghela napas panjang untuk memperkirakan kemungkinan yang terjadi setelah ini.


“Tidak akan sebanyak itu.” Tidak sampai hitungan menit, Natsume sudah berdiri sangat dekat denganku.


Aku meghela napas panjang lagi sambil mengelus dada. “Sepertinya hobimu memang membuatku kaget, huh?”


Natsume tertawa puas. “Aku sering muncul tiba-tiba seperti ini saat sedang bersama Steve. Dia tidak sepertimu, yang selalu terkejut setiap saat.” Jelasnya sambil mengusap air mata yang keluar dari sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.


“Hatinya terlalu dingin.” Kataku asal. Natsume tertawa jauh lebih keras dari sebelumnya. “Aku baru kali ini melihat hantu tertawa.”


“Bisakah kamu berhenti menyebutku hantu?” Tanya Natsume.


“Apakah kamu ingin aku membuat deskripsi singkat mengapa kamu tergolong sebagai hantu?” Aku balik bertanya.


“Coba sebutkan.” Jawab Natsume dengan nada menantang.


Sebenarnya ada apa dengan pria satu ini. Baru sehari aku bersamanya, ia sudah menunjukkanku banyak sekali ekspresi. Kukira ia adalah tipe manusia kalem. Well, hantu kalem, maksudku. Ia tidak begitu banyak bicara. Namun, aku salah menduga. Ia cukup bawel, iseng, dan sepertinya lumayan berisik nantinya.


Aku mematikan kompor, memindahkan hot dog-ku yang sudah lumayan hangat ke atas piring. Natsume mengekor di belakangku menuju ke ruang TV. Aku duduk di karpet dan meluruskan kakiku ke kolong meja di depanku.


“Kamu adalah makhluk halus yang gentayangan, dan itulah mengapa kamu tergolong dalam definisi hantu.” Jalasku, seraya menarik penutup kaleng colaku.


Natsume ikut duduk di sampingku. Darahku langsung berdesir setiap kali ia berada sangat dekat denganku, dan membuatku kembali tersadar bahwa alam kami memang berbeda. Meskipun ia belum benar-benar pergi ke alam lain. Seperti yang telah dijelaskan oleh Steve, bahwa tubuh Natsume masih berada dalam pengawasan dokter. Ia terbaring koma, sementara rohnya bisa berkliling.

__ADS_1


“Apakah aku boleh bertanya hal yang lumayan pribadi?” Tanyaku pada Natsume sembari mencubit lapisan luar roti hot dog-ku.


“Tentu saja.” Jawabnya cepat.


“Apakah hubunganmu dengan Steve hanya sebatas senior dan junior?” Tanyaku sambil memasukkan potongan kecil roti ke dalam mulut.


“Orangtua kami saling mengenal satu sama lain. Saat Steve memutuskan untuk kuliah di Jepang, aku berusaha selalu menemaninya. Aku adalah anak tunggal, itulah mengapa aku sangat sayang pada Steve.”Jelas Natsume.


Kebaikan terpancar dari wajahnya yang pucat. Aku bisa melihat seberapa besar rasa sayang Natsume pada Steve.


“Jadi, apakah itu adalah alasan mengapa kamu juga di angkat sebagai direktur operasional?” Tanyaku lagi.


Natsume mengernyitkan dahi. “Jadi, menurutmu aku tidak memiliki kemampuan dan hanya mengandalkan previllage dari orangtua?” Ia balik bertanya.


“Tidak. Maksudku bukan begitu.” Aku buru-buru meralat ucapanku. Memang seharusnya orang introvert sepertiku tidak boleh banyak bicara. Orang-orang terlalu sering salah paham dengan ucapanku.


Natsume membelai rambutku dengan lembut. “Aku hanya bercanda. Aku tahu maksudmu.”ujarnya.


Seharusnya ia tidak bercanda seolah aku menyakitinya dengan ucapanku. Itu membuatku sangat khawatir. Aku takut ucapanku benar-benar menyakitinya.


“Mahawira Autopart berkembang sangat pesat dan mendapatkan customer-customer dari berbagai maker mobil Jepang. Dua tahun berselang, Ayah dan Ibuku meninggal dalam kecelakaan. Lalu aku sebagai anak tunggal mereka secara otomatis menjadi alhli waris mereka. Aku menjadi pemilik sekaligus direktur dari pusahaan Ayahku, Seiji Engineering Co.Ltd.” Lanjut Natsume.


“Jadi, kamu tidak hanya mengurusi perusahaan tempatku bekerja ini, tapi juga kamu memiliki perusahaan lain di Jepang?” Tanyaku menggebu-gebu.


Entahlah, aku mulai tertarik dengan kehidupan Natsume. Tentu tidak mudah mengatur dua perusahaan sekaligus. Mungkin inilah sebab mengapa Natsume jatuh sakit. Beban yang ia tanggung terlalu berat?


“Kamu pasti baru saja mengasihaniku karena aku pada akhirnya jatuh sakit karena terlalu sibuk mengurus dua perusahaan sepeninggalan orangtuaku, kan?” Wajah Natsume menatapku jahil.


Aku bingung. Natsume menebak dengan benar isi kepalaku. “Bagaimana bisa?” Tanyaku tidak percaya.


Natsume tergelak. “Jika mengira-ngira isi kepala seseorang dengan benar saja aku tidak bisa, aku tidak pantas berada diposisi direktur.” Timpalnya.


“Kenapa?” Tanyaku bingung.

__ADS_1


“Sebenarnya kamu bisa mempelajarinya. Kami bisa menebak sampai 80% benar isi kepala seseorang dengan mengamati pergerakannya, kebiasaan, dan sampai ke cara berpikirnya terhadap susuatu.” Jawab Natsume. "Itu membantuku menerka-nerka langkah apa yang akan diambil lawan bicaraku. Illmu membaca seseorang ini sagat berguna di dunia bisnis." Jelasnya.


Aku hanya mengangguk-anggukan kepala.


“Aku rutin control ke dokter untuk memastikan kondisiku baik-baik saja. Aku tidak memiliki penyakit bawaan.” Ucap Natsume.


“Kamu ingat sesuatu sebelum jatuh sakit?” Tanyaku mulai tidak sabar.


“Seminggu sebelumnya aku merasa badanku aneh setelah meminum vitamin yang selalu kukonsumsi setiap harinya. Saat aku periksa ke dokter juga tidak ada yg aneh.” Jawab Natsume.


“Lalu, setelah itu?”


“Aku tidak ingat.”


“Awal mula kamu menjadi hantu gentayangan begini, kamu ingat?”


Aku melihat tatapan kesal Natsume ketika aku menyebutnya dengan hantu gentayangan. Aku hanya nyengir.


“Saat Steve menjengukku di Rumah Sakit. Ia kaget karena melihatku keluar dari tubuhku sendiri.”


“Sebentar.” Kataku memotong penjelasan Natsume. “Usiamu berapa tahun ini?” Aku berbicara kepada Direktur dan orang yang lebih tua dariku terlalu casually, aku takut ia tersinggung.


“Umurku 33 tahun desember nanti.” Jawab Natsume.


“Aku ingin minta maaf terlebih dahulu.” Kataku.


Natsume mengangkat sebelah alisnya sembari memberikanku tatapan bingung. “Untuk?”


“Mendengar sedikit tentang ceritamu tadi, seharusnya aku memanggilmu Presdir Natsume, dan tidak seharusnya aku menggunakan bahasa yang sangat tidak sopan. Maafkan saya.” kataku sambil menunduk dalam.


Satu detik, dua detik, tidak ada respon dari Natsume. Aku mengankat kepalaku melihat Natsume tersenyum santai sambil badannya disenderkan ke sofa. Ia melihatku dengan tatapan yang sangat lembut.


“Apakah kamu juga ingin mendengarku membuat pengakuan dosa kepadamu?” Tanya Natsume. Wajahnya seketika berubah.

__ADS_1


***


__ADS_2