Grand King And His Interpreter

Grand King And His Interpreter
Bab 6 - Jemputan Direktur


__ADS_3

Pengakuan dosa yang dimaksud oleh Natsume, tidak pernah kudengar. Dia hanya menggodaku dan menganggap bahwa kami bisa lebih akrab jika kami saling bercanda. Baiklah, jawabannya masuk akal untuk itu, namun menurutku Natsume benar-benar memiliki dosa yang seharusnya dia utarakan kepadaku. Kenapa aku bisa yakin? Hanya melalui perasaanku saja. Terdengar aneh memang, tapi aku bisa merasakannya. Natsume menyimpan rahasia.


Bayangan di cermin membuat pikiranku tidak lagi berfokus pada rahasia Natsume. Maksudku, melihat diriku sendiri di cermin dengan mengenakan dress batik yang sangat mahal, pemberian dari Direktur. Aku harus menekankan lagi, DIREKTUR. Mungkin bagi Steve mengeluarkan sekian jumlah uang untuk pakaian, sangatlah wajar, dan aku tidak akan mendebat bagaimana dia menghabiskan uangnya. Aku tidak bisa menghentikan otakku untuk menganggap ‘aku beruntung mendapatkan kontrak aneh ini dengan Steve dan Natsume’.


(Suara nada dering ponsel)


Aku beranjak ke kasurku, kemudian meraih ponselku yang tergeletak di sana sejak semalam. Aku melihat ada nama Steve di layar.


“Halo ?” Sapaku berusaha terdengar seramah mungkin.


“Aku sudah di bawah.” Ujar suara di seberang tanpa basa-basi terlebih dahulu.


Aku menurunkan ponselku sebentar untuk melihat penunjuk jam yang ada di pojok layar.


06:30.


Steve tiba tepat waktu, namun aku bahkan belum selesai dengan riasanku.


“Lima menit lagi, aku turun.” Kataku.


“Oke.” Jawab Steve singkat, lalu dia memutus panggilan telepon kami.


Aku menatap layarku dongkol.


Steve menepati janjinya untuk menjemputku pagi ini, langsung di depan rumahku. Aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau tidak mendapat perlakuan seperti ini dari Direkturku sendiri. Maksudku, rasanya sedikit aneh dan canggung. Aku juga masih memilik persoalan lain, yaitu menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang mungkin akan ditanyakan orang-orang kantor kepadaku.


Sekali lagi, aku melihat bayanganku yang ada di cermin. Aku mendekat ke cermin. Wajahku benar-benar ‘polos’. Steve sudah menunggu di depan rumah, tidak ada cukup waktu untuk berdandan. Membuatnya menjemputku di sini saja sudah cukup buruk, aku tidak akan membiarkan Direktur menungguku terlalu lama.


Aku memasukkan tas make-up ku kedalam ranselku, lalu mencabut kabel charger, memasukkannya ke dalam tas, dan bergegas ke luar kamar. Ketika melewati dapur, aku masih sempat mengambil sisa spring roll-ku yang belum habis sejak dua hari yang lalu. Aku tidak punya cukup waktu untuk memasak di pagi hari. Memakan sisa makanan yang kubuat, sebelumnya, adalah jalan ninjaku.


Lima menit tepat. Aku sudah berdiri di samping pintu mobil Steve.


“Hai.” Sapaku seadanya ketika kaca mobil diturunkan.

__ADS_1


“Ayo naik.” Ucapnya tanpa membalas salamku terlebih dahulu.


Aku mengangguk, kemudian berlari kecil mengitari bagian depan mobil, lalu masuk ke dalamnya.


“Kamu sudah sarapan?” Tanya steve sembari mulai melajukan mobilnya pelan.


Aku menunjukkan spring roll yang ada ditanganku kepada Steve. Kedua mata Steve tetap fokus melihat kedepan, namun aku bisa menangkap sepersekian detik ekor matanya melirik ke arah spring roll-ku.


“Sempet ya kamu bikin spring roll dulu, sebelum berangkat.” Ucap Steve. Aku bisa mendengar ada sedikit nada pujian di sana.


Respon Steve akan segera berubah setelah ini. Aku yakin.


“Ini spring roll sisa kemarin.” kataku menimpali.


Steve diam.


"Maksudku, dua hari yang lalu." Aku meralat ucapanku.


Satu detik, dua detik, tidak ada respon dari Steve. Aku menoleh lagi ke arahnya. Steve tidak bergeming. Aku menghela napas panjang sekali lalu bergerak membuka mulutku.


“Ihh! Kenapa?” Tanyaku.


“Di kursi belakang ada kotak makan, kamu ambil.” Pinta Steve sembari tetap fokus pada kemudinya. "Aku mungkin akan membiarkanmu tetap memakan itu jika memang itu sisa makanan semalan. Akan ku toleransi. Tapi kamu bilang itu sisa dua hari yang lalu, yang benar saja."


Tanpa mendebat, aku langsung mengikuti perkataan Steve. Tanganku meraba-raba kursi di belakangku selama beberapa saat. Aku menemukan sebuah kotak berukuran cukup besar untuk dapat di sebut sebagai kotak makan untuk satu orang. Itu seperti kotak bekal untuk piknik.


Aku mengamati kotak bekal itu sekali lagi. Ada tiga susun di sana. Tanpa aba-aba, aku membuka susunan pertama. Dua gulungan kimbab menyapaku dengan godaan mautnya.


“Itu kimbabnya bisa kamu makan semua.” Ucap Steve.


“Kamu bikin sendiri?” Tanyaku.


“Enggaklah. Tadi aku minta si ‘embak’ bikinin bekel.” Jawab Steve. “Kalo bawahnya kamu buka lagi, itu ditengah isinya salad alpukat, bawahnya lagi buah.” Lanjut Steve.

__ADS_1


Wow! Sekarang aku tahu dari mana bentuk tubuh bagus Steve berasal. Sepertinya dia menjaga makanannya denga baik. Aku penasaran apakah dia juga melakukan olahraga pembentukan otot yang biasanya anak-anak orang kaya lakukan. Memperindah bentuk tubuh mereka, dengan menghabiskan waktu lebih banyak di gym.


“Aku ambil kimbab-ya satu, ya?”


“Makan aja.” Ujar Steve.


“Kamu mau aku suapin, juga?” Tanyaku, dan langsung kusesali mengapa aku menawarkan hal yang tidak umum dilakukan oleh dua orang yang baru saling mengenal. Dasar Cheryl tidak tahu diri! Aku merutuk diriku sendiri.


“Boleh.”


Degh! Percayalah jantungku benar-benar berdegub tak karuan.


“Cher...”


Aku menurunkan pembungkus kertas yang melapisi kimbabnya, kemudian dengan tangan yang gemetaran, aku mendekatkan kimbab itu ke dekat mulut Steve. Dia langsung lahap kimbab itu dengan satu gigitan besar.


Aku melirik Steve dengan bingung. Apakah aku harus memakan kimbab yang sama dengan steve, atau mengambil kimbab yang satu lagi. Aku sebenarnya tidak keberatan memakan bekas gigitan orang lain yang kukenal. Terkadang Hendra juga memakan makanan bekas gigitanku. Namun, membiarkan Steve, Direktur, boss, pemberi gaji-ku, memakan sisa gigitanku, rasanya sangat tidak sopan.


“Aku makan yang satu lagi, ya?” Tanyaku, meminta persetujuan Steve sebelum mengambil kimbab yang masih berada di dalam kotak.


“Kalo kamu keberatan makan bekas gigitanku, ambil yang baru juga nggak apa-apa.” Kata Steve setelah menelan seluruh makanannya di mulut.


“Bukan gitu, kamu kan Direktur, aku staff biasa.”


“Lalu?”


“Jika aku makan kimbab yang ini, nanti ada bekas gigitanku. Rasanya nggak sopan.” Kataku pelan.


Steve tergelak. “Apakah kamu ada riwayat penyakit menular?” Tanya Steve tiba-tiba setelah dia selesai tertawa. "Hepatitis misalnya?" Imbuhnya lagi.


Aku menggeleng.


“Good. Sekarang kamu makan itu saja, biar tanganmu juga nggak repot megang yang lain.” Ujar Steve sembari tangannya mengacak-acak rambutku pelan.

__ADS_1


Aku tidak pernah bekerja di tempat lain sebelum ini, aku juga tidak pernah berkenalan, apalagi dekat dengan pria yang menyandang status tinggi dalam karirnya. Aku tidak ingin batasan yang seharusnya tidak kulewati, malah kuterjang begitu saja. Ah! Aku mengenal satu orang. Pria yang meninggalkanku karena tingkat jabatan kami yang berbeda. Aku akan menceritakannya lain waktu jika aku bertemu dengannya.


***


__ADS_2