Grand King And His Interpreter

Grand King And His Interpreter
Bab 2 - Natsume


__ADS_3

“Apa bedanya nanti dengan sekarang?” Tanya Hendra sembari menyodorkan setumpuk kertas kepadaku.


“Huh? Apanya?” Aku balik bertanya, lalu mengambil tumpukan kertas dari tangan Hendra. Aku membolak-balik tiap lembar kertas yang diberikan olehnya. Employee Satisfaction Form tercetak besar dibagian atas kertas, dengan beberapa pertanyaan dan kolom kritik dan saran mengikuti di bawahnya.


“Oh ya, tolong berikan juga pada Sam dan Meiga. Aku tidak melihat mereka dimanapun sejak pagi.”ujar Hendra, mulai sibuk dengan kertas-kertas lain di mejanya.


Aku menggeser kursiku kesamping kursi miliki Hendra. “Bisakah aku menggunakan form ini untuk menyampaikan keluh kesah, atas tindakan semena-mena calon Direktur baru kita?” Tanyaku asal. Rasa kesal membuncah dan memenuhi isi kepalaku.


“Apakah menurutmu kritik dari calon mantan staff sepertimu ini, berpengaruh?” Hendra menimpali, tanpa melihat kearahku.


Aku mencubit lengannya cukup keras.


“Aww!!”Hendra menjerit. “Hei! Apa yang salah? Kamu sendiri yang ingin mengundurkan diri. Kenapa mencubitku??"


“Aku ingin meninggalkan kesan yang baik, dan keluar tanpa meninggalkan masalah. Aku ingin mendapat exit interview dari Pak David, karena aku benar-benar menaruh respect besar kepadanya.”jelasku.


“Oh!! Aku  lupa kasih tau kamu,” Hendra memutar kursinya, kini kami saling berhadapan, “Pak Steve bukan lagi calon direktur, seminggu lagi namaya akan muncul dalam akta perusahaan dengan jabatan sebagai Direktur.” Ujarnya terdengar excited.


“Huh?Serius? Sepertinya sebentar lagi aku akan benar-benar pindah section.” Kataku seraya menggeser kursiku kembali kedekat mejaku.


“Kenapa? Bukannya memang itu maumu, agar tidak lagi berada dibawah Pak Evan dan assistant manager kesayangannya, Mr.‘Ye-em’?Hendra menimpali lagi.


Mr.YM adalah singkatan dari Yes Man, nama yang kami sematkan untuk assistant manager super rese, yang sanggup membuatku malas mandi dipagi hari. Kenapa? Karena aku mulai malas datang ke kantor. Kalimat-kalimat aneh, saran-saran aneh yang tidak solutif membuatku hampir gila. Nama Mr.YM ini sebenarnya adalah Pak Aldy. Ini adalah anggapan kami, aku, Hendra dan Sam, bahwa Pak Aldy memiliki semboyan ‘asal bapak senang’.


Sebenarnya pemarkasa penamaan ini adalah Hendra dan Sam. Mereka berdua memiliki history yang sangat membuatku kagum, hingga mereka sampai kepada titik, ‘terserah’ . Hendra dan Sam pernah berada di satu department sama, department tempatku berada sekarang. Jadi, seberapa deritaku disini, sedikit-banyak mereka telah merasakannya.


“Cher, kamu ada hubungan apa dengan Pak Steve?” Sam tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu tanpa kusadari.


“Sam! Jangan berdiri disitu.” Hendra melotot ke arah Sam.


Sam tidak membantah, dan langsung menuruti ucapan Hendra. Sam menarik kursi yang bersebrangan dengan Hendra, lalu duduk disana.


“Jadi, bagaimana?” Tanya Sam kepadaku.


“Tentu saja tidak ada.” Jawabku cepat. “Lagipula, kenapa tanya begitu?” Tanyaku kemudian.


Sam terlihat lega dengan jawabanku.


Sam dan Hendra telah berteman sejak mereka bertemu saat panggilan interview di perusahaan ini. Lalu mereka berdua secara bersamaan diterima, dan bekerja dibawah atasan yang sama. Berselang dua minggu mereka bekerja, aku ikut bergabung di perusahaan ini.


“Anak-anak melihatmu berduaan di ruang rekreasi.”Jawab Sam kemudian menggeser kursinya berdekatan denganku.


Aku tergelak. Bagaimana bisa mereka berpikir aku memiliki affair dengan seorang pewaris dari Mahawira Group. Maksudku, Steve adalah boss dari para boss. Mencoba membayangkannya saja aku tidak berani.


“Pulang kantor nanti jalan yuk..” Ajak Sam sembari memutar kursinya ditempat.


“Cafe biasa?” Tanya Hendra menimpali.


“Aku terserah Cheryl...” Balas Sam


Aku menghela napas panjang, lalu kujawab, “Aku ingin makan es krim coklat..” Kataku.


Sam tertawa sebentar, sebelah tangannya mengusap-usap kepalaku, “Baiklah, terserah kamu saja.”


“Kenapa tidak meminta pendapatku?”


Aku diam saja menunggu Sam menjawab pertanyaan Hendra.


“Pendapatmu tidak terlalu penting di sini.” Timpal Sam mencoba terlihat serius. Detik berikutnya ada benda melayang mengenai pelipisnya.


Hendra baru akan membuka mulutnya untuk mulai mendebat Sam ketika suara decit pintu membuat kami menoleh ke arah yang sama. Sosok tidak terduga berdiri di sana. Steve. Badannya tinggi menjulang membuatnya cukup menarik perhatian beberapa rekan kantor yang lewat dibelakangnya.


“Cheryl.” Steve berjalan mendekat kearahku kemudian menyerahkan beberapa dokumen. Aku baru akan mengulurkan tangan untuk menerima dokumen itu, ia menjatuhkannya di atas meja.

__ADS_1


Aku menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan. “Dokumen ini harus saya apakan, Pak?” Tanyaku berusaha terdengar normal.


“Saya ingin kamu lembur untuk cek dokumen-dokumen ini.” Jawab Steve. Ekpresinya masih tidak berubah. Datar dan cenderung terkesan dingin.


Aku yang tidak bisa menolak hanya bisa menjawab, “Baik, Pak..”


Setelah mendengar jawabanku, Steve langsung beranjak keluar dari ruangan, namun ia tak lupa memberikan senyuman tertampannya kepada Hendra dan Sam. Hendra dan Sam langsung berdiri dan membungkuk sedikit, seolah secara sistematis otak mereka mengendalikan tubuh mereka secara bersamaan.


“Sepertinya acara nongkrong kita batal, Cher.” Ujar Hendra seraya menggeser kursinya ke dekatku. Hendra mengambil map dokumen yang ada di depanku.


“Cheryl!” Suara lantang Steve membuat seisi ruangan menoleh ke pintu.


“Iya, pak?” Mataku mengerjab beberapa kali. Kupikir Steve sudah benar-benar pergi.


“Dokumen yang kamu terima tadi, hanya boleh kamu saja yang melihatnya.” Lanjut Steve.


Aku buru-buru mengambil kembali dokumen di tangan Hendra secara serabutan dan refleks mendekapnya di depan dada, lalu mengambil posisi hormat dengan tangan kanan di pelipis.


“Siap, Pak.” Kataku tegas.


Kekuatan seorang pewaris tahta memang berbeda. Steve memiliki aura yang tidak banyak orang miliki. Seperti atmosfer aneh yang dapat mengintimidasimu. Tentu saja fator utamanya adalah kekuasaan dan uang, karena ia adalah anak dari pemilik perusahaan ini. Namun, aku merasa ia memiliki hal yang lebih dari itu.


Steve tidak merespon apapun. Ia langsung beranjak dari ruanganku setelah menutup pintu. Aku menghela napas panjang. Itu adalah menit-menit pendek yang menegangkan. Aku juga belum melihat apa isi map yang dibawa Steve, tapi sepertinya ini adalah dokumen rahasia.


“Cher, aku lihat dokumennya. Steve kan sudah pergi.” Sam mendekat ke arahku. Ia baru akan bergerak mengambil map dari tanganku, namun aku bergerak mundur. Sam mengernyitkan dahi. Ekspresinya berubah, dan terlihat tidak senang.


“Nggak ada yang boleh tahu isi dokumen ini.” Kataku sembari duduk kembali di kursiku. Aku merapikan beberapa berkas-berkas di atas mejaku, lalu menyusunnya kembali dengan map dokumen dari Steve berada di bagian paling bawah.


“Terserahlah.”Ujar Sam terdengar merajuk.


Aku menoleh ke arah Hendra.


Hendra menghela napas panjang. “Sam, jangan kayak anak kecil dong.” Ujarnya lalu berdiri, kemudian menepuk-nepuk pundak Sam.


Hubungan manusia memang serumit ini. Kadang aku juga tidak memahaminya dan kadang bingung harus mengambil sikap bagaimana. Lingkungan seperti ini yang selalu kuhindari. Cukup sudah aku menjadi kambing hitam orang-orang di sekelilingku. Mungkin mereka pikir aku saja yang terlalu bawa perasaan, terlalu kaku, dan tidak bisa santai. Sama sekali bukan.


Beberapa orang selalu mengamankan posisinya agar baik di mata atasan, terutama Direktur. Namun, cara yang benar adalah dengan bekerja sebaik mungkin, bukan dengan menjadikan orang lain sebagai tumbal. Meskipun pindah ke perusahaan lain juga tidak menjamin aku tidak diperlakukan seperti ini, setidaknya aku harus mencobanya untuk tahu.


“Maaf, Sam” Kataku lirih.


Sam menepis tangan Hendra dari bahunya. Dengan tatapan kesal, Sam keluar dari ruangan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun.


“Sudahlah, biarkan saja dia.” Ujar Hendra berusaha menghiburku.


Aku hanya mengguk, kemudian berkata, “Maaf Hen, aku juga ngga bisa kasih tahu kamu isi dari map ini. Kamu kan tahu, aku sebentar lagi akan resign.”


Hendra tersenyum sambil menepuk-nepuk punggunggku cukup keras.


“Sakit, Hen!” Seruku, lalu mencubit pinggang Hendra.


Hendra mengaduh sebentar lalu tertawa. Andaikan semua orang seperti Hendra yang mudah untuk diajak berkopromi dan tidak pernah mengkambing hitamkan orang lain.


***


Sesuai dengan janjiku kepada Steve. Aku tetap berada di kantor untuk mengerjakan apa yang diperintahkan olehnya. Sudah empat puluh lima menit sejak jam pulang kantor. Hendra sudah sejak tiga puluh menit yang lalu meninggalkan kantor. Alasannya adalah, Istri tersayangnya ingin makan di luar. Sepertinya tanpa harus aku yang membatalkan rencana nongkrong kami, pada akhirnya acara kami akan batal karena tentu saja Hendra akan mendahulukan keinginan istrinya. Itu tidak aneh.


Aku membuka isi map. Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen perjanjian. Aku meletakkan tiap-tiap lembarnya secara terpisah. Mengamati isinya satu-persatu sembari sesekali berhenti membaca, karena ada kata yang tidak kupahami. Aku membuka aplikasi kamus di ponselku. Butuh sepuluh menit sampai aku benar-benar dapat mencerna isi semua dokumen itu.


Aku penasaran, darimana semua dokumen ini berasal. Maksudku, dokumen yang ada ditanganku saat ini, merupakan dokumen yang tahunnya sudah lebih dari lima belas tahun. Bagaimana bisa Steve menemukan dokumen semacam ini, sementara ia baru bergabung di perusahaan ini kurang dari setahun.


Kring!Tiba-tiba telepon di mejaku berbunyi. Aku segera mengangkatnya.


“Halo.”sapaku berusaha terdengar seramah mungkin.

__ADS_1


“Cheryl, tolong kamu keruangan saya ya. Kamu bawa juga dokumennya.” Ujar suara diseberang yang sudah tidak lagi asing di telingaku. Steve.


“Baik, Pak.” Balasku cepat.


Detik kemudian telepon terputus.


Aku dengan segera merapikan dokumen yang ada di atas meja. Memasukkannya kembali kedalam map, seperti semula, lalu bergegas menuju ruangan Steve.


Ruangan Steve berada di ujung lorong tidak jauh dari ruanganku. Aku mengetuk pintunya beberapa kali. Menunggu sampai dipersilahkan untuk masuk ke dalam.


“Masuk.” Ujar suara dari dalamnya.


Aku membuka pintu di depanku,“Permisi, Pak...” Kataku sambil menutup pintu di belakangku.


Steve tidak sendirian di ruangan itu. Seorang pria dengan kemeja biru muda bergaris putih berdiri tepat dibelakang Steve. Ia tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya sembari membungkukkan badanku sedikit. Aku tidak pernah melihat pria itu berseliweran di kantor. Sepertinya ia adalah orang dari kantor pusat, kolega Steve, atau mungkin saudaranya. Entahlah. Pria itu cukup tinggi. Tingginya kurang-lebih sama dengan Steve. Rambutnya ditata rapi kebelakang, khas gaya rambut seorang bos yang rapi-jali. Umurnya jika kuperkirakan, sekitar 28 tahun.


“Apakah kamu sudah menerjemahkannya?” Tanya Steve to the point.


“Belum saya tulis, pak. Tapi saya sudah memahami isi dokumen perjanjian ini.” Jelasku. Semoga Steve tidak marah karena aku tidak langsung menerjemahkannya.


“Baiklah, sekarang jelaskan.”


“Jadi...”


“Kamu duduk saja, ngapain berdiri di situ?” Steve menunjuk ke arah kursi kosong di seberang mejanya.


Tanpa ba-bi-bu, aku langsung duduk dikursi itu. Jemariku saling bertaut, karena sejujurnya aku juga merasa grogi.


“Saya mulai jelaskan dari halaman yang pertama,” Aku membuka penjelasanku. “Terkait dengan hubungan kerja antara Machine Steel, Mahawira Auto Part memberikan nilai investasi untuk pengembangan sebesar Lima puluh milyar dengan royalti keuntungan yang dibayarkan tiap tahunnya sebesar lima belas milyar.”jelasku.


Steve tidak bergeming. Aku memutuskan untuk melanjutkan penjelasanku.


“Investasi mesin baru sudah termasuk dalam biaya operasional perusahaan, dan royalti yang diterima merupakan keuntungan bersih dari penjualan setiap tahunnya.”lanjutku.


“Itu pada tahun berapa?” Tanya Steve.


“1998,pak.”Jawabku singkat.


“Sejauh yang kuingat, aku selalu menandatangani dokumen pembayaran unuk investment sejumlah tiga milyar.”Ujar pria yang berada dibelakang Steve dengan menggunakan bahasa jepangnya.


Sudah kuduga, pria itu pasti bukan orang Indonesia, karena kulitnya jauh lebih putih dari Steve yang bahkan menurutku sudah sangat putih untuk ukuran orang Indonesia.


“Dari seluruh dokumen ini, tidak ada perjanjian terkait dengan pembayaran investasi. Dokumen kedua hanya berisikan total nilai saham antara Mahawira dan Machine Steel. Sementara dokumen ketiga adalah terkait ketentuan jika Machine steel tidak membayarkan royalti kepada Mahawira.”jelasku lagi.


“Cheryl, apakah kamu lihat ada Natsume yang sejak tadi berdiri di sini?” Tanya Steve tiba-tiba.


“Lihat, pak.”jawabku bingung.


Steve menghela napas panjang kemudian menyandarkan badannya pada sandaran kursi sambil meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala sebagai bantalannya.


Tidakkah ia baru saja melontarkan pertanyaan yang sedikit aneh dan juga kasar? Maksudknu bagaimana bisa ia bertanya apakah aku melihat seseorangan yang sudah jelas-jelas berdiri di belakangnya sejak aku masuk. Apakah Steve pikir aku sudah rabun? Atau ia yang terlalu sombong sampai ia berharap semua orang hanya melihat dan peduli kepadanya? Angkuh sekali.


“Apa kamu juga mendengar Natsume berbicara?” Tanya Steve lagi.


Ya Tuhan! Aku tidak mengerti lagi. Apakah Steve juga menganggap bahwa aku tuli? Tidak. Tentu saja tidak. Keangkuhan. Apakah menurutnya suara-suara lain tidak penting baginya? Aku benar-benar harus bisa menahan emosiku.


“Saya dengar, Pak.” Jawabku.


Lagi-lagi Steve menghela napas panjang. Sebenarnya ada beban berat apa di hidupnya hari ini. Lalu, pertanyaan-pertanyaan anehnya membuatku tidak nyaman.


“Dia adalah yang seharusnya tidak kamu lihat dan tidak kamu dengar, Cher.”


***

__ADS_1


__ADS_2