
Natsume tidak pernah muncul selama hampir satu pekan lebih. Bahkan Steve sudah cukup panik, takut terjadi apa-apa dengan Steve. Selama seminggu penuh aku dan Steve sibuk mengumpulkan banyak dokumen perjanjian yang pernah ditandatangani oleh Natsume. Dokumen-dokumen yang mungkin dapat membantu menjawab semua pertanyaan Steve tentang perusahaan yang adem-ayem ini.
Kami masih belum menemukan apapun. Satu-satunya tempat yang belum terjamah laporan keuangan adalah dari Direktur keuangan lama sebelum Pak David menjabat direktur di tempat ini. Kami juga harus menghadapi masalah lain, karena permasalahan keuangan akan langsung menyeret keluarga lain di Mahawira.
“Siang nanti kamu ikut aku meeting di Harness Parts Mahawira.” Ujar Steve tanpa melihat ke arahku. Dia fokus menarikan jarinya di atas keyboard latopnya.
Sudah hampir satu jam Steve mendiamkanku. Dia seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Steve bahkan memindahkanku ke ruangannya untuk menerjemahkan banyak dokumennya. Pak David juga setuju saja ketika Steve memintaku untuk menjadi interpreter di semua meeting direksi. Hal itu memuncuklan gejolak lain di antara sesama interpreter yang lain. Aku bahkan belum selesai menjelaskan hubunganku dengan Steve, kepada Hendra dan Sam.
“Aku barusan forward email dari Mr.Takemitsu.” Ucap Steve singkat, kemudian dia kembali menekuni kesibukannya dengan laptopnya.
“Baik, pak.” Kataku.
Aku baru saja dilepas tugaskan dari department quality, sejak tiga hari yang lalu. Aku juga tidak tahu siapa yang memutuskanku untuk fokus menjadi sekretaris Steve. Setidaknya pekerjaanku menjadi lebih ringan dalam beberapa hal, aku tidak perlu mengecek barang-barang di final check. Aku juga tidak perlu berususan dengan orang-orang rese. Tapi untuk beberapa alasan lain, punggunggku tetap tidak merasa ringan sedikitpun.
Tuhan seolah mengatur jalan lain agar aku tidak berhenti dari perusahaan ini. Kejutan apa yang akan kudapat setelah ini. Entah kenapa membuatku sedikit tidak tenang.
***
Hendra dan Sam berusaha ‘menyekapku’, ketika aku lewat di depan ruangannya. Hendra menarik lengaku dari celah pintu yang sengaja dibuka oleh Sam. Aku hampir memukul mereka berdua dengan dokumen tebal yang kubawa. Jika kuingat kembali, setelah aku selalu sering menempel pada Steve, intensitas obrolanku dengan Hendra dan Sam menjadi jauh berkurang.
“Kalian kenapa sih?!” tanyaku kesal. Mereka berdua benar-benar membuatku kaget.
“Kamu mau kemana?” Hendra balik bertanya dengan memasang raut wajah serius.
“Aku ada meeting di luar.” Jawabku jujur.
“Kamu sering banget ya, akhir-akhir ini pulang bareng sama Pak Steve.” Ujar Sam.
“Nggak lebih dari urusan kerjaan.” Kataku.
__ADS_1
“Kamu tahu nggak sih, kalau desas-desus kamu jadi simpanan Pak steve beredar luas di antara kalangan staff ?” Sam menimplai lagi.
“Huh? Memangnya Pak Seteve sudah menikah?” tanyaku bingung. “Dan lagi, tidakkah menurutmu selera Pak Steve harusnya seperti model majalah fashion?” imbuhku.
“Benar juga sih, kalo itu.” Ucap Sam.
Responnya benar-benar membuatku kesal. “Udah ah, aku udah ditungguin di bawah nih.” kataku seraya menarik gagang pintu.
“Entar malem jalan yuk.” Ucap Sam.
“Sori, aku hari ini nggak bawa mobi dan kayaknya aku juga bakalan pulang malem.” Kataku menyesal.
“Ah, kamu nggak asik Cher.” Ucap Sam. Raut kekesalannya tidak dapat disembunyikan.
“Mau gimana lagi, aku ada kerjaan di luar.” Kataku.
“Emang sih, kalo nongkrong sama kita, tempatnya nggak semewah tempat makan yang kamu kunjungi bareng Pak Steve.”
Krieet! Suara decit pintu membuatku kaget. Aku bergeser ke samping, menjauhi pintu agar tidak menghalangi orang yang akan masuk. Fania muncul dari balik pintu. Wajahnya sangat sinis ketika melihatku.
“Kamu pakai pelet apa sih?” tanya Fania dengan nada sinis.
“Huh?!” Aku bingung.
“Fan, kamu ngomong apa sih?” Hendra memegangi bahu Fania dan mendorong tubuhnya menjauhiku.
“Gila ya, kamu open BO?” Tanya Fania lagi.
“Haah?!!” Aku benar benar tidak mengerti apa yang dimaksud Fania.
__ADS_1
“Fan, kamu keterlaluan.” Ujar Hendra membelaku.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Fania maksud dengan open BO, tapi sepertinya itu berkonotasi jelek, jika aku menyangkut-pautkannya dengan kata ‘pelet’.
Aku hanya akrab dengan beberapa orang di kantor. Aku juga berusaha sebisa mungkin untuk tidak memulai atau menimbulkan perselisihan apapun di kalangan staff, termasuk dengan bagian interpreter. Maksudku, aku tidak akan masuk ke ranah yang bukan tempatku.
Fania adalah salah satu interpreter (penerjemah) yang ada di kantor kami untuk keperluan tenaga kerja asing yang sedang di tempatkan di tempat ini. Sampai tiga hari yang lalu, posisiku adalah Quality Assurance, aku tidak pernah mengambil pekerjaan orang lain, kecuali perintah dari direktur.
Bisa jadi Fania cemburu dengan kedekatanku dan Steve, meskipun sebenarnya segala tuduhan dan fitnah yang mungkin ada di kepalanya saat ini berbandig terbalik dengan yang sebenarnya terjadi.
“Aku nggak ngerti maksud dari open BO sendiri itu seperti apa. Aku juga tidak pakai pelet apapun, kepada siapapun, untuk tujuan apapun.” Jelasku santai. Aku tidak ada keinginan untuk mendebatnya.
“Terus kenapa kamu tiba-tiba bisa dekat dengan Pak Steve?” Tanya Fania lagi, masih dengan tampangnya yang kesal solah aku telah berbuat kasar kepadanya.
Aku mulai bisa menangkap arah pembicaraan ini. Pasti Fania ingin membahas rumor aneh tentangku dan dan Steve. Rupanya aku telah menjadi bahan gosip. Aku tidak akan mengklarifikasi apapun atau menjelaskan apapun kepada makhluk ingin tahu ini.
“Apakah kamu diterima di sini, kemudian menjadi interpreter yang bisa dekat Kinoshita-san, adalah hasil pelet?” Aku balik menyerangnya.
Kinoshita adalah salah satu tenaga kerja asing yang diperbantukan oleh kantor Jepang, untuk di tempatkan di Indonesia. Sejak saat itu, Fania selalu mendampingin manager produksi itu, dan akupun tidak pernah sampai mempertanyakan kenapa mereka bisa menjadi dekat satu-sama lain. Aku bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu.
“Kamu ya!” Seru Fania kesal. Dia mendorong tubuhku hingga terhuyung ke belakang.
“Kamu ada masalah apa sih sama aku?” Tanyaku akhirnya. “Kerja ya udah kerja aja, Fan. Kinerja bagus pasti dipertimbangkan, kalo enggak cari di luar lagi, banyak. Kamu butuh cari muka ke siapa sih?” Aku benar-benar mulai kesal.
Harusnya Fania tidak seenaknya menuduhku seolah aku sengaja dekat dengan Steve. Jika saja aku bisa mengungkapkan alasan mengapa aku masih terjebak di kantor ini, kurasa mereka juga tidak akan percaya. Aku juga telah sepakat untuk tidak membocorkan tentang Natsume atau apapun yang sedang menjadi concern bagi Steve.
Krieet! Suara decit pintu membuat kami semua menoleh.
Orang yang tidak disangka-sangka, muncul dari balik pintu.
__ADS_1
***