
Steve masuk ke dalam ruangan tanpa berkata apapun. Selama sepersekian detik, dia hanya menatapku, dan dengan setengah wajah kesal dengan isyarat 'aku sudah menunggu di bawah sejak tadi'. Aku melihat ke arah arloji dipergelangan tangan kiriku. Benar saja, aku sudah terlambat hampir sepuluh menit. Bodoh sekali aku karena tidak bijaksana dalam menghadapi Fania.
“Fania...” Steve memanggil Fania yang berada di samping Sam.
Langkah kaki Steve mendekati Fania, sampai mereka sangat dekat, kemudian Steve berhenti, kemudian berdiri di sana tanpa mengatakan sepatah katapun selama beberapa detik. Dia hanya mengamati Fania.
“Biasanya saya tidak pernah membahas apalagi peduli tentang rumor-rumor aneh tidak penting yang menyebar di kantor ini. Namun, sepertinya kali ini saya harus lebih peduli karena tindakan mengintimidasi seperti ini sangat tidak baik bagi perusahaan.” Jelas Steve.
Tidak ada yang bergeming.
“Sam, saya mungkin lebih tua dari Hendra, tapi saya belum menikah.” Ujar Steve.
“Maaf, Pak.” Sam menunduk dalam tidak berani beradu pandangan dengan Steve.
“Kalaupun saya dekat dengan Cheryl, dia bukan simpanan saya.” Ucap Steve pada Sam. Kini dia kembali menatap ke arah Fania. “Kamu, Fania, sebaiknya kamu kerjakan pekerjaanmu saja, tidak perlu memusingkan hal yang lain, apalagi memfitnah kolega satu kantor open BO, kamu secara tidak langsung menuduh saya berperilaku s*x bebas.” lanjut Steve tenang.
“Maaf, Pak.” Ujar Fania. Dia benar-benar tidak berkutik di hadapan Steve.
“Dan kamu, Hendra, buatkan surat peringatan 1 untuk dua orang ini, serahkan ke saya dulu biar saya cek, dan tolong serahkan ke manager mereka masing-masing setelah saya tanda tangani.” Ujar Steve.
“Baik, Pak.” Balas Hendra sigap.
Meskipun aku merasa kasihan dengan Sam dan Fania, tapi mereka pantas untuk mendapatkan itu. Mereka tidak berhak menilai orang lain rendah, ditambah mereka mengatakan semua tuduhan itu berdasarkan pada rumor yang tidak berdasar. Sejujurnya aku cukup kecewa pada Sam. Aku tidak pernah berpikir sebelumnya, Sam memiliki pemikiran buruk terhadapku seperti itu.
“Ayo, kita bisa terlambat.” Ucap Steve sembari menepuk bahuku lembut.
Steve keluar ruagan lebih dulu, kemudian aku mengekor di belakangnya tanpa mengatakan apapun kepada kedua temanku itu, dan juga Fania.
Entah sejak kapan Steve menguping pembicaraan kami dari luar ruangan. Aku bersyukur aku tidak perlu sampai menghadiahkan satu tinjuan mautku di wajah Fania, ataupun Sam.
Sepanjang perjalanan melewati lorong, hingga ke lobi depan, kami tidak berbicara apapun. Mobil sedan Steve sudah terparkir rapi persis di depan lobi. Seorang security berlari ke arah kami begitu melihat si tuam mobil datang. Dia menyerahkan kunci mobil kepada Steve.
“Uhm, saya bisa nyetir kok, pak.” Kataku sambil mengulurkan tanganku ke arah Steve agar dia menyerahkan kuncu mobilnya kepadaku.
Steve menatapku dengan wajah kesal. Apa yang salah?
“Biar saya aja yang bawa mobilnya, Pak. Tenang. Aman kok, pak.” Ucapku lagi berusaha meyakinkan Steve.
Steve tidak menggubris ucapanku dan malah meninggalkanku mematung, sementara Steve masuk ke dalam mobil.
“Ayo naik.” Perintah Steve dengan wajahnya yang serius.
__ADS_1
Aku menghela napas panjang, lalu bergerak menuruti permintaan Steve. Aku masuk ke dalam mobil, duduk di sampingnya. Mencoba menjadi penumpang yang baik, dengan tidak mendebat apapun perintahnya.
Steve membantuku memasak sabuk pengaman, setlah dia yakin tidak ada barang yang tertinggal, mobil meluncur perlahan menuju gerbang depan. Dua orang satpam dengan sigap membantu mengatur lalu lintas di depan gerbang, agar mobil Stve bisa melenggang dengan aman.
“Bukannya Sam itu teman dekatmu, ya?” Tanya Steve tiba-tiba tanpa menoleh ke arahku.
“Iya, Pak.” Jawabku singat.
“Steve.” Steve meralat ucapanku. “Kenapa dia bisa mengatakan hal yang menyakitkan itu dengan begitu santainya?”
Aku menoleh ke arah Steve, mencoba menebak-nebah suasana hatinya saat ini. Sepertinya di sedang kesal.
“Aku juga tidak tahu.” Kataku sekenanya.
Jujur, ucapan Sam yang menuduhku sebagagai simpanan Steve, cukup menjengkelkan. Tentu saja Sam bisa memulai dengan pertanyan lebih ringan, tanpa menyudutkanku seperti itu. Sakit? Tentu saja. Aku memang berniat menjelaskan kepada mereka tentang aku dan Steve tanpa memboncorkan sedikitpun rahasia antara aku, Steve, dan Natsume.
“Fania juga membuatku kesal. Bagaimana bisa dia mengucapkan kata-kata seperti itu kepada sesama perempuan?”
“Perempuan bisa lebih menyeramkan.” Kataku.
Steve menggeleng-gelengkan kepalanya sembil tetap menatap lurus ke jalanan. Kekesalannya nampak jelas di sana. Aku membiarkannya mengomel sesukanya. Sepertinya di perlu untuk menumpahkan itu semua.
***
“Cher.” Sentuhan dingin tangan Steve mengejutkanku.
Tangannya menggenggam jemari tangan kiriku. Wajahnya terlihat panik.
“Wajahmu pucat, tanganmu gemetar.” Steve nampak khawatir. “Kamu sakit?” Tanyanya lagi.
Kenangan tentang aku dan Gilang kembali membayang. Sobekan-sobekan kenangan itu sudah lama kuterbangkan jauh. Aku tidak ingin lagi mengingatnya.
Tidak lagi.
Aku tidak tahu jika Gilang bekerja di tempat ini. Ketika kami putus hubungan, aku berhenti menghubunginya, begitupun dengan Gilang. Kami benar-benar memutuskan untuk tidak saling bertukar kabar. Kisah kami selama dua tahun terpaksa berakhir karena keluarga Gilang menginginkan perempuan yang menjadi pasangannya memiliki lebih dari aku.
“Apakah aku perlu menundanya?” Tanya Steve. “Aku bisa menundanya sampai besok.” Lanjutnya.
Aku menggeleng. Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Aku baik-baik saja” Kataku. “Ayo.”
Aku berjalan di depan Steve. Steve mengekor di belakangku. Dia masih nampak khawatir. Aku profesional. Aku tidak akan membiarkan hal-hal personal mengganggu pekerjaanku.
__ADS_1
“Silahkan ke sini pak, bu.” Ucap salah seorang staff dari kantor tersebut.
Kami dibawa ke sebuah ruang meeting yang luas. Di sana sudah terdapat dua orang jepang yang sepertinya adalah bagian dari direksi, lalu beberapa staff lain mengitari meja.
“Pagi.”Sapa Steve singkat.
Semua orang berdiri menyambut kami. Steve menyalami dua orang jepang tersebut dan beberap staf yang berada di sekitar mereka.
“Steve.” Ujar Steve mantap.
“Masahiro.”
“Tadashi.”
“Ini sekretaris saya, Cheryl.” Ujar Steve memperkenalkanku pada Mr.Masahiro dan Mr.Tadashi menggunakan bahasa jepang yang fasih.
Steve lumayan mahir dalam percakapan namun dia tidak terlalu bisa membaca huruf-hurufnya.
Aku segera membungkuk setelah steve memperkenalkanku.
“Silahkan duduk.” Gilang mulai bersuara.
Aku melirik ke arahnya. Mencuri-curi pandang. Dia juga tidak mengatakan apapun tentang aku yang mantan pacarnya ini. Mungkin dia malu dengan jabatannya yang sekarang, jika dia pernah berkencan denganku.
“Kita sudah saling kenal, kan ya?” Tiba-tiba saja Gilang berpindah tempat duduk di sampingku. “Kami kenal baik.” Lanjutnya lalu tersenyum.
“Saya nggak pernah tahu kamu ada kenalan di sini?” Tanya Steve kepadaku.
“Saya juga tidak tahu jika KENALAN saya ini juga bekerja di sini.” Aku menekankan kembali ucapanku. Ternyata dugaanku salah.
Ah! Posisiku saat ini adalah sekretaris Direktur. Meskipun suaraku juga tidak banyak membantu dalam pembuat keputusan yang di ambil oleh Steve. Aku cukup bisa membuat obrolan-obrolan baik tentang perusahaan One Harness Parts, sehingga mereka bisa melenggang cantik masuk ke jajaran pemasok parts ke Harness Part Mahawira.
“Jangan-jangan Bu Cheryl ini mantan pacar pak Gilang,ya?” Staff yang lain menimpali, kemudian disusul suara riuh rendah orang-orang menggodaku dan Gilang.
Ini adalah mimpi buruk. Gilang sudah merendahkanku sebelum kami putus, dan apakah mennurutnya aku rela begitu saja disandingkan dengannya untuk kedua kali? Tidak. Aku ingin melawan orang-orang dengan berkata bahwa aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, dan aku juga tidak ingin dekat lagi dengan pria itu.
“Jadi, selain dia adalah sekretaris, dan penterjemah saya, Cheryl ini adalah pacar saya.” Ucap Steve tiba-tiba.
Seisi ruangan hening.
Aku? Pacar Steve?
__ADS_1
***
>Jangan lupa vote ceritaku ya.. tinggalkan komentar dan kritik kalian juga. Thank You.