
Rama datang kerumah dan langsung dipeluk hangat oleh ibu, perlakuan ibu lebih tulus kepada Rama dibanding Fei mungkin Rama merupakan anak sahabat ayah juga memang dari dulu Rama sudah dekat dengat kita dan hal ini yang membuat ibu lebih bisa menerima Rama, bahkan Rama satu-satu orang lain yang diajak ke makam ayah serta ikut jadwal keluarga makan disawah, lumpur terserah menempel di muka Rama dan kedua adikku saat bermain bola di lahan sawah kosong, tawa riang tepapar jelas dari mereka " Adit ayo " ajakan Rama yang membuatku berlari menuju mereka, ku ambil alih bola itu dan Rama kewalahan mengejarku sehingga beberapa kali dia terjatuh " Adit mainya pelan pelan kasian Rama " teriakan ibu memarahiku dan di lanjutkan ledekan Rama .
Sunguh menyenangkan hari ini andai Fei juga hadir disini mungkin lebih dari ini rasa bahagia yang ku peroleh.
Setelah Rama pulang ibu datang untuk menggodaku " Rama semakin cantik sekarang ya Dit , baik lagi "
" dan bisa main bola lagi bang " Adikku Angga ikut serta menggodaku
"iya buk trus kenapa "
" bang kok ngak peka sih, ibu itu ingin abang nikah sama ni Rama "Rina yang melipat baju juga ikut menyambung obrolan aku dan ibu
" eh anak kecil ikutan saja"
"hehehe"suara tawa angga saat aku menegor Rina
" Dit ,coba dipikirkan lagi "
" buk , ibu kan tahu sendiri kalau aku dan Rama adalah sahabat dari kecil dan tidak mungki menjadi lebih dari sekedar sahabat buk"
Sangat membingungkan dengan orang terdekatku yang berusaha untuk menyatukan aku dengan Rama tanpa mereka bertanya untuk siapa hati ini terpaut. Rindu yang membakar hati pada Fei yang tidak bisa aku temui dia dihari ini karena kehadiran Rama di rumah rasanya hati ingin berlari kerumah Fei untuk melihat wajahnya namun hujan deras menghalagi keingina aku malam, aku tunggu untuk menhentikan turun nya air di depan pintu namun dia tidak kasihan denganku yang merindu ini " kamu kemana sih nak, sampai harus menunggu hujan reda di depan pintu"
"ke tempat Fei buk "
" harus malam ini"
" ada keperlua buk"
" keperluan apa ,ngak bisa besok sudah malam dan hujan seperti itu lama redanya"
"baiklah buk"
Dengan berat hati aku terpaksa mengikuti kata ibu , beliaulah ridho tuhan yang harus ku patuh jika tidak ingin bencana datang menimpa.
Tiada ketenangan dihati ini seperti suara Fei memangil untuk menemuinya sehingga selepas kerja aku datang untuknya,
" buk "
" Radit untuk kamu kesini"
" kenapa buk"
"Fei demam panasnya ngak turun-turun "
Kawatir yang menggerakanku untuk terburu melihat keadaan Fei yang tidur terkapar di kamar ,badanya panas dan wajahnya memerah akibat suhu badan yang naik, udah dibawa kerumah sakit buk "
" belum tapi ibu udh memberikan obat untuknya "
__ADS_1
" buk tolong tukarkan air kompres ini dengan air hangat "
" mama ,pa , koko jangan tingalkan aku, jangan bakar keluargaku"
Fei terus saja mengigau menyebut nama keluarganya, mungkin mereka hadir dalam mimpi buruknya fei dan mengikatkan Fei tentang kejadian buruk itu,
" tenang Fei aku disini, aku akan selalu menjagamu "
Ku gegam tangannya dan mengelus lembut kepala fei agar dia tenang, kasian dengan gadis sebatang kara ini yang ternyata luka dimasa lalunya selalu menghantui bahkan di dalam tidurpun tidak bisa di bayangkan bila menjadi Fei, aku yang ditinggal pergi ayah dan kak Mira sudah merasa hancur apalagi dengan Fei yang ditinggal pergi seluruh anggota keluarganya tidak dibayangkan sehancur apa itu pasti sangat membekas dalam goresan luka,
" ini Radit air kompresnya"
" ya makasih buk Nuri "
" dari tadi ibuk udah mau bawa ke rumah sakit tapi Feinya ngak mau "
" nanti setelah di kompres jika panasnya ngak turun biar Radit yang bawa kerumah sakit"
Beberapa kali aku letakan handuk kecil hangat di kepala Fei agar bisa menurunkan suhu di badannya hingga aku tertidur dikursi,
" bang "
" oh fei kau sudah bangun, bagaimana apakah panasmu sudah turun"
Fei menganguk dan tersenyum ,matanya menatapku tulus dan berkaca-kaca " terimasih bang"
" terima kasih karena kau telah menjagaku "
" tidak perlu berterima kasih Fei ini sudah menjadi tugasku untuk menjagamu "
" eh nona kecil sudah bangun ,ini ibu masakan bubur "
" sini buk Radit suapkan "
"Nona sepertinya sudah sembuh sekarang , Radit hebat ya nona fei , tidak bisa menjaga negara tapi juga bisa menjaga wanita"
" hug hug " Fei tersedak dengan gurauan buk Nuri
" kenapa aku menyuapimu terlalu banyak "
"tidak , buk Nuri maaf tolong ambilkan minum"
" oh oya ibu lupa minumnya"
" bang hari sudah mulai gelap , pulanglah nanti ibu mencarimu "
" tidak , semalam ini aku ingin disini menjaga mu hingga benar -benar sembuh "
__ADS_1
" aku tidak apa - apa bang ,tidak enak jika di lingkungan minang seorang laki-laki dirumah wanita tampa ikatan apapun"
" iya Fei maaf harusnya aku ingat dengan adat di minang, baiklah Fei jaga dirimu dan aku akan kembali besok "
" salamku untuk ibu ya bang"
" ya dek "
" buk Nuri aku pulang dulu dan tolong titip Fei buk ,jika panasnya naik lagi kompres dengan air hangat lagi ya"
" ya dit "
Sebelum melangkahkan kakiku keluar ku aalihat kembali Fei karena rasa kawatir akan keadanya dan apabila dia jauh dariku itu akan semakin mebunuhku dalam kekawatiran ,setelah sampai diluar rumah aku kembali ke kamarnya ,
" kenapa kembali lagi bang"
" Fei aku lupa"
" lupa dengan apa "
" aku minta maaf dengan yang kemaren , soal aku yang melupakan janjiku kepadamu "
" oh itu , sudahlah bang aku sudah memaafkan kejadian kemaren"
" aku janji itu kesalahan yang terakhir"
" ya bang tidak perlu merasa bersalah begitu, seharusnya aku yang mengerti bahwa dunia mu bukan tentang kami saja "
Di dalam hatiku bergumam bahwa semenjak kehadiranmu di sini kembali hanya enkau yang bertahta di hidup dan duniaku, haruskah kau tahu Fei isi hatik, tapi aku takut jika rasaku membuat perubahan diantara kita dan lebih parah lagi jika nanti kau menjauh.
Lebih baik menyimpan rasa dari pada mengukapkan,aku bukan pengecut namun aku hanya takut jika berjalan tidak sesuai yang diinginkan,lagipula aku ditugaskan untuk menjagamu sesuai dengan pesan terakhir abangmu Fei, aku meninggalkan senyuman sebelum memutuskan bermamitan pulang,
" terimakasih telah memaafkan aku Fei ,jadi aku bisa pulang dengan tenang"
"mmmm? pulang dengan tenang ?"
"oh maksudku pulang kerumah tampa ada rasa bersalah "
" yah hati - hati bang"
Aku pulang dengan senyum bahagia tampak sinar surga dari wajahku dan buk Nuri menyaksikan rasa bahagiaku itu,"ermm udah pulang sana besok pagi kesini lagi"
"iya buk assalam mualaikum"
"wa alaikum salam"
__ADS_1