
Aku kembali ke Rumah setelah seluruh tanya yang memenuhi isi kepalaku selama ini terjawab sudah dengan kabar bahwa Fei masih hidup, lega ,senang dan penasaran bercampur jadi satu ,seperti apa Fei kecilku sekarang apakah dia baik-baik saja disana dan mungkinkah kembali kesini tanah yang telah menggoreskan luka di hidupnya ,
" buk tolonglah aku, kalau suamiku tidak keluar dari penjara, siapa yang menafkahi anak-anakku"
suara dari dalam rumah itu sepertinya aku mengenalnya, kak Ani dia menginjakan kaki lagi dirumah ini, tampak dari suara rintihanya butuh bantuan kami tapi haruskah aku menolong dia yang telah memberi aib pada keluarga dan mencoreng nama ibu di kalangan masyarakat kampung kami, aku masuk kerumah dengan salam dan tidak menghiraukan kak ani yang duduk bersama kedua anaknya .
" Radit" ibu mengikuti aku ke dapur
" kenapa dia kesini lagi buk, bukankah dia sendiri yang memutuskan pergi dari rumah "
" jangan seperti itu, bagaimanapun juga dia adalah kakakmu juga"
" hanya kakak tiri dan benalu di rumah ini "
__ADS_1
" Radit,jangan bicara keras-keras "
" buk aku pulang dulu ya " suara kak Ani dari ruang tamu yang menghentikan percakapan aku dan ibu " ya nak ,sebentar ".
Pada malamnya ibu kembali membujukku agar mau menolong kak Ani untuk mengeluarkan suaminya di dalam penjara, kak ani menikah dengan orang yang sifatnya cerminan dari ayah kandungnya, antara kasihan dan bersyukur karena akhirnya dia mendapat karma dari perbuatannya tetapi ibu selalu menggatakan dia saudaraku dan dia masih sedarah denganku itu yang membuat aku luluh untuk membantu dalam kesusahannya walau hatiku masih sakit karena dia ayah tiada.
Diruang polisi aku membawa keluarga yang telah ditipu oleh zal suaminya kak ani dengan tujuan untuk mencabut tututan terhadap kasus itu, beruntunglah keluarga itu mau diajak untuk bekerja sama dan pastinya aku harus mengeluarkan uang untuk jaminan ini, selesai mengurus kesulitan kak Ani lalu aku pandangi wajah dari kedua anak laki-laki yang bahagia karena ayah mereka telah keluar dari penjara, anak laki-laki yang besar mendatangiku dan mengucapkan terima kasih, aku elus kelapa bocah sembilan tahun itu yang wajahnya mirip sekali dengan ayahnya ," yak sama-sama, tapi satu pesan paman jangan meniru apa yang orang tuamu lakukan jadilah anak yang baik dan berguna ,dan paman titip tolong jaga adikmu ya nak "
" baik paman"
Hati seorang ibu tidak bisa diatur walaupun bekali-kali di kecewakan dengan anaknya itu dia tetap selalu membantu kak Ani walaupun aku selalu menjegahnya dan nampaknya kebaikan ibu selalu dimanfaatkan Kak Ani dan suaminya , di saat aku tidak ada dirumah kak Ani dan suaminya datang menemui ibu dengan wajah mengemis dia meminta bantuan berupa uang untuk usaha, perasaan seorang ibu yang tidak tega dengan rintihan anaknya ibu terpaksa mengadaikan tanah warisan untuk anaknya tampa sepengetahuanku, marah dan kecewa setelah Angga adik laki-lakiku memberi tahu tentang hal itu ,
" ibu, kenapa ibu tidak bilang padaku kalu ibu mengadaikan tanah "
__ADS_1
" iya kakakmu butuh bantuan "
" bu berapa kali Radit bilang ,kak Ani itu licik dia terus akan memafaatkan ibu"
" Dit cuma sekali ni aja kok"
Tidak ingin perdebat ini semakin panjan dan natinya malah menyakiti hati ibu lalu aku putuskan pergi berbicara pada Kak Ani
"kak kau butuh uang berapa"
" maaf aku minta tolong pada ibu karena tidak tahu lagi harus kemana"
" baiklah untuk kali ini aku membantumu tapi tolong setelah ini jangan pernah ganggu ibu lagi "
__ADS_1
Setelah meletakan uang diatas meja aku pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun,aku tidak benci dengan kakak tiriku tu tapi pada sikapnya yang membuatku dendam, dimulai karena ayahku meninggal karena ulahnya diwaktu Smp mecuri uang di sekolah dan hal ini membuat Ayah sangat malu serta kepikiran sehingga dia lengah lalu peluru itu masuk di rongga dadanya ,sesungguhnya ibuku belum tahu kenyataan itu dan jika aku memberi tahunya pastilah dia akan membenci kak Ani, biarlah untuk sementara waktu ku tutup rapat masa lalu yang menyedihkan itu.