
Rasa kecewa serta amarah semakin bertambah dan yang ada di benak Yu An sekarang adalah ingin pergi dari penjara pamanya, Yu An mengumpulkan semua perhiasan miliknya dan membongkar semua tabungan yang ia simpan bertahun-tahun, sepertinya keinginan untuk kabur sudah dia rencanakan dari dahulu hanya menunggu waktunya saja, kelelahan dalam hatinya mengatakan inilah waktunya.
Yu An pergi di tengah malam disaat semuanya telah tertidur, dia memberanikan diri pergi kepelabuhan seorang diri, ini kali pertama dia pergi kepelapuhan ditengah malam dan pastinya sedikit sekali orang di pelabuhan , " selamat siang nona ada bisa saya bantu" seorang nelayan menghampiri Yu An ditengah kebingungan, Yu An melihat laki-laki didepanya dengan perasaan takut dan kawatir jika dia anak buah Chou yang pastinya dia akan membawanya kembali pada Chou pikirnya dalam hati, dengan pekataan terpata-bata di menjawab tanya nelayan itu " aku ingin cari kapal penyeberangan"
" penyeberangan kemana nona" dengan sedikit takut Yu An kembali bertanya
" kau nelayan disini? "
" ya benar nona , saya nelayan disini"
"aku ingin ke indonesia adakah kapal penyeberangan kesana "
" tidak nona negara itu sangat jauh dari sini, jika nona ingin kesana nona bisa lewat darat dan melewati bebagai negara tetapi menepuh waktu yang lama atau nona bisa naik pesawat terbang dengan biaya sedikit mahal"
" bisakah kau membantuku, aku akan membayarmu seberapapun kau mau"
Dengan bantuan nelayan itu Yu An dapat menempuh jalur udara agar sampai dengan cepat menuju bandar udara malaisya setelah itu dia harus menempuh penyeberangan menuju batam dan riau,perjalan yang sangat melelahkan namun Yu An sedikit bernafas lega karena akhirnya dia bisa terbebas dari jeratan pamanya dan pastinya dia akan terbebas dari wajah chou dalam hidupnya.
Sebelum hari terakhir
Bukittinggi, Indonesia 1965
Toko Kelontong Koko Lung yang berbentuk ruko penyatuan toko dan rumah, toko yang sangat estentik dengan rancangan cina tempo dulu yang khas, Minggu di pagi hari ada keributan yang tercipta di toko oleh koko yang kesal karena melihat gula merah yang dia jual rusak seperti digigit tikus
" aiya kok bisa dangangan we begini? ,seperti dimakan tikus haiyiiaa tikus sialan , eh Ling Ling "
" apa lu nganngu we lagi masak aja"
" lu sini lah ,lihat gula merah kita dimakan tikus "
" kenapa bisa "
" ai lu tanya owe mana owe tahu"
" lu nya jarang bersih-bersih kali "
" jangan sebarangan lu, we bersih-bersih tiap hari, hah sudahlah we cari saja tikusnya biar we kasih goku ( anjing mereka) " koko mengambil sapu untuk senjata menangkap tikus karena geramnya dengan tikus yang dia anggap sebagai dalang rusak dangannya
__ADS_1
" mana lu sini lawan we"
Dihari yang bersamaan aku datang kerumah Jiang untuk mengajaknya bermain ke Ngarai sianok ,salah satu keajaiban Tuhan berupa aliran sungai dibawah jurang , melihat keributan yang sedang terjadi aku enggan masuk kedalam toko berutunglah cece Ling menyadari keberadaanku ,
" hey Adit sini masuk "
" ngak kok ce ,cuma cari Jiang aja "
" sebentar ya cece panggilkan dulu"
Aku duduk dikursi kayu tua sambil menunggu Jiang keluar dan tidak sengaja melihat ke arah tumpukan kotak kecap di sudut toko, ada yang aneh dibalik kotak itu karena tiba-tiba bergerak seperti ada seseorang dibelakanya, lalu aku memberanikan diri mendekati kotak itu untuk memeriksanya, aku sedikit terkejut karena ternyata ada gadis kecil dari anggota keluarga ini sedang bersebunyi di balik kotak, antara kanget dan tertawa aku melihat fei dengan mulut berlepotan oleh gula merah yang dimakannya secara diam-diam karena takut jika ayahnya mengetahui bahwa dia mencuri saka itu dari toko " hussss" kodenya untuk menyuruh diam agar keberadannya disana tidak diketahui oleh keluargganya,
" Radit " Jiang mengagetkan aku dari belakang
" Astafirulah Al azim Jiang kau membuat jantungku hampi copot "
" ya kamu ngapain disana "
" ngak, ngak ngapa ngapain ,ayok kita pergi sekarang "
aku mengalihkan perhatian Jiang agar dia tidak melihat fei yang sedang bersembunyi, tidak terlalu jauh jarak kami melangkah meningalkan toko, fei keluar dari persembunyianya dan berteriak memanggil kami
" koko.. ,abanggg" mulut munyil dengan teriakan melengking itu mampu membuat kami berhenti dan berbalik arah, badan kecilnya berayun-ayun berlari mendekati kami
" we mau main ke Ngarai"
" ikut...."
" jangan ,anak perempuan main dumah saja "
" ngak mau .., bang Adit Fei mau ikut" Fei merayuku serta memegang tangan dan menganyun-ayunnya yang membuat hatiku luluh
"biarkan saja Fei ikut dengan kita, biar aku yang menjaganya "
"baiklah, tapi minta izin dulu sama mama sana "
" oke ko "
Di perjalanan aku tidak melepaskan tangan Fei sedikitpun karena takut tubuh munyilnya terjatuh, Fei kecil dengan wajahnya lucu tidak berhenti tersenyum sedari awal perjalan kami, dipertengah perjalanan tiba-tiba Fei menghentikan langkah kakinya,
" ada apa Fei ?" Fei hanya terdiam matanya menatap kagum pada bunga yang tumbuh di tepi jalan, bunga kuning yang sedang mekar itu tampak cantik hingga mengalihkan pandangan Fei ,
__ADS_1
" bang bunganya cantik ya"
" ya Fei ,cantik seperti kamu"
" hehehe, makasih bang tapi boleh ngak Fei ambil bunga itu "
" jangan sentuh bunga itu, bagaimana kalau bunga itu beracun "ucap Jiang yang menahan keinginan Fei untuk mengambil bunga di tepi jalan itu, wajah ceria Fei berubah jadi cemberut yang membuat aku tidak tega dengan kesedihanya lalu aku bisikan ketelinganya agar dia kembali tersenyum " nanti abang ambilkan ya, ayo kita jalan lagi"
Dari sekian lelah kami akhirnya tergantikan setelah melihat aliran sungai dari Ngarai sianok tampak di pelupuk mataku, Fei melepaskan tanganku dan berlari karena tidak sabar ingin merasakan sejuknya air sungai
" Fei hati-hati, nanti jatuh Fei"
" ya ko"
Dibatu besar ditengah sungai aku dan Jiang beristirahat setelah bosan merasakan dinginya air, Jiang melihat di sekitar pemandangan pesona Ngarai sianok dan bunyi jankrik terdengar nyaring mengundara , bunyinya yang saling berpacu dengan derasnya air mungkin ini colaborasi alam yang sangat indah.
" Radit "
" ya ji"
" nanti kalau we pergi boleh ngak we nitip Fei"
" emangnya kamu mau pergi kemana "
"we mau ke china tempat paman we "
" berapa lama "
" we ngak tahu, we disuruh sama papa temanin adiknya disana karena mereka ngak punya anak"
" tapi china itu jauh kah ?"
" sangat jauh dit"
"berarti aku tidak bisa bertemu denga kau lagi"
Dikeseriusan pembicaraan kami tiba-tiba terdengar suara terjatuh dari Fei yang membuat kepanikan diantara aku dan Jiang ditambah lagi Fei yang menangis karena terluka
" koko sakit hik hiks"
" we udah bilang lu harus hati-hati kalau gini we bakalan kena marah sama mama"
__ADS_1
" Ji jangan marahin dia, Fei jangan nangis ya, lukanya ngak parah kok Fei nanti kita obati ya"