
TERGORES KEMBALI
Aroma yang sangat wangi bergetayangan di kamarku dan wanginya itu membuat aku lapar,ku langkahkan kaki ini menuju dapur dan lihat ibuku tercinta sedang membuat makanan kesukaanku ,
" buk masak kolak labu ya "
" tahu aja kamu ibu lagi masak kesukaanmu"
" iya buk baunya sampai ke kamar "
" tapi ini belum masak ,kamu tunggu sebentar ya"
" ia tapi dibungkus aja buk biar aku makan ditempat kerja aja "
Ada gula merah diatas meja yang membuatku mengingat tentang Fei ,seingatku Fei sangat suka dengan gula merah yang dinamai saka bagi orang minang,aku mengambil saka itu lalu menyembunyikanya di sakuku ketika ibu sedang asik mengaduk kolaknya,
" kayaknya kurang manis deh, eh mana saka ibu tadi, perasaan di taro disini"
" buk adit pulang kerja aja makannya ya adit buru-buru takut terlambat"
aku melangkah keluar dengan tawa mengelitik diperut karena melihat kebinggungan ibu oleh ulahku dan sangat durhaka rasanya membuat ibu sendiri dalam kebingungan, maafkan aku buk tapi ini kulalukan untuk wanita yang ku ingin lihat senyumnya kembali.
Jarum jam sudah menunjukan pukul satu tadi wanita yang ku tunggu tidak juga hadir menemuiku di kodim , lima menit berselang aku masuk lagi kedalam kodim Fei datang dengan rambut dikepang dua seperti gaya waktu kecilnya,
" Fei ku pikir kita tidak jadi pergi"
" maaf tadi aku harus kerumah sakit "
" siapa yang sakit fei ,buk Nuri kah?"
" tidak beliau baik-baik saja, anaknya Amir harus melepas jahitan hari ini"
" oh "
" ayo kita pergi sekarang bang"
Kami menemui rumah yang ingin dijual oleh pemiliknya lalu kami temui tuanya, melihat aku dengan seragam tentara si tuan rumah tidak berani memberi harga tinggi pada Fei ,memang seragamku ini membawa keberuntungan dan selalu mencetak kemudahan dalam urusan apapun,
" kau senang telah memiliki rumah itu "
" ya , dan ku yakin ibu Nuri lebih senang dari padaku"
" kenapa kamu memberi rumah untuk ibu Nuri"
" pertama karena di telah ku anggap ibuku sendiri dan kedua dia telah berjasa dalam merawatku diwaktu kecil"
" sangat mulia hati mu Fei, oh iya Fei aku ada sesuatu untukmu"
__ADS_1
" apa ini"
" bukalah"
" oh ,hahaha abang masih ingat aku suka dengan gula merah"
" yang sering mencuri Saka itu dari toko kan engkau bagaimana aku tidak ingat dan aku yang menakap basah kamu sedang makan diam-diam dibalik kotak"
" hahaha "
" oh ya bang aku teringat dengan da Malik ,apakah abang tahu dimana dia"
" da mali di batam, kasian dia Fei hidupnya di hantui oleh rasa bersalah karena kematian keluargamu, "
" kenapa begitu"
" dia pernah mengatakan padaku bahwa dia menyesal lari pada hari itu dan tidak menolong keluargamu"
" seharusnya dia tidak perlu keras seperti itu , aku yang harus berterima kasih padanya, bang aku ingin menemui da Malik"
" oh ok besok lusa aku akan menemanimu"
" tidak usah bang takut merepotkan abang"
" tidak, sama sekali tidak Fei "
" terima kasih ya bang "
Baru kali ini aku semangat dalam hidup dan sepertinya aku merasakan apa yang Akbar dulu pernah rasakan, dalam pikiranku ini hanya ada Fei dan dihati ini kacau balau seperti ada rasa rindu jika jauh bercampur hati yang selalu berdebar jika dekat denganya, inikah yang dinamakan jatuh cinta tapi aku tahan hatiku untuk pekiraan rasa ini karena aku tahu tempok kita amat tinggi dan kuat.
Perjalanan kami sangat berkesan dan aku melihat wajah Fei selalu tersenyum persis sewaktu kecil tapi senyumnya berakhir ketika kami sampai dibatam, ada kabar duka disana karena da Malik ditemukan tidak bernyawa di tepi pantai dekat pelabuhan,Fei sangat terpuruk menengar kabar duka itu dan yang paling membuat hatinya hancur setelah mendengar cerita dari nelayan disana bahwa da Malik hari itu perada di pelabuhan seharian dan tidak makan maupun minum " da malik mengatakan dia ingin tetap disana untuk menunggu kepulangan anak majikannya " cerita pilu yang tidak menyenangkan untuk Fei, kutarik tanganyanya lalu ku peluk dengan erat "menangislah Fei, menangislah dipelukanku" tangisannya begitu kencang dan membasahi baju di dadaku ,aku mengelus kepalanya dan tanpa sengaja air mataku juga ikut terjatuh ,aku tahu da Malik sangat berarti bagi Fei karena ada hutang budi yang belum bisa Fei membalasnya bahkan untuk sekedar beterima kasihpun tidak sempat Fei mengutarakannya " aku menyesal kenapa tidak mencarinya terlebih dahulu ,ini semua salahku"
" tidak usah menyalahkan diri sendiri Fei ,doakan saja agar dia tenang disana "
" bang Adit cuma kau yang kupunya setelah buk Nuri disini dan aku mohon jangan tinggalkan aku seperti yang lain "
" tidak ,tidak akan terjadi dan aku berjanji itu untuk abangmu Jiang"
Badai di laut menunda penyebarangan kita ke pelabuhan riau dan keadaan memaksakan kami untuk menunggu hingga pagi,Fei tidur dipelukanku lalu ku selimuti dia dengan jaketku, rasa sayangku padanya semakin mendalam hingga aku lupa aku sudah mengagapnya sebagai adikku.
kembalinya dari batam Fei masih dengan kondisi hati yang redup setelah kematian da Malik, aku tahu tidak mudah baginya kehilangan untuk sekian kalinya namun ku pastikan dia keluar dari kegelapan itu,
" fei pergilah persamaku "
" kemana?"
" ketempat yang terang agar kau bisa tersenyum kembali"
__ADS_1
" maksudnya?"
kutarik tangaanya menuju suatu tempat yang selalu kami kunjungi sungai yang menjadi saksi kisah dan jurahan hati kami,aku keluarkan bhan makanan khas perang untuknya karena buk nuri melapor padaku Fei tidak makan dari malam ,
"kenapa bawa makanan sebanyak ini "
" karena kita akan adakan pesta makan hari ini,
aku sudah sediakan ikan untuk dipangang dan bumbunya resep rahasia ibuku "
" oh ya baiklah biar aku bantu untuk memangganya "
Aku bahagia karena hal sederhana yang aku lakukan mampu membuatnya tersenyum dan aku merasa diriku sangat berguna waktu itu bagi orang yang aku sayangi,
" bumbu ini membuat ikannya lebih enak, aku ingin bertemu ibumu untuk mengajarkanku bagaimana membuatnya "
Aku sedikit terdiam karena permintaan fei yang ingin bertemu ibu sangat memberatkan hatiku, entah kenapa ada rasa takut yang tidak menentu,
" ya nanti pasti kamu akan bertemu ibuku, oh ya fei tuan rumah kemarin telah membersihkan rumah itu, besok aku kamu sudah bisa membawa buk Nuri kesana"
" benarkah" Fei tersenyum lebar dan napsu makannya bertambah setelah aku berikan kabar itu, dia mengabiskan semua makanan yang aku bawa hingga tidak tersisa untukku tapi hal itu membuat ku lebih bahagia"
Aku bergadang hingga subuh untuk mengubah warna rumah ini agar keliahatan baru karena aku ingin Fei lebih nyaman di tinggal disini dengan buk Nuri, aku yang begitu ego dengan sombongnya berkata dalam hati aku mampu berubah rumah ini jadi istana dalam semalam namun kenyataan nya aku kelelahan dan tertidur hingga menyisakan beberapa pekerjaan yang tebengkalai, ada bidadari didepanku ketika membuka mata ini dan bidadari itu adalah Fei di datang kerumah di dini hari saat aku tertidur " pagi bang ,apa kau kelelahan ,maaf ya ,seharusnya kau katakan padaku akan mengecat rumah ini setidaknya aku bisa membantumu"
" tadinya aku ingin memberikanmu kejutan, tapi nyatanya kau sudah tahu duluan"
Fei mengangkat kuas cat dan melanjutkan pekerjaanku ,aku segera berdiri dari rebahan lalu menghampirinya " jangan Fei ini pekerjaanku biar aku yang menyelesaikanya "
" tidak apa - apa, apakah abang sudah sholat subuh kulihat tidurmu begitu pulas"
" sudah, sebelum tidur subuh tadi aku melaksanakanya terlebih dahulu"
" jadi abang tidak tidur semalaman"
" aku ini tentara Fei sudah biasa bagiku untuk sedikit menikmati tidur malam"
Tidak butuh waktu lama istana ini telah selesai karena tanganku dan Fei saling bekerja sama,
Fei tertawa karena melihat wajahku penuh bercakan cat dan aku tidak ingin sendirian menjadi badut sehingga ku goreskan cat juga di wajahnya,wajahnya berumah mencadi kesal namun lucu .
Fei menutup mata wanita tua yang berjasa menjaganya diwaktu kecil itu lalu dibukanya perlahan, " gimana buk , baguskan rumahnya ,ini smua untuk ibu "
" duh jangan non ibuk ngak pantas dapan rumah ini"
" ibuk pantas kok, anggap saja ini bonus untuk ibuk karena telah menjagaku diwaktu kecil, ini dari balas jasa keluargaku untuk ibu"
" terima kasih ya non"
__ADS_1
" ya sama sama buk"
wajah bahagia dan rasa terharu yang dirasakan buk nuri terlihat jelas dari sikap yang yang melihat tanjup sekeling rumah,mungkin dalam pikirnya ini seperti mimpi namun ini adah nyata yang dihujutkan oleh fei untuknya orang yang berjasa dimasa kecil Fei.