
Keesokan paginya, saat Hara bangun, ia mendapati dirinya telah terlelap di tempat tidur. Pakaiannya telah di ganti, ia cepat bangun dan meriksa selangkangannya. untunglah tidak terasa nyeri. Masih normal!
Kendra sudah tak ada lagi di rumah itu.
Ia melirik jam dan sudah pukul 11 siang.
Ia masih mengantuk dan berniat tidur kembali ketika Anni memasuki kamarnya. "Nyonya, silahkan turun dan sarapan."
"Aku kan turun nanti." Katanya dan kembali terlelap.
Saat bangun ia makan siang dan melihat Anni begitu sibuk membuat beberapa kue yang beraroma lezat. "Untuk siapa kue-kue itu?" Tanyanya.
"Kue ini akan dikirim ke rumah besar. Tuan dan Nyonya Rumanan akan mengadakan pertemuan dengan beberapa temannya." Kata Nani tanpa menoleh ke arah Hara.
"Pertemuan apa itu?" Tanya Hara lagi.
Anni enggan mengatakan kalau mereka akan mengalahkan pertemuan untuk mencari kandidat baru yang akan menjadi tunangan Kendra.
Lagi pula, kenapa gadis asing yang hanya dijadikan pemuas nafsu ini begitu tertarik dengan keluarga Kendra?
Apa Hara berpikir untuk bersama Kendra?
"Saya juga tidak tahu, saya hanya di tugaskan untuk membuatnya saja," katanya berbohong.
"Mm, Apakah Bibi Marita menyuruhmu membuat kue beras?" Tanyanya sambil berjalan ke arah Anni.
Anni merasa sangat aneh kalau Hara mengetahui nama Ibu Kendra. Ia juga begitu aneh mendengar Hara menebak dengan benar kalau ia membuat kue beras.
Seolah gadis itu sudah mengenal keluarga Rumanan dengan baik.
"Ya, ini kue beras kesukaan Tuan Rumanan. Apa Nyonya mau mencobanya?" Ucapnya sambil menyodorkan sepotong kue beras di bawah piring kecil pada Hara.
__ADS_1
"Tidak, aku sangat membenci kue itu." Kata Hara dan berlalu pergi.
Ketika malam tiba, Hara merasa sangat bosan, dan ia pun tak bisa tidur karena ia telah tidur sepanjang hari.
Hara memilih berjalan di taman dan menikmati udara malam yang segar.
Ketika ia hendak kembali, Kendra ternyata sedang memperhatikannya.
Pria itu berdiri di teras rumah dan melihatnya dengan tatapan aneh.
Hara mendengus kesal dan moodnya untuk menikmati keindahan taman itu menjadi hilang. Ia melangkah pergi meninggalkan Kendra.
Ketika ia masuk ke kamar, ia mengunci pintunya dan bersembunyi di dalam selimut.
Sesaat kemudian seseorang naik ke tempat tidurnya. Ia segera berbalik dan melihat Kendra sudah masuk ke selimut, tidak ada waktu baginya menghindar, karena Kendra telah memeluknya dan menguncinya di pelukan lelaki itu.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" Katanya sambil merontah.
Ia merasa kesal pada lelaki itu, mengapa ia pulang begitu larut, mungkin ia telah bersama wanita lain selama setengah malam itu. Hatinya merasa sakit.
Hara tidak mau mendengar pria itu dan berakhir memukuli pria itu dengan keras.
"Baiklah, kau memang perlu di beri pelajaran." Katanya lalu bergerak ke atas tubuh Hara.
Hara melotot dan nyalinya menciut ketika memikirkan apa yang akan terjadi.
"Sekarang kau merasa takut? Kemana keberanianmu tadi?" Tanya Kendra sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hara.
"Aku hanya sangat mengantuk. Bisakah kita tidur saja?" Hara pura-pura menguap.
"Baiklah," ucap Kendra dan berbaring di samping hara sembari tetap memeluk Hara yang tidur membelakanginya.
__ADS_1
Ini adalah hari ulang tahun Hara, jadi ia akan bersikap baik pada wanita itu, paling tidak sampai pagi menjelang.
Hara merasa risih dengan Kendra terus memeluknya. Tapi ia tidak berani bergerak dan hanya berdiam diri tanpa bisa tertidur.
Sesaat kemudian ia berbicara "Aku melihat Anni membuat kue beras. Katanya ada pertemuan di keluargamu. Pertemuan apa itu?"
Hara menahan jantungnya untuk berdetak normal. Ia merasa begitu gugup hanya untuk menanyakan pertanyaan itu.
Bagaimana kalau keluarganya ternyata sedang mengatur perjodohan lain untuk Kendra? Lalu bagaimana dengan dirinya?
"Pertemuan tidak penting. Ayo tidur."
Meski ia ingin Kendra menjawabnya jujur, tapi ia tidak bisa mengharapkan jawaban yang lebih baik lagi.
Namun begitu, Hara merasa lebih baik. "Tunggu, aku ingin bertanya sesuatu." Kata Hara dan berbalik menatap pria itu.
"Ada apa?" Tanya Kendra sambil merengkuh kuat pinggang Hara. Ia merasa senang perempuan itu berinisiatif membalikkan tubuh ke arahnya.
"Kau punya tunangan sebelumnya, apa kau mencintainya?" Tanya Hara dengan gugup.
"Kenapa kau menanyakannya? Ia sudah meninggal." Kata pria itu dengan acuh.
"Karena ia sudah meninggal, mengapa kau tidak menjawabnya saja?" Hara sangat ingin tahu.
"Mm, diamlah," kata Kendra dan memejamkan matanya.
Hara mendengus kesal "Apa kau akan menikah dengannya ketika ia masih hidup?"
Kendra begitu mengantuk, ia belum beristirahat sepanjang hari. Ia bangun pagi-pagi dan berangkat ke kantor.
Setelah itu, ia harus menghadiri pertemuan minum teh di rumahnya.
__ADS_1
Ia hanya ingin pulang cepat dan memeluk Nyonya Kecilnya sembari tidur.
Tapi wanita ini malah mempersulitnya.