Hara Gadis Simpanan

Hara Gadis Simpanan
Tameng manusia


__ADS_3

"Ah tidak! Tolong, tolong jangan!" Hara berteriak sambil bergerak berusaha membuat lelaki itu pergi darinya, tapi apa yang ia harapkan dengan tubuh dan tenaga kecilnya itu?


"Diam!" Bentak pria itu lagi saat Hara benar-benar tidak mau bekerja sama.


"Sialan! Pergi dariku!" Bentak Hara.


"Wanita sialan!" Umpat pria itu sambil mengarahkan tangannya lalu menampar wajah Hara.


Plak, plak!


2 tamparan di pipi kanan Hara mendarat. Ia meringis kesakitan dengan darah keluar dari ujung bibirnya.


"Diam dan ikuti saja permainanku!" Kata pria itu lalu menunduk kembali hendak mencium Hara.


Sayangnya ciuman pria itu tidak berlanjut karena Hara menghentakkan kepalanya dengan keras ke arah pria itu hingga dahinya membentur hidung pria itu.


Seketika pria itu merasakan darah segar mengalir dari hidungnya turun ke bawah mulutnya.


Ia sangat marah saat ia mengusap kasar darah di wajahnya itu dan kembali menampar gadis di situ.


"Wanita Sialan! Aku akan membunuh lalu menyetuhuhi mayatmu!" Kata pria itu dengan mata menggelap seraya mencekik lehernya Hara.


"Ugghhh,, mm,," gumam Hara sambil meronta-ronta.

__ADS_1


Air matanya tumpah ruah dari pelupuk matanya membasahi pipinya dan mulai kehabisan nafas.


Tenaganya terkikis perlahan demi perlahan namun pria itu sama sekali tidak mengasihaninya dan terus cekik lehernya.


Bahkan cekikan pria itu dari detik ke detik semakin kuat membuat wajah Hara sudah keunguan kehabisan oksigen.


Begitu ia merasakan jantungnya akan berhenti berdegup seseorang menggedor pintunya.


"Bos! Kita di serang!" Suara laki-laki dari balik pintu berbicara terburu-buru dalam kepanikan.


Segitiga orang merasa lebih baik membayangkan seseorang datang menyelamatkannya. Satu nama segera memenuhi pikirannya, Kendra.


Pria itu masih terus mencekiknya sampai kemudian suara tembakan menggema di luar pintu.


Suara tembakan itu berhasil menarik perhatian pria itu hingga melepaskan tangannya dari leher Hara.


Tapi ia tidak bisa memperbaiki bajunya yang sudah koyak di sana-sini meninggalkan tubuhnya, tangannya masih terikat di belakang dan ia hanya bisa menggulingkan tubuhnya hingga jatuh ke lantai.


Dengan merangkak ia akhirnya bersembunyi di balik sofa dengan ketakutan.


Hara bisa mendengar suara kunci yang di putar lalu diikuti suara pintu terbuka.


Dor! Dor!

__ADS_1


Dua tembakan meluncur menancap di pintu kayu yang belum sempat terbuka lebar.


Pria itu segera menutup kembali pintunya dan mundur mencari senjatanya. "Sial!" Umpat pria itu seraya membongkar laci tempat ia menyimpan senjata.


Hara masih berada di tempatnya, meringkuk dalam ketakutannya sambil berusaha membuka ikatan pada tangannya.


Saat ini separuh tubuh bagian bawahnya tidak tertutup oleh kain apapun, tapi ia tidak mempedulikan itu dan hanya berusaha melepaskan ikatan di tangannya.


Sayangnya, tali yang mengikat tangannya terlalu berat hingga sangat sulit baginya untuk menyelenggarakannya.


Ia tahu ia tak punya waktu lagi jadi ia segera menggunakan kakinya mengambil seprei yang tercecer di lantai dan berusaha menutupi tubuhnya yang masih terbuka.


Sesuai dugaannya, pria itu sudah menghampirinya dan menariknya keluar dari tempat persembunyiannya.


Pria itu membuka ikatan pada kakinya lalu memaksa Hara berdiri dan mendorongnya ke pintu.


Pria itu memegangi leher belakang Hara dan membuka pintu perlahan.


Hara memejamkan matanya, menahan nafasnya membayangkan para penembak di luar ruangan akan menembakinya.


Belum sepenuhnya pintu itu terbuka dan tiga tembakan sudah melesat di samping Hara.


"Ahhh!" Jeritnya.

__ADS_1


"Jalan!" Bentak pria di belakangnya seraya mendorong Hara keluar dari pintu.


Hara mencelos membayangkan dirinya akan menjadi tameng peluru.


__ADS_2