
Di rumah sakit X Ibu kota.
Kendra melangkah ke dalam rumah sakit dengan seorang asisten menyambutnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Kendra sambil melangkah cepat.
"Umm," Sang asisten merasa ragu sesaat.
"Cepat katakan!" Bentak Kendra seraya berhenti menatap dingin sang asisten itu.
Asisten bernama Radi itu segera merasakan keringat membanjiri seluruh tubuhnya.
"Tuan besar menjadi sepeti ini setelah Nona Asyila datang menemuinya." Ucap Radi.
"Cari tahu apa yang mereka bicarakan." Katanya lalu berjalan lagi.
Setelah mereka tiba di pintu masuk ruangan Ranan di rawat, Radi segera mendapat informasi dari orang suruhannya.
"Nona Asyila melaporkan perlakuan Tuan pada Tuan Besar, ini mengenai Tuan yang tak pernah tinggal di villa, dimana Nona Asyila tinggal."
Kendra menjadi lebih dingin saat melangkahkan kakinya ke dalam kamar besar itu.
__ADS_1
Asyila duduk di sebelah kanan Ranan dan Marita duduk di sebelah kiri Ranan.
"Akhirnya kau datang juga! Anak berandal!" Marita segera berlari ke arah Kendra dan memukul lengan pria itu.
Ranan baru membuka matanya saat mendengar istrinya berbicara. "Kemarilah!" Katanya pada Kendra dengan pelan.
"Cepat hampiri ayahmu!" Kata Marita dan sedikit mendorong Kendra.
Kendra berjalan ke sisi ayahnya dan duduk menatap pria yang telah keriput itu.
Terlihat Ranan dalam keadaan lemah, namun pria tua itu tetap memaksa diri untuk membuka matanya demi berbicara padanya.
"Ayah, kau harus istirahat, aku akan menunggu di sini." Katanya dengan pelan.
Kendra tetap diam dan memperhatikan ayahnya menutup matanya.
Keheningan terjadi selama beberapa saat hingga keluarga Asyila datang.
"Marita," Karina segera menutup mulutnya saat melihat putrinya memberi isyarat untuk diam.
"Mari berbicara di luar." Marita bergerak ke arah kedua orang itu dan mereka keluar dari ruangan.
__ADS_1
Asyila juga keluar hingga hanya tertinggal Ranan dan Kendra. Tapi Ranan masih tertidur hingga Kendra hanya diam sesaat sebelum meraih ponselnya dan membuat sebuah pesan.
"Aku tidak pulang malam ini, jangan memasak untukku." Pesan itu di kirim pada Hara.
Di luar, ruangan.
"Kami minta maaf, kami tidak segera datang. Kami turut mendoakan kesembuhan calon besan." Kata Karina dengan nada sedih.
"Tidak perlu minta maaf, ini bukan salah kalian. Kalian di sini saja sudah cukup menguatkan kami, tapi kamilah yang harusnya minta maaf, kami tidak pernah tahu kalau Kendra memperlakukan Asyila dengan buruk." Marita mengusap pelan bahu Asyila.
"Tidak, tidak seperti itu, Kendra cukup perhatian padaku, kemungkinan ia bekerja lembur selama 2 tahun terakhir." Kata Asyila membela Kendra.
"Tidak, tidak usah membelanya, kami akan segera melangsungkan pernikahan ini. Lagi pula, Asyila sudah berusia 20 tahun, sudah masuk usia untuk menikah." Kata Marita dengan lembut, rasa bersalah memenuhi seluruh wajahnya.
Asyila segera menjawab "Tidak perlu buru-buru Ibu,"
"Tidak, meski pun kau masih muda, tapi Kendra telah berusia 28 tahun. Ia tidak mungkin menunggu lebih lama lagi untuk memulai sebuah hubungan ke tahap yang lebih serius. Ibu akan mengawasinya mulai sekarang." Marita penuh kelembutan melihat calon menantunya.
"Asyila, kau tidak boleh menolak permintaan Ibumu, kau harus menjadi anak yang patuh." Karina menyelah anaknya yang hendak berbicara.
"Baik Ibu," kata Asyila kemudian.
__ADS_1
"Kita akan membicarakannya setelah Ayahmu bangun." Marita memeluk ringan Asyila.
"Ya Ibu," Asyila tersenyum sambil membalas pelukan itu.