
Alex menyimpan gelas itu kembali, terlihat Dania mengurut lehernya akibat tersedak air. Dania khawatir kalau dia akan kena marah akibat ulahnya barusan wajahnya tiba-tiba panik.
"Maaf pak saya tidak sengaja," ucapnya gugup.
"Tunggu tadi namanya nona Dania yah," tanya nya balik.
"Iya pak benar itu nama saya," ucapnya sambil menunduk tidak berani menatap pria tersebut dia berfikir bahwa dia pasti akan kena Omelan bos baru di perusahaan ini.
"Tadi barusan anda bilang apa coba ulang?" ucap nya.
"Selama bapak di perusahaan ini saya di tunjuk dengan direktur pemilik perusahaan untuk menjadi asisten pribadi bapak, lalu saya meminta untuk di jadikan asisten rumah tangga bapak." ucapnya gugup.
"Tunggu tunggu aku masih bingung kenapa anda meminta untuk jadi asisten rumah tangga saya sedangkan jadi asisten pribadi saya saja sudah cukup." Tanya nya tegas.
"Papa saya kemarin sempat sakit keras lalu perusahaan ini membayar semua hasil operasi papa bahkan membayar donor ginjal papa, jadi sebagai gantinya untuk pelunasan papa saya di tunjuk untuk menjadi asisten bapak...." ucapnya terbata-bata.
"Terus lanjut, saya tidak mau kalau ada yang di sembunyikan aku mau kamu cerita semuanya." tegas nya pada Dania.
"Terus karena hutang papa tidak cukup jika hanya menjadi asisten pribadi saja jadi saya mengusulkan untuk jadi asisten rumah tangga bapak." ucap nya masih gugup dan menunduk.
Alex sebenarnya tidak berani marah, bagaimana mungkin dia bisa marah melihat gadis yang sudah membelanya barusan di lift langsung dia marahi, apalagi suara gadis itu membuatnya candu di tambah wajahnya yang sangat cantik putih dan bersih. Bak jatuh dari langit di timpa bidadari, gak rugi dia ke kantor.
Alex lalu mengangkat wajah gadis itu lalu memukul pundaknya, setidaknya dia perempuan yang berani meski dia masih sedikit gugup.
"Tidak masalah saya terimah kamu jadi asisten saya tapi masalah asisten rumah tangga ada bagian pribadi saya yang tidak boleh kamu sentuh, apalagi kita bukan termasuk pasangan." nasehat nya.
"Iya pak saya mengerti saya tidak akan menyentuh pakaian dalam bapak." jujurnya saat itu.
"Hahhahah, kamu jujur sekali dan satu lagi kalau mau menyimpan baju di kamarku harus mengetuk pintu kalau nggak aku nanti kasih hukuman."
"Iya pak pasti saya akan ingat."
Selama ini dia sering membawa wanita ke rumahnya ganti-gantian dia khawatir gadis itu akan tau nantinya.
__ADS_1
"Ohh dan satu lagi kalau kamu mendengar suara aneh dari kamarku kamu bisa pulang atau menutup telinga mu saja." nasehat nya.
"i.. iya pak," ucap nya
Aduh gimana nih ini pasti rencana papa sama Mama, aku pasti sangat susah membawa perempuan masuk ke rumah kalau ada gadis ini. Pikirnya dalam hati.
"Okey lanjutkan pekerjaanmu." ucap Alex.
Ternyata diam-diam Alex termaksud laki-laki yang suka membawa pasangan kerumahnya bergiliran pantas saja dia tidak mau kalau orang tuanya datang ke sana.
Dania memikirkan perkataan Alex saat keluar dari ruangan itu, suara, suara apa yah. gumam nya dalam hati.
"Ahh mungkin dia udah punya istri, gak usah dipikirkan." Dania lalu masuk kembali ke dalam ruangan kantor pribadi nya yang tidak jauh dari ruang kantor bos.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selama sering berkencan dengan banyak wanita baru kali ini dia benar-benar candu dengan suara yang satu ini, suaranya halus, lembut dan terdengar manja.
Alex mulai melihat beberapa data dalam buku tersebut masih banyak yang dia bingung kan lalu dia berniat ingin memanggil Dania tapi tidak memiliki nomornya. Akhirnya dia berniat untuk nyamperin sendiri di kantornya.
"Di sana pak silahkan mari saya antarkan." ucapnya sopan, bapak itu lalu mengantar Alex keluar Dania.
"Makasih yah,"
"Iya sama-sama pak aku izin undur diri yah."
"Iya iya silahkan," Pria itu lalu berjalan menjauhi dirinya lalu menghilang di balik pembelokan.
Tok tok tok, Suara ketukan mengagetkan Dania, kali ini dia hanya menggunakan baju kemeja putih jas yang dia pakai sudah dia lepas langsung dia pakai kembali.
Cekrek suara pintu terbuka.
"Owhh bapak ya, silahkan masuk" ucapnya sedikit canggung, Terlihat Alex memperhatikan ruangan itu.
__ADS_1
"Ini ruangan pribadi kamu yah, wah luas adem banget." pujinya.
"Iya pak, ini ruangan baru saya kemarin ruangan saya masih sama dengan yang lain." ucapnya dengan sopan.
"Owhh iya boleh saya duduk,"
"Iya silahkan pak," Alex lalu duduk di kursi tepat berada di samping Dania.
Dania lalu membuka jas nya kembali, lalu meletakkan di belakang kursi lalu duduk di kursi itu.
"Ini saya mau tanya tentang materi ini boleh kamu jelasin ke saya."
"Boleh pak, jadi ini keuangan nya berdasarkan grafik yang ada di sini. jika turun maka grafiknya makanya keuangan jual beli perusahaan akan turun juga akan tetapi jika keuangan nya naik maka angka jual beli saham akan naik juga." jelasnya dengan teliti.
"Owhh gitu,"
"Bapak udah paham apa belum," tanya Tania balik.
"Iya udah paham terus ini apa dong gambar ini?" tanya nya lagi.
"Ini angka grafik tentang menghitung pendapatan setiap bulan nya dari saham yang kita jual beli pak, kalau ini berhubungan dengan keuntungan dan kerugian yang kita harus perbaiki lagi di bulan selanjutnya agar ekonomi perusahaan akan tetap stabil dan berjalan lancar."
"Owhh gitu," kali ini di jelasin sama Dania dia makin cepat paham.
"Sampai sini bapak sudah paham atau mau aku jelasin ulang?" tanya nya.
"Owhh udah gak papa sampai sini dulu, kalau begitu saya pamit dulu yah maaf udah ngerepotin."
"iya pak, kalau boleh bapak ambil nomor saya nanti tinggal hubungi saya biar saya yang datang, bapak tidak usah repot-repot datang ke ruangan saya."
"Owhh boleh juga ya udah nomornya berapa?" Tanya Alex lalu mengambil hpnya dari saku celana. Dania lalu menyebut nomornya dan di save oleh Alex, dia lalu keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruangan nya.
Dania kembali mengerjakan beberapa data keuangan yang belum sempat tadi dia kerja kan kalau ada waktu senggang dia yang akan mengunjungi bos mudah itu tanpa di minta.
__ADS_1
Setelah berjam-jam di depan leptop Dania mengurut Keningnya rasanya sekarang dia benar-benar merasa ngantuk akan tetapi tugas di laptop makin sulit aja dalam menyelesaikan nya.
Jam sudah menunjukkan jam 1 siang, Dania berencana untuk mengajak pak Alex dia lalu berjalan menuju ke ruangan pak Alex yang jaraknya tidak jauh dari kantor pribadi nya.