
Rania memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu karena seluruh tubuhnya sudah lengket dengan keringat, bagaimanapun juga dia telah melakukan perjalanan yang cukup jauh untuk tiba ke kota asalnya tersebut
Rania mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu mulai mengaktifkan ponselnya, dia hanya berharap ada sebuah pesan yang masuk dari Adrian untuk memberikan sedikit penjelasan kepadanya. Tetapi itu semua tak terjadi tak ada panggilan ataupun pesan yang di kirimkan oleh Adrian
Rania mulai meletakkan ponselnya di meja samping tempat tidurnya, dan dia berusaha untuk bisa memejamkan matanya. Seluruh tubuhnya terasa lemas tetapi rasa kantuk tetap enggan untuk menghampiri dirinya
Ting.. Sebuah notifikasi dari ponselnya berbunyi, dengan cepat Rania langsung menyambar ponselnya
" Rania ini kak Revan, Adrian udah cerita masalah kalian, kamu sekarang ada di mana ? "
" Aku sementara di penginapan kak " dengan perasaan sedikit kecewa Rania membalas pesan tersebut
" Ya udah kamu istirahat aja dulu, besok kakak jemput ya "
" Ga usah kak nanti aku jadi ngerepotin kak Revan "
Melihat balasan sebuah penolakan Revan langsung menghubungi Rania
Tut.. Tut.. Tut..
" Ya kak "
" Besok kak Revan jemput, kamu bisa tinggal sama kakak aja "
" Aduh.. Ga usah kak "
" Ya udah kalo kamu segan, kak Revan punya apartemen yang udah lama ga di pake. Sementara kamu bisa tinggal di situ "
" Tapi kak.. "
" Rania dengerin apa kata kak Revan, kakak ga perduli apapun yang terjadi antara kamu sama Adrian. Tapi anak dalam kandungan kamu itu ponakan kakak " dengan tegas
" Tapi Kak, anak ini kan " ragu-ragu
" Sekalipun kamu mau bilang itu anak dari Galang, Galang itu sahabat kak Revan. Jadi kak Revan tetap punya kewajiban buat jaga kalian berdua "
" Maaf kak tapi aku ga mau ngerepotin "
" Kamu salah Rania, kamu ga pernah ngerepotin harusnya kakak yang ucapkan terima kasih sama kamu. Karena kamu.. " lirih
" Aduh hampir aja keceplosan, semoga aja Rania ga curiga "
" Maksud kakak ? aku kenapa kak ? " terselip perasaan penasaran di dalam hati Rania
" Kamu telah memberikan kebahagiaan kepada Adrian di detik-detik terakhirnya "
__ADS_1
" Ya kan kakak udah nikah sampe sekarang kakak masih belum punya anak, jadi kan bisa sekalian kakak dan istri kakak belajar buat ngurusin anak " gugup
" Kenapa aku ngerasa ada yang aneh sama kak Revan ? "
" Pokoknya besok kak Revan jemput kamu ya, kamu pilih aja mau tinggal di rumah kak Revan atau apartemen "
" Iya kak, makasih ya kak " dengan berat hati
" Ok " Revan langsung memutuskan sambungan teleponnya
Rania kembali mencoba memejamkan kedua bola matanya, sambil terus terbayang ucapan apa yang tadi hampir terlontar dari bibir Revan ? karena terlalu lelah akhirnya Rania berhasil juga terlarut ke alam mimpinya
" Hai sayang "
Adrian memeluk tubuh mungil Rania dari belakang dan mengelus perut Rania
Rania membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh Adrian dengan sangat erat, Rania benar-benar merindukan sebuah kehangatan yang selalu di berikan oleh Adrian. Tiba-tiba saja air mata terjatuh dari pelupuk mata Rania
" Kakak jahat " lirih
" Maaf ya sayang " dengan lembut dan mulai melepaskan pelukannya
" Rania kamu harus kuat, kamu harus jaga anak kita dengan baik ya "
Rania menjawab dengan anggukan kepalanya
" Jangan pergi kak, Nia tau Nia salah di hati Nia masih ada orang lain. Tapi Nia udah janji Nia akan selalu temanin kakak " dengan air mata yang sudah mengalir deras
" Maaf sayang kakak harus pergi "
Adrian mulai melepaskan genggaman tangan Rania dan melangkahkan kakinya menjauh dari Rania, Rania terus berlari mengejar Adrian dan berteriak memanggil nama Adrian. Hingga suara teriakan yang terlepas dari bibirnya membangunkan Rania dari tidurnya
" Ga.. Ga mungkin ini pertanda yang sama kayak ibu kan ? "
Rania menghapus air matanya yang keluar dengan sendirinya, dan melihat ke arah jam ternyata menunjukkan pukul sembilan malam. Dengan cepat Rania mencari ponselnya dan langsung menghubungi Adrian
Tut... Tut.. Tut... Panggilan pertama tak mendapatkan respon apapun dari Adrian
" Ga.. Aku yakin kak Adrian baik-baik aja, dia orang baik. Aku mohon kak jawab telpon aku "
Tut.. Tut.. Tut.. Rania kembali menghubungi Adrian
" Ya Nia "
" Terima kasih Tuhan ternyata hanya mimpi, mungkin aku aja yang terlalu terbiasa di samping kak Adrian "
__ADS_1
" Maaf kak kalo aku ganggu kakak malam-malam begini, apa kakak baik-baik aja ? "
Tanpa sadar pertanyaan itu terlontar dari bibir Rania
" Apa kamu ngerasain sesuatu sayang ? maaf ya kalo aku udah bohongi kamu. Aku ga mau kamu jadi depresi seperti mama aku dulu, aku tau hati kamu belum sepenuhnya untuk aku. Tapi kamu yang sekarang sudah bergantung sama aku sayang, aku ga mau kamu akan sedih melihat kepergian aku untuk selamanya "
" Aku baik-baik aja, apa kamu butuh sesuatu di sana ? "
Adrian mencoba menutupi segala kesedihannya
" Oh ga kak, aku ga butuh apapun. Ya udah kalo gitu kak, selamat malam "
" Malam Nia, selamat istirahat "
" Ya kak "
Rania langsung memutuskan sambungan teleponnya
" Aku harus kuat demi anak aku, aku ga bisa terlalu bergantung dengan kak Adrian. Kak Adrian juga berhak bahagia "
Rania merasakan sedikit lega di dalam hatinya mendengar Adrian baik-baik saja, tetapi tak dapat dia pungkiri ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya
Sedangkan di seberang sana setelah mendengar suara Rania, hati Adrian merasakan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Tanpa terasa air mata Adrian keluar dengan sendirinya
" Aku kangen banget sama kamu sayang, Nia aku tersayang. Aku akan selalu doakan kamu bahagia hingga nanti Tuhan tak lagi membiarkan jantung ini berdetak " lirih
Detik demi detik berlalu entah mengapa malam itu Rania tak dapat lagi melanjutkan tidurnya, perasaan mengganjal itu tak kunjung hilang dari dalam hatinya. Rania yang merasa jenuh di dalam kamarnya, memutuskan untuk keluar dari penginapan tersebut dan langsung mencari taksi
Rania meminta supir taksi tersebut mengantarkan dia ke sebuah taman kota tak jauh dari tempat penginapan tersebut, Rania benar-benar membutuhkan sebuah ketenangan
Rania turun dari taksi setelah membayar ongkos dan ada mobil Galang yang baru saja melintas, Galang melihat Rania yang baru saja turun dari taksi. Dengan cepat Galang langsung menghentikan mobilnya
" Apa gw ga salah liat ? itu Rania. Ngapain dia di sini sendirian malam-malam begini ? "
Rania mulai melangkahkan kakinya ke arah salah satu bangku di taman tersebut, sedangkan Galang langsung menepikan mobilnya dan turun dari mobilnya. Dan tanpa Rania sadari ternyata dari kejauhan ada dua pasang mata terus saja mengawasi Rania
Galang yang sedikit cemas dengan keadaan Rania seorang diri dengan perut yang sudah nampak membesar berlari kecil hingga berada tepat di hadapan Rania
" Rania " Rania hanya bisa terdiam dan membulatkan kedua bola matanya karena terkejut
" Kenapa bisa ada kak Galang di sini ? "
Bantu like dan komentar ya teman-teman 😊
Terima kasih 🤗
__ADS_1
Mampir yuk kak ke karya aku Zahra Anak Yang Tak Berdosa S2 ðŸ¤